
Sebuah ingatan tentang….
“Menikahlah denganku, maka hidupmu akan lebih baik”senyumnya.
Diriku menangis ketika melihat seorang pria dengan wajah yang tak asing, Romeo. Romeo menikahi gadis lain yang membuatku hancur. Ia telah mengkhianati diriku. Aku pun menerima lamaran dari pria lain. Tetapi waktu berubah, bukan kebahagian yang kudapat melainkan kesedihan. Aku ditinggalkan suamiku. Ia ternyata mencintai gadis lain, gadis itu adalah istri Romeo. Aku menangis mengingat kenangan masa lalu ini. Aku ingat siapa diriku yang sebenarnya, aku hanyalah seorang gadis yang tinggal di hutan. Roman, adalah suamiku. Ia meninggalkan ketika berperang melawan Romeo. Romeo berhasil masuk ke istana meninggalkanku seorang diri duduk di kursi tahta. Diriku menangis menjatuhkan air mata ketika kekasih yang mengkhianatiku datang untuk membunuhku. Sebuah anak panah dengan cepat menusuk jantungku, dan mengakhiri kisah hidupku. Tidak ada kebahagian yang datang dalam hidupku kecuali kesengsaraan dan pengkhianatan. Rasi dan Martha datang, mereka menyesal tak menjagaku dengan baik.
Cahaya kehidupan datang kembali padaku yang disebut sebagai reinkarnasi. Sebuah pembangkitan terjadi yang dilakukan oleh Romeo dan Roman. Pembangkitan itu melahirkan diriku kembali dengan seorang bayi perempuan yang mirip denganku. Kami berdua disebut bayi kembar, hal yang sebenarnya adalah hanya ada janji bayi itu. Sementara aku hanyalah arwah yang dipanggil untuk hidup kembali. Sebuah kesalahan kembali terjadi, Martha tidak membawaku pergi melainkan membawa bayi kembarku itu yang diberi nama Alecia, dan diriku diberi nama Alika. Bukan kebahagian yang kudapat di kehidupan kedua melainkan kesedihan dan penderitaan. Cintaku tak terbalas, dan direbut oleh gadis lain. Roman sangat sedih, ia mendapatkan hal yang sama sepertiku. Tapi cinta hanya datang sekali, setelah reinkarnasi aku akan jauh tak seperti dulu lagi walau waktu mengaturnya. Peraturan reinkarnasi memiliki akibat atau resiko nya sendiri.
Semua ingatan itu benar-benar membuat air mataku jatuh, kini aku ingat akan kejadian di masa lalu. Tapi sebuah aturan reinkarnasi terus berjalan dalam diriku. Sebuah aturan yang hanya bisa di ubah oleh takdir, dan bukan aku. Dan, aku akan disebut sebagai gadis penyihir yang bereinkarnasi. Martha dan Rasi telah tahu semua ini. Tapi bukankah tidak baik jika memberitahu kekasih yang telah menyakiti kita di masa lalu bahwa kita telah kembali? Aku ingin mengubah nasibku bukan untuk kembali ke masa lalu yang penuh dengan pengkhianatan atas cinta. Senyumku memenuhi kehidupan dan ruangan ini.
“Selamat datang gadis penyihir, di kehidupan ketiga. Kamu yang menentukan kehidupan ini bukan mereka. Sekarang ikuti aturan resikonya sebagai orang yang bereinkarnasi.”
Kucoba ku tenangkan diriku, kubaringkan tubuhku di kasur dan mulai memejamkan mata. Aku mencoba untuk tidur dengan harapan sakit kepalaku akan hilang, dan diriku dapat tenang kembali.
Rumah besar Akira,
Terlihat di ruang tamu Akira sedang kedatangan tamu, Eren. Dua pria ini nampak membicarakan hal yang serius.
“Malam ini kita tak harus menampakan diri kan? Ambil saja bukunya lalu bawa pergi”saran Eren.
“Tapi kita tak tahu cara mengeluarkan mereka dari buku itu. Ah…apakah Violin itu benar-benar reinkarnasi Alika? Alika adalah reinkarnasi istri Roman. Ia seorang penyihir?”jawab Akira sambil meminum segelas minuman merah, darah segar.
