Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 90 Aira, Wolf?


__ADS_3

Negeri Peri dalam kekacauan besar, wolf menyerang dengan dipimpin Aira. Raja Oishima terus berusaha mempertahankan wilayahnya. Wolf menyerang negeri peri dengan bantuan penyihir. Raja Oishima


tak mampu lagi bertahan, jumlah pasukan berkurang, dan rakyat banyak yang tewas. Penyerangan ini berakhir dengan sebuah kemanangan untuk wolf. Aira dan pasukan menguasai negeri peri bersama penyihir.


            Sinar bulan menerangi jalan, istana dan desa. Mata merah dan bertaring, pelari cepat sedang mengintai dan menatap desa. Semejak Tagao menjadi vampire, dirinya tak terkendali akan haus darah. Begitu ada manusia yang berjalan sendirian, ia langsung menyerangnya. Menjadikannya mangsa.


***


            Entah mengapa malam ini aku tak bisa tidur. Pikiranku selalu tertuju pada Tagao, kudekati jendela dan membuka. Kulihat kegelapan dari hutan, semakin jauh pandanganku maka aku dapat melihat kegelapan hutan Argon. “ Tagao! Kamu dimana?” ucapku. Aku terus memanggilnya hingga tiga kali, lalu menutup pintu jendela. Berbaring dikasur dan menyelimuti tubuh dengan selimut. Melihat langit-langit dan berucap “ Tagao! Aku tidak tau


harus bagaimana. Ibumu memintaku untuk balikan denganmu. Apa ibu tau kalau aku tak ingin bersamamu lagi? Aku benci kamu! Tapi tak bisa melupakanmu”.


            “ Benarkah?”


            Aku kaget, lalu menoleh ke samping.


Kulihat Tagao berbaring disampingku, “ Kapan kamu ada disamping? Aku tak


membukakan pintu untukmu?”.


            “ Apa itu harus? Kapanpun kamu


memanggilku, aku akan datang”


            “ Hah, siapa yang memanggilmu?”


            “ Kamu, aku mendengar!”


            “ Hah, lalu? Kamu masuk dari mana?”


            “ Apa kamu lupa siapa suamimu ini?”


            “ Tidak, aku ingat”


            “ Apa kamu menerimaku? Aku


sungguh-sungguh menanyakan ini. Bukalah pintu untukku”


            “ Entahlah, aku bingung. Aku mau


menjalankan permintaan terakhir ibu tapi kamu, kamu membuatku kecewa”


            “ Apa tak ada kesempatan untukku?


Memperbaiki kesalahan ini”


            “ Tidak, tidak ada. Kecuali jika


memang kita jodoh, maka suatu saat nanti kita pasti dipertemukan kembali. Hanya


itu jalan satu-satunya kita bertemu, jika tidak berjodoh maka tak ada


kesempatan kedua kalinya untukmu. Selamat malam Tagao”. Kupejamkan mata dan


tidur. Entah bagaimana dengan Tagao setelah itu.


***


            Angin sejuk masuk kekamar begitu


juga dengan cahaya matahari hingga membuatku terbangun. Kulihat jendela kamar


terbuka, “ Apa Tagao tidur denganku ya malam tadi? Entahlah”.


            Di ruang singgasana, Tagao duduk


dikursi. Pikirannya tertuju pada Aresha, “ Apa maksudnya suatu saat nanti? Apa


Aresha akan pergi meninggalkanku sendirian? Ini tidak boleh terjadi. Aku telah


melakukan semuanya sejauh ini, dia harus tetap bersamaku”.


            Tiba-tiba datanglah seorang pengawal


dengan membawa surat dan memberikan padanya. Kemudian pengawal itu pergi dan


Tagao membaca surat.


            “ Raja Tagao, apa kabar? Sehat? Aku


punya kabar baik untukku dan kabar buruk untukmu. Kabar baik untukku, adalah


negeri peri sekarang menjadi milikku. Kabar buruk untukmu adalah Raja Oishima


sudah tidak ada dan bersiap-siaplah menyambut kedatangan kami diwilayahmu.


Kuharap sambutannya adalah kamu menyerahkan Aresha padaku. Jika tidak, ya tidak


apa-apa hanya saja kamu harus bersiap-siap untuk menyambut kedatangan kami.


