Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 33


__ADS_3

          Ethan kembali mendekatiku dan berucap “ Maka aku akan merebut kekuatanmu, kau yang


hebat akan menjadi lemah saat bulan purnama datang. Mereka tak akan tahu itu”,


          “Ya seperti katamu, tapi ingatlah kau tak mengenal betul siapa lawanmu ini. Tak


semua orang mengenalnya”,


          “Jangan remehkan aku! Kamu pikir aku tidak bisa menyakitimu” Ethan mulai menampar


wajahku kembali. Tapi aku hanya tersenyum manis. “ Tamparanmu tak berarti


bagiku, dan jika aku mati pun tidak ada gunanya”,


          Ethan semakin kesal, dan dirinya pun mulai membuat lingkaran api dengan kekuatan yang


ia miliki. Lalu mengambil buku dan membaca sesuatu di mulutnya. Aku rasa di


sedang melakukan pembacaan untuk mengambil kekuatan dalam diriku. Secepatnya


aku menghancurkan rantai yang mengikat kakiku dengan sihir setelah lepas aku


secepatnya mengubah diri menjadi kelopak bung mawar biru yang beterbangan


melewati  jendela. Bunga-bunga yang indah


terbawa oleh angina.


          Ethan


melihat Alika melarikan diri marah, api yang membakar semakin membesar dan


membakar tempat itu hingga Ethan tak terlihat lagi dalam kobaran api.


***


VA


          Aku


kembali ke VA dan tidur di kamar Rasi. Tak ada yang tahu akan kejadian ini.


Hingga pagi datang. Kami seperti biasa berkumpul saat sarapan pagi di mulai.


Kulihat keromantisan Romeo dan Alecia yang membuatku cemburu. Tapi kucoba tak


membawa emosi, dan aku mulai merasakan dingin di tubuhku.


          “Ibu,


aku akan pergi sebentar. Jadi maafkan aku tidak bisa membantu dalam


mempersiapkan acara pernikahan ini,”ucapku.


          “Kamu


mau pergi kemana, Alika?,”tanya ibu


          “Aku


akan pergi mengambil barangku di apartemen, lalu mengunjungi beberapa toko”,


          “Bagaimana


kalau Romeo membantumu? Mungkin dia mempunyai waktu sedikit sebelum acara


pernikahan mereka”,


          “Tidak,


aku tidak mau merepotkan. Aku hanya sebentar saja, lagi pula itu tidak baik


untuk mereka berdua. Dua calon pengantin tak boleh lelah,Bu”,


          Mereka


semua tertawa kecil,


          “Ya


kamu benar. Roman, kamu mau menemai Alika?”,


          “Ya,


jika Alika mengijinkanku”,


          “Baiklah,


nanti kita bicarakan lagi. Aku sudah kenyang, mau kekamar dulu


siap-siap,”ucapku mengakhiri.


***


*Kamar Alecia


          Didepan


cermin melihat diri sendiri, “ Hah, ya akhirnya aku akan memiliki Romeo


sepenuhnya. Pengorbananku tak sia-sia, tapi aku tidak boleh terus membuat Romeo


melihat Alika di dunia ini jika tidak dia akan berpaling padaku suatu saat


nanti. Ini tidak boleh terjadi! Tidak. Tapi apa yang harus kulakukan untuk


menyingkirkannya? Hem, pikir-pikir. Alika, dia adalah penyihir biru kan?


Reinkarnasi, kekasih Romeo yang menunggu dirinya bertahun-tahun. Hem, dia pasti


sangat sakit melihat pernikahan ini. Aku harus membuat dia semakin tersakiti


lalu bunuh diri. Ya itu yang harus kulakukan di depannya nanti.”


*Alika


          Setelah


siap-siap aku menemui Roman,


          “Kau


sudah siap?,”tanya Roman


          “Iya


sudah, emang kenapa?”,


          “Kamu


ngak  pake baju yang….”,


          “Bawel,


mau ikut apa ngak? Kita pergi bukan buat kencan tapi buat beres-beres. Nanti


setelah di tiba disana jangan ikuti aku. Kamu amati aja tuh dari Orchid.


Biasanya kan juga gitu!”,


          “Iya, iya.


Kamu tahu banget ya?”,


          “Ya

__ADS_1


tahulah. Kata mau pergi dengan apa?”,


          “Mobil,


ayo ke mobilku!”,


          Begitu


tiba di mobil, Roman membuka kan pintu mobil untukku lalu aku masuk. Lalu di


susul Roman, dan kami siap berangkat. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam


saja hingga Roman berucap “ Apa kamu benar-benar akan pergi? Tapi kenapa?”,


          “Apa


maksudmu?”,


          “Apa


setelah Romeo menikah dengan Alecia, kamu akan pergi?”,


          “Entahlah,


memang kenapa? Kamu sedih? Kenapa?”,


          Roman


terdiam sejenak lalu berucap “ Andai saja aku punya alasan kuat untuk


mempertahankan dirimu disini”,


          “Kau


tahu aku ke apartemen untuk beres-beres dan tinggal di VA bersama ibuku.


Kupikir dia akan kesepian jika aku pergi begitu juga dengan pria yang hanya


menatap diriku di apartemen sebelah”,


          Roman


tersenyum manis,


          “Aku


tahu siapa, kamu tahu siapa dia? Hah, dia tak berani datang menemuiku dan hanya


memandang jauh”,


          “Ya aku


tahu, tapi aku rasa dia tak begitu”,


          “Benarkah?”,


          “Ya


benar, aku tidak pura-pura”,


***


          Setiba


di apartemen semua orang mulai memandang siapa yang datang, bagaimana tidak


menjadi pusat perhatian jika datang bersama seorang CEO yang diperbincangkan


banyak orang. Aku pun segera bergegas menuju kamar dan mengemasi


barang-barangku. Setelah itu aku menuju resepsionis menemui Tanima.


