
Menarik napas panjang menuju ruang kelas, ucapan Roman benar-benar membuatku sebal. Duduk di kursi sambil melihat pemandangan di luar jendela.
“Huh, aku ngak seperti itu tau. Eh, tapi ngapain juga aku harus mikirin kamu mending aku mikirin Ethan”gumanku.
Tiba-tiba, “Kapawwww…pakkkk”bunyi meja yang di tapak Gisel didepanku.
“Aaaaa….”ucapku kaget cepat berdiri dengan mata menatap tajam Gisel. Lalu menarik napas meredakan jatung yang hampir copot karena kaget. “Ya ampun, hampir aja jantungan. Ada apa sih? Hingga harus napak meja!”,
“Ya kamu sendiri di panggil sejak tadi ngak heran-heran sama aku dan Hani. Lagi mikirin siapa? Cwok ya?”,
“Bukan, aku mikirin Ethan tau”,
“Ethan, siapa? Pasti cwok, eh malah ngak ngaku lagi”,
Saat seperti itu, Roman masuk ke kelas ini. Matanya melihat ke arah kami sebentar.
“Ya benar, aku hanya terpikir dia sedang apa?”
“Hem, diam-diam rindu ya sama dia. Emang dia kek gimana sih orangnya?”,
“Orang yang pernah datang ke kastil itu loh, yang mana lagi?”,
“Oh yang datang waktu itu, hem…kalau dilihat-lihat dia ganteng juga”,
Hani yang dari jauh memperhatikan percakapan kami pun mendekat.
“Siapa?”,
“Apanya yang siapa?”,
“Yang kalian bicarakan, Gisel!”,
“Oh, kami membicarakan Ethan. Itu loh cwok yang disukai Violin sekarang”
Suara Gisel yang mendadak keras itu terdengar Roman saat sedang minum hingga membuatnya tersedak.
“Uhuk…hem..em…”ucap Roman sambil menyeka pakaiannya yang terkena air dengan tisu.
Hani memberi isyarat menujuk ke arah Roman dengan menolehkan sedikit kepalanya lalu melihat ke arahku lagi.
“Ngak tau kenapa, ngak ada urusan apapun dengannya”,
“Hem, benarkah? Kalian sedang tidak bertengkar kan?”
Gisel menatapku, “Kalian serumah loh, jadi jangan sampai bertengkar”, Hani dan Gisel mulai tertawa kecil.
Emosiku terpancing, dengan nada tinggi berucap “Apa? Apa yang kalian maksud? Aku bukan…..”
Hani dan Gisel menghentikan tawa mereka, Hani mendadahkan tangannya sebagai penolakan.
“Tidak, tidak. Bukan begitu maksud kami. Kami suka kalau kamu….”ucap Hani
“Aaa…..pergi ke bangku kalian sekarang!”ucapku
Hani dan Gisel tak bisa berbuat apa-apa, mereka pun segera kembali ke tempat duduk masing-masing.
“Nyebelin banget, emang ngak ada apa selain tuh…..”gumanku yang kembali duduk mencoba menenangkan diri.
“Teng…teng….teng…”bel berbunyi tanda masuk dan dimulainya pelajaran.
Seorang guru masuk, dan kami menyambut kedatangannya dengan penuh semangat. Ia pun mulai mengabsen kami satu persatu. Lalu memberi kami pelajaran dan menerangkannya.
“Metode pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi) atau suatu opini terhadap pilihan. Menurut ahli, Brinckloe: Pengambilan keputusan adalah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses tersebut untuk menemukan dan menyelesaikan masalah organisasi. Suatu aturan kunci dalam pengambilan keputusan ialah sekali kerangka yang tepat sudah diselesaikan, keputusan harus dibuat”jelas Pak guru.
Kami mendengarkan dengan seksama penjelasan pak guru. Kadang pak guru suka bercanda yang membuat galak tawa semua murid dikelas ini hingga memenuhi tawa di ruan kelas. Tak terasa jam pelajaran segera digantikan dengan jam istirahat.
“Teng…teng…teng…” bunyi bel tanda istrahat telah datang.
Semua murid bergegas keluar dari kelas, mereka semua berjalan menuju kantin dan halaman sekolah. Ada yang sambil ngobrol kesengol tiang, berlari-lari hingga kena lemparan bola dan pingsan, ada yang menembak cwek di game online dan ngak diterima.