“Mungkin, tapi mengapa ia tak menunjukan kekuatannya?”,
“Entahlah, apa mungkin ia memiliki masalah dengan kemampuannya? Mungkin ia salah satu penyihir kelas bawah yang selalu gagal hingga memutuskan menjadi manusia biasa”,
“Jika itu benar dan Violin adalah Alika, istri Roman. Roman pasti sangat senang bertemu dengan istrinya lagi”,
Akira langsung meletakan gelas di atas meja lalu menatap Eren dengan tajam, dan berucap “Ya aku tahu, kamu tidak memancingku kan karna aku tidak punya?.”
Eren tertawa kecil atas ucapan Akira, “Hahaha…ya tentu tidak. Aku hanya merasa senang akhirnya dia berhenti untuk menantikan istrinya kembali. Mungkin sekarang ia sedang berjuang untuk membuat istrinya bahagia.”
“Begini saja, bagaimana kalau begini….”ucap Akira mulai membisikan rencananya.
Setelah selesai membisikan rencana, Eren menjauh dari Akira. Eren tersenyum manis lalu mengangkat gelas minumnya. “Untuk cinta!”ucapnya.
Akira pun melakukan hal yang sama, ia mengangkat gelas minumnya dan berucap “Untuk cinta!.”
Tidak lama kemudian, Netta dan Steven datang ke rumah Akira. Mereka segera masuk dan menuju ruang tamu. Mereka mendapati Akira menerima tamu yaitu Eren. Netta dan Steven pun langsung menyapa dua sahabatnya ini. Meski mereka bertengkar pada malam itu bukan berarti persahabatan mereka pudar. Mereka tetap bersahabat satu sama lain.
“Siang semuanya, apa kabar?”tanya Netta sambil bersalaman dengan Eren dan Akira.
“Hallo sobat, bagaimana kabar kalian?”tanya Steven yang juga bersalaman dengan Eren dan Akira.
Lalu mereka berdua duduk bersampingan di kursi yang sama.
“Baik, kalian dari mana saja? Mengapa di jam segini baru muncul?”ucap Eren
“Ada hal lain yang harus kami urus. Apa kalian telah bertemu dengan Roman hari ini?”
“Ya, dia ada di rumah besarnya”ucap Eren
“Dan bersama Violin”sambung Akira
Dengan ekspresi bahagia Netta berucap “Wow…itu bagus. Roman akan segera menikah dengan Violin kan? Kehidupan Roman akan segera berubah, ia tak akan sedih lagi.”,
“Apa yang kamu ucapkan itu sangat tidak benar. Roman tak terlihat bahagia”ucap Eren
Kebahagian Netta pun mulai memudar, ia mulai menampakan ekspresi sedihnya. “Benarkah? Roman tak menyukai Violin, atau bagaimana?.”
“Netta, Roman tak akan mungkin langsung mengatakan bahwa Violin adalah reinkarnasi dari istrinya dari masa lalu hidupnya. Meski kita tahu bahwa Violin adalah reinkarnasi gadis itu. Ya seperti ucapan Martha dan Rasi yang tahu rahasia Alika. Mereka tahu rencana Alika. Tapi kamu juga harus ingat akan risiko reinkarnasi itu. Dan, sikap Roman pada Alika dulu”jelas Steven
“Oh baiklah, aku tak akan terlalu bersemangat tapi….aku akan membuat mereka bersatu bagaimanapun caranya”semangat Netta.
“Astaga. Lihat kekasihmu ini, Steven. Dia bersemangat sekali, bisakah ia tidak ikut campur dalam urusan pribadi seseorang?”ucap Eren
Netta pun langsung menatap Eren dengan tatapan tajam, “Aku tidak begitu tau, memang apa kalian ingin Roman selalu sedih. Coba kalian lihat Romeo sekarang, ia dan Alecia! Karena gadis itu semuanya kacau.”,
“Ya ampun, kita tak perlu membahas masa lalu itu. Kita sudah keluar dari VA dan menunggu waktunya tiba. Semua itu sudah berlalu, sekarang kita tak perlu membahas itu. Kita berjalan di kehidupan kita. Kita tak lagi berlindung pada Jim Wa”ucap Akira
“Benar apa yang dikatakan Akira, kita tak lagi berlindung. Ethan saja tak lagi terlihat, tapi kudengar ia membangun perusahaan bernama Royal. Ethan sudah berubah, tapi aku masih mencurigai dirinya. Mungkin ia masih memimpin kegelapan”sambung Eren.
“Ya, kita tahu bahwa Ethan adalah pangeran dari Royal Blood yang tak diakui. Hidupnya yang suram membuatnya menjadi jahat. Kita bahkan tak tahu tentang keluarganya bahkan ia tak pernah cerita tentang hidupnya”kata Steven.
