
Eren dan Akira terus mencari Violin, mereka berlari dengan sangat cepat menyelurusi seisi hutan dan di bantu oleh kelelawar yang akan memberinya sinyal keberadaan gadis itu. Ethan yang melihat Eren dan Akira melakukan itu, ia pun segera mencari Violin ke arah berlawanan. Ia berharap, ia bisa menemukan gadis itu lebih dulu. Ethan berharap dengan menemukan gadis itu ia bisa bertemu dengan Alika dan membunuhnya lebih dulu.
Tak pernah dirasakan, waktu terus berjalan tanpa henti. Bulan telah bergeser dari tempatnya. Suasana hening dan sepi, kadang kala suara binatang-binatang malam berbunyi seolah-olah menjerit di telingaku.
Kami masih berada di demensi lain menunggu waktu fajar menyingsing datang.
“Jadi dia kembaranmu?”tanya Gisel
“Ya benar. Aku minta maaf sudah menghalangi jalan yang seharusnya. Kalian bukan lagi manusia kan? Kalian sudah menjadi bagian dari mereka. Bodoh sekali aku! Tak seharusnya aku menghalangi mereka mendapatkan kalian. Kekuatan vampire kalian hanya di segel oleh mereka. Mana kala mereka membukanya maka kalian bukan lagi manusia. Hidup kalian pasti bahagia jika bersama mereka”ucapku menyesal.
“Hah, maaf. Maaf kami membuatmu dalam masalah, Violin. Tak seharusnya kami lari, kami lupa itu”ucap Gisel dengan nada sedih.
“Sudahlah, sekarang kita hanya perlu menunggu. Tidak ada yang perlu di permasalahkan”ucapku.
“Benar kata saudariku, tidak ada yang perlu di permasalahkan. Setelah ini pergi lah kemana pun yang kalian suka. Tidak akan ada yang menghalangi kalian lagi, tapi persahabatan kalian akan tetap ada. Ya kan, Violin?”ucap Alika menyankinkan diriku.
Aku menganggukan kepala, “Ya benar, tidak masalah aku berteman dengan siapa. Ya hanya saja, kita harus menjadi diri kita sendiri sekarang. Kita berbeda, tapi persahabatan kita akan tetap ada”
“Apa yang akan terjadi pada mereka berdua jika kami tidak mereka temukan malam ini?”tanya Hani
“HanI Hastina, bisa ngak sih kamu ngak usah pikirkan mereka?”protes Gisel
“Aa-aku tidak bisa berhenti, mereka membuatku takut tapi aku juga mencintai mereka”
Alika tertawa kecil, dan berucap “Hahhaa…ya aku tahu. Tapi tidak perlu khawatir, jika mereka gagal menemukan kalian maka artinya mereka gagal menjadi kalian gadis bunga mawar. Tenang saja, tidak perlu di permasalahkan”
“Benarkah?”
“Ya benar, jangan khawatir. Jika kalian ini tidur, tidur saja. Memang ketika kita bukan berada di rumah, waktu terasa sangat panjang. Hingga kita tidak nyenyak tidur. Tidur saja! Demensi ini aman kok, tidak ada yang bisa masuk dan keluar begitu saja”
“Sebenarnya kamu ini siapa? Mengapa mengetahui banyak hal tentang demensi ini? Apakah kamu sudah lama terkurung di sini?”
“Tidak, tapi aku sering mengunakan demensi ini untuk berlatih sihir. Penyihir sepertiku harus melatih kekuatan untuk mencapai level tertinggi. Aku juga menggunakan demensi untuk untuk berreinkarnasi. Jadi jiwaku tenang jika disini”,
Matahari pun bersinar di ufuk timur, waktu fatar telah terlihat. Cahaya matahari bersinar dengan warna keemasan yang indah. Cahaya yang memberi kehidupan pada seluruh makhluk di hutan ini tetapi tidak pada makhluk kegelapan yang terkutuk, vampire. Kulit mereka akan terbakar jika terkena cahaya matahari, hingga mereka lebih suka bersembunyi. Cahaya matahari yang bersinar dari ufuk timur itu lah sebuah kekuatan muncul. Ya kekuatan yang tersembunyi dalam diri seseorang.
