Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 81 Honeymoon


__ADS_3

Aku dan Tagao pergi dari istana dengan diiringi pengawal. Ketika telah sampai di tempat yang indah, kami mendirikan tenda. Para pengawal yang mendirikan tenda, dan pelayan menyiapkan makanan untuk raja dan ratu. Aku dan Tagao berjalan-jalan di tempat ini, dihamparan bunga yang indah. Berjalan lurus, sementara Tagao mengiringi langkahku di belakang.


           “ Seumur hidupku, aku baru melihat bunga yang indah ini. Dulu aku hanya melihat bunga-bunga dari jauh” ucapku.


          “ Tapi sekarang ada di depan matamu”.


          “ Ya, bagaimana kalau kita bermain?”


          “ Bermain?”


          “ Iya”, kuambil kain yang terselip di


pingang, dan mengikatkannya pada mata Tagao. Sekarang Tagao tak dapat melihat


apapun.


           “ Sekarang cari aku, ayo cari!”.


          Tagao tersenyum dan berjalan


berdasarkan sumber suara yang ia dengar.


          “ Ayo kemari sayang, ayo cepat!”,


Tagao terus berjalan mencari. Kadang kala kusentuh dia, hingga dia terus


mencariku. Kemudian aku bersembunyi di perpohonan, dan berucap “ Buka saja


kainnya, dan cari aku”.


          Tagao membuka kainnya dan cepat


mencari diriku.


          “ Aresha, kamu dimana? Akan kutangkap


kamu jika kutemukan”.


          Tertawa kecil dan berlari. Tagao


melihat Aresha dan cepat berlari menangkapnya. Tagao kehilangan Aresha lagi,


dan mencarinya.


          Kusembunyikan diriku di belakang pohon


besar dan mengamati Tagao dari jauh. Kulihat dia semakin dekat dan terus


kuamati. Dia berjalan ke semak-semak dan menghilang. Aku yang melihat itu


langsung cemas, “ Dia pergi kemana?”, melihat-lihat sekitar.


          Tiba-tiba seseorang menutupi mulutku


dan memalingkan diriku untuk melihatnya. Ternyata orang itu adalah suamiku.


Tangannya mulai melepas dan diletakannya di samping tubuhku, meletakannya di


pohon. Aku mulai melangkah mundur, tak ada langkah lagi ketika kakiku merasakan


menginjak batang pohon. Tagao mendekatkan dirinya padaku, semakin dekat. Dia


ingin menciumku namun aku menyingkirkan wajahku padanya. Tagao tersenyum dan


berucap “ Kemarilah!”.


          Kudekatkan diriku padanya dan berucap


“ Hem, kamu mau apa?”.


          “ Bermain denganmu”


          Jari telunjuk bermain di tubuh Tagao


dan memegang kedua pundaknya, lalu berucap “ Bagaimana kalau, sebuah….”. Mulai


mengecup bibirnya, Tagao memegang tubuh Aresha dengan erat dan bercumbu.


Kudorong tubuhnya perlahan-lahan, dia pun menghentikan ciumannya padaku.


          “ Ada apa?” tanya Tagao.


          “ Jangan berlebihan ah, ayo kita


kembali kekemah. Gendong aku ya!”.


          Tagao menurunkan dirinya dan aku mulai


naik ketubuhnya. Dia mengendong diriku hingga ke kemah. Semua orang yang ada di


kemah melihat keromantisan kami berdua.


***


          Sore hari, Tagao berlatih dengan


pedangnya bersama pengawal. Diam-diam aku pergi dari sana, beberapa pelayan


sempat melihatku namun aku meminta mereka untuk diam. Berjalan memasuki hutan,


mencari air terjun. Aku merasakan derasnya air mengalir, “ Jangan katakan aku


tak akan bisa sampai kesana” ucapku.


          Terus berjalan hingga aku tak sadar


hari telah malam. Jalan yang kulewati tak dapat di lihat dengan jelas.


Tiba-tiba aku mendengar sekelompok orang berbicara mengarah kemari. Dengan


cepat aku bersembunyi di balik pohon.


          “ Kudengar raja Tagao dan


permaisurinya di sini. Kita harus berpencar untuk membunuhnya”


          “ Kita kelilingi mereka dan serang di


tengah malam”


          “ Baik”.


          Kudengar itu semua, dan aku terus


bersembunyi. Kadang-kadang berjalan kembali ke kemah. Di jalan menuju kemah aku


bertemu dengan Tagao dan pengawalnya. Aku langsung memeluk dirinya.


          “ Kamu baik-baik saja? Kemana saja


kamu pergi?” tanya Tagao.


          “ Aku tersesat, aku jalan sebentar


mencari sesuatu. Aku tak menumukan jalan pulang”


          “ Lain kali jika ingin pergi ajak aku


ya!”


