Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 63


__ADS_3

Roman pun segera membuka pintu dengan kunci yang di ambil di karpet lantai. Pintu terbuka, sekarang kegelapan terlihat menyelimuti ruangan ini. Rumah kecil satu pintu ini ternyata memiliki ruang bawah tanah. Roman segera menyalakan obor, lalu mengajakku ke bawah yang membuat diriku takut dan menahan diri.


“Aku takut!”ucapku menahan diri untuk tidak masuk.


Lagi, Roman memegang tanganku sambil tersenyum ia menjawab “Tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja kok. Tidak akan ada yang menyakitimu. Kupikir ini juga akan membuatmu aman. Ayo masuk, kita harus segera mengunci pintu agar Eren dan Akira tidak bisa masuk”,


“Apa kamu akan melindungiku?”,


“Tentu, kan aku sudah berjanji denganmu untuk melindungimu”


“Baiklah”jawabku yang akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Begitu masuk, Roman segera mengunci pintunya dari dalam. Lalu ia mengambil obor yang menyala. Roman berjalan lebih dulu, ia lagi-lagi memegang tanganku. Ia membawaku ke ruang bawah tanah yang lumayan luas. Ruang bawah tanah yang dapat disebut untuk memakamkan seseorang. Disini terdapat satu peti mati yang semakin membuatku takut.


“P-Peti mati siapa itu?”


“Tak usah takut, itu hanya peti mati. Kita bersembunyi disini hingga malam ke tiga berakhir. Eren dan Akira tak akan bisa mencium aroma tubuhmu dibawah tanah ini”jawab Roman sambil meletakan obor di dinding.


Obor itu lah yang menerangi ruangan ini. Semua dinding terbuat dari tanah dan batu. Sementara peti mati itu terbuat dari kayu yang diukir dengan bagus, kayunya pun terbuat dari kayu jati yang kuat. Roman membuka peti mati itu. Kini terlihat lah isi peti itu yang ternyata isinya kosong. Melihat ini membuat ku lega tapi ketakutan itu terus ada.


“Masuk, ayo masuk!”ajak Roman yang lagi-lagi membuatku ketakutan. Aku hanya bisa meneguk air liur, dan berguman dalam hati “Ya Tuhan, apakah ini akhirnya? Orang yang setengah kupercaya ini yang akan mengakhiri hidupku disini? Mengapa? Mengapa aku bodoh dan harus mengikutinya? Seharusnya aku lari saja tadi. Apa ia menginginkan aku mati?.”


Keringat dingin segera menguncur keluar dari tubuhku, sementara Roman hanya memperhatikan peti mati yang kosong dan didalamnya ada bantal dan selimut. Kuseka keringatku dengan tangan, lalu berucap “R-Roman, sebenarnya peti mati siapa ini? Ukirannya seperti ukiran berumur ribuan tahun”tanyaku.


Roman tersenyum, lalu menjawab “Ya kamu benar, memang peti mati ini usianya ratusan tahun. Bagi seorang vampire, tempat peristirahatannya terakhir adalah tempat yang istimewa. Apa kamu sedang ketakutan Violin? Mengapa detak jantungmu berdetak sangat cepat?” Roman segera mengubah dirinya menjadi vampire. Mata merahnya dapat merasakan ketakutan dalam diri Violin dan detak jantung yang berdetak cepat.


Seketika itu wajahku menjadi pucat pasi, dan sekarang ketakutanku bertambah karena Roman mengubah dirinya menjadi vampire. Mata merah, kuku panjang dan tajam serta taring itu sangat membuatku ketakutan. Aku ingin sekali lari darinya tapi kakiku tidak kuat untuk berlari hingga akhirnya aku jatuh pingsan. Semua mulai terlihat gelap dan sangat gelap, kesunyian pun datang.


Vampir tampan yang menakutkan mendadak kebingungan setelah melihat Violin jatuh pingsan. Ia heran mengapa Violin jatuh pingsan tanpa sebab. Violin yang pingsan membuatnya panik seketika, ia segera mengubah dirinya menjadi manusia. Ia segera mendekati Violin lalu memangku Violin dalam pangkuannya. Menggerak-gerakkan tubuh Violin, berharap Violin segera sadar.


“Violin, Violin bangun! Bangunlah Violin, apa aku telah membuatmu takut? Aku-aku tidak sengaja! Bangunlah Violin”ucap Roman sambil menggerak-gerakkan tubuh Violin.