Aku dan dua sahabatku bergegas menuju kantin. Saat bersamaan, Angel ingin pergi dari kantin dengan memegang minuman di tangannya.
Angel melihat Violin dengan dua temannya segera berjalan mengarah pada mereka.
“Brukk…”Angel tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju Violin.
“Ya ampun, maaf. Aku ngak sengaja”ucapnya
“Eh, mata lo dimana sih? Lo sengaja ya?”ucap Hani membela dan berdebat. Sementara Gisel mengambilkan tisu untuk Violin. Violin mulai menyeka bajunya yang basah karena tumpahan air.
“Ya aku kan ngak sengaja, terus mau kamu apa? Cari ribut? Sini kalau berani?”tantang Angel.
Hani yang terpancing amarahnya segera kulerai, “Hani, sudahlah. Ngak apa-apa kok, aku pergi ke toilet dulu ya?”
Hani memandang Angel sebentar, lalu pergi mengikuti langkahku yang telah pergi duluan bersama Gisel.
__ADS_1
“Angel itu memang sengaja menumpahkan minuman”ucap Hani
“Ngak mungkin lah, dia emang ngak sengaja kok”belaku
“Huh, kamu kapan sih ngak bersikap baik sama orang? Udah tau dia yang salah masih aja di bela”
Hani nampak tidak terima akan tingkah Angel yang menumpahkan minuman padaku. Sengaja atau pun tidak, jelas Angel telah memancing amarah Hani. Sementara Gisel hanya diam, karna dia tidak akan marah pada Angel di depan orang lain tetapi ia marah di belakang. Ia seperti pembunuh berdarah dingin.
***
Angel sangat senang telah menumpahkan minuman ke pakaian Violin. Angel sengaja menumpahkan minuman ke baju Violin agar Angel dapat bersama Roman hari ini dan melaksanakan rencananya dengan lancar.
“Sekarang mereka ngak disini, sebaiknya aku persiapkan diriku untuk mendekati Roman. Pasti ia akan datang kemari sebentar lagi”ucap Angel sambil mempersiapkan diri.
Demian telah selesai memesan minuman dan melihat Angel merias dirinya di meja seorang diri. Demian duduk di depan Angel.
“Hem, kamu cantik banget hari ini. Mau jalan-jalan denganku?”,
“Ih, siapa juga yang mau sama kamu!”,
“Galak banget, kan kita pacaran!”
“Eh, sorry ya kita itu ngak pernah pacaran. Aku ngak suka sama kamu tau, lagi pula waktu itu kita cuman mau menjebak Violin”,
Ucapan Angel telah didengar Roman dari belakang, lalu Roman berjalan melintas seolah-olah tak pernah mendengar ucapan mereka.
Angel yang melihat Roman berlalu segera berdiri dan menghampirinya.
“Roman…Roman”panggil Angel.
Roman tak mempedulikan Angel, ia segera memesan minuman lalu pergi. Angel terus saja mengikuti Roman.
“Roman…”panggil Angel
Roman berhenti, dan kini Angel berada di depannya.
“Ada apa? Aku lagi sibuk nih”,
“Eh maaf, aku cuman mau tanyain kamu mau ikut ngak liburan sama aku?”
“Oh gitu, aku udah ada janji bakal liburan sama Violin”,
Angel kaget mendengar pernyataan Roman, Angel merasa dirinya hanya terlambat selangkah untuk mengajak Roman pergi liburan dengannya.
“Benarkah? Apa aku boleh ikut?”,
“Oh begitu, ya sudah tak apa”,
“Em, tapi penampilanmu hari ini cantik sekali”puji Roman yang kemudian pergi meninggalkannya.
“Aaaa…Rooman baru saja bilang aku cantik. Ya ampun, aku rasa aku adalah cwek type Roman banget”pujinya pada diri sendiri.
Demian pun berucap dari belakang Angel, “Oh jadi kamu suka sama Roman ya? Kenapa? Bukankah kamu mencintaiku?”,
“Eh, dengar ya cwok play boy. Kita itu cuman memanfaatkan Violin, ya setelah kamu pacaran sama dia, kamu harus putus. Kan kamu sendiri yang setuju akan perjanjian antara kita berdua”,
“Bagaimana kalau aku beneran suka sama kamu?”,
“Sebaiknya kamu ngaca deh dulu, siapa juga yang suka sama cwok play boy? Cwok buaya!”
