
Ethan kembali mendekatiku dan berucap “ Maka aku akan merebut kekuatanmu, kau yang
hebat akan menjadi lemah saat bulan purnama datang. Mereka tak akan tahu itu”,
“Ya seperti katamu, tapi ingatlah kau tak mengenal betul siapa lawanmu ini. Tak
semua orang mengenalnya”,
“Jangan remehkan aku! Kamu pikir aku tidak bisa menyakitimu” Ethan mulai menampar
wajahku kembali. Tapi aku hanya tersenyum manis. “ Tamparanmu tak berarti
bagiku, dan jika aku mati pun tidak ada gunanya”,
Ethan semakin kesal, dan dirinya pun mulai membuat lingkaran api dengan kekuatan yang
ia miliki. Lalu mengambil buku dan membaca sesuatu di mulutnya. Aku rasa di
sedang melakukan pembacaan untuk mengambil kekuatan dalam diriku. Secepatnya
aku menghancurkan rantai yang mengikat kakiku dengan sihir setelah lepas aku
secepatnya mengubah diri menjadi kelopak bung mawar biru yang beterbangan
melewati jendela. Bunga-bunga yang indah
terbawa oleh angina.
Ethan
melihat Alika melarikan diri marah, api yang membakar semakin membesar dan
membakar tempat itu hingga Ethan tak terlihat lagi dalam kobaran api.
***
VA
Aku
kembali ke VA dan tidur di kamar Rasi. Tak ada yang tahu akan kejadian ini.
Hingga pagi datang. Kami seperti biasa berkumpul saat sarapan pagi di mulai.
Kulihat keromantisan Romeo dan Alecia yang membuatku cemburu. Tapi kucoba tak
membawa emosi, dan aku mulai merasakan dingin di tubuhku.
“Ibu,
aku akan pergi sebentar. Jadi maafkan aku tidak bisa membantu dalam
mempersiapkan acara pernikahan ini,”ucapku.
“Kamu
mau pergi kemana, Alika?,”tanya ibu
“Aku
akan pergi mengambil barangku di apartemen, lalu mengunjungi beberapa toko”,
“Bagaimana
kalau Romeo membantumu? Mungkin dia mempunyai waktu sedikit sebelum acara
pernikahan mereka”,
“Tidak,
aku tidak mau merepotkan. Aku hanya sebentar saja, lagi pula itu tidak baik
untuk mereka berdua. Dua calon pengantin tak boleh lelah,Bu”,
Mereka
semua tertawa kecil,
“Ya
kamu benar. Roman, kamu mau menemai Alika?”,
“Ya,
jika Alika mengijinkanku”,
“Baiklah,
nanti kita bicarakan lagi. Aku sudah kenyang, mau kekamar dulu
siap-siap,”ucapku mengakhiri.
***
*Kamar Alecia
Didepan
cermin melihat diri sendiri, “ Hah, ya akhirnya aku akan memiliki Romeo
sepenuhnya. Pengorbananku tak sia-sia, tapi aku tidak boleh terus membuat Romeo
melihat Alika di dunia ini jika tidak dia akan berpaling padaku suatu saat
nanti. Ini tidak boleh terjadi! Tidak. Tapi apa yang harus kulakukan untuk
menyingkirkannya? Hem, pikir-pikir. Alika, dia adalah penyihir biru kan?
Reinkarnasi, kekasih Romeo yang menunggu dirinya bertahun-tahun. Hem, dia pasti
sangat sakit melihat pernikahan ini. Aku harus membuat dia semakin tersakiti
lalu bunuh diri. Ya itu yang harus kulakukan di depannya nanti.”
*Alika
Setelah
siap-siap aku menemui Roman,
“Kau
sudah siap?,”tanya Roman
“Iya
sudah, emang kenapa?”,
“Kamu
ngak pake baju yang….”,
“Bawel,
mau ikut apa ngak? Kita pergi bukan buat kencan tapi buat beres-beres. Nanti
setelah di tiba disana jangan ikuti aku. Kamu amati aja tuh dari Orchid.
Biasanya kan juga gitu!”,
“Iya, iya.
Kamu tahu banget ya?”,
“Ya
__ADS_1
tahulah. Kata mau pergi dengan apa?”,
“Mobil,
ayo ke mobilku!”,
Begitu
tiba di mobil, Roman membuka kan pintu mobil untukku lalu aku masuk. Lalu di
susul Roman, dan kami siap berangkat. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam
saja hingga Roman berucap “ Apa kamu benar-benar akan pergi? Tapi kenapa?”,
“Apa
maksudmu?”,
“Apa
setelah Romeo menikah dengan Alecia, kamu akan pergi?”,
“Entahlah,
memang kenapa? Kamu sedih? Kenapa?”,
Roman
terdiam sejenak lalu berucap “ Andai saja aku punya alasan kuat untuk
mempertahankan dirimu disini”,
“Kau
tahu aku ke apartemen untuk beres-beres dan tinggal di VA bersama ibuku.
Kupikir dia akan kesepian jika aku pergi begitu juga dengan pria yang hanya
menatap diriku di apartemen sebelah”,
Roman
tersenyum manis,
“Aku
tahu siapa, kamu tahu siapa dia? Hah, dia tak berani datang menemuiku dan hanya
memandang jauh”,
“Ya aku
tahu, tapi aku rasa dia tak begitu”,
“Benarkah?”,
“Ya
benar, aku tidak pura-pura”,
***
Setiba
di apartemen semua orang mulai memandang siapa yang datang, bagaimana tidak
menjadi pusat perhatian jika datang bersama seorang CEO yang diperbincangkan
banyak orang. Aku pun segera bergegas menuju kamar dan mengemasi
barang-barangku. Setelah itu aku menuju resepsionis menemui Tanima.
