
Menutup
kembali kain pada tubuh kakak lalu pergi meninggalkan tempat ini. Terus
berjalan dan mencoba berpikir ada masalah apa kakak dengan makhluk besar
mengerikan itu. Kini aku pun harus mandiri tanpa kakak. Menundukan kepala di
sepanjang perjalanan menuju rumah hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.
“Maaf,
maafkan aku!,”ucapku sambil menundukan kepala dan pergi tapi orang itu menarik
tanganku. “Lepaskan aku!”,
“Hey,
kamu kenapa? Aku Aksara temanmu!”,
Aku mulai
menoleh ke depan dan melihat dirinya di depan diriku.
“Kamu
kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?”,
“Tidak
ada, aku hanya…”,
“Tidak
mungkin tidak ada apa-apa jika tidak ada sesuatu yang terjadi dan membuatmu
menangis. Baiklah, ayo masuk ke mobil! Aku akan mengantarmu pulang”,
Aku pun masuk
ke mobil Aksara dan pergi bersamanya. Dalam perjalanan ia terus bertanya.
“Apa yang
terjadi? Ceritalah padaku, aku temanmu kan?”,
“Aku
sudah bilang tidak ada, aku hanya ingin sendiri!”,
“Apa aku
teman yang tidak bisa dipercaya ya? Selama ini aku mencoba untuk menjadi
temanmu. Apa kamu pernah mencoba memahami orang yang di dekatmu ini?”,
Aku
terdiam sejenak, “ Aku hanya berduka, aku sedih sekali! Jadi aku hanya ingin
sendiri”,
“Baiklah,
tapi jangan pernah mencelakai dirimu sendiri”,
Begitu
tiba di rumah, aku segera turun dan pergi meninggalkannya. Ia pun pergi melanju
meninggalkan tempat ini. Mengurung diri di kamar adalah cara terbaik untuk
menghentikan kesedihan ini bagiku.
***
Aksara
mengemudikan mobilnya dengan cepat dan memperhatikan keadaan kota. Ia tak
snegaja melihat sesuatu kejadian di gang. Ia melihat vampir mendapat mangsa. Ia
nampak menikmati darah segar itu.
__ADS_1
“Hah,
vampir jalanan! Sayang sekali saat ini pemburu vampir tidak ada,”guman Aksara.
Saat
bersamaan dua pria tak di kenal datang dan turun dari motor mengejar vampir
itu. Mereka tak lain adalah Aira dan Tagao. Secepatnya mengejar vampir yang
meresahkan kelompoknya itu.
“Hah,
pemburu vampir! Bagus jika masih ada seperti itu. Tapi akan lebih baik aku
menjemput kematian orang-orang di dunia ini. Lebih banyak lebih baik, bukankah
begitu?,”ucap Aksara pergi meninggalkan tempat itu. Jejak kepergiannya membuat
tanaman mati, ya seperti ada kekuatan jahat di sekitar.
***
Mengurung
diri, menangisi kepergian kakak walau aku tahu dia tak akan pernah kembali
lagi. Aku sungguh sedih dan tak terima kenyataan ini.
“Aku
harus mencari pembunuhnya sekarang juga! Tapi bagaimana caranya aku bisa
menemukan merekan?”, kuambil cristal biru yang ada di satu mantel.
“Tunjukan
padaku orang-orang yang telah menyerang kakaku!”,
Saat itu
anehnya cristal tidak menunjukan yang kuinginkan, dia tidak berguna sama
dalam keadaan seperti ini aku harus percaya pada mimpi bodoh itu!”. Aku pun
akhirnya memutuskan untuk tidur. Berharap semua ini hanya mimpi.
Dalam
kegelapan cristal biru itu menghilang. Mampi kembali datang menyelimuti.
Seorang wanita yang sama, ditunjukan oleh cristal. Telah berdiri di depanku. Ia
menatapku sambil tersenyum lalu ia menghilang. Diriku kembali dialihkan pada
dua pria yang telah ditunjukan cristal padaku. Salah satu pria mengulurkan
tangannya padaku sambil tersenyum. Tetapi mendadak pria itu berubah menjadi
vampir yang membuatku takut dan terbangun.
“Hah, ya
ampun ini lagi! Apa sih maksudnya? Cristal itu, ya dia dimana?,”ucapku bangun
dan segera mencari cristal yang kulemparkan ke dinding. Namun aku tidak
menemukannya saat itu.
“Ya
ampun, bukannya aku tadi melemparkannya disini? Siapa yang mengambilnya ya?
Bukannya aku cuman tinggal sendiri ya? Hah sudahlah benda itu kan dapatnya dari
mimpi mungkin ia kembali,”gumanku.
***
Pagi di
sekolah, berjalan menuju loker dan mendapati tulisan di depan loker.
“
Menjauhlah dari Oppa! Atau kamu akan menyesel!”
__ADS_1
Aku
mendapat sebuah ancaman dan segera kuambil kertas itu dan memasukannya ke dalam
bak sampah. Tak lama kemudian Aksara datang dan membuka lokernya yang penuh
dengan surat.
Aksara
mengambil salah satu surat dan membacanya,
“Hay
Aksara, aku senang kakak kembali ke sekolah. Setiap hari aku merindukan kakak,
Oppa! I LOVE OPPA!”,
Aksara
pun tertawa geli, dan aku terus memperhatikannya.
“Hey, Aresha
menurutmu aku ini tampan ngak?”,
Aku
mengamati dirinya dengan serius lalu berucap “ Entahlah kenapa kamu bertanya
padaku? Aku kurang tertarik dengan pria jadi tanyakan saja pada surat-surat
yang kamu terima itu”.
“Ya
kenapa begitu? Aku serius, aku ini tampan atau tidak!”,
“Entahlah,
jangan menanyakan itu padaku meski aku ini seorang gadis bukan berarti aku bisa
menilai siapapun. Sudahlah jangan memperbanyak pikiranku!”, pergi
meninggalkannya. Ia menyusul kepergianku sambil membaca surat-surat yang
didapatnya.
“ Kakak,
makanan kesukaanmu apa? Aku ingin tahu dan memasakan makanan tiap hari
untukmu”,
“Hey,
jangan kudengar kamu selalu dibicarakan teman-teman. Bagaimana kalau kamu
bergabung dengan geng kita? Geng Wen!”,
Berjalan
menuju ruang kelas dan duduk di kursi. Aksara memasukan surat-suratnya ke dalam
tas. Lalu berucap “ Aku mendapat tawaran dari geng Wen untuk bergabung
menurutmu bagaimana?”,
“Jika aku
jadi dirimu aku lebih baik memilih tidak, untuk apa bergabung jika hanya bisa
menambah masalah!”,
“Benar
sih!”,
“Tapi
jangan mengikuti saranku, aku hanya tidak mau jadi penghalang bagimu untuk
bergabung dengan mereka!”,
Dari
kejauhan ada beberapa anak perempuan mengamati percakapan kami berdua tanpa disadari.
Mereka kesal dan marah sekali melihat kedekatan itu.
__ADS_1