          Sambil


semuanya yang telah diberikan padaku. Kamarmu bagus, apartemen ini tenang”,


          “Apa


dia pacarmu?,”tanya Tanima


          Aku


hanya tersenyum manis, “ Aku harus segera pergi, tadi kupikir akan lama untuk


berkemas ternyata tidak. Terima kasih”,


          “Sama-sama


dan datang lagi ya?”,


          “Ya!”,


berjalan mendekati Roman,


          “Buka


bagasinya!,”seruku,


          Roman


membuka bagasi dan memasukan barang-barangku ke dalamnya. Kemudian kami pergi


meninggalkan tempat itu. Semua orang pun mulai terpikir dan menduga bahwa gadis


bersama Roman adalah kekasihnya.


***


          Kami


pun berhenti di sebuh toko untuk membeli hadiah untuk pernikahan Romeo dan


Alecia. Roman nampak memilih barang-barang unik sementara aku melihat-lihat.


Aku menemuikan buku berhias yang sangat cantik, bukan hanya cantik sampul


tetapi juga di dalamnya. Segera aku membeli buku tersebut dan Roman


menghampiriku sambil membawa bunga mawar warna biru.


          “Tolong


kemas barang ini ya,”ucap Roman, “Juga buku itu!”,


          “Hah,


aku bayar sendiri!”,


          “Aku


yang akan membayarnya”,


          “Bagaimana


bisa? Aku mau sendiri, jangan menolak!”,


          “Hah,


baiklah. Apa itu yang akan kau berikan pada mereka?”,


          “Bukan,


bukan ini tetapi yang lain. Memang kenapa? Ada masalah?”,


          “Tidak!”,

__ADS_1


kasir pun mengemas barang milik kami tetapi Roman lebih memilih untuk tidak


mengemasnya. Dia memegang sendiri bunga itu, lalu kami membayar barang milik


masing-masing dan pergi.


          Sebelum


kembali ke VA kami berhenti di sebuah taman pinggir, kebetulan tempat itu tak


jauh dari danau taman yang dipenuhi bunga-bunga. Kami berhenti dan melihat


pemandangan indah.


          “Wah,


lihat ini bunganya telah mekar semua. Cantik sekali!”,


          “Ya


begitulah, ini untukmu,”ucap Roman sambil memberikan bunga yang dibelinya di toko


tadi.


          Aku


mengambil bunga pemberian Roman lalu berucap “ Terima kasih”,


          “Apa


kamu menyukainya?”,


          “Apa?”,


          “Bunganya?”,


          “Ya,


indah dan cantik. Terima kasih”,


          “Mau


jalan-jalan ke danau taman?”,


          “Boleh,


apa tempat itu adalah tempat yang selalu kamu kunjungi?”,


          “Ya,


bagaimana kamu tahu?”,


          “Ada


orang lain yang bilang tempat itu indah”,


          Kami


pun pergi ke taman danau, menghentikan mobil di depan danau yang luas dengan


air birunya.


          “Hah,


tenang sekali disini. Jadi, kenapa kamu menyukai tempat ini, Roman?”,


          “Sebab


tempat ini indah dan tenang, bagaimana dengan dirimu? Apa kamu menyukai tempat


ini?”,


          “Ya


seperti aku mulai menyukainya”


          Memandangi


tempat ini dari dalam mobil, lalu keluar dengan diiringi langkah Roman. Aku


berjalan menuju taman yang dipenuhi banyak bunga. Berjalan menuju tengah-tengah


taman hingga mobil Roman tak terlihat lagi. Lalu duduk di rumput hingga yang


terlihat hanyalah bunga-bunga yang berdiri tegak.


          Roman


duduk di depanku, kulihat wajahnya mulai pucat.


          “Apa


kamu sakit, Roman?”,


          “Tidak!


Aku baik-baik saja”,


          “Tapi


wajahmu pucat sekali”,


          “Masa?


Tapi aku merasa baik-baik saja”,


          Aku pun


mendekatinya dan meletakan tanganku di keningnya. Aku merasa Roman baik-baik


saja tetapi kenapa wajahnya begitu pucat. Tiba-tiba saat itu Roman menarik


diriku dengan sangat dekat dan mengigit leherku. Darah segar itu keluar, dan


dirinya mulai meminun darah segar itu. Aku hanya merasakan sakit dan geli, tapi


aku mengerti bahwa pria ini sedang haus. Aku hanya diam saja, meski dia telah memeluk


erat tubuhku hingga rasa hausnya hilang. Roman kembali sadar dan matanya


kembali menghitam, dan aku baru sadar sejak perjalanan tadi matanya


perlahan-lahan memerah.


          Roman


masih memeluk erat diriku meski rasa hausnya telah hilang, “ Maafkan aku, aku…”,


          “Ya,


aku mengerti! Tak apa semua akan baik-baik saja dan luka ini akan cepat


sembuh”,


          Aku


mulai menatap wajah Roman dan memegang tangannya sambil mengalirkan penyembuhan


agar dia tak terlalu haus. Tapi saat itu juga sebuah bibir mulai mendekati


diriku, mencumbuku dengan sangat erat. Perlahan-lahan tetapi aku justru


menikmatinya. Entah apa yang terjadi di waktu ini, semua terjadi sangat singkat


tetapi dapat kuingat.

__ADS_1


__ADS_2