“Tapi aku ngak seperti itu jika bukan karena kamu”,
“Oh, jadi kamu menyalahkanku? Kamu sendiri yang menyetujui perjanjian itu bahwa jika kamu beneran suka sama aku, kamu akan melakukan apapun yang aku mau. Ingat itu? Aku ngak pernah bilang kan sama kamu dengan yang kamu lakuin itu aku bakal jatuh cinta sama kamu. Ngak kan? Hello…”ucap Angel pergi meninggalkan Demian begitu saja.
“Apa? Kenapa begitu sakit! Aku sungguh mencintaimu, kenapa kamu begitu padaku?”kata Demian sambil menahan rasa sakit di hatinya.
Sementara Roman berjalan menuju taman sekolah, berucap dalam hati “Aneh, gadis aneh. Emang dia cantik tapi tidak sadar akan hatinya yang buruk. Hah…manusia hanya mementingkan dirinya sendiri. Aku sangat benci itu. Uh…jadi selama ini Demian dan Angel menjebak Violin. Mereka memanfaatkan Violin juga ya? Kasihan sekali gadis itu, pantas jika ia juga membenciku karena traumanya”.
Sebelum tiba di taman sekolah, Roman bertemu dengan Akira.
“Hah, ini siang hari baru muncul. Dari mana aja loh?.”tanya Roman menatap tajam Akira yang membawa dua gelas minuman di tangan.
“Ini untukmu, ada sesuatu yang mau aku jelasin.”jawab Akira sambil memberikan minuman pada Roman, lalu menuju bangku taman.
Duduk bersampingan dengan Roman, Akira membuka tutup minuman lalu berucap “ Soal Alika, mau dengar apa ngak?”,
Roman kaget, tentu ia akan mendengarkan dengan serius tentang Alika. “Ada apa dengannya? Ia kembali?.”
“Benar, Rasi dan Martha kembali menemukan surat. Kamu tahu apa isinya? Mungkin tak masuk akal. Alika masih ada, hanya saja ia berreinkarnasi menjadi gadis lain. Dan, sebagai akibatnya ia tak akan mengingat kita semua. Apapun yang telah ia lalui, ia tak akan mengingatnya lagi.”jelas Akira
“Apapun yang terjadi padanya, aku akan tetap mencintainya sampai kapan pun. Jadi dia berreinkarnasi menjadi siapa?.”
“Seorang gadis, aku tidak tahu bahkan Martha dan Rasi pun tak tahu.”
“Kau tahu kan sebentar lagi liburan, aku mau mengajak Violin berlibur bersama tapi ia menolak. Bagaimana caranya agar dia ikut?.”
__ADS_1
“Hahaa….kamu ini begitu saja tidak bisa mengajak seorang gadis. Payah! Vampir berumur ribuan tahun tapi menghadapi hal sempele gitu aja kagak bisa”
“Apa? Jangan remehkan aku ya, hanya karna dia menolakku bukan berarti dia tak akan pergi”
“Kalau begitu buktikan bahwa dia akan ikut liburan bersamamu!.”senyum Akira
“Ya akan kubuktikan!”tegas Roman.
***
Berjalan bersama dua sahabatku menuju taman sekolah. Asyik ngobrol di jalan, tiba-tiba pandangan langsung teralih pada Roman dan Akira. Hani yang melihat Akira segera mendekatinya.
“Akira!”sapa Hani
Akira yang melihat Hani berjalan mendekat, ia bergegas berdiri dan menyapa kekasihnya itu.
“Hani. Hani, kamu cantik sekali hari ini”puji Akira
“Ah, benarkah? Terima kasih”kata Hani
Sementara aku dan Gisel menyusul Hani dari belakang.
“Akira, Eren dimana sekarang sekarang?”tanya Gisel
“Oh dia, dia di rumah. Dia bilang dia akan membuat kejutan untukmu, eh…maaf aku kecoplosan!”ucap Akira
“Ah, tak apa. Aku tentu sangat senang mendengar kabar ini darimu, aku tak akan membongkar ucapanmu barusan”,
Hani dan Gisel asik bicara, sementara aku menatap pria yang ada di depanku sekarang. Pria menyebalkan dan seorang moster.
