
Aku menunggu lama disini semakin khawatir, pikiranku semakin kalau dan membuat ketakutan dengan pikiranku sendiri. Tiba- tiba saat aku mengkhawatirkan Ethan, aku mendapatkan pesan singkat dari Xia di ponsel.
Aku pun mulai membaca pesan itu, “Aresha, kamu kemana saja? Eun mengkhawatirkanmu loh.”
Aku pun mulai berpikir akan pesan ini, “Hah, yang sebenarnya mengkhawatirkanku itu kamu atau Eun sih? Aku ini temanmu mengapa jadi Eun yang khawatir. Apakah kamu takut mengalakui kesalahanmu? Oh, atau kamu ngak mau meminta maaf padaku ya, Xia?.”
Aku pun segera membalas pesan dari Xia itu, “Ya terima kasih telah mengkhawatirkanku. Kamu pulang saja lebih dulu, aku sangat sibuk nanti akan kuceritakan padamu di asrama. Aku bersama Ethan, jadi tidak perlu khawatir. Kamu persiapkan diri saja untuk ujian ability magie.”
Keberadaan Aresha.
Menunggu di lobby ini sangat membosankan, hanya ada majalah perusahaan dan ponselku.
“Hah, sial! Kenapa aku harus melakukan ini? Kenapa jadi begini? Apa yang telah aku lakukan? Bagaimana kalau dia mati gara- gara aku gigit! Aaaaa...... ini menakutkan!” ucapku mengkhawatirkannya.
Aku menunggu lama disini semakin khawatir, pikiranku semakin kalau dan membuat ketakutan dengan pikiranku sendiri. Tiba- tiba saat aku mengkhawatirkan Ethan, aku mendapatkan pesan singkat dari Xia di ponsel.
Aku pun mulai membaca pesan itu, “Aresha, kamu kemana saja? Eun mengkhawatirkanmu loh.”
Aku pun mulai berpikir akan pesan ini, “Hah, yang sebenarnya mengkhawatirkanku itu kamu atau Eun sih? Aku ini temanmu mengapa jadi Eun yang khawatir. Apakah kamu takut mengalakui kesalahanmu? Oh, atau kamu ngak mau meminta maaf padaku ya, Xia?.”
Aku pun segera membalas pesan dari Xia itu, “Ya terima kasih telah mengkhawatirkanku. Kamu pulang saja lebih dulu, aku sangat sibuk nanti akan kuceritakan padamu di asrama. Aku bersama Ethan, jadi tidak perlu khawatir. Kamu persiapkan diri saja untuk ujian ability magie.”
Setelah mengirim pesan, kusimpan ponselku kembali dan melanjutkan membaca majalah. Saat aku membaca majalah siapa sangka ada saja karyawan di perusahaan ini menguntit. Mereka memperhatikan dan membicarakan diriku. Itu tidak masalah menurutku, tapi yang jadi masalah adalah apa yang mereka katakan tentangku dan Ethan.
“Hei, itu kah gadis yang datang bersama Tuan Ethan tadi?”
__ADS_1
“Ya benar”
“Apa Tuan Ethan datang menemui direktur lagi?”
“Yah aku rasa, tapi beberapa hari ini direktur tidak ada dan di gantikan oleh putranya kan?”
“Oh begitu, apakah gadis itu pacarnya Tuan Ethan?”
“Mungkin saja! Kenapa? Apa kamu cemburu?”
“Tidak, hanya saja aku berharap Tuan Ethan mendapatkan gadis yang baik sehingga ia tidak kesulitan dalam hidupnya. Kudengar Tuan Ethan adalah orang yang tidak ada ampunnya kan? Aku harap dia berubah setelah bertemu dengan gadis itu!”
“Hei, apa yang kamu bicarakan? Kamu mengeluh pada bos? Bukankah dia sudah baik pada kita?”
“Huh dasar kau!”
“Hehhe....”
Telingaku terasa panas mendengar ocehan mereka, mereka sedikit menyebalkan, aku benar- benar tidak suka dengan mereka. Mereka mengatakanku sebagai pacarnya, dan itu adalah bagian yang tidak aku suka disini.
Tidak lama kemudian, seorang dokter datang menghampiriku. Kedatangan dokter itu juga membuat karyawan yang menguntit pergi. Mereka tidak mau membuat masalah dan di ketahui oleh Tuan Ethan.
“Permisi, Nona Aresha?” ucap dokter padaku.
Aku pun segera berdiri, dan menjawab “Ya, ada yang bisa saya bantu dokter?”
__ADS_1
“Ya, saya hanya ingin mengatakan sesuatu tentang Ethan padamu” jawabnya.
“Oh, kalau begitu kita duduk saja untuk membicarakannya” ucapku.
Kemudian aku dan dokter itu duduk di sofa.
“Dokter, jadi apa Ethan baik- baik saja?”
“Ya, dia baik- baik saja. Hanya saja perlu di rawat beberapa hari. Lukanya cukup serius, tapi tidak perlu khawatir. Jika ia dirawat dan diberi obat, dia akan cepat sembuh. Sebenarnya apa yang terjadi apa Ethan?”
“Oh, itu ( tersenyum manis) itu karna salahku. Aku tidak bisa menceritakannya pada dokter, maafkan aku!”
“Yah, tidak apa. Sepertinya itu sensitif ya? Ya aku mengerti!”
“Dokter, apa yang harus saya lakukan? Saya bukan seorang suster jadi saya tidak begitu tahu soal merawat seseorang”
“Oh, itu. Kamu tenang saja, kamu hanya perlu memastikan dia menganti perban di lehernya. Luka kecil itu nantinya juga akan sembuh, tapi agak lama sih.”
“Ya tidak apa, saya bersedia melakukannya. Terima kasih banyak dokter telah membantu saya”
“Ya, terima kasih kembali. Kalau begitu saya permisi dulu”
“Ya dokter, hati- hati di jalan”
Dokter itu tidak menjawab ucapanku, ia pergi dengan senyumnya yang ramah. Aku benar- benar bersyukur Ethan baik- baik saja, dan pikiranku di buat legah.
__ADS_1