
Tagao masih lesu berbaring di kamar istana Arkares. Terlihat perubahan pada dirinya. Matanya berubah menjadi merah dan suka haus akan darah. Zuya masuk kekamar Tagao dengan membawa secangkir darah untuknya. Tagao meminum habis darah itu. Bahkan dirinya meminta darah pada Zuya sebanyak-banyaknya. Melihat Tagao seperti itu Raja Oishima memberikan kekuatannya untuk bisa mengendalikan dirinya menjadi vampire. Tagao mulai berusaha menyeimbangkan dirinya menjadi vampire dan manusia.
Menjelang malam, Tagao berburu bersama Raja Arkares di hutan. Makhluk apa yang mereka temukan itulah
santapannya. Hanya sebuah keberuntungan jika bertemu dengan manusia. Menghisap darahnya sampai habis seperti meminum minuman dalam gelas.
***
Selama dua hari di sini aku menunggu
suamiku datang bersama Takara. Jalan-jalan sendirian disekitar desa dan hutan.
Sebenarnya aku pergi dari desa diam-diam. Terus berjalan masuk ke hutan.
Pemandangan hutan ini menabjubkan bagiku. Ketika diriku telah merasa dalam memasuki
hutan, aku ingin kembali. Namun aku tidak menemukan jalan pulang ke desa. Aku
terus berusaha mencari jalan pulang. Tiba-tiba seseorang menutupi mulutku dan
mengancam diriku.
“ Jika kamu melawan, aku akan
membunuhmu dengan cepat” ucapnya. “ Sebaiknya kamu turuti perintahku. Jalan
kedepan” lanjutnya. Kuturuti semua perintah apa yang ia katakan hingga akhirnya
dia membawaku kesebuh gebuk. Mengikat tangan dan kedua kakiku dikursi dengan
tali lalu mengikat mulutku dengan kain.
“ Bebaskan aku sebelum kamu
menyesal, cepat bebaskan” ucapku.
“ Bebaskan dirimu? Enak saja. Kamu
sekarang menjadi tahananku. Baiklah, bagaimana berkenalan dulu. Namaku Tio,
namamu siapa?”
“Aku adalah ratumu, kamu akan
menyesal nanti jika tak melepaskan diriku. Namamku, Aresha. Ratu Aresha”
“ Ratuku? Ya tentu saja setelah
malam ini kita tidur bersama”
“ Aku tidak bercanda, aku serius!”
Tiba-tiba seseorang mendobrang
pintunya, terlihat seorang pria muda dengan pedang panjangnya dan berucap “
Sebaiknya kamu cepat membayar hutangmu padaku sebelum pedangku menusuk
ketubuhmu”
“ Moru, tuan Moru. Maafkan aku, aku
tak bisa membayar hutangku hari ini tuan” mohonnya dikaki Felx.
Kaki Moru menjajak tubuhnya dengan
keras lalu melihat kearahku, mendekati dan berucap “ Ini siapa? Kau menculik
wanita secantik ini? Mirip sekali dengan Ratu Aresha”.
“ Aku tak menculiknya tapi dia
adalah budakku. Temanku memberikannya padaku, tapi dia agak keras”
“ Sepertinya boleh juga untukku,
akan kuambil dia setidaknya sebagai bayaran pertamamu. Akan menyenangkan malam
ini bersamanya”
Tio berjalan mendekati Moru dan
berucap “ Silahkan saja asal masalah kita selesai. Dia tak pernah tersentuh dan
agak sensitive. Dia akan membuat malammu sangat menyenangkan, dan kau bisa
menjualnya kembali”
Moru memegang wajah dan menatap
diriku lalu berucap” Baiklah, gadis cantik malam ini kamu akan ikut denganku”.
“ Kalian yang ada diluar cepat masuk” lanjutnya.
Sepuluh orang laki-laki masuk
kegebuk ini, dan salah satu dari mereka berucap “ Ya tuan Moru, ada yang bisa
saya bantu?”
