
Amber menyerang Aresha dan terluka karena serangan Aksara. Ia bergegas melaporkan keberadaan Aresha. Eriska yang telah mendapat kabar itu sangat senang, selanjutnya ia hanya perlu membuat rencana membunuh Aresha. Tapi Eriska yakin Aksara akan melindungi gadis itu, jadi Eriska pun menyuruh orang lain untuk membunuh Aresha tanpa mengotori tangannya sendiri.
Sebagai musuh berselimut dalam persahabatan, Eriska juga memberitahukan kabar ini pada Tagao dan Aira. Eriska tahu dua pria ini sangat mencintai Aresha. Eriska yakin mereka berdua akan berusaha membuat gadis itu memilih salah satu dari mereka berdua.
“Saat dalam kebingungan memilih, aku akan menawarkan sebuah keputusan yang amat langka. Keputusan yang hanya datang sekali seumur hidupmu yaitu mati!”ucap Eriska yang duduk dikursi singgasana. Ia akan tetap menjadi seorang putri sebelum Aresha mati.
Pagi yang cerah, seusai sarapan pagi sendirian. Ya seperti biasa Aksara pergi ke istananya untuk memerintah sementara aku di tinggal disini sendirian. Berjalan ke taman istana sendirian, melihat tempat kejadian tadi malam. Aku ingat jelas saat serangan itu terjadi. Berjalan masuk ke hutan meninggalkan kastil. Aku merasakan bahwa hutan ini tidak asing bagiku, terus berjalan hingga tak sadar telah masuk ke dalam hutan.
Tiba-tiba beberapa senjata menyerang diriku, tapi aku bisa menghindarinya. Seorang perempuan muncul tepat didepanku. Ia menjatuhkan diri dari atas pohon dan ditanggannya telah ada pedang yang siap menyerang siapa saja didepannya.
“Hay, Aresha. Apa kabar?”,
“Kau rupanya, siapa yang memerintahmu?”,
__ADS_1
“Tak perlu kamu tahu, sekarang bersiaplah menerima ajalmu!”,
Ia langsung menyerang diriku, aku menghindar. Saat dekat aku melihat siapa yang telah menyerang diriku itu. Ia tak lain adalah Eriska.
“Hay cantik, apa kabar? Masih ingat denganku!”,
“Eriska, kamu disini?”,
“Ya, aku disini tentu saja kenapa tidak. Aksara membawamu kemari kan? Kupikir ia akan melindungimu tapi ternyata dia membiarkanmu sendirian disni”,
“Ya baiklah, anggap saja keramahanku padamu ini sebagai hadiah. Kembali keduniamu, itu mudah saja bukankah kau seorang penyihir. Apa karena kau di masa depan lalu tidak memiliki kekuatan lagi?”,
“Kau tahu apa yang tidak aku miliki, Eriska. Kenapa kamu tak bisa menjadi seorang ratu di dunia ini? Aku sudah mati bukan di dunia ini, kenapa kamu masih tak bisa menjadi seorang ratu?”,
__ADS_1
“Itu karena kau sebenarnya tidak mati, kamu hanya berpura-pura mati. Kamu sengaja melakukannya untuk meninggalkan dunia ini”,
“Heh, tidak. Bukan itu kan yang sebenarnya? Katakan padaku yang sebenarnya!”,
“Baiklah, kamu pergi karena kamu tahu yang sebenarnya”,
“Ya seperti yang kamu tahu, Ayah telah menceritakan segaranya tentangmu padaku. Ayah tahu yang mana yang terbaik dan siapa yang berhak menjadi pewaris tahta kerajaan. Aku melakukan itu juga berharap kamu yang menjadi seorang ratu tapi ternyata ayah tak merubah pikirannya juga ya!”,
“ Ya, tapi ada cara lain untuk mendapatkan tahta itu yaitu membunuhmu disini”, Eriska langsung menyerangku dengan pedang. Aku pun cepat menghindarinya. Aku tahu siapa yang aku hadapi ini. Ingatanku juga kembali setelah menyentuh jasadku yang dulu. Eriska benar bahwa aku adalah kakaknya dan dia adalah adik tiriku.
Pedang yang di tangan Eriska mengenai batang pohon hingga sulit dicabut kembali. Ia pun menyerangku dengan sihir. Ia membuat angin kencang hingga membuat daun-daun berterbangan diangkasa. Eriska mulai menyerang diriku dengan air. Air yang mengalir dari bawah tanah akan muncul ke atas, merubahnya menjadi senjata.
Angin kencang membawa daun-daun terbang itu terlihat diangkasa oleh Aksara. Ia tahu tempat itu tak jauh dari kastil. Ia pun menyangka jika itu adalah Eriska. Ia pun secepatnya menungangi kuda dan pergi ke tempat itu. Ia yakin Aresha dalam bahaya sekarang. Saat memasuki hutan, Aksara mengubah kudanya menjadi kuda hitam dari kegelapan. Kuda yang memiliki kecepatan tinggi, mata merah dan warna hitam pekat serta setiap langkah kakinya ada api menyala.
__ADS_1
Aku terus menghindari serangan Eriska, tapi kali ini aku legah. Aku terkena serangan Eriska yang membuat tanganku terluka dan luka itu membeku. Tubuhku mulai terasa dingin, dan tubuhku mulai lemah. Aku jatuh tak berdaya, sementara Eriska telah siap menghabisi nyawaku. Eriska mulai menyerang, dan aku hanya menundukan kepala sebagai tanda akhir hidupku. Tapi entah kenapa serangan Eriska tak membuatku mati kali ini. Aku pun melihat ke depan. Aksara telah ada didepanku, ia melindungiku. Ia melawan Eriska. Aksara mengusir Eriska dengan kekuatan yang ia miliki. Aku melihatnya sendiri, ia memiliki kekuatan bagaikan dewa kematian. Ia penyihir dari kegelapan dan pertahananya adalah api.
Eriska terluka akibat serangan dari Aksara, melihat keadaan tak memungkinkan untuk menyerang dan menghabisi lawan. Eriska pun kabur, ia menghilang dengan air yang menyelimuti dirinya.