Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 276


__ADS_3

Saat pemulihan tempat itu, Xia pun terbebas dari tanaman rambat. Dirinya segera terjatuh ke tanah. Tanaman rambat itu tidak lagi melilit tubuhnya. Perlahan- lahan Xia pun dapat bernapas dengan baik. Dirinya kembali normal dan segera berdiri. Ia melihat tempat yang ada disekitarnya. Semuanya dalam keadaan baik- baik saja.


Xia menahan rasa sakit di tubuhnya. Dirinya tidak mengalami luka apapun kecuali rasa sakit akibat belitan tanaman menjalar.


“Ah, ya ampun! Apa yang telah terjadi? Hah, aku ingat! Kemana mereka semua? Eun? Zanko!” ucapnya sembari berteriak memanggil dua orang anggota kelompoknya.


“Zanko?”


“Eun?”


“Kalian dimana?” teriak Xia terus berjalan menuju pintu keluar labirin. Ia berharap segera bertemu dengan yang lainnya.


“Zanko?”


“Eun?”


“Kalian dimana?”


“Zanko? Eun?”


Xia terus memanggil Zanko dan Eun. Ia pun bertemu dengan pengunjung labirin lainnya. Ia bertanya pada orang yang dijumpainya.


“Permisi, apa kalian melihat sekelompok anak akademi lewat disini?”

__ADS_1


“Akademi ya? Maaf ya! Sejak tadi kami tidak melihat siapa- siapa, tidak ada anak akademi yang datang kemari loh!”


“Terima kasih banyak kalau begitu, maaf ya mengganggu!”


“Ya!”


Kemudian Xia melanjutkan perjalanannya hingga keluar dari labirin. Lalu ia kembali ke area parkir. Di area parkir ia tidak melihat motor teman- teman, bahkan motor Zanko dan Eun. Xia pun semakin yakin apa yang telah ia alami bukan lah mimpi. Tetapi ini aneh sekali, semuanya seakan- akan tidak ada sesuatu yang telah terjadi. Xia pun duduk di bangku seorang diri. Ia mencoba berpikir jernih, mengingat apa yang telah terjadi untuk mendapatkan petunjuk dimana teman- temannya berada. Tiba- tiba burung merpati pengirim pesan datang menghampirinya. Xia yang melihat kedatangan burung itu secepatnya mengambil pesan di kaki burung merpati. Ia pun mulai membaca pesannya.


“Kastil drakula!” isi pesan yang di terima oleh Xia.


Xia pun bergegas pergi menuju tempat tujuan berikutnya, ia berharp akan bertemu dengan teman- temannya disana.


Sisi lain, hutan Argon.


Mereka terus mencoba mencari sesuatu yang ada di puing- puing bangunan istana ini. Mencari kristal di tempat ini sangat lah sulit.


Mengelilingi puing- puing bangunan istana dengan berhati- hati.


“Violin!” ucap Steven memanggilnya.


“Ya ada apa?”


“Apakah kamu tidak bisa melakukan sesuatu untuk menemukan kristal pelindung di tempat ini? Ini sangat sulit. Tempat ini luas, dan perlu waktu yang lama menemukannya kan? Ya apa lagi dengan bangunan tua ini!” keluhnya.

__ADS_1


“Ah, maaf ya! Aku tidak punya yang seperti itu.”


“Ah, ini melelahkan!” keluhnya lagi seperti anak perempuan yang akhirnya ia pun duduk di bawah pohon.


“Ya ampun, sepertinya ada yang menyerah ya?” ucap Netta sembari memperhatikan Steven yang duduk di bawah pohon.


“Biarkan saja dia! Memang sudah lelah sih, aku juga mau ikut!” jawab Eren yang kemudian bergabung dengan Steven duduk di bawah pohon.


“Ya ampun! Kalian lemah sekali?” protes Netta.


“Apakah kamu tidak bisa melakukan sesuatu untuk menemukan kristal pelindung di tempat ini? Ini sangat sulit. Tempat ini luas, dan perlu waktu yang lama menemukannya kan? Ya apa lagi dengan bangunan tua ini!” keluhnya.


“Ah, maaf ya! Aku tidak punya yang seperti itu.”


“Ah, ini melelahkan!” keluhnya lagi seperti anak perempuan yang akhirnya ia pun duduk di bawah pohon.


“Ya ampun, sepertinya ada yang menyerah ya?” ucap Netta sembari memperhatikan Steven yang duduk di bawah pohon.


“Biarkan saja dia! Memang sudah lelah sih, aku juga mau ikut!” jawab Eren yang kemudian bergabung dengan Steven duduk di bawah pohon.


“Ya ampun! Kalian lemah sekali?” protes Netta.


Tetapi dua pria itu justru tidak mempedulikan ucapan Netta. Mereka sibuk melepas lelah dan kegiatan membosankan ini.

__ADS_1


__ADS_2