          “ Baiklah”.


          Kemudian aku dan Tagao serta pengawal


kembali ke kemah. Duduk di depan api ungun bersamanya. Tagao meletakan tangan


kanannya di bahu kiriku lalu berucap “ Zuya, ingin menikahi adikku. Apa kamu merestui


mereka?”.


          “ Entahlah, akan kupikirkan. Sebaiknya

__ADS_1


malam ini penjaga mengawasi di sekitar kita. Aku takut ada seseorang yang akan


menghancurkan malam kita bersama”.


          “ Tak usah takut, mereka semua akan


berjaga untuk kita”


          “ Aku tak bisa mempercayai mereka”


          “  Percaya lah, kamu mau pergi kemana besok jika tidak kita akan tetap disini?”


          “ Aku mau pulang saja”


          “ Baiklah, kau kecewa denganku?”


          “ Ya sangat kecewa”


          Aku masuk ke kemah, Tagao menyusul


diriku. Aku tidur berlawanan arah dengan Tagao.


          Tepat di tengah malam, mereka


melakukan penyerbuan terhadap kemah kami. Tagao bangun dan melawan pemberontak.


Aku bangun dan mengintip mereka. Jumlah mereka yang menyerang kami sangat


banyak, dan jumlah kami semakin sedikit. Aku keluar dari tenda dan melihat


Tagao melawan pemimpin mereka. Tagao terluka tangannya.


          “ Hentikan….”ucapku berteriak.


           Pemimpin pemberontak itu mendengar, dan


menghentikan perlawanannya. Mendekati diriku dan berucap “ Bagaimana kalau aku


membawanya pergi darimu dan menjadikannya pemaisuriku?”. Tiba-tiba aku langsung


tak sadarkan diri.


          Kubuka mataku perlahan-lahan, melihat


tempat ini bukan lagi di kemah. Seorang pria dengan suara yang kukenal berucap


“ Apa kau baik-baik saja?” tanya Tagao. Tagao membantuku duduk, menyentuh


kepala dan menjawab “ Apa yang terjadi?”.


          “ Ceritanya panjang, yang terpenting


sekarang kita sudah aman”.


          “ Eh, aku hanya ingat saat kamut terluka


di tangan. Apa sekarang luka itu telah kamu obati?”


          “ Ya sudah, lihat ini!”, Tagao


memperlihatkan tangannya yang diperban.


          “ Syukurlah”. Kemudian aku berdiri dan


melangkah, “ Harinya sudah pagi ya! Hah, benar-benar malam yang lelah”.


          “ Ya begitulah. Besok adalah hari


pernikahan Zuya dengan Takara”


          “ Hah, hari pernikahan mereka?”


          “ Iya, kamu baik-baik saja kan?”


          Melangkah masuk ke kamar mandi,


sebelum menutup pintunya berucap “ Ya sepertinya”.


          Pukul 10.00 pagi, aku mulai membantu


menata ruangan untuk pernikahan mereka berdua. Memilih dan menata bunga-bunga


di setiap sudut ruangan. Dari luar Tagao masuk dan mendekati Aresha.


          “ Bunganya bagus” ucap Tagao.


          “ Terima kasih tetapi pujiannya untuk


mereka berdua”


          “ Kamu mau pergi bersama mereka


berdua?”


          Sambil menata bunga, aku menjawab “


Entahlah, malam-malam yang lalu juga mengalami hal yang suram”.


          “ Ayolah, semoga saja kali ini tidak”


          “ Kemana?” berhenti menata bunga dan


melihat Tagao.


          “ Kastil, ada beberapa pengawal dan


pelayanan. Kita bisa membeli barang-barang dan menikmati malam hanya kita


berdua”


          “Boleh juga, baiklah aku setuju


denganmu”


          Tagao tersenyum dan berusaha menyimpan


rasa bahagianya, lalu berucap “ Baiklah, besok!”.


          “ Iya, besok”.


          Tagao pergi meninggalkanku. Kemudian


Takara datang menghampiri.


          “ Kakak, sebaiknya kakak istirahat


saja. Kakak pasti lelah”


          “ Sebenarnya aku melakukan ini demi


menjauh dari suamiku”


          “ Kenapa kamu menjauh dari Tagao?”


          “ Sebab aku kesal dengannya, lihat


saja malam-malam kami berdua. Selalu dalam masa suram”


          “ Jadi kamu kesal karena malam itu?”


          “ Mungkin”


          “ Bagaimana kalau kamu dan kakaku ikut


bersama kami ke kastil”


          “ Dimana?”


          “ Kastil-nya terletak di hutan, tetapi


ada penjaga dan pelayan juga”

__ADS_1


          “ Namanya?”


          “ Kastil Afela”


          Menghentikan menata bunga, lalu


berucap menakut-nakuti Takara “ Manusia serigala pasti ada disana, mereka akan


menculikmu”.