Kami yang berada dalam demensi lain segera keluar melalui beningnya air terjun yang mengalir. Begitu keluar dari air, kami di sambut oleh dinginnya air terjun ini. Ya karna matahari belum bersinar terang, suasana di sini menjadi dingin. Air yang dingin, udara yang sejuk dan embun pagi masih tersisa. Tetapi munculnya cahaya matahari adalah kekuatan yang tidak tertandingi disini. Ia menyelamatkan siapapun.
Kami segera berjalan keluar dari hutan ini, melewati jalan mengarah ke matahari terbit.
“Kamu yakin ini sudah aman?”tanya Hani
“Ya ini sudah aman, malam sudah usai. Mereka tidak akan berani menyentuh kita, kecuali mereka memberanikan diri untuk melawan cahaya matahari”
Dua sahabatku tersenyum, mereka paham akan maksud ucapan itu. Ya vampire sangat takut pada matahari.
“Kak, Alika. Apa setelah ini kakak akan pergi lagi?”tanyaku sambil berjalan ke depan.
“Tidak, tapi kakak hanya akan menemani kalian beberapa langkah lagi. Ketika matahari mulai menerangi kalian, maka sudahnya sudah selesai. Sampai jumpa lagi”jawabnya sambil tersenyum.
Perlahan-lahan langkah kami di terangi matahari, hingga Alika tersenyum manis. Perlahan-lahan pula ia menghilang. Ia menghilang lagi, lagi dan entah kapan kembali. Rasa rindu saja belum pudar, ia sudah pergi. Aku memang kesal tapi apa boleh buat, jiwanya memang tidak ada. Dia bisa di katakan tidak pernah ada di dunia ini.
Kami pun tiba di jalan ruang beraspal. Kami segera beristirahat dan menunggu mobil melintas disini. Kami harap kami segera mendapat tumpangan. Tetapi semua belum berakhir begitu saja. Kami melihat mobil Roman melintas, segera bersembunyi di semak-semak.
Ya matahari yang bersinar adalah sumber kekuatanku, maka kugunakan sihirku agar aroma tubuh kami tak tercium olehnya. Hingga mobil itu berlalu saja, dan membuat kami merasa legah kembali. Ya aku adalah penyihir dari bulan sabit merah, penyihir rival dari Alika. Alika adalah penyihir bulan sabit biru.
Kami kembali muncul dan menunggu mobil berikutnya datang atau bahkan bus yang membawa penumpang.
Tak lama kemudian, sebuah bus melintas. Kami pun segera menghentikannya, bus berhenti dan membuka pintu untuk kami. Ya kami segera masuk dan melihat supir bus yang sama. Ia tersenyum padaku.
“Syukurlah kamu baik-baik saja, dia temanmu?”tanyanya
“Ya benar, terima kasih sudah melintasi tempat ini lagi”
__ADS_1
“Ya tidak masalah sekali matahari yang cerah masih ada”
Bus pun berangkat menuju kota tujuan dan kami selamat dari mereka, ya mereka masih mencari kami di sela-sela matahari yang tidak bisa menerobos masuk ke dalam hutan.
“Selamat tinggal, vampire bodoh!”ucapku.
Bus mengantar kami ke tempat keramaian, kota.
Semua orang sudah bangun dari mimpi indah dan telah beraktifitas. Kami pulang ke rumah masing-masing karna sudah aman dan tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, tetapi dua sahabatku masih saja bertanya dengan rasa khawatir yang menghampiri.
“Violin, apa kita akan baik-baik saja jika berpisah?”tanya Hani
Aku tersenyum manis dan menunjukan hal positif untuk kedua sahabatku, “Ya kita tidak perlu khawatir, semuanya sudah aman. Lagi pula, sejak awal kita hanya menghindari tradisi ini. Ini bukan masalah yang serius.”
“Oh baiklah, kami akan pulang. Tapi apa Eren dan Akira tidak akan menyakitimu nanti jika bertemu?”khawatir Gisel
“Gisel, Hani. Kalian tidak perlu khawatir padaku. Mana mungkin mereka berani menyakitiku, kalian tenang saja. Besok kita mulai sekolah kan? Jadi bersiap-siap lah untuk besok”
“Terima kasih ya sudah membantu kami, kami tidak tahu bagaimana cara berterima kasih yang baik padamu”
“Ya tidak masalah, kalian adalah temanku maka selayaknya aku berhak membantu. Baiklah sampai jumpa di sekolah besok”ucapku mengakhiri pertemuan kami.
