Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 283


__ADS_3

Kemudian Violin berdiri lalu mengambil kan makanan dan minuman untuk Roman. Ia membawa sarapan siang untuk Roman, meletakannya di atas meja. Lalu duduk di samping Roman.


“Aku membawakan sarapan siang, makan lah? Nanti kamu sakit loh!”


“Ya terima kasih, tapi aku masih kenyang. Bagaimana denganmu? Apa makanan itu enak dan tidak membuat tubuhnya jatuh sakit?”


“Ya tentu saja enak, aku tidak sakit kok!”


“Ya baguslah kalau begitu. Karena aku mulai merasa tempat ini aneh sekali!”


“Aneh? Aneh, bagaimana?”


“Coba pikirkan, mereka selalu makan di atas meja itu dan makanan mereka tak pernah habis. Sementara kamu, makananmu telah habis kan? Lalu mereka tidak pernah meninggal kan meja itu secara serentak. Apa mereka tak penat terus duduk sejak tadi? Lalu katanya ada burung pengirim pesan datang kemari. Di mana burung dan pesan itu sekarang?”


“Ah ya benar juga tapi aku bisa menjawabnya untukmu. Pertama mungkin saja mereka belum penat jadi tak perlu berdiri. Makan mereka lambat. Soal burung pengirim pesan itu bisa dibawa oleh peserta yang lainnya, yang lebih dulu datang kemari.”


“Kamu yakin begitu?”


“Ya tentu saja!”


“Soal tempat ini, apa tidak aneh bagimu?”


“Tidak, justru tempat ini menarik. Tempat seperti ini ada saja orang yang bersusah payah membawa makanan kemari untuk kita. Jadi kita harus menghargai mereka!”


“Ya, ucapanmu ada benarnya!.”


Roman hanya tersenyum manis, ia mengabaikan makanan dan minuman yang ada di atas meja itu. Hingga salah satu dari keempat orang yang telah ditemukan datang mendekat.

__ADS_1


“Apa makananya tidak enak? Kenapa belum di makan juga?” tanyanya.


“Tidak, bukan begitu. Makanan ini tentu saja enak” jawab Roman.


“Kalau begitu, kenapa tidak di makan?”


“A-aku masih kenyang, jadi aku tidak bisa makan!”


“Benarkah? Apa perjalanan yang melelahkan itu terus saja membuatmu masih dalam keadaan kenyang?”


“Ya begitulah!”


“Mengapa kamu tidak sedikit saja menghargai mereka yang memaksakan makanan ini untukmu? Sedikit saja!” ucapnya memaksa.


“Ya, maaf. Aku sungguh minta maaf, tapi aku tidak bisa makan sekarang!”


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Roman, orang ini menatapnya dengan tatapan tajam dan spontan mengambil makanan di atas meja. Ia mengambil sedikit makanan dengan sendok, lalu mengarahkannya pada Roman.


“Aku tidak bisa, kamu saja yang makan!”


“Kamu! Kamu memang pria yang menyebalkan, tidak bisakah kamu menghargai mereka yang bersusah payah memasak makanan ini?”


“Tapi aku sudah kenyang, maaf sekali! Aku pikir yang lainnya juga sudah makan, jadi anggap saja itu sebagai menghargai makanan ini!”


“Tidak bisa! Hanya kamu yang tidak makan sekarang! Kamu harus memakannya?” ucapnya memasak yang langsung menyerang Roman. Hingga Roman jatuh ke sofa, dan orang ini terus memaksa Roman untuk memakan makanan ini.


Roman berupaya menjauhkan dirinya dari sendok yang berisi makanan, sementara orang yang ada diatasnya mencoba membuat Roman memakan makanan ini.

__ADS_1


Violin yang melihat pun mencoba melerai, “Hei! Hei, hentikan! Aku saja yang memakannya!.”


“Tidak bisa, dia harus makan sekarang!.”


“Ayolah nanti saat dia lapar, dia juga akan memakannya!”


“Tidak boleh, dia sekarang harus makan!”


 


Roman yang terus berupaya menghindari serangan itu, dengan terpaksa ia menyingkirkan tubuh orang ini darinya dengan kekerasan. Orang itu pun terjatuh ke tanah dan sendok berisi makanan itu juga ikut terjatuh. Roman berhasil menyingkirkannya.


Orang itu terjatuh dan kemudian bangkit lagi. Wajahnya terlihat kesal bercampur sedih dan air mata.


“Kamu! Kamu jahat!” ucapnya sembari menundukan kepala.


Keributan ini memancing banyak orang berdatangan. Tema- teman dan peserta ujian ability magie ikut berdatangan.


“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya salah satu temannya yang hilang.


“Hah, bukan apa- apa kok! Hanya salah paham!” ucap Violin.


“Salah paham? Apa maksudnya? Kamu, kenapa menyakiti temanku?” ucapnya sembari menolong mendekati temannya.


“Tidak apa kok! Hanya salah paham saja” ucapnya.


“Apa maksudmu? Jelas- jelas aku melihat kamu disakiti olehnya!”

__ADS_1


“Sudahlah, tidak apa. Hanya salah paham saja kok!” kata temannya terus membujuk untuk tidak mempermasalahkan kejadian ini. Tetapi justru temannya semakin emosi dan mendorong dirinya hingga terjatuh.


Perlahan- lahan permasalahan ini semakin membesar, dan Roman pun enggan minta maaf. Semua orang telah berkumpul disini dan menyaksikan perdebatan ini.


__ADS_2