“Kenapa kalian mulai menggunjing Ethan, bagaimanapun dia teman kita”bela Netta.
“Netta, sadarlah! Ini bukan mimpi. Ethan bukan teman kita. Jika ia teman kita, seharusnya ia bersama kita bukan dibelakang kita. Ia membuat manusia ketakutan atas kehadiran kita. Ia membuat kekacauan di luar sana, dan apa itu masih disebut sebagai teman? Ia juga menculik Alika, jangan lupakan itu!”,
“Oh baiklah, baiklah aku salah”ucap Netta meminta maaf kepada mereka.
“Mau minum?”tanya Akira
“Tentu, apa minuman itu masih ada?”tanya Steven
“Tentu, ikut aku ke bar”ajak Akira.
Mereka semua pun berjalan menuju bar minuman, mereka mulai menikmati kehidupan mereka. Minuman segar itu telah membuat rasa haus mereka hilang. Bagi vampire adalah darah segala-galanya.
High School 7 ( High School Seven, atau HS7),
Terlihat bagunan sekolah yang berdiri dengan megah, sekolah yang termasuk sekolah elite di kalangan pelajar dan orang tua. Taman sekolah, di jam istirahat ditempat ini tentulah dipenuhi oleh siswa-siswi. Terlihat dibawah pohon yang rindang, dengan bangku taman yang panjang. Disanalah Angel dan teman-teman sedang berkumpul. Sebagian dari mereka sedang asik menikmati cemilan dan minuman segar. Lalu mereka membahas sesuatu yang mereka rasa itu adalah hal yang sangat penting.
“Hari ini, aku lihat Roman ngak hadir ke sekolah. Kenapa ya?”tanya salah satu dari mereka.
“Kamu tahu nggak, Angel? Roman gak masuk sekolah hari ini, kira-kira dia kenapa?”
“Aku ngak tau, cuman waktu ke toilet aku gak sengaja mengambil jalan pintas lewat kantor kepala sekolah. Dia menerima telpon dari seseorang, kudengar Roman dan Violin izin gak masuk hari ini. Cuman itu aja, aku ngak tahu lagi!”jawab Angel.
“Apa mungkin Roman sakit ya?”duga salah satu dari mereka.
“Roman sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah dia? Ya tapi sebelum itu kita cari tahu dulu, Roman sakit atau gak?”
“Oke, tapi kemana kita cari tahunya?”
“Tenang aja, ayahku kan bekerja di Vampire Love tuh sebagai manajer. Aku akan tanya ayah dulu”ucap Angel.
“Oke, cepat telpon ayahmu”,
“Tapi apa ayahmu tak sibuk di jam begini, Angel?”tanya temannya.
__ADS_1
“Ah tenang saja, ayah pasti akan menerima telpon dariku”jawab Angel yang segera menghubungi ayah lewat ponsel pribadi.
Kantor Vampire Love, perusahaan pusat Vampire Love.
Sebuah ruangan dengan papan tulisan di depan ruang bidang sumber daya manusia atau SDM. Berjalan lurus memasuki ruangan yang dipenuhi pegawai yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing di ruang kerja semi tertutup. Terlihat satu ruangan yang tertutup dengan tulisan di pintu Manajer SDM atau Manajer sumber daya manusia. Dan, papan nama yang menjabat tertulis Emphasis.
Di dalam ruangan itu terlihatlah seorang pria sibuk dengan pekerjaannya, ia sedang menginput data ke komputer, lalu mencetaknya, dan melakukan kegiatan lainnya. Saat di jam sibuk-sibuknya dia bekerja, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk, tertulis nama pemanggil Angel sayang. Emphasis pun melihat ponselnya, lalu kembali berfokus menginput data.
“Ah, ada apa lagi? Kenapa kamu tidak bisa membiarkan saya bekerja? Angel…bisakah kamu tidak menelpon papamu saat papa sedang sibuk?”guman Emphasis yang kemudian menerima panggilan itu ketika telah bordering tiga kali.
Komunikasi terhubung dengan ponsel ayah Angel. Ayah Angel yang menerima telpon dari anaknya segera menerima panggilan.
“Ya sayang, ada apa?”tanya ayah Angel.
“Papa, ini Angel. Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya? Papa sedang sibuk?”ucap Angel dengan manja.
Mendengar suara putrinya, Emphasis menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk membuat dirinya merasa legah dan tidak terpancing amarah, lalu berucap “Tidak, papa hanya sedang berbincang dengan pegawai papa. Ada apa sayang, menelpon papa?.”