Tapi Violin tidak membuka matanya, Roman pun panik. Ia segera membawa Violin keatas, keluar dari rumah pemakaman menuju kamar Roman. Roman menggendong depan Violin, lalu berlari dengan cepat layaknya seorang vampire. Dalam sekejap, Roman dan Violin tiba di kamar Roman. Ia segera membaringkan tubuh Violin ke kasur, lalu menyelimuti tubuh Violin dengan selimut. Roman melihatnya sebentar lalu berucap “Violin, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kamu takut denganku? A-aku akan segera kembali dan membawakanmu seorang dokter. Tunggu ya?”senyumnya.


Kemudian Roman keluar dari kamar, dan menghubungi seorang dokter yang sama untuk datang kemari untuk mengobati Violin.


15 menit kemudian,


Di beranda rumah, sebuah mobil berhenti. Kedatangannya disambut oleh penjaga, lalu mereka menemui Roman yang duduk di ruang tamu. Tamu itu adalah dokter yang akan memeriksa Violin. Roman yang melihat kedatangan dokter, ia segera menghampiri. Lalu membawa dokter itu menuju Violin yang pingsan. Roman dan dokter mulai menaiki tangga bersama-sama.


Di depan kamar Roman, seorang penjaga mulai membuka pintu. Lalu Roman dan dokter masuk ke kamar. Pintu segera ditutup kembali oleh penjaga. Dokter pun segera mengeluarkan alat untuk memeriksa kesehatan pasien, Violin.


Beberapa saat kemudian, dokter pun memberikan keterangan pada Roman. Ia membereskan peralatannya, lalu mendekati Roman dan berucap “Tuan Roman, Tuan tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan perlu minum vitamin. Ini obatnya, obat vitamin ini diminum sesudah makan. Pastikan dia menjaga makanan yang dikonsumsi, jangan terlalu memaksakan diri dalam beraktivitas.”


Dokter Yui memberikan obat vitamin pada Roman, Roman segera mengambilnya. Lalu berucap “Ya baiklah dokter, terima kasih sudah bersedia datang kemari”


“Sama-sama Tuan Roman, ini sebuah kehormatan bagi saya untuk membantu Tuan.”,


Kemudian Roman mengantarkan dokter kembali ke mobilnya. Ia terus mengikuti sang dokter hingga masuk ke mobil. Pintu kembali dibuka oleh penjaga, dua penjaga tetap bertahan untuk menjaga Violin di depan pintu. Melintasi penjaga Roman memberikan obat vitamin pada penjaga yang bertahan. Lalu dua penjaga lainnya mengikuti Tuan Roman dan dokter Yui hingga ke beranda rumah. Setiba di beranda rumah, penjaga segera membukakan pintu mobil sang dokter.


“Dokter Yui, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang. Terima kasih”ucap Roman


“Tuan Roman, tidak masalah. Saya akan selalu bersedia membantu, Tuan Roman. Tuan Roman pernah membantu saya, sekarang saya akan membalas kebaikan Tuan Roman pada saya”,


“Ya, saya pikir kamu akan melupakan kebaikan itu. Kamu berhak mendapatkan pertolongan, karena kamu adalah pria yang baik dan suka menolong orang. Takdir tak sia-sia mempertemukan kita, dokter Yui”,

__ADS_1


“Ya, saya harap saya dan Tuan Roman dapat menjalin hubungan baik ini sampai waktu memisahkan saya dengan raga ini”,


“Ya saya harap juga begitu, sekali lagi terima kasih dokter Yui. Kedatangan dokter membuat saya legah dan bisa tenang”,


“Ya, kalau begitu saya pamit pergi Tuan Roman. Semoga hari Tuan Roman menyenangkan!”


“Ya, hati-hati di jalan dokter Yui”


Kemudian dokter Yui segera masuk ke mobil, lalu pergi meninggalkan rumah ini dan Tuan Roman. Roman pun segera masuk ke rumah, ia segera naik ke lantai atas dan masuk ke kamar. Roman memperhatikan Violin yang terbaring.


Roman pun segera mendekati Violin, ia mengambil kursi rias dan meletakkannya di dekat Violin. Lalu duduk dan memandangi gadis itu dengan penuh harapan. Roman pun memegang erat tangan Violin sambil tersenyum.


“Kamu selalu saja jatuh pingsan, apa kamu takut padaku ketika aku menjadi vampire? Mungkin aku harus menyembunyikan diriku yang sebenarnya padamu ya? Tapi itu sangat tidak adil untukku. Maukah kamu menerimaku apa adanya? Bukan ada apanya!.”


“Apa maksudmu?”tanyaku yang langsung membuka mata dan melihat Roman disampingku. Ia sedang memegang tanganku sekarang.


Roman pun kaget, ia segera melepas tanganku.


“E…maaf, aku tidak bermaksud. Apa kamu merasa baikan sekarang?”