Sampai jumpa lagi, Tagao”.


            Tagao langsung meremas kertas dan


melemparkannya. Zuya datang, duduk di kursi lalu berucap “ Ada apa Tagao?


Mengapa wajahmu begitu?”.


            “ Wolf akan datang, kita akan


menyambut kedatangan mereka. Kamu siapkan semua pasukan kita untuk menyambut


kedatangan mereka, bersiaplah untuk perang. Jaga wilayah kita, istana dan desa”.


            “ Baik, Raja Tagao!”


            Tagao berdiri lalu pergi


meninggalkan ruang singgasana.


***


            Kubuka pintu kamar lalu menutupnya


kembali. Berjalan keluar dari istana, dan pergi diam-diam ke sungai. Duduk

__ADS_1


dibawah pohon rindang, menatap sungai yang airnya tenang lalu berucap “ Apa


yang harus kulakukan sekarang? Tak adakah yang bisa membuatku bertahan hidup


disini?”. Dari belakang, Aira berucap “ Bagaimana denganku? Apa aku bisa


membuatmu bertahan disini?”. Kutoleh kebelakang dan melihat Aira berjalan mendekat


lalu duduk disamping.


            “ Ya jika saja aku belum punya


suami, mungkin bisa. Jujur saja, aku tak bisa hidup dalam kebohongan seseorang.


Dalam mimpiku, ibuku datang memberi restu dipernikahan kami tapi ayah. Ayah


tidak datang”


            “ Apa itu artinya ayahmu tidak


memberi restu padamu?”


            “ Ya, tidak”


            “ Seandainya kita menikah, apa


ayahmu akan datang memberi restu untuk kita?”


            “ Entahlah, Aira. Aku tidak tau”


            “ Bagaimana kabarmu? Apa kamu masih


marah padaku?”


            “  Aku baik dan tidak marah padamu sebalinya aku lah yang harus bertanya.


Apakah kamu marah padaku?”


            “ Tidak, aku tidak marah. Kamu tidak


bersama suamimu?”


            “ Tidak, dia sibuk dengan tugas


kerajaannya. Beberapa hari ini, aku agak membencinya”


            “ Kenapa? Apa dia salah besar


padamu?”


            “ Ya, salah. Dia membohongiku, dan


ibunya membuat permintaan terakhir padaku. Dia ingin aku selalu bersamanya,


tapi entahlah. Sepertinya aku tidak bisa mengabulkan keinginannya itu”


            “ Sebaiknya kamu pertahankan


hubunganmu dengannya”


            “ Pertahankan hubungan dengannya?


telah membunuh ibuku” ucapku lalu berdiri.


            Aira berdiri dan berucap “ Maafkan


aku, aku hanya tidak ingin membuatmu sedih”


            “ Kalau begitu, jangan bicarakan


tentang dia lagi. Aku tidak ingin mendengarnya”


            “ Baiklah, tak akan lagi. Apa besok


aku boleh mengantarkan bunga untukmu lagi?”


            “ Tentu saja, aku tunggu kamu


ditaman dan sampai jumpa besok, Aira”, pergi meninggalkan Aira menuju istana.


***


            Di taman istana kulihat banyak


sekali pengawal berjaga, lalu berjalan masuk ke ruang singgasana. Melihat Tagao


dan Zuya menyusun rencana dimeja. Tagao menoleh kearahku, mendekati dan memeluk


erat lalu berucap “ Kamu pergi kemana saja? Aku minta maaf, sungguh minta maaf.


Aku tidak mau kehilangan dirimu, Aresha”.


            “ Minta maaf untuk apa? Apa kamu


membohongi aku lagi?”


            “ Tidak, aku tidak membohongimu. Aku


minta maaf untuk memintamu pergi dari istana ini”


            “ Kenapa? Ada apa?”


            “ Wolf akan menyerang istana ini,


mereka telah menyerang negeri vampire dan peri. Raja Oishima, sudah meninggal


ditangan wolf”.


            “ Aku tak akan pergi, tidak akan.