Kamipun segera mengarah pada jalan yang akan mengarahkan kami menuju rumah, ya kami pulang ke rumah setelah tiga hari berpetualang yang menyeramkan.
Setiba di rumah,
Tapi bagaimana mungkin? Bukankah aku melihatnya masih di hutan itu, ia menuju arah vila. Aku pun segera mendekati rumah, dan mulai mencari kunci rumah di bawah pot bunga dan serbet. Tetapi aku tidak menemukan kuncinya, hingga aku merasa bahwa seseorang telah datang ke rumahku pagi ini. Tapi siapa? Perasaanku yang awalnya tenang berubah menjadi perasaan yang dipenuhi ketakutan. Aku takut Eren dan Akira datang lalu menghabisi nyawaku seketika.
Kupegang penggan pintu dan mendorongnya, benar sesuai dugaanku bahwa memang ada orang yang datang. Aku pun segera masuk ke rumah, kembali kulihat hal aneh. Rumahku bersih dan rapi setelah kutinggal pergi selama tiga hari.
Aku pun mendengar desiran air yang mengalir dari kran, sumber suara dari dapur. Aku segera menuju dapur, dan melihat mama sedang mencuci piring. Melihat mama di rumah ini, aku merasa legah sekali.
Mama menghentikan dirinya mencuci piring, ia mulai mematikan kran air dan mengeringkan tangannya dengan kain. Ia berpaling melihat ke arahku, ia tersenyum dan berucap “Violin, kamu sudah pulang? Syukurlah, mama khawatir padamu jadi mama kemari dan ternyata kamu tidak ada di rumah. Kamu tidak marah kan mama kemari?.”
Aku tersenyum manis, “Tidak Ma, malah Violin senang mama datang. Violin juga mau bicara dengan mama, berdua”
“Ya mama juga, ayo duduk! Kita sudah lama tidak bersama di meja makan ini”ajak mama padaku.
Aku pun segera duduk dan begitu juga dengan mama. Kami duduk berhadapan seperti dulu.
Di meja telah tersedia makanan dan minuman yang masih hangat.
“Mama hari ini cuman bisa masakan kamu nasi goreng dan teh hangat, mama cuman mampir sebentar. Jadi mama cuman bisa masak ini. Oya, Roman mana?”
“Tidak tahu, dia pergi. Terima kasih Ma, sudah memasakan makanan untuk Violin”
“Ya tidak masalah, bagus lah kalau dia pergi. Jadi dia ngak dengar apa yang kita bicarakan disini”
Aku menganggukan kepala,
“Mama mengirimimu pesan kenapa ngak di balas?”
“Maaf Ma, saat itu Violin memang tidak bisa membalas pesan dari mama”
“Ya sudahlah tidak perlu di permasalahkan, mama hanya ingin tahu kenapa dan mama khawatir sekali padamu.”
__ADS_1
“Ya maaf telah membuat mama khawatir, ponselku hilang Ma!”ucapku tidak mengatakan yang sebenarnya.
“Em, ya sudah nanti kita beli yang baru. Mama mau mengajakmu ke pesta perusahaan Pak Dir, kamu mau ngak?”
Aku menggelengkan kepala, “Ma, bukannya yang ikut pesta biasanya orang kantor ya? Violin kan ngak kerja disana, jadi Violin ngak perlu ikut”
“Ya tapi mama yang kerja disana. Kata Pak Dir, mama harus bawa patner, jadi mama ingin bawa anak mama ini. Boleh?”
“Ya baiklah, aku akan ikut. Nanti aku datang sendiri saja, mama datang saja sama Briand. Eh, maksudku ayah. Aku akan datang, ya akan kupikirkan aku akan datang sama Roman. Kan Roman, anak Pak Dir. Nah dia juga tinggal disini, jadi kupikir bisa datang bersamanya”ucapku beralasan agar tidak datang bersama mama dan ayah baru yang tidak aku suka itu.
“Baiklah, apa kamu perlu gaun? Mama akan carikan kamu gaun terbaik nanti”,
“Tidak, biar Violin saja yang mencarinya nanti. Mama kembali saja bekerja, Violin akan urus diri Violin sendiri. Pokonya mama jangan khawatir, Violin kan sudah besar. Jadi Violin pasti bisa merawat diri Violin sendiri”,
“Ya baiklah karna anak mama sendiri yang bilang begitu, apa boleh buat! Mama pergi dulu, sampai nanti sayang!”
