Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 105


__ADS_3

Menutup


kembali kain pada tubuh kakak lalu pergi meninggalkan tempat ini. Terus


berjalan dan mencoba berpikir ada masalah apa kakak dengan makhluk besar


mengerikan itu. Kini aku pun harus mandiri tanpa kakak. Menundukan kepala di


sepanjang perjalanan menuju rumah hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.


 


 


“Maaf,


maafkan aku!,”ucapku sambil menundukan kepala dan pergi tapi orang itu menarik


tanganku. “Lepaskan aku!”,


 


 


“Hey,


kamu kenapa? Aku Aksara temanmu!”,


 


 


Aku mulai


menoleh ke depan dan melihat dirinya di depan diriku.


 


 


“Kamu


kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?”,


 


 


“Tidak


ada, aku hanya…”,


 


 


“Tidak


mungkin tidak ada apa-apa jika tidak ada sesuatu yang terjadi dan membuatmu


menangis. Baiklah, ayo masuk ke mobil! Aku akan mengantarmu pulang”,


 


 


Aku pun masuk


ke mobil Aksara dan pergi bersamanya. Dalam perjalanan ia terus bertanya.


 


 


“Apa yang


terjadi? Ceritalah padaku, aku temanmu kan?”,


 


 


“Aku


sudah bilang tidak ada, aku hanya ingin sendiri!”,


 


 


“Apa aku


teman yang tidak bisa dipercaya ya? Selama ini aku mencoba untuk menjadi


temanmu. Apa kamu pernah mencoba memahami orang yang di dekatmu ini?”,


 


 


Aku


terdiam sejenak, “ Aku hanya berduka, aku sedih sekali! Jadi aku hanya ingin


sendiri”,


 


 


“Baiklah,


tapi jangan pernah mencelakai dirimu sendiri”,


 


 


Begitu


tiba di rumah, aku segera turun dan pergi meninggalkannya. Ia pun pergi melanju


meninggalkan tempat ini. Mengurung diri di kamar adalah cara terbaik untuk


menghentikan kesedihan ini bagiku.


 


 


***


 


 


Aksara


mengemudikan mobilnya dengan cepat dan memperhatikan keadaan kota. Ia tak


snegaja melihat sesuatu kejadian di gang. Ia melihat vampir mendapat mangsa. Ia


nampak menikmati darah segar itu.


 

__ADS_1


 


“Hah,


vampir jalanan! Sayang sekali saat ini pemburu vampir tidak ada,”guman Aksara.


 


 


Saat


bersamaan dua pria tak di kenal datang dan turun dari motor mengejar vampir


itu. Mereka tak lain adalah Aira dan Tagao. Secepatnya mengejar vampir yang


meresahkan kelompoknya itu.


 


 


“Hah,


pemburu vampir! Bagus jika masih ada seperti itu. Tapi akan lebih baik aku


menjemput kematian orang-orang di dunia ini. Lebih banyak lebih baik, bukankah


begitu?,”ucap Aksara pergi meninggalkan tempat itu. Jejak kepergiannya membuat


tanaman mati, ya seperti ada kekuatan jahat di sekitar.


 


 


***


 


 


Mengurung


diri, menangisi kepergian kakak walau aku tahu dia tak akan pernah kembali


lagi. Aku sungguh sedih dan tak terima kenyataan ini.


 


 


“Aku


harus mencari pembunuhnya sekarang juga! Tapi bagaimana caranya aku bisa


menemukan merekan?”, kuambil cristal biru yang ada di satu mantel.


 


 


“Tunjukan


padaku orang-orang yang telah menyerang kakaku!”,


 


 


Saat itu


anehnya cristal tidak menunjukan yang kuinginkan, dia tidak berguna sama


dalam keadaan seperti ini aku harus percaya pada mimpi bodoh itu!”. Aku pun


akhirnya memutuskan untuk tidur. Berharap semua ini hanya mimpi.


 


 


Dalam


kegelapan cristal biru itu menghilang. Mampi kembali datang menyelimuti.


Seorang wanita yang sama, ditunjukan oleh cristal. Telah berdiri di depanku. Ia


menatapku sambil tersenyum lalu ia menghilang. Diriku kembali dialihkan pada


dua pria yang telah ditunjukan cristal padaku. Salah satu pria mengulurkan


tangannya padaku sambil tersenyum. Tetapi mendadak pria itu berubah menjadi


vampir yang membuatku takut dan terbangun.


 


 


“Hah, ya


ampun ini lagi! Apa sih maksudnya? Cristal itu, ya dia dimana?,”ucapku bangun


dan segera mencari cristal yang kulemparkan ke dinding. Namun aku tidak


menemukannya saat itu.


 


 


“Ya


ampun, bukannya aku tadi melemparkannya disini? Siapa yang mengambilnya ya?


Bukannya aku cuman tinggal sendiri ya? Hah sudahlah benda itu kan dapatnya dari


mimpi mungkin ia kembali,”gumanku.


 


 


***


 


 


Pagi di


sekolah, berjalan menuju loker dan mendapati tulisan di depan loker.


 


 



Menjauhlah dari Oppa! Atau kamu akan menyesel!”


 


 

__ADS_1


Aku


mendapat sebuah ancaman dan segera kuambil kertas itu dan memasukannya ke dalam


bak sampah. Tak lama kemudian Aksara datang dan membuka lokernya yang penuh


dengan surat.


 


 


Aksara


mengambil salah satu surat dan membacanya,


 


 


“Hay


Aksara, aku senang kakak kembali ke sekolah. Setiap hari aku merindukan kakak,


Oppa! I LOVE OPPA!”,


 


 


Aksara


pun tertawa geli, dan aku terus memperhatikannya.


 


 


“Hey, Aresha


menurutmu aku ini tampan ngak?”,


 


 


Aku


mengamati dirinya dengan serius lalu berucap “ Entahlah kenapa kamu bertanya


padaku? Aku kurang tertarik dengan pria jadi tanyakan saja pada surat-surat


yang kamu terima itu”.


 


 


“Ya


kenapa begitu? Aku serius, aku ini tampan atau tidak!”,


 


 


“Entahlah,


jangan menanyakan itu padaku meski aku ini seorang gadis bukan berarti aku bisa


menilai siapapun. Sudahlah jangan memperbanyak pikiranku!”, pergi


meninggalkannya. Ia menyusul kepergianku sambil membaca surat-surat yang


didapatnya.


 


 


“ Kakak,


makanan kesukaanmu apa? Aku ingin tahu dan memasakan makanan tiap hari


untukmu”,


 


 


“Hey,


jangan kudengar kamu selalu dibicarakan teman-teman. Bagaimana kalau kamu


bergabung dengan geng kita? Geng Wen!”,


 


 


Berjalan


menuju ruang kelas dan duduk di kursi. Aksara memasukan surat-suratnya ke dalam


tas. Lalu berucap “ Aku mendapat tawaran dari geng Wen untuk bergabung


menurutmu bagaimana?”,


 


 


“Jika aku


jadi dirimu aku lebih baik memilih tidak, untuk apa bergabung jika hanya bisa


menambah masalah!”,


 


 


“Benar


sih!”,


 


 


“Tapi


jangan mengikuti saranku, aku hanya tidak mau jadi penghalang bagimu untuk


bergabung dengan mereka!”,


 


 


Dari


kejauhan ada beberapa anak perempuan mengamati percakapan kami berdua tanpa disadari.


Mereka kesal dan marah sekali melihat kedekatan itu.

__ADS_1


__ADS_2