Aku akan tetap disini bersamamu, bukankah itu yang ibumu minta”


            “ Aresha, aku hanya ingin kamu


selamat dan baik-baik saja”

__ADS_1


            “ Tagao, kumohon biarkan aku tetap


disini. Apa Takara juga pergi?”


            Dari lantai atas Takara berucap “


Tidak, aku tak akan pergi meninggalkan suamiku dan istana ini. Aku akan


mempertahankan tempat ini, karena ditempat inilah aku lahir”, sambil menuruni


tangga.


            “ Takara saja tidak mau pergi apa


lagi aku, sudahlah. Apapun yang terjadi cobalah bertahan” ucapku sambil


berjalan masuk kamar.


***


            Matahari mulai tenggelam dan bulan


purnama datang. Saat semua orang telah tertidur lelap, wolf bergerak dengan


cepat bersama penyihir. Penyihir mulai mengunakan sihirnya untuk membuat


seluruh penduduk desa tertidur lelap begitu juga dengan penjaga. Wolf dan


penyihir masuk ke istana. Aira berjalan menuju kamar Tagao dan berdiri


disampingnya.


            “ Selamat malam Raja Tagao, tapi


lebih pantas disebut dengan pangeran. Apa kabarmu, tuan?” ucap Aira.


            Tagao terbangun dan melihat Aira


telah berada disampingnya, lalu duduk dan berucap “  Aira, putra seorang budak dari budak negeri vampire.


Ada yang bisa aku bantu untukmu?”


            “ Sudahlah, jangan pura-pura. Aku


datang untuk bertamu di sini. Ayo lihatlah keluar, diruang depan ada kejutan


untukmu”.


            Kemudian Tagao keluar dari kamar


bersama Aira. Tagao melihat Takara, Zuya dan Aresha berada ditengah-tengah


ruang singgasana dengan pedang disamping leher yang siap memengal. Tagao


melihat Aresha yang menundukan kepala, lalu berucap “ Apa maumu?”.


            Aira berdiri disamping dan menepuk


pundak Tagao, lalu berucap “ Mudah saja, yang pertama serahkan Aresha untukku.


Ceraikan dia, lalu pergilah dari tempat ini”.


            “ Aku tak akan serahkan Aresha, tak


akan pernah”


            “ Oh, begitu ya! Mudah saja, akan


dibuat lebih mudah”, lalu Aira menepuk tangan tangannya dua kali. Pasukan Aira


menghampiri Tagao, lalu  membawa Tagao ke


tiang. Mengikat tangan dan kaki Tagao. Apa yang terjadi pada Tagao, juga


terjadi pada Takara dan Zuya.


            Aira berjalan mendekatiku dan


berucap “ Aresha, aku tidak ingin menyakitimu. Hanya saja aku ingin kamu selalu


bersamamu. Dren, ikatkan tali merah ditanganku dan Aresha”. Dren, penyihir


mengikatkan tali ditanganku dan Aira. Tali merah, bukan sembarang tali. Tali


ini memiliki kelebihan, yaitu tak mudah dilepaskan dari tangan seorang wanita


yang telah terikat. Hanya prianya yang dapat melepaskan ikatan wanitanya.


            Aira berjalan, dan tali merah mulai


menarik diriku untuk berjalan. “ Aira, boleh aku bicara dengan Tagao?” ucapku.


            “ Silahkan, mungkin ini pertemuan


terakhir kalian”


            Kudekati Tagao, dan berucap “ Tagao,


aku sungguh minta maaf jika ini akhirnya. Aku tidak mau kehilanganmu, jika kita


memang berjodoh suatu saat nanti kita pasti akan dipertemukan kembali.


Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi jika memang kamu mencintaiku maka


pertahankanlah”.


            “ Ya, akan kupertahankan”


            “ Jaga dirimu, akan kucoba untuk


membebaskan dirimu dari sini. Jangan menyerah”


            Aira berjalan hingga menarik diriku,


aku mengikuti langkah Aira. Selalu bersamanya malam ini, namun hanya pikiranku

__ADS_1


hanya tertuju pada satu hal mungkinkah aku bisa menyelamatkan mereka dari semua


ini. Aku tak pernah menyangka kalau wolf dipimpin oleh Aira.


__ADS_2