“Ma, kapan acaranya di mulai?”
“Malam ini”senyum mama lalu pergi.
Aku pun hanya melihat makanan yang ada di atas meja makan ini, mama sudah pergi sekarang.
“Kenapa? Ya ampun, kenapa harus dia? Aku benci melihatnya kalau ini bukan karna saudari yang mulai menyebalkan ini. Pokoknya dia harus segera kembali menjadi manusia, ini mulai menyebalkan rasanya! Memang dia pikir aku tidak tahu masalahnya apa sekarang? Selalu saja di kehidupan orang yang tak seharusnya ada di kehidupanku!”kesalku yang kemudian memilih pergi ke kamar.
Aku kembali mengurung diri, ya kembali sendiri.
Siapa yang khawatir akan malam itu? Dia benar-benar cemas sekarang. Ia pun menanyakan dimana Violin sekarang pada ibunya. Tetapi ia selalu saja meminta Pak Dir untuk bertanya. Vioderina memberitahu posisi anaknya sekarang. Roman pun dengan cepat menuju rumah itu. Ia berharap dapat melihat Violin dalam keadaan baik-baik saja dengan matanya sendiri meski Vioderina sudah mengatakan itu sejak awal. Tapi melihat suatu hal dengan mata sendiri adalah hal yang lebih baik dan menurunkan perasaan cemas yang berlebihan.
Membaringkan diri di kasur yang empuk akan membuatku tenang dari kehidupan aneh ini. Aku kesal pada Alika yang terus memaksaku menjadi dirinya, ya dia ingin aku mengantikan posisinya sementara dia berreinkarnasi.
Tiba-tiba aku mendengar seseorang mengetok pintu di luar, aku pun segera membuka dan melihat Roman telah ada di depanku. Aku segera menutup pintunya, tapi tangannya menahan pintu.
“Apa? Urusan telah selesai. Jadi mundurlah, aku mau menutup pintunya”
“Jadi kamu mau menutup pintunya?”tanya balik Roman menatap diriku. Ia seakan-akan ingin menyerangku sekarang hingga membuatku melangkah mundur.
Roman pun mendekat, hingga ia masuk ke kamar ini. Tangannya mulai memegang pegangan pintu, dan menutupnya. Kini aku menatap pria itu dengan tingkah anehnya. Ia benar-benar menyebalkan.
“Apa maumu?”tanyaku
“Ya kenapa harus bertanya buru-buru sih? Aku kan masih ingin bermain denganmu disini”ucapnya sambil tersenyum.
Aku pun tertawa kecil, ia bahkan kebingungan mengapa aku tertawa di depannya. Ia tidak pernah berpikir jikalau aku akan menghabisinya dengan mudah jika ia berani macam-macam lagi denganku kali ini.
“Hahahaha…sebaiknya keluar dari kamarku! Atau aku akan memaksamu keluar dari sini!”ucapku dengan nada kesal.
“Ayolah, kenapa galak sekali! Apa aku salah padamu? Aku minta maaf, ya baiklah aku mewakili teman-temanku. Aku meminta maaf padamu karna semuanya. Apa kamu akan memberiku hukuman?”jawabnya sambil mendekatiku.
Kini aku dan dia sangat dekat, dia bahkan bisa memeluk erat diriku. Tapi aku sedang bicara dengan serius sekarang. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhku kali ini, tidak akan!.
“Roman, sebaiknya kamu menjauh dariku sekarang! Atau aku benar-benar marah denganmu!”
“Ayolah, beri aku kecupan dan aku akan pergi!”
“Baiklah, tidak masalah. Kecupan atau aku tidak akan datang ke pesta ayahmu!”
“Tentu saja kecupan, dan kamu datang ke pesta ayahku!”
Spontan Roman memeluk erat tubuhku, ia mencium diriku penuh akan hasrat. Sebuah kecupan yang manis, dia benar-benar seperti telah merindukan seseorang dan aku yakin itu bukanlah aku. Entah kapan ini akan berakhir tetapi aku akan menikmati ini, dan suatu saat nanti aku juga harus pergi.
__ADS_1