Sambil
semuanya yang telah diberikan padaku. Kamarmu bagus, apartemen ini tenang”,
“Apa
dia pacarmu?,”tanya Tanima
Aku
hanya tersenyum manis, “ Aku harus segera pergi, tadi kupikir akan lama untuk
berkemas ternyata tidak. Terima kasih”,
“Sama-sama
dan datang lagi ya?”,
“Ya!”,
berjalan mendekati Roman,
“Buka
bagasinya!,”seruku,
Roman
membuka bagasi dan memasukan barang-barangku ke dalamnya. Kemudian kami pergi
meninggalkan tempat itu. Semua orang pun mulai terpikir dan menduga bahwa gadis
bersama Roman adalah kekasihnya.
***
Kami
pun berhenti di sebuh toko untuk membeli hadiah untuk pernikahan Romeo dan
Alecia. Roman nampak memilih barang-barang unik sementara aku melihat-lihat.
Aku menemuikan buku berhias yang sangat cantik, bukan hanya cantik sampul
tetapi juga di dalamnya. Segera aku membeli buku tersebut dan Roman
menghampiriku sambil membawa bunga mawar warna biru.
“Tolong
kemas barang ini ya,”ucap Roman, “Juga buku itu!”,
“Hah,
aku bayar sendiri!”,
“Aku
yang akan membayarnya”,
“Bagaimana
bisa? Aku mau sendiri, jangan menolak!”,
“Hah,
baiklah. Apa itu yang akan kau berikan pada mereka?”,
“Bukan,
bukan ini tetapi yang lain. Memang kenapa? Ada masalah?”,
“Tidak!”,
__ADS_1
kasir pun mengemas barang milik kami tetapi Roman lebih memilih untuk tidak
mengemasnya. Dia memegang sendiri bunga itu, lalu kami membayar barang milik
masing-masing dan pergi.
Sebelum
kembali ke VA kami berhenti di sebuah taman pinggir, kebetulan tempat itu tak
jauh dari danau taman yang dipenuhi bunga-bunga. Kami berhenti dan melihat
pemandangan indah.
“Wah,
lihat ini bunganya telah mekar semua. Cantik sekali!”,
“Ya
begitulah, ini untukmu,”ucap Roman sambil memberikan bunga yang dibelinya di toko
tadi.
Aku
mengambil bunga pemberian Roman lalu berucap “ Terima kasih”,
“Apa
kamu menyukainya?”,
“Apa?”,
“Bunganya?”,
“Ya,
indah dan cantik. Terima kasih”,
“Mau
jalan-jalan ke danau taman?”,
“Boleh,
apa tempat itu adalah tempat yang selalu kamu kunjungi?”,
“Ya,
bagaimana kamu tahu?”,
“Ada
orang lain yang bilang tempat itu indah”,
Kami
pun pergi ke taman danau, menghentikan mobil di depan danau yang luas dengan
air birunya.
“Hah,
tenang sekali disini. Jadi, kenapa kamu menyukai tempat ini, Roman?”,
“Sebab
tempat ini indah dan tenang, bagaimana dengan dirimu? Apa kamu menyukai tempat
ini?”,
“Ya
seperti aku mulai menyukainya”
Memandangi
tempat ini dari dalam mobil, lalu keluar dengan diiringi langkah Roman. Aku
berjalan menuju taman yang dipenuhi banyak bunga. Berjalan menuju tengah-tengah
taman hingga mobil Roman tak terlihat lagi. Lalu duduk di rumput hingga yang
terlihat hanyalah bunga-bunga yang berdiri tegak.
Roman
duduk di depanku, kulihat wajahnya mulai pucat.
“Apa
kamu sakit, Roman?”,
“Tidak!
Aku baik-baik saja”,
“Tapi
wajahmu pucat sekali”,
“Masa?
Tapi aku merasa baik-baik saja”,
Aku pun
mendekatinya dan meletakan tanganku di keningnya. Aku merasa Roman baik-baik
saja tetapi kenapa wajahnya begitu pucat. Tiba-tiba saat itu Roman menarik
diriku dengan sangat dekat dan mengigit leherku. Darah segar itu keluar, dan
dirinya mulai meminun darah segar itu. Aku hanya merasakan sakit dan geli, tapi
aku mengerti bahwa pria ini sedang haus. Aku hanya diam saja, meski dia telah memeluk
erat tubuhku hingga rasa hausnya hilang. Roman kembali sadar dan matanya
kembali menghitam, dan aku baru sadar sejak perjalanan tadi matanya
perlahan-lahan memerah.
Roman
masih memeluk erat diriku meski rasa hausnya telah hilang, “ Maafkan aku, aku…”,
“Ya,
aku mengerti! Tak apa semua akan baik-baik saja dan luka ini akan cepat
sembuh”,
Aku
mulai menatap wajah Roman dan memegang tangannya sambil mengalirkan penyembuhan
agar dia tak terlalu haus. Tapi saat itu juga sebuah bibir mulai mendekati
diriku, mencumbuku dengan sangat erat. Perlahan-lahan tetapi aku justru
menikmatinya. Entah apa yang terjadi di waktu ini, semua terjadi sangat singkat
tetapi dapat kuingat.
__ADS_1