Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 202


__ADS_3

Dengan wajah kesal, aku melihat Lady Dandelion sebentar lalu segera pergi meninggalkan tempat ini.


Di luar cafe, aku segera berjalan menuju rumah sakit. Tetapi pikiranku terus memikirkan ucapan Lady Dandelion padaku. Ia menceritakan tentang kehidupan masa lalu suamiku, Romeo. Maksud Lady Dandelion menceritakan masa lalu Romeo padaku adalah agar aku tahu siapa suamiku itu. Hidupnya dipenuhi perasaan ambisius, haus tahta dan seorang tiran. Tetapi aku percaya padaku suamiku, bahwa ia telah berubah dan tidak melakukan hal keji pada siapapun. Ya bukankah dia sedang adalah manusia biasa sama sepertiku?.


Menepaki jalan lorong rumah sakit menuju kamar rawat putri kecilku, membuka pintu kamarnya yang penuh penderitaan. Aku sangat berharap putri kecilku tidak akan lagi menderita, dan aku berharap ia segera menemukan tempat terbaik tanpa derita di dunia ini. Aku merasa sudah tidak sanggup lagi melihat wajahnya, melihat dirinya yang tak kunjung membuka mata. Kutukan itu benar- benar telah menghancurkan hidupku berkeping- keping. Dia adalah pneyihir yang jahat, tetapi Lady Dandelion mengatakan kalau Alika bukanlah penyihir yang jahat. Lalu semua ini dinamakan apa? Semua derita ini apa?.


Sementara itu, di cafe tak jauh dari rumah sakit Kota Malvado. Keberadaan Lady Dandelion.

__ADS_1


Ia tersenyum manis penuh makna. Lady Dandelion melihat meja yang penuh hidangan, yang ia pesankan untuk Alecia. Tetapi belum perbincangan selesai, gadis itu sudah tidak tahan akan cerita kehidupan masa lalu Romeo dan pergi meninggalkan tempat ini.


“Hah, ya seperti dugaanku. Gadis itu tidak akan kuat menerima kenyataan siapa suaminya. Bukankah itu bukan cinta sejati? Terus terang saja, kenapa Romeo memilih gadis itu? Ya, mungkin jawabannya adalah penyesalan. Ia menyesal telah menikahi gadis yang salah. Ya seharusnya dia menepati janjinya menikah dengan Alika, bukan Alecia. Tapi itu juga bukan urusanku. Urusanku adalah membuatmu kembali menjadi gadis yang kuat dan membuatmu berani melihat kenyataan di dunia ini. Ya, setidaknya aku telah melakukan tugasku” gumannya sembari tersenyum sinis.


Perlahan- lahan awan putih berjalan dan matahari memutar waktu. Angin mulai berhembus menerba dedaunan di pohon. Waktu terus berjalan detik demi detik. Semua orang terus bergerak, tidak ada yang berhenti disini. Ya kecuali kematian menghampiri mereka.


Tetapi perlahan- lahan keadaan itu berubah dengan cepat. Monitor telah menunjukan kondisi terakhirnya, menunjukan akhir kisahnya. Garis lurus yang tak pernah putus, dan telah membuat seorang ibu menangis dan bergerak dengan cepat menekan tombol darurat.

__ADS_1


Ibu itu terus memanggil nama putrinya, ia terus memanggil hingga dokter dan suster datang untuk menolong gadis kecil yang malang. Segala usaha penyelamatan dokter keluarkan, segela kemampuan yang ia miliki tidak akan bisa mencegah malaikat maut mencabut nyawa gadis kecil yang malang itu. Gadis kecil itu tetap lah pergi, ia pergi dengan tenang. Sementara ibunya terus bergelimang air mata, ia pun mencoba menghubungi suaminya.


Suara deringan ponsel yang terus berbunyi, mencoba terhubung dengan ponsel Romeo. Tak ada jawaban, panggilannya tak di terima. Operator selalu mengatakan nomor di luar jangkuan.


Keberadaan Alecia.


Air mata terus mengalir jatuh ke pipi tanpa henti, aku pun berusaha memberitahu suamiku. Namun telponnya tak pernah bisa terhubung dan dia sepertinya sedang sibuk. Hingga semuanya telah berakhir, dokter menyatakan kondisi terakhir putri kecilku. Dia harus menderita karna kesalahanku, karna aku memaksakan cintaku dan kini suamiku pun tidak ada disampingku. Semuanya telah hancur, dan yang kuperjuangkan selama ini sia- sia. Dokter pergi meninggalkanku, dan suster masih tetap disini.

__ADS_1


Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, semuanya benar- benar kacau. Kuberlari menuju putri kecilku yang dirinya hampir tertutup oleh sehelai kain. Kurangkul putriku dan kulihat wajahnya untuk terakhir kali. Dia tidak akan membuka matanya lagi, dan tak akan kudengar lagi dirinya memanggil diriku dengan sebutan “Mama”.


__ADS_2