Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 300


__ADS_3

“Baiklah, mulai membosankan. Mau mulai permainan kita?” tanya Briand sembari melihat Zhia.


“Oh ya tentu saja, disini juga agak gerah!” jawab Zhia sembari membuka kerah bajunya hingga terlihat setengah dada yang begitu besar seperti gunung.


Melihat sebesar itu, Briand pun dibuat gerah. Ia sedikit melonggarkan baju dan melipat baju lengannya.


“Sudah siap?” tanya Zhia.


“Ya tentu saja.”


Kemudian Zhia dan Briand pun memulai permainannya. Dalam diri Briand, dirinya harus mengalahkan Zhia dalam permainan ini untuk mendapatkan semua yang dia mau. Sementara dalam diri Zhia, ia harus kalah dan tidak boleh menang untuk tetap bersama pria ini sampai akhir.


Tangan kedua orang ini mulai mengayun- ayun, keduanya pun mulai menhitung mundur secara bersamaan.


“Tiga, dua, satu!”


Briand mengeluarkan dua jari yang membentuk gunting, dan Zhia hanya mengeluarkan tangannya dengan datar sebagai kertas. Maka dalam permainan ini Zhia lah yang kalah. Melihat hasilnya, Briand tersenyum manis. Ia berhasil mengalahkan gadis ini.


“Ya, aku kalah! Ya baiklah, aku akan menerima hukumannya!” ucap Zhia dengan wajah sedih.


“Ya ampun! Tidak perlu sedih begitu, aku tidak akan meminta hal yang aneh padamu kok.”


“Ya, baiklah. Katakan saja apa hukuman untukku?”


Briand tersenyum manis, ia pun mendekati Zhia dan membisikan hukumannya di telinga perempuan itu.


Briand berbisik, “Aku menyukaimu, bagaimana kalau kamu menciumku sebagai tanda kamu menyukaiku?”.


Zhia tersenyum manis, ia merasa sedikit geli dengan bisikan itu. Lalu Zhia melihat ke arah Briand, dan membalas bisikan itu “Aku akan melakukannya, sebuah ciuman itu bukanlah hal besar untukku!.” Seketika itu lah Zhia langsung mendekati Briand dan mencumbunya. Zhia pun memeluk erat pria itu, dan menikmati permainan ini.


Briand membalas pelukan dan menikmati cumbuan, mereka seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah. Permintaan yang penuh dengan hasrat dan Zhia akan melakukannya dengan sangat baik.


Tetapi cumbuan itu terhenti tiba- tiba, begitu lift terbuka dan seorang pria masuk ke dalam. Brian dan Zhia pun segera melepaskan pelukan mereka, dan membuat keadaan seolah- olah tak terjadi apa-apa.


Zhia tidak mempedulikan ada orang lain di tempat ini, ia melanjutkan permainan ini.


“Mau main batu gunting kertas lagi?” tanya Zhia.


“Ya tentu, kita lihat siapa yang akan kalah kali ini?!”


Kemudian Zhia dan Briand kembali melanjutkan permainan ini. Zhia mengeluarkan gunting dan Briand mengeluarkan batu. Alhasil, Briand lah yang menang. Untuk kedua kalinya, pria ini menang lagi. Zhia pun tersenyum manis, ia menunggu hukuman berikutnya yang akan diberikan Briand padanya.

__ADS_1


Briand pun memikirkan perintah apa lagi pada Zhia, ia melihat seluruh tubuh gadis itu. Ia merasa sangat beruntung dalam permainan ini. Perempuan yang bersamanya ini kalah lagi.


Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka dan pria yang ada di depan mereka berdua segera keluar dari lift. Lift kembali tertutup dan Briand mulai mendekati Zhia.


“Apa hukumannya untukku?” tanya Zhia.


“Bagaimana kalau perintahnya kamu harus minum denganku semalaman, apa kamu menyanggupinya?”


“Hah, hanya minum ya? Ya tidak masalah. Aku akan minum semalaman denganmu.”


“Ya karena kamu menyetujuinya maka kamu harus membuktikannya padaku. Di kamarku ada minuman, dan kamu harus minumnya semalaman. Akan aku temani!”


“Ya, aku setuju. Bagaimana kalau kita main lagi, aku ingin sekali menang!”


“Oh, kamu sangat berharap ya? Memang apa yang ingin kamu minta, jika kamu memenangkan permainan ini?”


“Itu pertanyaan bagus, Briand. Aku ingin kamu bermain- main denganku semalam saja! Menurutmu, apa aku akan menang dengan permintaanku begini?”


“Ya, itu permintaan yang mudah. Main satu kali lagi denganku?”


Zhia melihat ke arah Briand, ia tersenyum manis dan seperti berharap akan menang dari pria ini. Mereka berdua pun kembali memulai permainan. Zhia terus saja mengalah, dan lagi- lagi Briand lah yang menang. Zhia pun menaruh wajah sedih. Ia sangat tidak menyukai permainan ini.


“Aaahh, kenapa aku kalah lagi?” renggek Zhia.


