
Aku dan Tagao pergi dari istana dengan diiringi pengawal. Ketika telah sampai di tempat yang indah, kami mendirikan tenda. Para pengawal yang mendirikan tenda, dan pelayan menyiapkan makanan untuk raja dan ratu. Aku dan Tagao berjalan-jalan di tempat ini, dihamparan bunga yang indah. Berjalan lurus, sementara Tagao mengiringi langkahku di belakang.
“ Seumur hidupku, aku baru melihat bunga yang indah ini. Dulu aku hanya melihat bunga-bunga dari jauh” ucapku.
“ Tapi sekarang ada di depan matamu”.
“ Ya, bagaimana kalau kita bermain?”
“ Bermain?”
“ Iya”, kuambil kain yang terselip di
pingang, dan mengikatkannya pada mata Tagao. Sekarang Tagao tak dapat melihat
apapun.
“ Sekarang cari aku, ayo cari!”.
Tagao tersenyum dan berjalan
berdasarkan sumber suara yang ia dengar.
“ Ayo kemari sayang, ayo cepat!”,
Tagao terus berjalan mencari. Kadang kala kusentuh dia, hingga dia terus
mencariku. Kemudian aku bersembunyi di perpohonan, dan berucap “ Buka saja
kainnya, dan cari aku”.
Tagao membuka kainnya dan cepat
mencari diriku.
“ Aresha, kamu dimana? Akan kutangkap
kamu jika kutemukan”.
Tertawa kecil dan berlari. Tagao
melihat Aresha dan cepat berlari menangkapnya. Tagao kehilangan Aresha lagi,
dan mencarinya.
Kusembunyikan diriku di belakang pohon
besar dan mengamati Tagao dari jauh. Kulihat dia semakin dekat dan terus
kuamati. Dia berjalan ke semak-semak dan menghilang. Aku yang melihat itu
langsung cemas, “ Dia pergi kemana?”, melihat-lihat sekitar.
Tiba-tiba seseorang menutupi mulutku
dan memalingkan diriku untuk melihatnya. Ternyata orang itu adalah suamiku.
Tangannya mulai melepas dan diletakannya di samping tubuhku, meletakannya di
pohon. Aku mulai melangkah mundur, tak ada langkah lagi ketika kakiku merasakan
menginjak batang pohon. Tagao mendekatkan dirinya padaku, semakin dekat. Dia
ingin menciumku namun aku menyingkirkan wajahku padanya. Tagao tersenyum dan
berucap “ Kemarilah!”.
Kudekatkan diriku padanya dan berucap
“ Hem, kamu mau apa?”.
“ Bermain denganmu”
Jari telunjuk bermain di tubuh Tagao
dan memegang kedua pundaknya, lalu berucap “ Bagaimana kalau, sebuah….”. Mulai
mengecup bibirnya, Tagao memegang tubuh Aresha dengan erat dan bercumbu.
Kudorong tubuhnya perlahan-lahan, dia pun menghentikan ciumannya padaku.
“ Ada apa?” tanya Tagao.
“ Jangan berlebihan ah, ayo kita
kembali kekemah. Gendong aku ya!”.
Tagao menurunkan dirinya dan aku mulai
naik ketubuhnya. Dia mengendong diriku hingga ke kemah. Semua orang yang ada di
kemah melihat keromantisan kami berdua.
***
Sore hari, Tagao berlatih dengan
pedangnya bersama pengawal. Diam-diam aku pergi dari sana, beberapa pelayan
sempat melihatku namun aku meminta mereka untuk diam. Berjalan memasuki hutan,
mencari air terjun. Aku merasakan derasnya air mengalir, “ Jangan katakan aku
tak akan bisa sampai kesana” ucapku.
Terus berjalan hingga aku tak sadar
hari telah malam. Jalan yang kulewati tak dapat di lihat dengan jelas.
Tiba-tiba aku mendengar sekelompok orang berbicara mengarah kemari. Dengan
cepat aku bersembunyi di balik pohon.
“ Kudengar raja Tagao dan
permaisurinya di sini. Kita harus berpencar untuk membunuhnya”
“ Kita kelilingi mereka dan serang di
tengah malam”
“ Baik”.
Kudengar itu semua, dan aku terus
bersembunyi. Kadang-kadang berjalan kembali ke kemah. Di jalan menuju kemah aku
bertemu dengan Tagao dan pengawalnya. Aku langsung memeluk dirinya.
“ Kamu baik-baik saja? Kemana saja
kamu pergi?” tanya Tagao.
“ Aku tersesat, aku jalan sebentar
mencari sesuatu. Aku tak menumukan jalan pulang”
“ Lain kali jika ingin pergi ajak aku
ya!”
