Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 318 Dunia Mimpi Rasi Part.3


__ADS_3

Anak perempuan itu tersenyum manis, “Ya aku mengenalnya!”


Lagi, Rasi dibuat terkejut dengan jawaban anak perempuan ini.


“Kamu mengenalnya? Apakah Alecia dari masa lalumu? Apakah ia adalah gadis reinkarnasi?”


“Bukan, tapi ia adalah bagian dari keluargaku.”


“Keluarga? Maaf...maafkan aku! Aku tidak tahu jika Alecia adalah bagian dari keluargamu. Aku sungguh minta maaf!” ucap Rasi sembari menundukan kepalanya dan berlutut. Rasi benar- benar tidak tahu.


“Tidak tahu ya? Hahahah.... lucu sekali! Kamu tidak tahu? Lalu bagaimana kamu membangkitkan Alika sialan itu? Bagaimana kamu membangkitkannya?” ucap anak perempuan itu dengan nada suara keras. Anak perempuan ini sangat marah pada Rasi.


“Aku- aku tidak memikirkan hal itu. Maafkan aku!.”


“Kau tahu kan hukuman bagi orang yang mengganggu keluargaku?”


“Ya, aku tahu!” jawab Rasi masih menundukan kepalanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang posisinya dalam bahaya, ia harus berhadapan dengan ratu penyihir matahari sekaligus kembaran Alika. Rasi masih ingat akan hukum di kerajaan ini, pengkhianat akan di hukum mati bahkan orang yang mengusik keluarga kerajaan.


“Aku ingin bertanya padamu, apa yang kamu lakukan pada ibu Alecia? Kenapa kalian tidak menyelamatkannya? Bukankah kamu seorang penyihir yang mampu menyelamat kan nyawa seseorang?”


“Aku- maafkan aku! Aku tidak ada disana saat itu.”


“Siapa yang ada disana?”


Rasi terdiam, ia takut untuk mengatakannya. Ia menduga jika dirinya mengatakan siapa yang terlibat maka mereka akan dihabisi.


“Hai, kenapa diam saja? Katakan padaku, siapa yang terlibat? Bagaimana dengan Martha? Apa ia terlibat?”

__ADS_1


Rasi tetap diam, ia tetap menundukan kepalanya.


“Oh baiklah, jika kamu tidak menjawabnya maka berarti Martha juga terlibat ya. Apa dua pria itu juga? Ya maksudku Roman dan Romeo. Dua pria yang sangat mencintai Alecia, orang yang rela melakukan hal bodoh untuk gadis sialan itu!”


Rasi tetap diam, ia tidak menjawab sepatah kata pun meski hati dan perasaannya ingin mengatakan sesuatu.


“Rasi, Rasi... katakan saja padaku, apa yang terjadi? Aku akan memaafkanmu, jadi cepatlah katakan siapa saja yang terlibat? Kau tahu!, aku tidak akan mengampuni untuk orang yang menghalangi diriku melakukan sesuatu. Jadi, selagi aku berbaik hati padamu. Katakan saja siapa yang terlibat.”


Rasi tetap diam, ia diam membisu.


“Rasi... jika kamu terus diam, maka jangan salahkan aku yang akan menghabisi seluruh peserta ujian ability magie!”


Rasi terkejut dengan ancaman itu, perkataan itu bukanlah kata main- main. Ia berhadapan dengan situasi serius sekarang. Rasi tetap diam, dan pikirannya tertuju pada anak- anak polos tak bersalah.


“Rasi, aku tidak main- main loh! Kau tahu tidak, dibalik ujian mereka dan tujuan mereka mencari kristal yang hilang itu! Aku telah menyiapkan jebakan untuk mereka, loh! Sekarang ada beberapa anak yang ada padaku, mereka tidak kembali ke Akademi Yexiao lo seperti rencana kalian.”