“ Bawa wanita ini kekereta kencana
kita. Dia akan ikut kita pulang”
“ Baik tuan”
Laki-laki itu mulai melepaskan
diriku dari ikatan. Membawaku masuk kekereta kencana. Kulihat dijendela, banyak
sekali pengawal Moru. Mereka berjaga-jaga. “ Aku tak mungkin bisa kabur kalau
begini. Huh, mengunakan sihir pun percuma. Mereka akan membunuhku jika
mengunakan kekuatan itu” ucapku.
Tak lama kemudian Moru datang, dia
duduk didepanku. Menatapku dan berucap “ Kita pergi sekarang” ucapnya. Pengawal
Moru mulai naik kekudanya dan kereta kencana ini berjalan. Sementara itu, Tio
__ADS_1
telah tewas dibunuh Moru digebuk dengan bersimbah darah. Moru merempas budak (
Aresha ) dari Tio.
“ Jadi siapa namamu? Mengapa kamu
bisa bertemu dengan Tio?” tanya Moru.
“ Namaku, Aresha. Dia menculikku.
Aku jalan-jalan dan tersesat”
“ Aresha, Ratu Areha. Jangan bohong,
Ratu Aresha itu tinggal diistana bukan
bersama Tio, laki-laki pemabuk itu”
“ Jika kamu tak percaya, tak apa.
Mungkin beberapa hari lagi kamu akan diserang oleh banyak pasukan untuk
membunuhmu”
“ Ribuan pasukan pun aku tak takut,
sekarang jadilah wanita yang baik untukku”
“ Heh, terserah kau saja. Jangan
menyesal nanti”.
“ Tak akan pernah terjadi
penyesalan”
Aku mulai merasa kereta kencana ini berhenti,
Moru membuka pintunya dan turun. Menghampiri pengawal dan berucap padanya.
Kemudian aku diminta pengawalnya untuk turun dan berjalan dibelakang Moru,
mengikuti langkahnya. Ketika masuk ke rumahnya, aku kaget bukan main. Moru
memiliki banyak budak wanita, mereka memiliki penampilan yang berbeda-beda.
Ditengah ruangan ini Moru berucap “ Dengankan semuanya, wanita yang aku bawa
ini akan bersamaku. Jadi berikan dia pakaian yang layak. Jika diantara kalian
berani-berani menyakitinya, aku tak segan membunuh kalian dengan tanganku
sendiri”. Kemudian Moru melangkah masuk ke kamarnya.
Tiba-tiba aku didekati oleh budak
Moru. “ Namaku Hion, aku istri Moru ke 24. Ayo ikuti kami” ucanya. Berjalan di
tengah-tengah mereka semua, dan pikiranku mulai bertanya “ Mereka ini istri
Moru atau budak?”.
Di ruang kamar yang dipenuhi pakaian
menguncinya. Tiba-tiba salah satu dari mereka berucap “ Kumohon nona, ketika
kamu telah bersama suami kami. Jangan sekali-kali memintanya untuk mengusir
kami. Kami mohon padamu”.
Aku tersenyum dan berucap “Apakah
kalian semua istri Moru?”
“ Ya, kami semua istrinya. Dia
selalu mencari dan menikahi wanita lain yang lebih cantik. Kami semua
seakan-akan tidak mampu memikat hatinya dengan sepunuh hati kami”.
“ Namaku, Aresha. Aku Ratu Aresha,
tapi entah mengapa dimana Moru. Dia tak menghiraukan perkataanku, dia tak
percaya”
“ Ya, aku baru ingat. Kau istri
Tagao, bukan?”
“ Ya, aku istrinya. Aku jalan-jalan,
tersesat dan diculik”
“ Aresha, Ratu Aresha. Kumohon jika
dirimu berkenan bebaskanlah kami dari sini. Kami sudah tak tahan, kami menikah
secara paksa. Kami diculik sepertimu dan dikurung bertahun-tahun disini”
“ Aku mengerti perasaan kalian
semua, akan kulakukan. Aku akan membantu kalian”
“ Baiklah, sebaiknya sekarang kami
harus mendandani kamu agar Moru tak memarahi kami”
“ Aku akan mencari gaun yang cocok
untukku sendiri. Apa disini ada anggur biru?”
“ Anggur biru? Blueberyy?”