“ Baiklah”.
Kemudian aku dan Tagao serta pengawal
kembali ke kemah. Duduk di depan api ungun bersamanya. Tagao meletakan tangan
kanannya di bahu kiriku lalu berucap “ Zuya, ingin menikahi adikku. Apa kamu merestui
mereka?”.
“ Entahlah, akan kupikirkan. Sebaiknya
__ADS_1
malam ini penjaga mengawasi di sekitar kita. Aku takut ada seseorang yang akan
menghancurkan malam kita bersama”.
“ Tak usah takut, mereka semua akan
berjaga untuk kita”
“ Aku tak bisa mempercayai mereka”
“ Percaya lah, kamu mau pergi kemana besok jika tidak kita akan tetap disini?”
“ Aku mau pulang saja”
“ Baiklah, kau kecewa denganku?”
“ Ya sangat kecewa”
Aku masuk ke kemah, Tagao menyusul
diriku. Aku tidur berlawanan arah dengan Tagao.
Tepat di tengah malam, mereka
melakukan penyerbuan terhadap kemah kami. Tagao bangun dan melawan pemberontak.
Aku bangun dan mengintip mereka. Jumlah mereka yang menyerang kami sangat
banyak, dan jumlah kami semakin sedikit. Aku keluar dari tenda dan melihat
Tagao melawan pemimpin mereka. Tagao terluka tangannya.
“ Hentikan….”ucapku berteriak.
Pemimpin pemberontak itu mendengar, dan
menghentikan perlawanannya. Mendekati diriku dan berucap “ Bagaimana kalau aku
membawanya pergi darimu dan menjadikannya pemaisuriku?”. Tiba-tiba aku langsung
tak sadarkan diri.
Kubuka mataku perlahan-lahan, melihat
tempat ini bukan lagi di kemah. Seorang pria dengan suara yang kukenal berucap
“ Apa kau baik-baik saja?” tanya Tagao. Tagao membantuku duduk, menyentuh
kepala dan menjawab “ Apa yang terjadi?”.
“ Ceritanya panjang, yang terpenting
sekarang kita sudah aman”.
“ Eh, aku hanya ingat saat kamut terluka
di tangan. Apa sekarang luka itu telah kamu obati?”
“ Ya sudah, lihat ini!”, Tagao
memperlihatkan tangannya yang diperban.
“ Syukurlah”. Kemudian aku berdiri dan
melangkah, “ Harinya sudah pagi ya! Hah, benar-benar malam yang lelah”.
“ Ya begitulah. Besok adalah hari
pernikahan Zuya dengan Takara”
“ Hah, hari pernikahan mereka?”
“ Iya, kamu baik-baik saja kan?”
Melangkah masuk ke kamar mandi,
sebelum menutup pintunya berucap “ Ya sepertinya”.
Pukul 10.00 pagi, aku mulai membantu
menata ruangan untuk pernikahan mereka berdua. Memilih dan menata bunga-bunga
di setiap sudut ruangan. Dari luar Tagao masuk dan mendekati Aresha.
“ Bunganya bagus” ucap Tagao.
“ Terima kasih tetapi pujiannya untuk
mereka berdua”
“ Kamu mau pergi bersama mereka
berdua?”
Sambil menata bunga, aku menjawab “
Entahlah, malam-malam yang lalu juga mengalami hal yang suram”.
“ Ayolah, semoga saja kali ini tidak”
“ Kemana?” berhenti menata bunga dan
melihat Tagao.
“ Kastil, ada beberapa pengawal dan
pelayanan. Kita bisa membeli barang-barang dan menikmati malam hanya kita
berdua”
“Boleh juga, baiklah aku setuju
denganmu”
Tagao tersenyum dan berusaha menyimpan
rasa bahagianya, lalu berucap “ Baiklah, besok!”.
“ Iya, besok”.
Tagao pergi meninggalkanku. Kemudian
Takara datang menghampiri.
“ Kakak, sebaiknya kakak istirahat
saja. Kakak pasti lelah”
“ Sebenarnya aku melakukan ini demi
menjauh dari suamiku”
“ Kenapa kamu menjauh dari Tagao?”
“ Sebab aku kesal dengannya, lihat
saja malam-malam kami berdua. Selalu dalam masa suram”
“ Jadi kamu kesal karena malam itu?”
“ Mungkin”
“ Bagaimana kalau kamu dan kakaku ikut
bersama kami ke kastil”
“ Dimana?”
“ Kastil-nya terletak di hutan, tetapi
ada penjaga dan pelayan juga”
__ADS_1
“ Namanya?”
“ Kastil Afela”
Menghentikan menata bunga, lalu
berucap menakut-nakuti Takara “ Manusia serigala pasti ada disana, mereka akan
menculikmu”.
