Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 80 Pernikahan


__ADS_3

Pagi, saat matahari telah terbit. Aku


dan Tagao berjalan bersamaan, menikmati indahnya pemandangan pagi ini di taman.


          “ Aku harap kamu tidak akan pergi lagi dariku, Aresha” ucap Tagao.


          “ Sepertinya, mengapa kamu harus mencegahku pergi? “


          “ Kau telah menerima lamaranku kan? Aku akan menikahimu”


          “ Huh, kupikir karena apa. Kenapa kamu sungguh percaya akan menikahiku?”


          “ Karena aku sungguh mencintaimu, apapun akan kulakukan demi mendapatkanmu”


          “ Romantisnya, tapi bagaimana kalau aku menolakmu?”


          “ Aku akan bunuh diri, mati demi mendapatkan cintamu”


          “ Kau sungguh melakukannya?”


          “ Kau tak percaya padaku, Aresha?”, Tagao mengambil pedang di samping tubuhnya lalu mengarahkannya pada dirinya sendiri. “ Aku akan mati demi kamu, Aresha” lanjutnya.


          “ Baiklah, aku percaya padamu. Tapi jangan lakukan itu lagi”. Tagao menyingkirkan pedangnya dari hadapan.


          “ Baiklah, tak akan. Tapi kamu harus berjanji padaku untuk selalu bersamaku”


          “ Janji, aku tidak bisa”


          “ Mengapa?”


          “ Cuman bercanda!”


          Tagao memusut kepalaku dan tersenyum. Aku dan dia bercanda kecil di sepanjang jalan yang kami lewati bersama. Sepanjang hari kuhabiskan waktu bersama Tagao.


***


          Usai makan malam bersama. Aku membuatkan teh hangat untuk Taraka dengan sedikit tambahan racun ular kobra. Saat hendak tidur, aku berikan minuman itu pada Takara dan dia meminumnya.


Kemudian kami tidur bersama.


          Ketika bangun dari mimpi indah, aku melihat Takara masih hidup. “ Bagaimana dia masih hidup? Bukankah aku sudah menambahkan minumannya dengan racun yang mematikan? Apa ada yang melindungi


keluarga ini? Ini tak boleh terjadi lagi!” ucapku.


          Hari ini aku diajak Tagao untuk menyiapkan pernikahan kami berdua. Dia memintaku memilih gaun pengantin terbaik pada seorang desainer.


          “ Jadi, apa yang harus kulakukan untuk


gaunmu?” tanya Desainer.


          “ Aku tidak mau mengatakan bagaimana


gaun yang kuinginkan. Kamu harus membuatnya sendiri dengan baik. Jika gaun yang


kukenakan nanti jelek, nasibmu ada ditiang gantungan!”


          “ Baiklah, putri. Akan kulakukan dengan


sangat hati-hati”


          Kemudian aku pergi meninggalkan


desainer istana itu. Pergi lagi ke penjual bunga yang sangat popular di sini.


Aku kembali mengancam penjual bunga untuk memberikan bunga yang terbaik untuk


pernikahan nanti. Aku dan Tagao kembali naik ke kereta kuda.


          “ Mengapa kamu kasar seperti itu pada


mereka?”


          “ Jika aku lembut mereka akan lengah,


dan aku tidak mau hal buruk terjadi saat pernikahan kita. Jika kamu tak mau, ya


sudah. Aku akan marah padamu jika sesuatu terjadi nanti!”


          “ Baiklah”


          Kereta kencana pergi meninggalkan


tempat ini ke istana.


***


          Malam sebelum hari pernikahan, semua


orang sibuk menyiapkan dan menata untuk acara besok. Aku berdiri mengamati


mereka, dan pikiranku selalu tertuju untuk mencelakai keluarga ini. Kucoba


kembali menaburkan racun di makanan, saat makan malam bersama. Mereka


menaburkan garam sedikit dimakanan yang ada di piring mereka masing-masing,


lalu memakannya. Kulihat mereka baik-baik saja, tak ada yang mati malam ini.


Aku gagal lagi untuk membunuh mereka.


***


          Angin menghembus dan menerpa dedaunan,


di halaman istana pernikahan di laksanakan dengan lancar tanpa hambatan.


Pernikahan antara Pangeran Tagao dengan Aresha di selimuti dengan kemewahan dan


megah. Gaun bewarna putih dan terbaik yang di rancang oleh seorang desainer


terbaik di kerajaan menambah keanggunan pemakainya. Berjalan bergandeng dengan


Tagao dan tersenyum untuk mereka yang hadir. Kemudian ibu Tagao memberikan


cincin berlian pada Tagao, lalu Tagao memakaikannya pada jari manisku.