“ Bukan, bentuknya sebesar anggur merah
hanya saja ketika kita memakannya anggurnya berubah menjadi biru”
“ Tidak ada, tapi aku pernah
mendengar anggur biru. Seorang penjual ramuan pasar menjualnya”
__ADS_1
Berjalan dan mencari gaun dan
berucap“ Aku ingin kalian membelinya dengan jumlah 24 butir buah. Kalian harus
memegang anggur biru satu-satu. Sembunyikan ditubuh kalian, agar kapanpun
waktunya kita melakukan rencana ini dengan siap”.
“ Baiklah kami akan mencarinya, tapi
untuk apa?”
“ Nanti kalian juga tau kok,
pokoknya lakukan saja demi kebebasan diri kalian”
Setelah menemukan gaun yang cocok
dengan diriku kemudian aku mengenakannya. Setelah itu mereka semua menghiasi
diriku dan mengantarkanku ke ruang makan. Makan bersama Moru. Istri-istri Moru
meninggalkanku diruangan ini, hanya ada aku dan Moru sekarang. Aku dan dia
makan bersama, berbicara mengenai hal kecil seperti kesenangan.
“ Aresha, katakan padaku. Apa yang
ingin kamu raih? Kekayaan? Akan kuberikan untukmu”
“ Maaf, tetapi aku tak terlena
dengan kekayaan. Aku suka dengan cinta, hanya cinta yang aku inginkan”
“ Cinta? Aku akan memberikannya
untukmu. Malam ini akan kubuat kau jatuh cinta denganku”
“ Benarkah? Aku akan menunggunya
dengan penuh hormat”.
***
Setelah makan malam bersama, Moru
mengajakku kekamar. Duduk dikasur bersamanya.
“ Jadi, apa cinta itu akan
benar-benar kau berikan padaku?”
Moru berjalan mendekati pintu,
menutup dan menguncinya. Kemudian kembali duduk dikasur dan berucap “ Ya, kau
akan menyukaiku”. Moru mulai mendekati diriku dengan sangat dekat. Kubaringkan
tubuhku, dan Moru menindihi tubuhku. Memegang kedua tanganku dan mencumbu.
Namun saat Moru ingin mencumbu diriku, kugunakan sihir untuk mempergaruhinya.
Kusentuh tangannya dengan telunjuk jari, tanpa diketahui Moru. Moru telah
terpengaruh dan mengikuti setiap ucapanku.
“ Menyingkir dariku, Moru”, Moru
menyingkirkan tubuhnya dariku.
“ Moru, ketika anak buahmu bertanya
sesuatu jawablah dengan baik. Tidurlah sekarang”
Moru mengangguk dan melakukan apa
yang aku perintahkan. Aku berjalan keluar kamar, menemui istri-istri Moru.
Ketemui mereka dikamar dimana aku dirias. Kubuka pintu, kumelihat mereka duduk
dan berbaring dilantai sambil memegang perut mereka.
“ Kalian belum makan ya? Ayo ikuti
aku. Moru mengajak kalian makan lo, makan bersamaku”
“ Benarkah? Tapi dia tak pernah
seperti itu pada kami. Kami hanya diberi makan sehari sekali”
“ Tak apa, ayo ikut”
Aku dan istri Moru berjalan keruang
tamu. Kami makan bersama, kulihat mereka makan dengan lahap. Aku merasa bahagia
melihat mereka.
“ Terima kasih Aresha, sudah
mengijinkan kami makan”
“ Sama-sama, ayo makan terus. Moru
sedang tidur, jangan khawatir”
“ Tidur? Pagi sekali. Apa dia tak
menyentuhmu?”
“ Tidak, dia memintaku lakukan
apapun yang aku mau”
Mereka kembali makan, pengawal Moru
yang curiga dengan ucapanku mulai mengecek Moru dikamar. Moru menjawab
pertanyaan anak buahnya sesuai perintahku, hingga tak ada saling mencurigai.
Setelah semua istri Moru kenyang, kami kembali kekamar dan aku tidur bersama
__ADS_1
mereka. Malam yang melelahkan, bersama istri-istri yang tersakiti.