Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 222


__ADS_3

“Zanko, sudah siuman ya? Apa kamu baik- baik saja?” tanya salah satu seorang pengawas.


“Ya, aku baik. Dimana Roman? Apa mereka ke Glasland?”


“Ya, seperti dugaanmu. Kepala akamedi meminta kita ke Glasland untuk membangun kembali lapangan ujian ability magie. Roman sudah lebih dulu ke Glalsland dengan yang lain. Kepal akademi juga sudah meminta bantuan ke Buniv untuk membangun lapangan itu kembali. Ya, aku rasa VA juga akan segera datang. Mereka pasti ke Glasland. Kamu mengerti kan kataku, Zanko?”


“Ah ya, VA akan segera tiba. Tidak mungkin VA lewat dunia ini, mereka akan cepat datang jika memasuki Glasland. Hah, ya memang sudah takdir kita untuk menyimpan kekuatan dari manusia”


“Em...benar. Ya, apa ada masalah hingga kalian kemari?”


“Oh, itu! Kami ingin ke Glasland”


“Ya silahkan, tidak masalah selagi kalian adalah pengawas akademi ini juga!”


“Yos, ayo kita pergi!” ucap Zanko dengan semangat.


Kemudian Zanko, Hani dan Gisel masuk ke Glasland. Hanya dalam selangkah mereka semua telah tiba di Glasland. Secepatnya ketiganya menggunakan kemampuan mereka untuk segera tiba di lapangan ujian ability magie yang akan di bangun lagi.


Lapangan ujian ability magie.

__ADS_1


Lapangan yang telah di bangun dengan susah payah telah hancur lembur rata dengan tanah. Pengawas dari Akademi Yexiao dan VA telah tiba di tempat ini termasuk semua klan yang di utus untuk membantu pembangunan ulang lapangan ujian ability magie.


Semua klan yang menjadi perwakilan membangun kembali ujian ability magie dan ketua VA serta ketua Akademi Yexio mendiskusikan pembanguan ulang lapangan ujian ability magie. Sementara anggota VA dan Akademi Yexiao siap menerima perintah.


Kedatangan Zanko, Hani dan Gisel menjadi pusat perhatian sesaat. Eren dan Akira yang melihat kedatangan dua gadis itu pun segera mendekati mereka. Tapi Hani menjaga jarak dengan Eren. Ia masih kesal padanya. Sementara Zanko pergi mendekati anggota pengawas Akademi Yexiao lainnya.


Violin pun telah kembali ke tempat ini setelah jalan- jalan mengawasi tempat ini. Violin tidak berharap bertemu dengan dua orang jahat itu lagi. Violin segera mendekati Hani dan Gisel yang sedang berbincang dengan Eren dan Akira.


Suara hentak kaki yang cukup keras, Violin telah menginjakkan kakinya ke tanah dari belakang Hani dan Gisel. Violin mengubah dirinya menjadi manusia biasa.


Hani dan Gisel yang mendengar hentak kaki yang keras itu segera berpaling ke belakang, mereka melihat Violin berjalan mendekat kemari.


Violin tersenyum manis, ia mendekati dan berdiri di samping Gisel. Lalu berucap, “Ya aku baru saja jalan- jalan. Ini pertama kalinya kita berkumpul seperti ini ya? Apa Akira juga ikut?”


Akira yang mendengar pertanyaan Violin menjawab, “Ya, dia ketua klan kegelapan kan? Tidak ada masalah lagi, kita sudah berdamai. Jadi tentu saja dia juga akan ikut mendiskusikan pembangunan lapangan ujian ability magie kali ini!”


“Hem, menarik! Bagaimana kabar VA?”


“Ya baik. Kamu sangat memperhatikan VA ya? Terima kasih. Tapi jangan khawatir, VA dijaga oleh klan vampir dari kegelapan dan klan lainnya”

__ADS_1


“Ya baiklah jika begitu” jawab Violin tersenyum manis, sementara pikirannya memikirkan hal lain. Ia berguman dalam hatinya, “Hah, sayang sekali Alecia tidak ada disini. Semoga saja dia baik- baik! (Hatinya yang lain mengatakan kebencian) Hah, biarkan saja! Itu memang salah dia. Kenapa kamu sangat peduli dengannya? Tanpa bantuan kembaranmu itu, kamu juga ngak akan ada di dunia ini. Ya, tapi bukan Alecia yang harus kau khawatirkan tapi kembaranmu itu. Sekarang dia pergi kemana, bodoh!”


Hani dan Gisel melihat Violin sedang melamun, keduanya pun melambaikan tangannya pada Violin.


“Hello! Apa kamu masih disana?” ucap Hani.


“Hello, Violin?” ucap Gisel sembari tertawa kecil.


Hani pun tertawa kecil, seolah- olah Violin yang sedang melamun itu adalah hal yang lucu bagi mereka berdua.


Violin pun tertegun dari lamunannya, ia melihat dua tangan sahabatnya yang terus melambaikan tangan di hadapannya.


“Ah, ya ada apa?” tanya Violin dengan suara pelan.


“Eh, sudah sadar ya? Kamu lagi mikirin apa sih?” tanya Hani.


“Ya, aku memikirkan bagaimana cara membangun pembangunan lapangan ini. Ya katakan saja mudah sekali untuk membangunnya dengan fondasi yang dulu. Mudah di hancurkan. Kita memiliki banyak elemen, jika hanya membuatnya dengan tanah, batu semen itu sama saja seperti fondasi yang dulu. Orang- orang jahat itu akan sangat mudah menghancurkan lapangan. Jika di buat dengan elemen juga tidak akan bisa. Angin, air, api, dan tanah tidak akan bisa membuat sebuah lapangan yang bagus” jelas Violin.


“Oh jadi begitu. Ya ucapanmu ada benarnya. Tapi tidak perlu khawatir, Roman pasti bisa mengatasi masalah ini!” Ucap Akira sembari mendekati Gisel.

__ADS_1


__ADS_2