
“Entahnya!”
Roman pun segera mendekati lubang itu, tetapi begitu mendekat lubang itu tertutup lagi.
“Hah, ya ampun! Kenapa tertutup lagi? Apa mereka semua ada di bawah?” tanya Roman sedikit mengeluh protes karena tak sempat melihat lubang tanah itu terbuka.
“Tidak ada, ini aneh sekali! Mereka tidak ada di bawah”
“Apa mungkin ada seseorang yang mencoba mencelakai mereka disini?”
“Ya ampun itu tidak mungkin! Mungkin karena bangunan ini di penuhi jebakan”
“Tenang saja, aku adalah pengendali tanah. Aku akan menghancurkan jebakan ini!” ucap seorang peserta ujian ability magie dari klan pengendali tanah.
“Ya baiklah, aku serahkan padamu!”
Kemudian mereka pun melangkah mundur menjauhi tempat ini, sementara seorang dari klan pengendali tanah tetap tinggal disini. Ia pun mulai mengeluarkan kemampuannya. Membuat jebakan tanah ini tak lagi berfungsi dan menunjukan tanah kembali berlubang tanpa tertutup lagi. Setelah beres, mereka yang jauh kembali mendekat.
Mereka melihat tanah yang berlubang dan tidak ada siapapun di bawahnya.
“Kemana mereka semua pergi?”
__ADS_1
“Entahlah!” jawab Roman yang tanpa banyak bicara ia langsung melompat masuk ke lubang. Lubang ini cukup dalam.
Violin yang melihat Roman menerjunkan diri itu pun segera mengikutinya yang kemudian disusul oleh yang lainnya. Lubang ini mampu menampung semua orang yang ada disini. Lubang ini cukup gelap hingga mereka yang memiliki kemampuan dalam sihir cahaya mulai menggunakan kemampuannya untuk menerangi tempat ini.
Cahaya itu secepatnya menerangi tempat ini yang memperlihatkan ada lubang lainnya yang seperti jalan rahasia. Bahkan ada banyak jejak kaki yang seperti baru saja ada yang melintasi tempat ini.
“Apakah ini jejak kaki mereka?”
“Ya mungkin saja, jejak kakinya sangat banyak. Mereka dua kelompok kan?”
“Ya, itu artinya 8 orang!”
“Apa kita harus mengikuti jejak ini? Bagaimana kalau jejak ini bukanlah jejak kaki mereka?”
“Ya, dan mereka!”
Mereka pun memutuskan untuk mengikuti jejak kaki itu, entah akan berakhir dimana tetapi lorong ini tampak tak memiliki akhir.
“Violin, menurutmu lorong ini akan membawa kita kemana?” tanya Gisel.
“Entahlah, aku tidak tahu” jawab Violin.
__ADS_1
“Aku mulai merasa tak nyaman dengan lorong ini!” ucap Hani.
Hingga mereka tiba di lorong yang bercabang. Kini ada dua lorong di depan mereka, dan ada jejak kaki di setiap lorong itu.
“Bagimana ini? Lorong mana yang harus kita pilih? Lorong ini punya jejak kaki!”
“Disini juga ada!”
“Hah, jadi ada dua jejak kaki? Roman, kita pilih lorong yang mana?”
“Entahlah, tetapi mungkin salah satu dari lorong ini adalah jebakan!”
“Ya, benar. Netta, kamu pilih lorong yang mana?” ucap Steven.
“Aku tidak tahu, tapi jalan satu- satunya adalah berpencar. Apapun yang terjadi, setidaknya kita harus tetap saling melindungi. Sebagian mengikuti Roman dan sebagian mengikuti Eren. Dari Buniv mengikuti kami, dari Akademi Yexiao silahkan ikuti Roman!” saran Netta.
“Ya baiklah, itu ide yang bagus. Bagaimana pendapat kalian?” ucap Eren setuju dengan saran Netta.
*Thank you for reading, leave a trail with comments, shares and likes. Please promote in the chapter, please don't reply to comments because I can't find it quickly. if there is free time, I will stop by.
__ADS_1
I like you.