“Ya, terima kasih telah membawaku kemari dan tidak membuatku takut lagi”


“Apa aku baru saja membuatmu takut tadi? Hingga kamu jatuh pingsan?”


“Ya kamu membuatku ketakutan setengah mati, Roman!”


“Maaf, aku sungguh tidak bermaksud membuatmu takut. Maaf…”ucap Roman sambil menundukan kepala ke bawah.


“Apa yang kamu ucapkan? Meski kamu telah membuatku takut tapi kamu berbeda dengan orang yang pernah menyakiti perasaanku. Kamu membuatku tenang, Roman”,


“Bukan, itu adalah Demian. Ia mantanku. Ia memanfaatkanku selama aku dan dia menjalin hubungan. Aku membencinya, sungguh aku ingin melupakannya. Andai saja kecelakaan itu menghilangkan ingatan yang pahit ini, aku tentu terbebas. Tapi kamu hadir dalam hidupku, tingkahmu sangatlah lucu. Tapi juga membuatku takut, bukan berarti kamu harus sedih. Aku lah yang harus mengubah hidupku untuk berani melihatmu, Roman”jelasku.


Roman pun mulai melihat diriku, aku hanya tersenyum.


“Apa kamu mau melihat rumah kecil itu lagi? Rumah yang disebut dengan pemakaman!”canda Roman tersenyum manis.


Wajahku mulai pucat pasi lagi, aku ketakutan lagi. Aku pun segera duduk dan mendekati Roman yang duduk di kursi.


Dekat dengan Roman, dan menatapnya sesaat lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya.


“Roman, jika kamu tidak suka denganku maka jangan bunuh aku! Aku sungguh takut denganmu yang tadi, itu sama saja kamu ingin membunuhku”,


Roman berdiri, lalu tertawa. Ia segera mendekatiku dengan sangat dekat. Hingga wajahku memerah.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Mendekatimu, kupikir kamu akan mati ketakutan sekarang!”


“Astaga, hentikan ini!”


“Tak bisa, kamu telah membuatku…..”ucap Roman memotong ucapannya.


“Apa?”tanyaku menahan diriku yang sangat dekat dengannya untuk tidak jatuh ke kasur.

__ADS_1


“ Bisakah kamu tidak membuatku takut saat kamu jatuh pingsan? Kamu membuatku panik, Violin”,


Ucapan Roman membuatku tertawa geli, “Hahaha…benarkah aku telah membuatmu panik? Tapi kamu ini seorang vampire, kenapa harus panik. Aku bahkan tak terluka sedikit pun.”


“Ya, tapi aku juga bertanggung jawab terhadapmu kan? Selama kamu tinggal disini”,


“Ya kamu benar, bisakah kamu sedikit menjauh dariku?”,


Roman mulai menabur senyumnya padaku, “Maaf, aku tidak bisa mundur jika telah maju!”


“Hey..hey apa yang kamu lakukan?”ucapku panik seketika Roman mendekatkan wajahnya padaku.


Spontan sebuah ciuman mendarat di bibirku. Ciuman dari sang vampire yang menyeramkan dan membuatku takut setengah mati. Bibir merah yang lembut, dan pelukan hangat. Roman mencium aroma tubuh Violin yang begitu dekat dengannya, aroma tubuh yang sama seperti aroma tubuh istrinya. Pikirannya teralih dengan lembut tertuju pada sang istri bukan pada gadis yang sedang dicumbunya.


Sebuah ciuman pertama pada diriku dengan Roman, vampire yang membuatku takut setengah mati. Pelukan hangat yang tak akan kulepaskan begitu saja, sebuah gairah muncul dalam jiwaku.


Tetapi sebelum semuanya berlanjut, aku justru menghentikan gairah yang masih bergejolak dalam diriku. Aku tak peduli dia marah atau membenciku. Aku mendorong tubuhnya untuk menjaga jarak denganku.


“Menjauhlah”ucapku


“Ada apa?”senyumnya penuh makna


“Aku tidak ingin melanjutkan ini, dan aku ingin beristirahat. Bisakah kamu meninggalkanku sendirian?”


“Bagaimana kalau satu ciuman lagi?”


“Apa aku harus membuka jendela ini dan memperlihatkan betapa indahnya matahari itu?”


“Oh baiklah, tidak masalah aku akan pergi”jawabnya yang kemudian pergi meninggalkanku. Namun langkahnya terhenti di depan pintu, “Tapi aku ingin….”ucapnya lagi.


“Aku akan benar-benar membuka tirai ini jika kamu tidak pergi Roman!”


“Ya baiklah, mengapa tidak satu ciuman lagi?”,


“Hah, maaf negosiasimu ditolak jadi cepatlah keluar!”


