Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 84


__ADS_3

Tagao masih lesu berbaring di kamar istana Arkares. Terlihat perubahan pada dirinya. Matanya berubah menjadi merah dan suka haus akan darah. Zuya masuk kekamar Tagao dengan membawa secangkir darah untuknya. Tagao meminum habis darah itu. Bahkan dirinya meminta darah pada Zuya sebanyak-banyaknya. Melihat Tagao seperti itu Raja Oishima memberikan kekuatannya untuk bisa mengendalikan dirinya menjadi vampire. Tagao mulai berusaha menyeimbangkan dirinya menjadi vampire dan manusia.


            Menjelang malam, Tagao berburu bersama Raja Arkares di hutan. Makhluk apa yang mereka temukan itulah


santapannya. Hanya sebuah keberuntungan jika bertemu dengan manusia. Menghisap darahnya sampai habis seperti meminum minuman dalam gelas.


***


            Selama dua hari di sini aku menunggu


suamiku datang bersama Takara. Jalan-jalan sendirian disekitar desa dan hutan.


Sebenarnya aku pergi dari desa diam-diam. Terus berjalan masuk ke hutan.


Pemandangan hutan ini menabjubkan bagiku. Ketika diriku telah merasa dalam memasuki


hutan, aku ingin kembali. Namun aku tidak menemukan jalan pulang ke desa. Aku


terus berusaha mencari jalan pulang. Tiba-tiba seseorang menutupi mulutku dan


mengancam diriku.


            “ Jika kamu melawan, aku akan


membunuhmu dengan cepat” ucapnya. “ Sebaiknya kamu turuti perintahku. Jalan


kedepan” lanjutnya. Kuturuti semua perintah apa yang ia katakan hingga akhirnya


dia membawaku kesebuh gebuk. Mengikat tangan dan kedua kakiku dikursi dengan


tali lalu mengikat mulutku dengan kain.


            “ Bebaskan aku sebelum kamu


menyesal, cepat bebaskan” ucapku.


            “ Bebaskan dirimu? Enak saja. Kamu


sekarang menjadi tahananku. Baiklah, bagaimana berkenalan dulu. Namaku Tio,


namamu siapa?”


            “Aku adalah ratumu, kamu akan


menyesal nanti jika tak melepaskan diriku. Namamku, Aresha. Ratu Aresha”


            “ Ratuku? Ya tentu saja setelah


malam ini kita tidur bersama”


            “ Aku tidak bercanda, aku serius!”


            Tiba-tiba seseorang mendobrang


pintunya, terlihat seorang pria muda dengan pedang panjangnya dan berucap “


Sebaiknya kamu cepat membayar hutangmu padaku sebelum pedangku menusuk


ketubuhmu”


            “ Moru, tuan Moru. Maafkan aku, aku


tak bisa membayar hutangku hari ini tuan” mohonnya dikaki Felx.


            Kaki Moru menjajak tubuhnya dengan


keras lalu melihat kearahku, mendekati dan berucap “ Ini siapa? Kau menculik


wanita secantik ini? Mirip sekali dengan Ratu Aresha”.


            “ Aku tak menculiknya tapi dia


adalah budakku. Temanku memberikannya padaku, tapi dia agak keras”


            “ Sepertinya boleh juga untukku,


akan kuambil dia setidaknya sebagai bayaran pertamamu. Akan menyenangkan malam


ini bersamanya”


            Tio berjalan mendekati Moru dan


berucap “ Silahkan saja asal masalah kita selesai. Dia tak pernah tersentuh dan


agak sensitive. Dia akan membuat malammu sangat menyenangkan, dan kau bisa


menjualnya kembali”


            Moru memegang wajah dan menatap


diriku lalu berucap” Baiklah, gadis cantik malam ini kamu akan ikut denganku”.


“ Kalian yang ada diluar cepat masuk” lanjutnya.


            Sepuluh orang laki-laki masuk


kegebuk ini, dan salah satu dari mereka berucap “ Ya tuan Moru, ada yang bisa


saya bantu?”