          Tanganku memegang bunga dan berjalan


tegak. Tangan kanan yang bergandengan berjalan menuju kereta kencana yang


mewah. Masuk dan duduk di samping Tagao, kemudian kereta kencana berjalan


dengan pelan. Pengantin akan di arak ke seluruh wilayah kerajaan terutama


bagian desa yang dekat dengan istana. Tak ada sepatah kata yang terucap selama


perjalanan ini hingga ke istana pun. Diam membisu hingga acara selesai. Kuganti


pakaianku, setelah itu berjalan ke taman istana. Duduk di salah satu bangku di

__ADS_1


sana. Tagao di dalam istana mencari istriya kesana –kemari hingga di beranda


kamar, dia melihat istrinya sedang duduk di bangku taman sendirian. Ia pun


menghampiri istrinya, dan duduk di sebelahnya.


          “ Kamu baik-baik saja? Apa ada


masalah?” tanya Tagao.


          “ Tidak, tak ada apapun” jawabku


berdiri dan pergi meninggalkannya.


          “ Ada apa dengan Aresha? Dia terlihat


murung setelah pernikahan ini” tanya Tagao pada dirinya sendiri. “ Apa dia tak


mencintaiku?”.


          Di kamar, kubaringkan diriku mengarah


ke kanan. Menatap tirai-tirai jendela, pikiranku tertuju pada Ratu Mora. “ Kau


penghianat Aresha, penghianat. Ibu kecewa padamu, kau menikah dengan anak dari


orang yang telah membunuhku! Anak duharka kamu, Aresha. Ibu akan mengutuk


kamu!” pikirku. Kepala menjadi pusing setelah memilikirkan ibuku. Air mata


menetes membasahi pipi, kutarik selimut agar seluruh tubuhku tertutupi.


          Tagao berbaring di samping Aresha dan


menyelimuti tubuhnya. Tagao kebingungan akan sikap Aresha yang mendadak


berubah. Di mata Tagao, Aresha sedang sedih. Ada masalah besar yang menimpa


dirinya.


***


          Tengah malam, bulan bercahaya


menerangi taman. Diriku duduk di bangku sendirian, merasakan betapa dinginnya


malam ini. Aku terus memikirkan ibuku, aku hanya takut dia kecewa padaku. “


Pernikahan ini terasa sia-sia tanpa restu, mereka hanya mengenalku sebatas


Aresha. Apa lagi Yuza yang kulihat dia selalu dekat dengan Takara. Apa yang


harus kulakukan? Tagao hanya mengenal diriku tapi keluargaku, dia tak


mengenalnya” ucapku. Air mata tak dapat di bendung, mengalir membasahi pipi.


          Tagao duduk di sampingku dan tangannya


memegang bahuku sebelah kanan.


          “ Ada apa? Mengapa kamu menangis?”


          “ Aku hanya masih ragu”


          “ Kamu ragu padaku?  Kenapa?”


          “ Entahlah. Eh tapi ngomong-ngomong


          “ Menemani istri aku yang paling


cantik sedunia ini”


          “ Ah kamu berlebihan, tidur sana!”


          “ Aku ngak bisa tidur tanpa kamu,


temanin aku tidur ya!”


          “ Mulai lagi dech, jangan genit!”


          “ Aku ngak genit”


          “ Terserah kamu, aku mau tidur”,


berdiri meninggalkan Tagao. Tiba-tiba Tagao langsung mengendong diriku. Aku


menjerit tapi dia tetap mengendongku hingga ke kasur empuk. Dia baringkan


diriku, lalu dia berbaring di atas tubuhku. Dia mulai mencumbu diriku dengan


mesra. Hingga mencium leherku, dan dadaku. Dia buka pakaianku hingga


terlihatlah dadaku. Dia baringkan tubuhnya di sana dan mendengarkan tiap detak


jantung. Kubelai rambut suamiku dan berucap “ Kamu mulai liar!”.


          “ Bagaimana kalau seliar ini!” jawab


Tagao.


          Tagao menjauh dariku dan aku duduk.


Dia kembali mendekati wajahku dengan sangat dekat, mencium diriku kembali.


Kupeluk dirinya dengan sangat erat hingga terjatuh ke kasur. Kuremas tubuhnya


dan dia terus mencium bibirku. Menciumnya dengan amat bergairah. Melepaskan


ciuman dan kubuka pakaianku didepannya. Dia nampak bergairah melihat betapa


anggunnya wanita di depannya. Dia pun melepaskan pakaiannya juga. Kubaringkan


tubuhku di atasnya. Malam semakin larut, hingga sunyi tak dapat kurasakan lagi.