Tanpa sepatah kata lagi Roman segera keluar dan menutup pintunya lagi. Roman melangkah meninggalkan kamarnya sendiri dengan senyuman dan tangan yang menyentuh bibirnya. Roman masih dapat merasakan betapa lembutnya ciuman itu.


“Aku akan sangat merindukanmu, Violin sayang”ucap Roman.


Diriku merasa legah begitu Roman pergi, aku pun segera membuka tirai yang tertutup. Matahari menjelang sore segera masuk memberi cahaya, menerangi tempat ini. Aku pun berdiri di depan jendela kaca, melihat jauh taman bunga dan rumah kecil.


Kusentuh bibirku, aku masih merasakan kecupan manis itu. Tapi sebuah ingatan melintas di pikiranku. Ingatan yang kelam tentang seorang pria. Perlahan-lahan ingatan itu menjadi-jadi hingga membuat kepalaku sakit, semakin aku menahannya semakin sakit rasanya. Aku pun segera mendekati kasur dan duduk sambil memegang kepalaku, menahan rasa sakit. Aku pun mencoba menerima ingatan yang menyakitkan kepalaku ini. Kupejamkan mataku, dan mulai kurasakan tentang ingatan itu.


Sebuah ingatan tentang….


“Menikahlah denganku, maka hidupmu akan lebih baik”senyumnya.


Diriku menangis ketika melihat seorang pria dengan wajah yang taka sing, Romeo. Romeo menikahi gadis lain yang membuatku hancur. Ia telah mengkhianati diriku. Aku pun menerima lamaran dari pria lain. Tetapi waktu berubah, bukan kebahagian yang kudapat melainkan kesedihan. Aku ditinggalkan suamiku. Ia ternyata mencintai gadis lain, gadis itu adalah istri Romeo. Aku menangis mengingat ingatan masa lalu ini. Aku ingat siapa diriku yang sebenarnya, aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di hutan. Roman, adalah suamiku. Ia meninggalkan ketika berperang melawan Romeo. Romeo berhasil masuk ke istana meninggalkanku seorang diri duduk di kursi tahta. Diriku menangis menjatuhkan air mata ketika kekasih yang mengkhianatiku datang untuk membunuhku. Sebuah anak panah dengan cepat menusuk jantungku, dan mengakhiri kisah hidupku. Tidak ada kebahagian yang datang dalam hidupku kecuali kesengsaraan dan pengkhianatan. Rasi dan Martha datang, mereka menyesal tak menjagaku dengan baik.


Cahaya kehidupan datang kembali padaku yang disebut sebagai reinkarnasi. Sebuah pemangkitan terjadi yang dilakukan oleh Romeo dan Roman. Pembangkitan itu melahirkan diriku kembali dengan seorang bayi perempuan yang mirip denganku. Kami berdua disebut bayi kembar, hal yang sebenarnya adalah hanya ada janji bayi itu. Sementara aku hanyalah arwah yang dipanggil untuk hidup kembali. Sebuah kesalahan kembali terjadi, Martha tidak membawaku pergi melainkan membawa bayi kembarku itu yang diberi nama Alecia, dan diriku diberi nama Alika. Bukan kebahagian yang kudapat di kehidupan kedua melainkan kesedihan dan penderitaan. Cintaku tak terbalas, dan direbut oleh gadis lain. Roman sangat sedih, ia mendapatkan hal yang sama sepertiku. Tapi cinta hanya datang sekali, setelah reinkarnasi aku akan jauh tak seperti dulu lagi walau waktu mengaturnya. Peraturan reinkarnasi memiliki akibat atau resiko nya sendiri.


Semua ingatan itu benar-benar membuat air mataku jatuh, kini aku ingat akan kejadian di masa lalu. Tapi sebuah aturan reinkarnasi terus berjalan dalam diriku. Sebuah aturan yang hanya bisa di ubah oleh takdir, dan bukan aku. Dan, aku akan disebut sebagai gadis penyihir yang bereinkarnasi. Martha dan Rasi telah tahu semua ini. Tapi bukankah tidak baik jika memberitahu kekasih yang telah menyakiti kita di masa lalu bahwa kita telah kembali? Aku ingin mengubah nasibku bukan untuk kembali ke masa lalu yang penuh dengan pengkhianatan atas cinta. Senyumku memenuhi kehidupan dan ruangan ini.

__ADS_1


“Selamat datang gadis penyihir, di kehidupan ketiga. Kamu yang menentukan kehidupan ini bukan mereka. Sekarang ikuti aturan resikonya sebagai orang yang bereinkarnasi.”


__ADS_2