“Hem, kalian kok diam aja. Kita duduk di taman yuk! Di bawah pohon yang banyak rumputnya”ajak Hani
“Ayo!”kata Gisel bergegas pergi lebih dulu
Akira mengandeng tangan Hani, lalu berjalan berdua menyusul Gisel yang pergi lebih dulu. Sementara aku hanya diam saja lalu menyusul kepergian dua sahabatku.
“Violin”ucap Roman dari belakang.
Langkahku terhenti ketika mendengar panggilan itu, berpaling dan melihat Roman.
“Apa?.”
Roman berjalan mendekatiku, lalu pergi begitu saja. Dia lagi-lagi membuatku kesal dengan tingkahnya, aku pun pergi menyusulnya. Berjalan bersamanya.
“Ada apa memanggilku? Jangan bilang ngak ada apa-apa!”tegasku
“Kok kamu tahu? Tidak, aku cuman mau ngajak kamu jalan-jalan sama aku. Hanya kita berdua.”
“Hah, aku akan menjawab dengan jawaban yang sama. Aku tidak mau jalan bersamamu”,
“Bagaimana kalau aku memecat ibumu? Jika ibumu masih ingin berkerja di perusahaanku maka kamu harus jalan bersamaku.”
“Ah…walau kamu ancam aku bagaimana pun, aku tetap tidak mau jalan bersamamu!.”
“Kenapa?”
“Ah, ya ampun sudah sampai. Ayo semuanya kita duduk!”ucapku mengalihkan pembicaraan.
Kami telah tiba di tempat tujuan yaitu pohon besar yang dibawahnya banyak rumput. Kami duduk bersama. Gisel dan Hani nampak memperhatikan ekspresiku dan Roman yang saling berjauhan. Jelas ketika Roman ingin duduk dekat dengan Violin, Violin malah menjauh. Violin memilih duduk di tengah, antara Hani dan Gisel.
“Violin, kamu ngak apa-apa kan? Apa ada masalah diantara kalian berdua?”tanya Gisel.
“Tidak, tidak ada kok”jawabku sambil tersenyum.
“Ya kami tidak ada masalah apapun, kami berdua akan pergi berlibur. Kalian ikut tidak?”ucap Roman yang membuatku semakin kesal. Aku bahkan tidak mengatakan setuju untuk pergi liburan dengannya. Kini ia malah mengatakan kami berdua akan pergi berlibur.
“Oh jadi kalian berdua diam-diam pergi liburan. Tak usah khawatir, kami bisa liburan dengan kekasih kami”kata Hani dengan senyuman
“Ah, terserah kalian saja. Lagi pula Eren akan membuat kejutan untukku jadi aku tak akan mungkin marah padamu, Violin. Kita sama-sama sibuk menghabiskan waktu. Tapi aku akan sangat senang jika kita sama-sama pergi liburan. Aku udah lama ngak liburan sama kamu, Violin”ucap Gisel sambil memegang tanganku.
“Ya ampun, ya iya….kita liburan bersama”kataku sambil tersenyum.
“Beneran?”
“Iya bawel!”.
“Yeee….aku akan bawa eskrim yang banyak untuk diperjalanan nanti. Kita akan pergi kemana?”,
“Tidak tahu, tapi aku minta ijin dulu ya sama mama. Siapa tahu mama sudah siapin tiket jalan-jalan”ucapku penuh harap agar tidak pergi liburan bersama pria menyebalkan itu.
“Iya, tentu saja. Aku juga kok”kata Gisel.
“Teng…teng….teng….”suara bell tanda istirahat telah berakhir. Kami pun bergegas berdiri, entah kenapa Gisel pergil lebih dulu, ia berlari bagaikan anak kecil usia 5 tahun. Hani dan Akira juga bergegas pergi. Entah ada apa dengan mereka, atau mereka memang sengaja melakukan ini agar aku dekat dengan Roman.
Aku hanya dapat menarik napas panjang dan menghembuskannya.
__ADS_1
“Apa yang baru saja kamu ucapkan tidak akan mengubah keputusanku”ucapku berjalan lebih dulu.
“Kita lihat saja, apakah kamu masih pada pendirianmu”ucap Roman.