            “ Bawa wanita ini kekereta kencana


kita. Dia akan ikut kita pulang”


            “ Baik tuan”


            Laki-laki itu mulai melepaskan


diriku dari ikatan. Membawaku masuk kekereta kencana. Kulihat dijendela, banyak


sekali pengawal Moru. Mereka berjaga-jaga. “ Aku tak mungkin bisa kabur kalau


begini. Huh, mengunakan sihir pun percuma. Mereka akan membunuhku jika


mengunakan kekuatan itu” ucapku.


            Tak lama kemudian Moru datang, dia


duduk didepanku. Menatapku dan berucap “ Kita pergi sekarang” ucapnya. Pengawal


Moru mulai naik kekudanya dan kereta kencana ini berjalan. Sementara itu, Tio

__ADS_1


telah tewas dibunuh Moru digebuk dengan bersimbah darah. Moru merempas budak (


Aresha ) dari Tio.


            “ Jadi siapa namamu? Mengapa kamu


bisa bertemu dengan Tio?” tanya Moru.


            “ Namaku, Aresha. Dia menculikku.


Aku jalan-jalan dan tersesat”


            “ Aresha, Ratu Areha. Jangan bohong,


Ratu Aresha  itu tinggal diistana bukan


bersama Tio, laki-laki pemabuk itu”


            “ Jika kamu tak percaya, tak apa.


Mungkin beberapa hari lagi kamu akan diserang oleh banyak pasukan untuk


membunuhmu”


            “ Ribuan pasukan pun aku tak takut,


sekarang jadilah wanita yang baik untukku”


            “ Heh, terserah kau saja. Jangan


menyesal nanti”.


            “ Tak akan pernah terjadi


penyesalan”


            Aku mulai merasa kereta kencana ini berhenti,


Moru membuka pintunya dan turun. Menghampiri pengawal dan berucap padanya.


Kemudian aku diminta pengawalnya untuk turun dan berjalan dibelakang Moru,


mengikuti langkahnya. Ketika masuk ke rumahnya, aku kaget bukan main. Moru


memiliki banyak budak wanita, mereka memiliki penampilan yang berbeda-beda.


Ditengah ruangan ini Moru berucap “ Dengankan semuanya, wanita yang aku bawa


ini akan bersamaku. Jadi berikan dia pakaian yang layak. Jika diantara kalian


berani-berani menyakitinya, aku tak segan membunuh kalian dengan tanganku


sendiri”. Kemudian Moru melangkah masuk ke kamarnya.


            Tiba-tiba aku didekati oleh budak


Moru. “ Namaku Hion, aku istri Moru ke 24. Ayo ikuti kami” ucanya. Berjalan di


tengah-tengah mereka semua, dan pikiranku mulai bertanya “ Mereka ini istri


Moru atau budak?”.


            Di ruang kamar yang dipenuhi pakaian


menguncinya. Tiba-tiba salah satu dari mereka berucap “ Kumohon nona, ketika


kamu telah bersama suami kami. Jangan sekali-kali memintanya untuk mengusir


kami. Kami mohon padamu”.


            Aku tersenyum dan berucap “Apakah


kalian semua istri Moru?”


            “ Ya, kami semua istrinya. Dia


selalu mencari dan menikahi wanita lain yang lebih cantik. Kami semua


seakan-akan tidak mampu memikat hatinya dengan sepunuh hati kami”.


            “ Namaku, Aresha. Aku Ratu Aresha,


tapi entah mengapa dimana Moru. Dia tak menghiraukan perkataanku, dia tak


percaya”


            “ Ya, aku baru ingat. Kau istri


Tagao, bukan?”


            “ Ya, aku istrinya. Aku jalan-jalan,


tersesat dan diculik”


            “ Aresha, Ratu Aresha. Kumohon jika


dirimu berkenan bebaskanlah kami dari sini. Kami sudah tak tahan, kami menikah


secara paksa. Kami diculik sepertimu dan dikurung bertahun-tahun disini”


            “ Aku mengerti perasaan kalian


semua, akan kulakukan. Aku akan membantu kalian”


            “ Baiklah, sebaiknya sekarang kami


harus mendandani kamu agar Moru tak memarahi kami”


            “ Aku akan mencari gaun yang cocok


untukku sendiri. Apa disini ada anggur biru?”


            “ Anggur biru? Blueberyy?”