“ Manusia serigala itu tidak ada, itu
hanya mitos”
“ Mungkin, tapi kamu takut tidak? Ya baiklah aku ikut. Kakakmu juga mengajakku
tadi”
“ Tidak, benarkah? Lalu kamu
menerimannya?”
“ Ya menerimannya tapi masih ragu”
“ Baiklah, aku pergi dulu” ucap Takara
melangkah menaiki tangga mencari Tagao.
“ Ya silahkan” jawabku. Kemudian aku
kembali menata bunga-bunga dan membantu yang lainnya.
Takara pergi meninggalkanku.
Kulangkahkan kakiku menaiki tangga dan masuk kekamar. Duduk di kasur dan
berucap “ Hahah, ada-ada saja. Tapi syukurlah pernikahan ini baik-baik saja”.
Menjelang malam seusai makan bersama.
Diriku jalan-jalan ditaman istana dan duduk dikursi. Melihat bintang dan bulan
dilangit, kemudian berucap “ Ibu, aku harap semua ini akan lebih baik. Restu
ibu, adalah sebuah penghormatan besar bagiku. Sebuah bintang jatuh atas dasar
tugas dan tujuannya kemari. Maka malam ini lah, malam yang hening tanpa sepatah
katapun untukku. Entah siapa aku ini? Penghianat atau putri ibu?”.
Dari dalam istana ibu Tagao
memperhatikan Aresha yang duduk sendirian ditaman. “ Ada apa dengannya?
Beberapa malam ini dia selalu disana. Apa ada masalah ya? Atau mereka belum
juga berbulan madu? Aku harus bertanya pada anakku, jangan sampai istrinya
selalu bersedih begitu” ucapnya.
Tagao yang berjalan menuju kamar tak
sengaja melihat ibunya belum juga tidur, Tagao menghampiri.
“ Ibu, mengapa ibu belum tidur?”
“ Tadinya ibu ingin tidur, tapi ibu
tak sengaja melihat Aresha duduk disana sendirian. Ibu memperhatikannya, nampaknya
kalian berdua memiliki masalah ya?”, tangannya menunjuk Aresha.
“ Tidak ada bu, kami baik-baik saja”
“ Lalu kenapa Aresha selalu duduk
disana sendirian?”
“ Entahlah”
“ Bagaimana bulan madu kalian berdua?”
“ Gagal, serangan dari pemberontak
saat kami berkemah. Mungkin Aresha masih kesal dengan kejadian itu”
“ Sebaiknya kamu ajak dia jalan-jalan,
kalian bisa bersama dengan adikmu juga kan untuk bulan madu”
“ Ya bu, terima kasih atas sarannya.
Sepertinya aku harus segera pergi ke kamar, Aresha sudah mulai pergi dari sana”
“ Begitu juga dengan ibu, selamat
malam anakku”
“ Selamat malam bu”.
Tagao masuk kekamar dan berpura-pura
tidur. Sedangkan ibunya masuk ke kamar dan tidur sendirian.
Angin malam menusuk kulitku hingga
membuatku menggigil. Aku melangkah masuk kembali kekamar. Kulihat suamiku
sedang berbaring di kasur, dia tertidur. Kubaringkan diriku disampingnya.
Kupejamkan mataku sejenak dan membukanya kembali. “ Hah, jadi selamat tidur”
ucapku.
“ Selamat tidur juga” jawabnya.
Aku kaget mendengar dia menjawab
ucapanku, “ Jadi kamu belum tidur?”
“ Bagaimana aku bisa tidur jika kamu
tidak ada disini”
“ Jadi kamu menungguku tadi?”
“ Ya begitulah”
“ Padahal tidak usah menunggu pun
biasanya sudah tidur”
“ Ngak, aku ngak seperti itu. Aku lihat
kamu duduk di taman sendirian, ada apa? Ada masalah?”
“ Tidak ada, aku hanya ingin
sendirian”
“ Apa karena kejadian malam itu?”
“ Tidak, tak ada masalah apapun. Besok aku akan ikut dan memutuskan akan pergi bersamamu”
“ Em, sepertinya aku akan berharap semoga cepat pagi. Agar aku bisa bersamamu”
“ Heh, semoga malam ini adalah malam yang sangat, sangat, dan sangat panjang,”ucapku menyudahi dan pergi tidur.
Mengalihkan padangan pada tirai dinding dan mulai tidur. Suasana yang dingin membuat Tagao
memeluk Aresha saat tidur, mereka saling memeluk dalam selimut. Malam yang dingin dan sunyi, bintang-bintang bertaburan di langit dan bulan bersembunyi di balik awan.
__ADS_1