          “ Manusia serigala itu tidak ada, itu


hanya mitos”


          “ Mungkin, tapi kamu takut tidak?  Ya baiklah aku ikut. Kakakmu juga mengajakku


tadi”


          “ Tidak, benarkah? Lalu kamu


menerimannya?”


          “ Ya menerimannya tapi masih ragu”


          “ Baiklah, aku pergi dulu” ucap Takara


melangkah menaiki tangga mencari Tagao.


          “ Ya silahkan” jawabku. Kemudian aku


kembali menata bunga-bunga dan membantu yang lainnya.


          Takara pergi meninggalkanku.


Kulangkahkan kakiku menaiki tangga dan masuk kekamar. Duduk di kasur dan


berucap “ Hahah, ada-ada saja. Tapi syukurlah pernikahan ini baik-baik saja”.


          Menjelang malam seusai makan bersama.


Diriku jalan-jalan ditaman istana dan duduk dikursi. Melihat bintang dan bulan


dilangit, kemudian berucap “ Ibu, aku harap semua ini akan lebih baik. Restu


ibu, adalah sebuah penghormatan besar bagiku. Sebuah bintang jatuh atas dasar


tugas dan tujuannya kemari. Maka malam ini lah, malam yang hening tanpa sepatah


katapun untukku. Entah siapa aku ini? Penghianat atau putri ibu?”.


          Dari dalam istana ibu Tagao


memperhatikan Aresha yang duduk sendirian ditaman. “ Ada apa dengannya?


Beberapa malam ini dia selalu disana. Apa ada masalah ya? Atau mereka belum


juga berbulan madu? Aku harus bertanya pada anakku, jangan sampai istrinya


selalu bersedih begitu” ucapnya.


          Tagao yang berjalan menuju kamar tak


sengaja melihat ibunya belum juga tidur, Tagao menghampiri.


          “ Ibu, mengapa ibu belum tidur?”


          “ Tadinya ibu ingin tidur, tapi ibu


tak sengaja melihat Aresha duduk disana sendirian. Ibu memperhatikannya, nampaknya


kalian berdua memiliki masalah ya?”, tangannya menunjuk Aresha.


          “ Tidak ada bu, kami baik-baik saja”


          “ Lalu kenapa Aresha selalu duduk


disana sendirian?”


          “ Entahlah”


          “ Bagaimana bulan madu kalian berdua?”


          “ Gagal, serangan dari pemberontak


saat kami berkemah. Mungkin Aresha masih kesal dengan kejadian itu”


          “ Sebaiknya kamu ajak dia jalan-jalan,


kalian bisa bersama dengan adikmu juga kan untuk bulan madu”


          “ Ya bu, terima kasih atas sarannya.


Sepertinya aku harus segera pergi ke kamar, Aresha sudah mulai pergi dari sana”


          “ Begitu juga dengan ibu, selamat


malam anakku”


          “ Selamat malam bu”.


          Tagao masuk kekamar dan berpura-pura


tidur. Sedangkan ibunya masuk ke kamar dan tidur sendirian.


          Angin malam menusuk kulitku hingga


membuatku menggigil. Aku melangkah masuk kembali kekamar. Kulihat suamiku


sedang berbaring di kasur, dia tertidur. Kubaringkan diriku disampingnya.


Kupejamkan mataku sejenak dan membukanya kembali. “ Hah, jadi selamat tidur”


ucapku.


          “ Selamat tidur juga” jawabnya.


          Aku kaget mendengar dia menjawab


ucapanku, “ Jadi kamu belum tidur?”


          “ Bagaimana aku bisa tidur jika kamu


tidak ada disini”


          “ Jadi kamu menungguku tadi?”


          “ Ya begitulah”


          “ Padahal tidak usah menunggu pun


biasanya sudah tidur”


          “ Ngak, aku ngak seperti itu. Aku lihat


kamu duduk di taman sendirian, ada apa? Ada masalah?”


          “ Tidak ada, aku hanya ingin


sendirian”


          “ Apa karena kejadian malam itu?”


          “ Tidak, tak ada masalah apapun. Besok aku akan ikut dan memutuskan akan pergi bersamamu”


          “ Em, sepertinya aku akan berharap semoga cepat pagi. Agar aku bisa bersamamu”


          “ Heh, semoga malam ini adalah malam yang sangat, sangat, dan sangat panjang,”ucapku menyudahi dan pergi tidur.


                    Mengalihkan padangan pada tirai dinding dan mulai tidur. Suasana yang dingin membuat Tagao


memeluk Aresha saat tidur, mereka saling memeluk dalam selimut. Malam yang dingin dan sunyi, bintang-bintang bertaburan di langit dan bulan bersembunyi di balik awan.

__ADS_1


__ADS_2