Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 167


__ADS_3

Aku mulai membuka pintu, dan melangkah keluar dari kamar ini. Lalu berjalan meninggalkan asrama ini menuju tempat tujuanku. Saat aku berjalan meninggalkan asrama, aku sempat orang- orang yang pernah menyakiti Xia. Gadis- gadis itu bersembunyi  dan mereka pikir aku tidak menyadari kehadiran mereka. Ya, hanya orang bodoh yang seperti itu. Ya mungkin mereka pikir gadis ini adalah gadis lemah yang tidak menyadari kehadiran mereka.


Aku mulai membuka pintu, dan melangkah keluar dari kamar ini. Lalu berjalan meninggalkan asrama ini menuju tempat tujuanku. Saat aku berjalan meninggalkan asrama, aku sempat orang- orang yang pernah menyakiti Xia. Gadis- gadis itu bersembunyi  dan mereka pikir aku tidak menyadari kehadiran mereka. Ya, hanya orang bodoh yang seperti itu. Ya mungkin mereka pikir gadis ini adalah gadis lemah yang tidak menyadari kehadiran mereka.


Aku pun tersenyum manis, lalu pergi meninggalkan asrama ini. Sambil berjalan aku mengeluarkan cermin kecil, dan melihat bayanganku.


Tersenyum manis dan berucap, "Awasi Xia, jaga dia baik- baik! Ah, ya jangan lupa dengan tugas kalian yang lain. Beri sedikit pelajaran hidup pada mereka, ya jangan biarkan mereka ikut campur!" lalu kusimpan kembali cerminku ke dalam tas. Lalu aku berjalan mendekati jalan besar, jalan raya dan menghentikan taksi.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, aku mendapatkan taksi dan segera masuk ke dalam mobil. Lalu meminta sopir mengantarku ke tempat tujuan, perpustakaan kota.


Sementara itu di sisi lain, asrama Akademi Yexiao.


Ruang kamar Xia, ia terlihat terus berlatih dan memikirkan bagaimana cara mengubah dua latihan ini menjadi senjata penyerang. Bagi Xia, jelas- jelas dua latihan yang ia jalani bukanlah penyerang melainkan memberi kedupan atau pengobatan. Latihan ini termasuk menyelamatkan orang bukan untuk menyerangnya.


Tiba-tiba saat ia memikirkan akan ucapan temannya, Aresha itu ia mendengar suara berisik dari luar dan terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Xia pun mulai mendekati pintu dan menguncinya, lalu ia mengintip dari lubang pintu. Ia melihat sekelompok gadis yang telah melukainya, sekelompok gadis yang tidak lain adalah teman seasramanya sendiri.

__ADS_1


"Hah, mereka? Apa jangan- jalan mereka ingin menyerangku lagi? Aku harus bagaimana? Ini gawat! Apa aku harus melawan mereka? Tidak mungkin, mereka jumlahnya lebih dari satu dan sudah pasti akan main keroyokan!" batin Xia.


Xia melihat cermin di lantai dekat tanaman, tempat ia duduk tadi. Ia pun teringat akan ucapan Aresha, Xia tersenyum manis dan segera mendekati cermin itu lalu memejamkan matanya. Xia pun mulai melompak ke cermin, seketika itu keajaiban terjadi, Xia masuk ke dalam cermin. Cermin yang tidak sebesar tubuh Xia itu mampu memuat Xia ke dalamnya.


Tidak lama kemudian, di pintu kamar itu. Perlahan- lahan pegangan pintu bergerak, dan seseorang berhasil membukanya. Sekelompok gadis yang usil itu segera masuk ke kamar ini. Ia memeriksa seisi kamar dan tidak menemukan Xia.


"Xia, tidak ada disini? Apa ia telah pergi? Tapi kemana?"


"Em, mungkin saja dia sedang bersembunyi! Ayo kita cari lagi?"


"Ya, gadis sialan itu! Ia pasti sedang ketakutan mendengar ucapanmu itu!"


"Ah tenang saja, ia tidak akan mengadu pada Ibu Oshaberi yang bodoh itu!"


"Bagaimana jika ia mengadu dan di luar dugaanmu?"

__ADS_1


"Uh mana mungkin! Dia adalah gadis penakut, dan juga lemah. Jadi ia mencari masalah dengan kita, aku akan membereskannya secepat mungkin!"


"Hahaha.... kamu memang hebat!"


Sekelompok gadis itu segera mencari Xia yang mereka anggap bersembunyi di kamar ini. Mereka mencari Xia sembari mengacak- acak kamar ini bahkan kamar Aresha. Mereka semua tidak menemukan Xia di dalam kamar ini setelah mengacak- acak kamar ini, tetapi mereka melihat ada tanaman dan cermin di dekat kamar Xia. Berada di tengah- tengah kamar Aresha dan Xia.


Salah satu dari mereka mengambil cermin itu, dan memperlihatkan bayangan dirinya. Dirinya terlihat begitu cantik di depan cermin, hingga temannya tertarik untuk melihat bayangannya di cermin. Ya pada akhirnya mereka semua melihat bayangan mereka di depan cermin. Karna cermin ini kecil dengan ukuran persegi empat, salah satu mereka mendirikan cermin di atas meja dengan sandaran vas bunga. Lalu mereka semua melangkah mundur dan saling berbagi. Mereka semua dapat melihat diri mereka di depan cermin tanpa harus bergantian.


"Aku sangat cantik! Kalian lihat kan, aku ini cantik banget" pujinya pada diri sendiri, sementara temannya hanya menganggukan kepala.


"Ya tentu saja, kamu adalah gadis tercantik di akademi ini dan juga terhebat. Tidak ada yang bisa mengalahkamu!"


"Ya tentu saja!"


Pujian dengan kesombongan itu terus saja terdengar di ruangan ini hingga mereka tak tahu akan ada bahaya di depan mereka.

__ADS_1


__ADS_2