Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Chapter 176


__ADS_3

“Kalian bertiga boleh pergi, oh ya.... tolong awasi ke empat gadis itu! Jangan sampai mereka meluai Xia dan Aresha. Aku yakin mereka akan menyakiti Aresha dan Xia. Mereka terlalu bodoh untuk diberikan hukuman ini! Tolong awasi ke empat gadis itu hingga mereka pergi dari Akademi Yexiao ini, aku tidak mau akademi ini menerima orang jahat seperti mereka! Ya jika ada maka sebagai akibatnya akademi ini tidak akan bisa bersanding dengan Universitas Borneo, atau Buniv”


“Baik, Ibu Oshaberi!”


“Ya, silahkan pergi!”


“Baik, Ibu Oshaberi. Kami undur diri!”


Kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan ruangan itu. Ya seperti yang di katakan oleh Ibu Oshaberi, mereka bertigas segera melaksanakan tugas yang diberikan olehnya. Mereka diam- diam mengawasi ke empat gadis itu. Hingga ke empat gadis itu memasuki ruang kepala sekolah.


Bersamaan saat ke empat gadis itu hendak masuk ke ruang kepala Akademi Yexiao, kepala Akademi Yexiao telah menerima telpon dari Ibu Oshaberi yang menjelaskan apa yang telah terjadi.


“Kalian bertiga boleh pergi, oh ya.... tolong awasi ke empat gadis itu! Jangan sampai mereka meluai Xia dan Aresha. Aku yakin mereka akan menyakiti Aresha dan Xia. Mereka terlalu bodoh untuk diberikan hukuman ini! Tolong awasi ke empat gadis itu hingga mereka pergi dari Akademi Yexiao ini, aku tidak mau akademi ini menerima orang jahat seperti mereka! Ya jika ada maka sebagai akibatnya akademi ini tidak akan bisa bersanding dengan Universitas Borneo, atau Buniv”


“Baik, Ibu Oshaberi!”


“Ya, silahkan pergi!”


“Baik, Ibu Oshaberi. Kami undur diri!”


Kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan ruangan itu. Ya seperti yang di katakan oleh Ibu Oshaberi, mereka bertigas segera melaksanakan tugas yang diberikan olehnya. Mereka diam- diam mengawasi ke empat gadis itu. Hingga ke empat gadis itu memasuki ruang kepala sekolah.

__ADS_1


Bersamaan saat ke empat gadis itu hendak masuk ke ruang kepala Akademi Yexiao, kepala Akademi Yexiao telah menerima telpon dari Ibu Oshaberi yang menjelaskan apa yang telah terjadi.


Sementara itu keberadaan Aresha,


Aku berjalan di samping Xia, kami segera menuju asrama. Setiba di asrama, kami berdua melihat kamar kami yang berantakan. Semuanya terlihat seperti kapal pecah dan pecahan beling dari kaca yang kuberikan pada Xia juga berserakan di lantai.


“Xia, sebaiknya kita mulai membereskan semua ini! Kamu bereskan barangmu, setelah itu kamu pergi saja menemui Ibu Oshaberi. Kamu akan pergi kan hari ini? Jadi kamu tidak perlu membereskan kamar ini, kemasi saja barangmu!”


Xia melihat ke arahku, dengan perasaan yang tidak nyaman Xia berucap “Tapi bagaimana denganmu? Nanti kamu lelehan, nanti kamu sakit. Aku tidak mau merepotkanmu, aku akan membantumu membereskan semuanya!”


“Hei, tidak apa! Tidak ada yang merasa di repotkan, kamu pergi untuk urusan penting jadi tidak perlu mempedulikan semua ini”


“Ya, ya baiklah. Ya terima kasih, Aresha. Nanti kalau aku pulang, kamu ingin aku bawakan apa?”


Mendengar itu Xia terkejut, ia mengeluarkan ekspresi tersenyum dan perasaannya yang senang. Ia tidak menyangka akan teman sekamarnya ini sangat peduli dengannya.


“Ya, baiklah. Aku pasti akan pulang dengan keadaan yang sangat baik untukmu!”


“Ya tentu, mari kita mulai!” ucapku.


Lalu aku dan Xia mulai memberes kekacauan ini. Xia mengemasi barang- barangnya sementara aku membersihkan ruangan ini, dan merapikannya.

__ADS_1


Tidak beberapa lama kemudian, Xia telah selesai mengemasi barangnya sementara diriku masih sibuk membersihkan ruangan ini. Kekacauan di ruangan ini sangat membuatku lelah untuk membereskannya. Ya aku rasa ke empat gadis itu sungguh mengacaukan tempat ini tanpa menyisakan tempat yang rapi dan bersih.


Xia melihat ke arahku, sementara diriku sibuk menyapu ruangan ini.


“Apa kamu serius tidak ingin aku bantu?” tanya Xia memperhatikanku.


Aku berhenti menyapu lantai, melihat ke arahnya dan tersenyum manis lalu berucap “Ya tentu, aku baik- baik saja kok! Apa kamu sudah selesai mengemasi barangmu?”


“Ya tentu!” ucapnya sembari menepuk- nepuk tas yang berada di atas kasurnya.


“Bagus, ayo kita menemui Ibu Oshaberi! Aku akan mengantarmu kesana”


“Ya, tapi apa itu tidak merepotkan?”


“Ya tentu saja tidak, sama sekali tidak merepotkan! Kamu adalah temanku, jadi tidak perlu sungkan begitu”


“Ah, ya baiklah!”


Kemudian aku mendirikan sapu di dinding, sementara Xia membawa tasnya dan mengeret koper. Kami berdua pergi menemui Ibu Oshaberi. Aku tidak lupa mengunci kamar ini, ya aku harap tidak ada pengacau lagi disini setelah kejadian ini.


Sebelum pergi, aku meminta Xia membawakan kopernya.

__ADS_1


“Xia, bolehkah aku membawa kopermu?”


Xia terkejut, ia menoleh ke arahku. Mengamati sikapku, ia merasa tidak nyaman dan berpikir buruk sangka pada temannya sendiri karna pengalaman masa lalu tetapi itu adalah masa lalu bagi Xia. Sekarang Xia tidak akan menyia- nyiakan temannya ini.


__ADS_2