“Papa, apa papa tahu kenapa Roman tidak masuk sekolah hari ini?”
“Roman, anaknya Pak Dir kan?”
“Iya papa, siapa lagi kalau bukan dia!”
“Oh, papa akan mengirim pesan nanti padamu. Tenang aja, nanti papa kasih tahu kamu kok. Sampai jumpa!”ucap Emphasis segera menutup
“Tapi paa….papa…”ucap Angel hampir berteriak karena papanya segera menutup telepon.
Teman-teman Angel yang melihat hanya diam saja, lalu melontarkan pertanyaan.
“Gimana, Ngel?”
“Uh, papaku bilang tunggu aja. Dia akan kasih kabar kok, tenang aja”
“Oke, tapi sebaiknya sebelum pulang sekolah kita sudah dapat kabar dari papamu ya? Soalnya kalau sudah pulang aku gak bisa kembali lagi kemari. Mamaku tidak suka aku berkeliaran kek kucing kampung”
“Iya, iya. Tenang saja lah.”
“Oh iya, dimana tuh di Violin. Kok dia juga gak hadir ke sekolah ya hari ini?”,
“Ih kamu ngapain sih bahas dia, si cupu itu nggak perlu dibawa-bawa tau!”kesal Angel.
“Eh, kenapa lo marah? Bukannya dia juga teman kita?”
Angel pun semakin kesal, akhirnya ia memutuskan pergi meninggalkan teman-temannya. Langkah Angel terhenti di dalam berkelok menuju ruang kelasnya. Tepat di majalah dinding, Angel terhenti karena Demian yang bicara padanya.
“Kesal lagi? Kan sudah kubilang sejak awal. Violin lebih unggul darimu!”
“Hey, jaga ucapanmu itu. Aku lebih baik darinya. Seharusnya kamu membelaku, Demian. Bukan sebaliknya, apa kamu lupa yang selama ini aku lakukan untukmu?”
“Oh soal itu tentu saja tidak, tapi ini soal yang berbeda. Jelas sudah bahwa teman-teman disini lebih peduli dengan Violin, bukan kamu!”
Angel pun semakin kesal, ia mendekati Demian dan hampir mau menampar nya. Demian hanya tersenyum manis melihat tangan Angel yang hampir menampar dirinya.
“Cowok sialan!”ucap Angel langsung pergi meninggalkan Demian begitu saja.
“Ya…ya…seharusnya kamu tak melakukan itu. Kamu tak akan bisa mengalahkan Violin, ingat itu!”ucap Demian hampir berteriak.
Namun Angel diam saja, ia segera menuju ruang kelasnya dengan wajah kesal.
“Ya, urusan kita sudah selesai. Jadi aku harap kamu gak usah ganggu aku atau bahkan Violin lagi. Anak manja!”ucap Demian segera pergi meninggalkan tempat itu menuju ruang kelasnya.
Kantor Vampire Love, perusahaan pusat Vampire Love.
“Permisi, boleh saya masuk?”tanyanya
“Ya silahkan, silahkan duduk. Saya telah menunggu kamu”jawab Emphasis.
Pegawainya pun segera duduk, sekarang ia sedang berhadapan dengan Emphasis.
“Ada yang bisa saya bantu Pak Emphasis?”
“Ya, saya ingin kamu mencari tahu apakah Tuan Roman kemari hari ini? Apa ia baik-baik saja?”
“Apakah ada lagi, Pak Emphasis?”
“Tidak hanya itu, pergilah dan cari tahu”
“Terima kasih, Pak Emphasis. Saya permisi?”
“Ya silahkan”
Pegawai atau bawahan Emphasis segera melaksanakan tugasnya. Ia mencari tahu apakah Tuan Roman kemari pagi ini. Ia menanyakan hal itu pada teman-temannya, teman satu tempat kerja. Ia menemui sekretaris Pak Dir, dan berbicara berdua dengannya.
“Nona, apakah hari ini kamu melihat Tuan Roman datang?”
“Tuan Roman ya? Ya pagi tadi ia datang kemari bersama seorang gadis”,
“Siapa?”
“Namanya Violin, dia anak Vionerina”,
“Oh, terima kasih ya”,
“Sama-sama, ada apa kamu bertanya tentangnya?”
“Tidak ada, hanya diminta Pak Emphasis”,
“Begitu, kupikir ada yang penting”,
“Entahlah, aku hanya diminta mencari tahu soal itu. Tuan Roman datang pagi ini, apa ia tak pergi ke sekolah?”