            “ Bukan, bentuknya sebesar anggur merah


hanya saja ketika kita memakannya anggurnya berubah menjadi biru”


            “ Tidak ada, tapi aku pernah


mendengar anggur biru. Seorang penjual ramuan pasar menjualnya”

__ADS_1


            Berjalan dan mencari gaun dan


berucap“ Aku ingin kalian membelinya dengan jumlah 24 butir buah. Kalian harus


memegang anggur biru satu-satu. Sembunyikan ditubuh kalian, agar kapanpun


waktunya kita melakukan rencana ini dengan siap”.


            “ Baiklah kami akan mencarinya, tapi


untuk apa?”


            “ Nanti kalian juga tau kok,


pokoknya lakukan saja demi kebebasan diri kalian”


            Setelah menemukan gaun yang cocok


dengan diriku kemudian aku mengenakannya. Setelah itu mereka semua menghiasi


diriku dan mengantarkanku ke ruang makan. Makan bersama Moru. Istri-istri Moru


meninggalkanku diruangan ini, hanya ada aku dan Moru sekarang. Aku dan dia


makan bersama, berbicara mengenai hal kecil seperti kesenangan.


            “ Aresha, katakan padaku. Apa yang


ingin kamu raih? Kekayaan? Akan kuberikan untukmu”


            “ Maaf, tetapi aku tak terlena


dengan kekayaan. Aku suka dengan cinta, hanya cinta yang aku inginkan”


            “ Cinta? Aku akan memberikannya


untukmu. Malam ini akan kubuat kau jatuh cinta denganku”


            “ Benarkah? Aku akan menunggunya


dengan penuh hormat”.


***


            Setelah makan malam bersama, Moru


mengajakku kekamar. Duduk dikasur bersamanya.


            “ Jadi, apa cinta itu akan


benar-benar kau berikan padaku?”


            Moru berjalan mendekati pintu,


menutup dan menguncinya. Kemudian kembali duduk dikasur dan berucap “ Ya, kau


akan menyukaiku”. Moru mulai mendekati diriku dengan sangat dekat. Kubaringkan


tubuhku, dan Moru menindihi tubuhku. Memegang kedua tanganku dan mencumbu.


Namun saat Moru ingin mencumbu diriku, kugunakan sihir untuk mempergaruhinya.


Kusentuh tangannya dengan telunjuk jari, tanpa diketahui Moru. Moru telah


terpengaruh dan mengikuti setiap ucapanku.


            “ Menyingkir dariku, Moru”, Moru


menyingkirkan tubuhnya dariku.


            “ Moru, ketika anak buahmu bertanya


sesuatu jawablah dengan baik. Tidurlah sekarang”


            Moru mengangguk dan melakukan apa


yang aku perintahkan. Aku berjalan keluar kamar, menemui istri-istri Moru.


Ketemui mereka dikamar dimana aku dirias. Kubuka pintu, kumelihat mereka duduk


dan berbaring dilantai sambil memegang perut mereka.


            “ Kalian belum makan ya? Ayo ikuti


aku. Moru mengajak kalian makan lo, makan bersamaku”


            “ Benarkah? Tapi dia tak pernah


seperti itu pada kami. Kami hanya diberi makan sehari sekali”


            “ Tak apa, ayo ikut”


            Aku dan istri Moru berjalan keruang


tamu. Kami makan bersama, kulihat mereka makan dengan lahap. Aku merasa bahagia


melihat mereka.


            “ Terima kasih Aresha, sudah


mengijinkan kami makan”


            “ Sama-sama, ayo makan terus. Moru


sedang tidur, jangan khawatir”


            “ Tidur? Pagi sekali. Apa dia tak


menyentuhmu?”


            “ Tidak, dia memintaku lakukan


apapun yang aku mau”


            Mereka kembali makan, pengawal Moru


yang curiga dengan ucapanku mulai mengecek Moru dikamar. Moru menjawab


pertanyaan anak buahnya sesuai perintahku, hingga tak ada saling mencurigai.


Setelah semua istri Moru kenyang, kami kembali kekamar dan aku tidur bersama

__ADS_1


mereka. Malam yang melelahkan, bersama istri-istri yang tersakiti.


__ADS_2