Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 147


__ADS_3

Aku pun mulai melangkah mundur sedikit, begitu juga


dengan Xia. Memberi ruang di antara kami berdua. Aku mulai mengarahkan tanganku


ke arah tanah. Merasakan keberadaan air dalam tanah, lalu mulai berfokus pada


apa yang aku inginkan dan mulai mengerakan air dalam tanah dengan kedua


tanganku yang kosong. Membuat keajaiban dengan sihir yang kumiliki,


mengendalikan air dalam tanah dan membuatnya muncul ke permukaan dengan cara


mengubah air yang berada di tanah menjadi senjata tajam yang menusuk tanah dan


muncul ke permukaan.


Begitu air berubah menjadi mata tombak yang tajam


dan keluar dari tanah, aku segera mengendalikannya menjadi air kembali dan


mengarahkannya mengelilingi diriku lalu membuatnya lenyap bagai angin.


Xia yang melihat itu bingung, ia bingung kemana


airnya pergi. Ia hanya melihat air yang sedikit itu mengelilingi tubuh Aresha,


ia sama sekali tidak melihatnya dengan jelas.


“Wow, hebat! Bagaimana cara kamu melakukannya? Airnya


menghilang kemana?” tanya Xia sembari mengelilingi diriku.


Aku hanya tersenyum manis padanya, dan menjawab “Kemana


ia seharusnya, menurutmu airnya pergi kemana?”


“Aku melihatnya, dia menghilang! Apa kamu juga memiliki


kemampuan teleportasi?”


“Apa maksudmu? Aku hanya memiliki sedikit elemen


air. Begini akan kujelaskan mengapa airnya bisa menghilang!”


“Bagaimana cara kamu membuat airnya bisa


menghilang?”


“Mudah saja, kamu hanya melihat dari sisi biasa. Semua


orang juga akan melihat hal yang sama sepertimu. Tapi ini bukan teleportasi,


ini hanya rekayasa. Saat aku mengendalikan air menjadi senjata dan membuat air


kembali ke semula, mengendalikan air dan melayang di sekitarku sebenarnya air


itu berubah menjadi serpihan, butiran embun yang tidak terlihat oleh mata dan


kamu menyebutnya menghilang. Sebenarnya airnya memang menghilang, disini cuacanya


cerah, ada matahari dan awan. Ingat, awan terbentuk karna air dan cahaya

__ADS_1


matahari. Ini sama seperti sihir itu!”


Seketika itu juga Xia mengerti, sihir ini sama


seperti terbentuknya awan oleh sinar matahari.


“Apa kamu mengerti sekarang, Xia?” tanyaku padanya.


“Ya tentu, aku mengerti sekarang. Kamu mengambil


air dalam tanah dan mengeluarkannya, menjadikannya senjata lalu


menghilangkannya. Membuat air menjadi awan”


“Bagus, ucapanmu benar. Nah sekarang lakukan yang


seperti kulakukan, tekniknya mudah saja fokus dan keluarkan kemampuan elemen


airmu. Dan berhati- hatilah ketika membuatnya menjadi senjata, jangan sampai


senjatanya kamu arahkan ke tempat yang salah atau airnya terserap oleh tanah


lebih cepat dari pada tindakanmu untuk mengeluarkan airnya dari tanah!”


“Ya, baiklah akan kuingat!”


Aku pun segera duduk di bawah pohon, dan Xia mulai


berlatih dengan teknik yang telah kuajarkan padanya.


Dia berusaha keras mengeluarkan kemampuannya


sebagai pengendali elemen air, ia berusaha merasakan keberadaan air di dalam


dalam tanah. Ia terus berusaha merasakan keberadaan air sedalam mungkin. Hingga


ia menemukan air, tetapi perasaannya merasakan air yang dia temukan tidak lah


banyak. Ia pun mulai mencoba mengubah air itu menjadi senjata dan mulai menggerakannya


ke atas permukaan tanah.


Seketika itu juga Xia mengerti, sihir ini sama


seperti terbentuknya awan oleh sinar matahari.


“Apa kamu mengerti sekarang, Xia?” tanyaku padanya.


“Ya tentu, aku mengerti sekarang. Kamu mengambil


air dalam tanah dan mengeluarkannya, menjadikannya senjata lalu


menghilangkannya. Membuat air menjadi awan”


“Bagus, ucapanmu benar. Nah sekarang lakukan yang


seperti kulakukan, tekniknya mudah saja fokus dan keluarkan kemampuan elemen


airmu. Dan berhati- hatilah ketika membuatnya menjadi senjata, jangan sampai


senjatanya kamu arahkan ke tempat yang salah atau airnya terserap oleh tanah

__ADS_1


lebih cepat dari pada tindakanmu untuk mengeluarkan airnya dari tanah!”


“Ya, baiklah akan kuingat!”


Aku pun segera duduk di bawah pohon, dan Xia mulai


berlatih dengan teknik yang telah kuajarkan padanya.


Dia berusaha keras mengeluarkan kemampuannya


sebagai pengendali elemen air, ia berusaha merasakan keberadaan air di dalam


tanah. Jari- jari tangannya bergerak- gerak berupaya merasakan keberadaan air


di dalam tanah. Ia terus berusaha merasakan keberadaan air sedalam mungkin.


Hingga ia menemukan air, tetapi perasaannya merasakan air yang dia temukan


tidak lah banyak. Ia pun mulai mencoba mengubah air itu menjadi senjata dan


mulai menggerakannya ke atas permukaan tanah.


Senjata berelemen air itu memiliki permukaan


lancip, senjata tajam bermata tombak mencoba naik ke permukaan tanah. Tetapi belum


tiba di permukaan tanah, tombak sejata yang terbentuk oleh air itu di serap


oleh tanah hingga belum mencapai permukaan tanah ia telah menghilang.


Xia kehilangan air dan ia tidak bisa


mengendalikannya lagi, ia pun mulai putus asa. Ia menundukan kepalanya ke


bawah, wajah sedih pun terlihat padanya. Aku yang duduk di bawah pohon


menyaksikan keputus asaan gadis itu. Aku merasa dia telah kehilangan airnya.


Aku pun berucap, “Apa kamu menyerah? Kamu hanya


kurang cepat, kendalikan air yang lebih banyak. Jauhi perbatuan yang


menghalangi jalan airmu, percepat langkahmu sedikit!”.


Xia yang putus asa pun menoleh ke arahku, ia


tersenyum manis sembari melepas kekecewaannya.


“Ya, aku akan mencobanya lagi! Tenang saja, kali


ini pasti berhasil!” ucapnya penuh semangat.


“Ya terserah kau saja!” ucapku tersenyum manis.


Mendengar ucapan seperti itu Xia mulai kesal, dan


ia mulai kembali fokus berlatih. Ia mengarahkan semua kemampuan dan semangatnya


untuk berlatih mengendalikan air dari dalam tanah.


Xia berfokus mencoba merasakan keberadaan air di

__ADS_1


dalam tanah, sementara diriku hanya diam dan mengamatinya dari sini.


__ADS_2