“Apa-apaan kamu ini, memang Tuan Roman sekolah?”
“Ya mungkin, entahlah”,
“Tadi kamu bilang Tuan Roman bersama Violin, apakah mereka tinggal satu rumah? Urusan penting apa hingga Tuan Roman datang kemari?”
“Tidak, aku tidak tahu. Mana mungkin Tuan Roman mau serumah dengan orang lain. Bukannya ia tinggal di rumah besarnya, Tuan Roman memang sulit ditemui tapi bukan berarti ia seperti itu. Ya kamu tahulah, Tuan Roman adalah adik Pak Dir. Jadi terserah dia mau datang kemari. Tapi kudengar hanya masalah kecil perusahaan”senyum manis sekretaris Pak Dir.
“Baiklah, terima kasih. Aku pergi dulu”
“Ya”
Begitu bawahan Emphasis pergi, sekretaris Pak Dir hanya tersenyum manis lalu ia menghubungi Pak Dir. Komunikasi lewat telepon kantor segera terhubung. Pak Dir mengangkat telpon dari sekretarisnya.
“Selamat sore Pak Dir, baru saja tadi Emphasis meminta bawahannya untuk mencari tahu Tuan Roman. Saya lakukan seperti bapak minta.”,
“Jadi Emphasis menanyakan keberadaan Tuan Roman, saya ingin kamu tetap berbohong yang terbaik untuk Tuan Roman. Jangan sampai ada orang yang tahu dimana Tuan Roman tinggal”
__ADS_1
“Baik Pak Dir”,
Pak Dir segera menutup telponnya begitu juga dengan sekretaris. Mereka pun kembali bekerja. Sekretaris tersenyum manis, ia berhasil berbohong pada bawahan Emphasis yang berupaya mencari tahu tentang Tuan Roman. Sekretaris harus berbohong sesuai keinginan Pak Dir untuk merahasiakan tentang Tuan Roman.
Sementara bawahan Emphasis segera kembali menghadap Emphasis dan memberitahunya. Melihat bawahannya kembali, Emphasis segera menghentikan pekerjaannya.
“Sore, Pak Emphasis. Saya sudah mendapatkan kabar Tuan Roman pagi ini. Ia datang kemari dengan Violin”,
“Violin, siapa dia?”
“Dia adalah anak dari Vionerina”
“Oh, ya…ia salah satu pegawai disini kan?”
“Ya, Pak Emphasis. Saya dengar Vionerina adalah wanita yang menikah dengan Seto Briand”,
“Ya, ya. Saya tahu soal itu. Apa mereka tinggal bersama?”
“Tidak, Tuan Roman tidak tinggal bersama dengan Violin”,
“Tuan Roman datang dalam rangka urusan apa?”
“Dia sedang mengurus permasalahan kecil perusahaan”
“Bukankah Tuan Roman harus sekolah pagi ini?”
“Tidak, sekretaris Pak Dir bilang Tuan Roman tidak sekolah”,
“Benarkah? Tapi putriku bilang ia satu sekolah dengan Tuan Roman?”
“Tapi sekretaris Pak Dir bilang Tuan Roman tidak sekolah”,
“Apa mungkin sekretaris Pak Dir membohongimu? Ia mungkin telah berbohong atas perintah Pak Dir!”
“Maaf Pak Emphasis, soal itu saya tidak tahu betul. Maafkan saya?”
“Ah tidak apa, kerjamu sudah bagus jadi silahkan kembali bekerja”
“Terima kasih Pak Emphasis”
Bawahan Emphasis segera keluar dari ruangan, dan Emphasis menundukan kepala sebagai tanda terima kasih. Emphasis pun kembali melanjutkan pekerjaanya, namun ketika tidak ada yang memperhatikan dirinya. Ia segera mengirim pesan pada putrinya, Angel.
“Angel sayang, papa sudah mendapatkan kabar Tuan Roman. Ia tidak masuk sekolah karena ada masalah di perusahaan. Hanya masalah kecil, jadi kamu tidak perlu khawatir.”
High School 7, jam pulang sekolah telah tiba. Teman-teman telah menunggu Angel di depan kelasnya. Begitu Angel telah keluar dari ruang kelas, teman-teman segera menghampiri.
“Angel, jadi gimana? Apa kita akan ke rumah Roman?”
“Aku baca pesan dari papaku dulu ya?”
“Ya!”
