
Aku pun mulai melangkah mundur sedikit, begitu juga
dengan Xia. Memberi ruang di antara kami berdua. Aku mulai mengarahkan tanganku
ke arah tanah. Merasakan keberadaan air dalam tanah, lalu mulai berfokus pada
apa yang aku inginkan dan mulai mengerakan air dalam tanah dengan kedua
tanganku yang kosong. Membuat keajaiban dengan sihir yang kumiliki,
mengendalikan air dalam tanah dan membuatnya muncul ke permukaan dengan cara
mengubah air yang berada di tanah menjadi senjata tajam yang menusuk tanah dan
muncul ke permukaan.
Begitu air berubah menjadi mata tombak yang tajam
dan keluar dari tanah, aku segera mengendalikannya menjadi air kembali dan
mengarahkannya mengelilingi diriku lalu membuatnya lenyap bagai angin.
Xia yang melihat itu bingung, ia bingung kemana
airnya pergi. Ia hanya melihat air yang sedikit itu mengelilingi tubuh Aresha,
ia sama sekali tidak melihatnya dengan jelas.
“Wow, hebat! Bagaimana cara kamu melakukannya? Airnya
menghilang kemana?” tanya Xia sembari mengelilingi diriku.
Aku hanya tersenyum manis padanya, dan menjawab “Kemana
ia seharusnya, menurutmu airnya pergi kemana?”
“Aku melihatnya, dia menghilang! Apa kamu juga memiliki
kemampuan teleportasi?”
“Apa maksudmu? Aku hanya memiliki sedikit elemen
air. Begini akan kujelaskan mengapa airnya bisa menghilang!”
“Bagaimana cara kamu membuat airnya bisa
menghilang?”
“Mudah saja, kamu hanya melihat dari sisi biasa. Semua
orang juga akan melihat hal yang sama sepertimu. Tapi ini bukan teleportasi,
ini hanya rekayasa. Saat aku mengendalikan air menjadi senjata dan membuat air
kembali ke semula, mengendalikan air dan melayang di sekitarku sebenarnya air
itu berubah menjadi serpihan, butiran embun yang tidak terlihat oleh mata dan
kamu menyebutnya menghilang. Sebenarnya airnya memang menghilang, disini cuacanya
cerah, ada matahari dan awan. Ingat, awan terbentuk karna air dan cahaya
__ADS_1
matahari. Ini sama seperti sihir itu!”
Seketika itu juga Xia mengerti, sihir ini sama
seperti terbentuknya awan oleh sinar matahari.
“Apa kamu mengerti sekarang, Xia?” tanyaku padanya.
“Ya tentu, aku mengerti sekarang. Kamu mengambil
air dalam tanah dan mengeluarkannya, menjadikannya senjata lalu
menghilangkannya. Membuat air menjadi awan”
“Bagus, ucapanmu benar. Nah sekarang lakukan yang
seperti kulakukan, tekniknya mudah saja fokus dan keluarkan kemampuan elemen
airmu. Dan berhati- hatilah ketika membuatnya menjadi senjata, jangan sampai
senjatanya kamu arahkan ke tempat yang salah atau airnya terserap oleh tanah
lebih cepat dari pada tindakanmu untuk mengeluarkan airnya dari tanah!”
“Ya, baiklah akan kuingat!”
Aku pun segera duduk di bawah pohon, dan Xia mulai
berlatih dengan teknik yang telah kuajarkan padanya.
Dia berusaha keras mengeluarkan kemampuannya
sebagai pengendali elemen air, ia berusaha merasakan keberadaan air di dalam
dalam tanah. Ia terus berusaha merasakan keberadaan air sedalam mungkin. Hingga
ia menemukan air, tetapi perasaannya merasakan air yang dia temukan tidak lah
banyak. Ia pun mulai mencoba mengubah air itu menjadi senjata dan mulai menggerakannya
ke atas permukaan tanah.
Seketika itu juga Xia mengerti, sihir ini sama
seperti terbentuknya awan oleh sinar matahari.
“Apa kamu mengerti sekarang, Xia?” tanyaku padanya.
“Ya tentu, aku mengerti sekarang. Kamu mengambil
air dalam tanah dan mengeluarkannya, menjadikannya senjata lalu
menghilangkannya. Membuat air menjadi awan”
“Bagus, ucapanmu benar. Nah sekarang lakukan yang
seperti kulakukan, tekniknya mudah saja fokus dan keluarkan kemampuan elemen
airmu. Dan berhati- hatilah ketika membuatnya menjadi senjata, jangan sampai
senjatanya kamu arahkan ke tempat yang salah atau airnya terserap oleh tanah
__ADS_1
lebih cepat dari pada tindakanmu untuk mengeluarkan airnya dari tanah!”
“Ya, baiklah akan kuingat!”
Aku pun segera duduk di bawah pohon, dan Xia mulai
berlatih dengan teknik yang telah kuajarkan padanya.
Dia berusaha keras mengeluarkan kemampuannya
sebagai pengendali elemen air, ia berusaha merasakan keberadaan air di dalam
tanah. Jari- jari tangannya bergerak- gerak berupaya merasakan keberadaan air
di dalam tanah. Ia terus berusaha merasakan keberadaan air sedalam mungkin.
Hingga ia menemukan air, tetapi perasaannya merasakan air yang dia temukan
tidak lah banyak. Ia pun mulai mencoba mengubah air itu menjadi senjata dan
mulai menggerakannya ke atas permukaan tanah.
Senjata berelemen air itu memiliki permukaan
lancip, senjata tajam bermata tombak mencoba naik ke permukaan tanah. Tetapi belum
tiba di permukaan tanah, tombak sejata yang terbentuk oleh air itu di serap
oleh tanah hingga belum mencapai permukaan tanah ia telah menghilang.
Xia kehilangan air dan ia tidak bisa
mengendalikannya lagi, ia pun mulai putus asa. Ia menundukan kepalanya ke
bawah, wajah sedih pun terlihat padanya. Aku yang duduk di bawah pohon
menyaksikan keputus asaan gadis itu. Aku merasa dia telah kehilangan airnya.
Aku pun berucap, “Apa kamu menyerah? Kamu hanya
kurang cepat, kendalikan air yang lebih banyak. Jauhi perbatuan yang
menghalangi jalan airmu, percepat langkahmu sedikit!”.
Xia yang putus asa pun menoleh ke arahku, ia
tersenyum manis sembari melepas kekecewaannya.
“Ya, aku akan mencobanya lagi! Tenang saja, kali
ini pasti berhasil!” ucapnya penuh semangat.
“Ya terserah kau saja!” ucapku tersenyum manis.
Mendengar ucapan seperti itu Xia mulai kesal, dan
ia mulai kembali fokus berlatih. Ia mengarahkan semua kemampuan dan semangatnya
untuk berlatih mengendalikan air dari dalam tanah.
Xia berfokus mencoba merasakan keberadaan air di
__ADS_1
dalam tanah, sementara diriku hanya diam dan mengamatinya dari sini.