***


          Matahari mulai tinggi, aku bangun


kesiangan karena malam itu. Aku cepat berlari ke kamar mandi, berganti pakaian


dan pergi ke ruang makan. Melihat tak seorang pun disana, aku mulai bertanya


pada pelayan.


          “ Kau lihat suamiku?”


          “ Maaf ratu, dia  sedang pergi entah kemana”


          “ Dengan siapa?”

__ADS_1


          “ Dengan Yuza!”


          “ Apa dia titip pesan untukku?”


          “ Tidak, ratu”.


          “ Pergilah, dan bawakan sarapan pagiku


ke kamar. Kutunggu!”. Aku kembali masuk kamar dan menunggu sarapan pagiku


datang. Duduk di kasur dan mulai berpikir, “ Bagaimana caranya aku bisa


mengatakan semua ini pada ibu? Sebaiknya aku bersemedi, ya hanya itu jalan


satu-satunya”. Kusila kedua kakiku, dan meletakan tangan di lutut. Menutup


mata, membuang semua yang ada dalam pikiranku.


          Tak beberapa lama, aku berhasil


terhubung dengan dunia lain dan bicara pada ibu.


           “ Bu, aku menikah dengan Tagao!”.


          “ Ibu sudah mengetahuinya nak!”


          “ Ibu marah padaku?”


          “ Tidak nak, ibu sangat senang. Ibu


tau kamu sangat dendam pada ayahnya tetapi kamu tidak boleh dendam pada


anaknya. Mereka tidak tau apapun begitu juga dengan istrinya. Yang harus kamu


lakukan adalah menyingkirkan tiap penghianat dari kerajaan kita”.


          “ Baik bu, akan kulakukan”.


          Aku terputus dengan ibu, dan kubuka


mataku kembali. Kulihat dimeja telah ada sarapan pagi untukku. Mendekati


jendela dan melihat luarnya. “ Perang telah di mulai, siapa yang cepat dia akan


lebih baik” ucapku.


***


          Pukul 10.00 pagi barulah aku melihat


suamiku, dia baru saja datang bersama Zuya. Kulihat kedatangan mereka dari


jendela kamar. Aku melangkah keluar dari kamar, menuruni tangga dan keluar dari


istana. Tagao terus memanggilku namun aku tak menghiraukan panggilannya. Tanpa


kusadari, Tagao kembali mengendongku hingga ke istana.


          “ Lepaskan aku!” ucapku.


          Dia melepaskan diriku dan menjawab “


Kamu kenapa tidak menghiraukan panggilan dariku?”. Wajahku merengut sebagai


jawaban dan ia pun mengerti. “ Oh, kamu marah. Maafkan aku, Aresha. Aku


jalan-jalannya terlalu lama”.


          Aku tak memedulikan alasannya, aku kembali


berjalan keluar dari istana. Lagi, Tagao mengendong diriku tapi kali ini sampai


ke kamar. Tagao mengunci pintunya setelah melepaskanku di kasur.


          “ Sekarang kamu ngak bisa kemana-mana?


Ayolah Aresha maafkan aku!”.


          Masih merengut, “ Baiklah, apa yang kamu


mau agar kamu memaafkan aku?”


          Masih merengut, “ Katakan saja,


semuanya akan kulakukan?”


          Masih merengut,  Tagao mendekatiku dan duduk di samping lalu


berucap “ Baiklah, aku sengaja tidak membangunkanmu karena aku lihat kamu masih


lelah. Aku mengajak Yuza berkeliling desa, melihat-lihat keadaan” terangnya.


          Masih meregut,  Tagao memegang tanganku dan berucap “ Jangan


marah terus, senyumlah!”.


          “ Terus sampai kapan aku di sini? Aku


ingin pergi”


          “ Kau tak akan meninggalkan aku kan?”


          “ Heh, susahnya. Terserah” melepaskan


tangan dari Tagao.


          “ Bagaimana kalau kita berpesta atau


melihat hiburan?”


          “ Ngak mau!”


          “ Kamu maunya apa?”


          “ Pergi!”


          “ Kemana?”


          “ Ngak tau, yang penting pergi!”


          “ Baiklah, kamu boleh pergi”


          “ Tapi dengan kamu!”


          “ Ya baiklah dengan aku”, aku kembali


tersenyum setelah permintaanku dikabulkan. Pergi berbulan madu bersamanya.


Menikmati hari-hari indah dengan suamiku. Aku tak lagi harus bersedih, karena

__ADS_1


ibuku sudah merestui hubungan kami berdua.


__ADS_2