Angel pun mulai membaca pesan dari papanya, “Angel sayang, papa sudah mendapatkan kabar Tuan Roman. Ia tidak masuk sekolah karena ada masalah di perusahaan. Hanya masalah kecil, jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Lalu Angel membalas pesan itu, “Terima kasih papa, aku sayang papa!.” Setelah membalas pesan itu, Angel berucap pada teman-temannya.
“Papaku bilang Roman tidak turun ke sekolah karena ada masalah di perusahaan. Jadi ia izin gak masuk sekolah!”,
Tapi ucapan Angel tidak dipercaya teman-teman, “Benarkah? Masa sih, bukannya dia anak Pak Dir? Dia bukan seorang direktur yang sibuk dengan pekerjaan kan?.”
“Masa sih? Aku mau lihat pesan dari papamu!”
“Alah, alasan kamu aja kali. Kamu mau menemui Roman kan sendirian?”
“Disini, aku mau lihat ponsel kamu!”
Akhirnya dengan gesekan teman-teman, Angel memperlihatkan pesan dari papanya. Teman-teman serentak membaca pesan itu, Angel sayang, papa sudah mendapatkan kabar Tuan Roman. Ia tidak masuk sekolah karena ada masalah di perusahaan. Hanya masalah kecil, jadi kamu tidak perlu khawatir.”
“Ih iya benar, Roman mulai sibuk!”
“Kan aku sudah bilang yang benar, tapi kalian malah gak percaya!”kesal Angel
Temannya pun mengembalikan ponsel Angel yang ada di tangannya sambil berucap “Ya siapa tahu kamu berbohong sama kami? Kan kamu udah pernah tuh bohongi Violin!.”
Angel pun kesal dengan nada tinggi ia membalas ucapan temannya itu, “Hey, aku gak pernah bohongi Violin tau. Violin itu putus dengan Demian karna mereka gak cocok. Bukan karna aku!.”
Dengan santai dan cuek teman-teman Angle menjawab, “Santai aja kali. Kami juga gak bakalan ngurus tuh hubungan mereka! Kek ngak ada yang lain aja”,
“Heduh, mana mau gue jadian sama Demian! Cowok bekas…”ejek teman Angel
“Bekas?”tanya Angel
“Iya bekas! Kan bekas Violin, eh elo malah jadian sama Demian. Apa lo gak sadar kalau Demian itu bekas Violin. Lo mau-maunya jadian sama dia. Nih kalau aku jadi kamu, amit-amit jadian sama Demian. Gak level gue!”
Angel pun terdiam mendapat ejekan dari teman-temannya, lalu teman-temannya pergi meninggal kan Angel. Angel yang di tinggalkan pun menjadi kesal. Ia semakin membenci Violin. Karena Violin lah hidupnya selalu di rendahkan di hadapan teman-teman.
“Sial, dasar Violin sialan! Lihat aja nanti, aku akan memberi peringatan sama kamu!”kesal Angel pada Violin.
Kemudian Angel pergi meninggalkan kelasnya menuju area parkir, ia segera masuk ke mobil dan pergi meninggalkan sekolah dengan kekesalan.
Sementara itu, teman-teman Angel yang masih bertahan di sekolah.
“Duh, kapan sih Angel sadar kalau perbuatannya selama ini salah?”
“Iya, kasihan Violin selalu dimusuhi Angel”,
“Emang apa sih maunya Angel itu?”
“Enggak tau lah, dia selalu saja menyalahkan Violin. Padahal Violin tidak salah apa-apa”
“Iya benar tuh, yang salah itu menurutku Demian dan Angel”,
“Ia benar, gara-gara Angel dan Demian. Violin masuk rumah sakit, dan mengalami koma”
“Benar, kita lihat kan di rumah sakit. Ibunya Violin nungguin Violin seorang diri. Kalian kan tahu Violin tidak punya ayah”,
“Iya, kasihan Violin”,
“Tuh, terus kenapa kita diam aja? Kenapa kita gak minta maaf sama Violin. Dan membuat Angel damai sama Violin?”
“Duh dasar kamu, kamu pikir kek pisang goreng sama tepung yang mudah disatukan dalam adonan? Tidak semudah itu tau! Kan kamu tahu Angel itu gimana?”
“Ih, iya”,
“Ya udah, yang penting nanti kita lindungin Violin. Jangan sampai ia masuk rumah sakit lagi”,
“Ih, semua ini karena sifat iri dan sombong Angel tuh! Karna dia kita semua buruk dimata Violin”,
“Duh, sudah lah jangan gitu! Kita pulang aja yuk?”
__ADS_1
“Yup, pulang….”