“Kamu... kamu tidak serius kan? Mereka kembali ke akademi, aku yakin begitu. Kamu hanya main- main kan? Siapa dirimu sebenarnya?”


“Hah, kamu masih bertanya padaku, siapa aku sebenarnya? Menurutmu siapa? Wajah yang sama seperti Alecia dan Alika itu hanyalah cermin yang mencoba mengambil milik orang lain.”


“Kamu benar- benar dia?”


“Ya, dan sekarang katakan lah siapa saja yang terlibat? Apakah Jimwa juga? Bagaimana dengan Erega? Katakan padaku, siapa saja yang terlibat? Aku mengetahui beberapa yang terlibat, dan akan segera kusingkirkan. Ah, ya cepat atau lambat semuanya juga akan hancur. Bukankah begitu? Semua klan tanpa kristal, tidak akan berguna!”


“Kau...kau mencuri kristal itu?”


“Ya, ya... bisa dibilang begitu. Kristal itu bukan milik kalian kan?”

__ADS_1


“Kau...apa kau tahu apa yang telah kamu lakukan? Kamu membuat semua kekacauan terjadi. Apa kamu tidak memiliki hati nurani? Semua orang bisa mati karna ulahmu itu!” ucap Rasi dengan nada kesal.


“Hahaha...mati? Karna ulahku? Ya itu lah yang aku mau. Aku ingin semua orang mati. Dan aku memang tidak memiliki hati nurani. Itu sama seperti yang kamu lakukan pada seorang ibu yang hamil kan?”


Rasi terkejut, ia teringat akan perempuan yang hamil tua yang kehilangan banyak darah. Rasi ingat akan perempuan itu yang dijadikan korban persembahan membangkitkan Alika. Ia tahu apa yang terjadi disana.


“Kamu mengingatnya, Rasi? Katakan padaku, apa kamu menolong perempuan itu? Dia tidak mati seperti itu kan? Apa kamu menolongnya? Apa kamu mengetahui kalau keluarganya mencari dirinya? Apa kamu pernah merasakan hal itu?”


“Dia...dia mati kehabisan darah! Itu bukan salahku!” jawab Rasi dengan suara pelan.


“Benarkah? Kamu tahu tidak, aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Kamu dan orang- orang yang terlibat itu membiarkannya mati kan? Kalian tidak menolongnya, tetapi justru memanfaatkannya!.”


“Aku- aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu kalau dia bagian dari keluargamu!”


“Minta maaf? Apa hanya dengan minta maaf dapat menyelesaikan masalah ini? Apa dia akan kembali padaku?” ucap Ratu Matahari dengan suara keras.


Rasi terdiam, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Rasi kembali menundukan kepalanya. Sementara ratu penyihir matahari menatapnya dengan kebencian. Ratu penyihir matahari mengangkat satu tangannya.


“Kau tahu, sebaiknya kamu selamatkan mereka yang masih bisa kamu selamatkan!” ucap ratu penyihir matahari sembari mengeluarkan cahaya di tangannya, cahaya yang terang berkilau.


Sementara Rasi menundukan kepalanya, ia menyadari ada cahaya yang mengarah padanya, dan segera melihat ke arah cahaya itu. Saat itu lah ratu penyihir matahari langsung mengarahkan kekuatannya pada Rasi, ia ingin menghabisi nyawa Rasi.


“Aaaaa....Tidakkk...!!” teriak Rasi.


Cahaya itu mengenai tubuh Rasi, dan seketika membuat dirinya terbangun dari tidurnya.


Rasi terbangun dari tidur, jantungnya berdetak cepat. Ia hampir tidak bisa nafas, ia pun segera meminum air yang ada di atas meja. Air mengalir ke tenggorokannya dan memberikan rasa lega. Dirinya merasa sedikit membaik.

__ADS_1


“Hah, hanya mimpi. Ya ampun aku benar- benar dibuat ketakutan.”


__ADS_2