“Hah, baiklah apa hukumannya?”


“Mudah saja, seperti katamu tadi. Bermain- main lah denganku semalam!”


“Hah, ya baiklah. Itu permintaan yang aku inginkan. Aku akan bermain- main denganmu!,” senyum Zhia dengan perasaan senang.


Lift terus berjalan menuju lantai tujuan, hanya ada mereka berdua disini. Zhia pun mendekati Briand dengan sangat dekat. Sementara pria itu tak berkutik sedikitpun, ia seperti menunggu Zhia melakukan sesuatu padanya.


“Ada apa?” tanya Briand di dekat Zhia.


Spontan Zhia memeluk erat pria itu hingga dadanya pun terlihat seperti menempel pada tubuh pria itu.


“Memulai permainanlah denganku? Malam ini atau lebih banyak malam?” bisik Zhia di telinga pria itu.


Briand pun membalas pelukannya, ia memeluk perempuan itu dengan erat dan menjawab “Apakah kamu gadis liarku?”


“Ya tentu saja, kamu menggodaku! Aku tidak akan melepaskanmu.”

__ADS_1


Briand tersenyum, “Siapa yang melakukan ini? Aku lebih suka kamu menggodaku!”


Zhia melihat wajah Briand, lalu mencumbunya dengan penuh kehangatan. Mereka tidak mau melepaskan tubuh yang dipegang erat masing- masing, sebuah cumbuan yang tidak berhenti.


Hingga lift terbuka lagi, mereka telah tiba di lantai tujuan. Mereka pun bergegas melepaskan pelukan dan membenarkan pakaian mereka sembari berjalan keluar dari lift.


“Kamu pasti akan menyukai sesuatu seperti ini, tempat yang nyaman dan bisa buat bersantai.”


“Benarkah? Apa kamu bisa melakukan sesuatu untuk tubuhku?”


“Ya, jika kamu mau!”


“Badanku sedikit terasa pegal, bisakah kamu memijatnya?”


“Ya, akan kulakukan” terhenti di depan sebuah kamar. Kamar dengan nomor 200, itu berarti Zhia dan Briand telah sampai di tempat tujuan. Briand pun membukakan pintunya, dan seketika pintu terbuka, terlihatlah ruang dan seisinya yang begitu rapi dan bersih.


Zhia pun bergegas masuk, dan Briand berjalan di belakangnya. Briand berjalan pelan, dan diam- diam mengunci pintunya. Setelah itu, ia menyembunyi kan kunci itu di belakang meja. Ia tersenyum dengan liciknya.


“Bagaimana, kamar ini bagus kan?” tanya Briand sembari mendekati Zhia dengan sangat dekat. Briand pun meletakan kedua tangannya di pundak Zhia.


Zhia merasa pria ini terlalu dekat dengannya, hingga membuat dirinya merasa sedikit gerah dan sulit bergerak, ditambah pria ini menahan Zhia untuk tak pergi dengan kedua tangannya. Briand memegang kedua pundak Zhia, itu lah yang membuat Zhia seperti tertahan dan memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Zhia pun membuat suasana senyaman mungkin.


Meski pikiran Zhia berkata lain, ia mencoba membalik keadaannya. Zhia berpikir, “Oh ya ampun! Aku salah, apa yang telah aku lakukan? Pria ini mesum sekali! Tetapi menarik sekali, ia sehebat apa?.”


Zhia pun meletakan tasnya di kasur, lalu duduk menghadap Briand sembari mengelus- elus kasur. Apa yang dilakukan Zhia ini seperti memberikan harapan pada seseorang untuk menemaninya, tindakan ini dimaksudkan untuk Briand. Zhia secara tidak langsung meminta Briand bermain dengannya. Seperti berkeinginan untuk satu malam bersama.


“Ya sebelum kita bersenang- senang, aku akan mengambilkan minuman untuk kita. Kamu mau minuman apa?” tanya Briand padaku.


“Ya, tentu saja yang enak. Apa kamu ada minuman yang segar disini?”


“Oh, tentu saja ada. Akan kulihat!” ucap Briand sembari pergi mendekati kulkas kecil dan membukanya. Ia menemukan wiski, dan segera membawanya mendekati Zhia.


“Aku punya ini, bagaimana?”


“Wah, itu juga boleh!” jawab Zhia.


Kemudian keduanya menuju sofa, dan duduk bersampingan. Braind menuangkan wiski ke dalam dua gelas. Setelah itu botol wiski itu diletakan di atas meja, Briand mengambil gelasnya sendiri dan Zhia mengambil gelasnya.


Lalu keduanya saling bersulang dan meminum wiski itu sampai habis.


“Ya ampun! Tempat ini memang nyaman ya? Tidak berisik seperti kamarku!” ucap Zhia memperhatikan suasana yang hening dan sepi.

__ADS_1


“Ya benar, itu karena hanya kita berdua!” jawab Briand sembari menuangkan kembali minuman ke gelas Zhia. Lalu kembali berucap, “Ayo minum lagi! Kita akan bersenang- senang kan?”


__ADS_2