
“Besok saat ujian ability di adakan, kamu harus disana. Pastikan kamu mengawasi dua kepala akademi yang datang. Buat mereka semua tetap berada disana. Sampai aku memberitahumu bahwa tugasmu sudah selesai. Sekarang kamu bisa kembali ke asrama.”
“Ya baiklah Lady Dandelion, saya akan melakukannya”
“Bagus, jangan melakukan kesalahan”
“Baik”
Kemudian cermin itu kembali ke cermin biasa. Alecia pun tersenyum, lalu ia mulai kembali ke dunia nyata meninggalkan Glasland.
Pagi yang cerah, ketika arunika telah menampakan dirinya kembali. Suara burung berkicau merdu dan suara keributan anak- anak asrama yang mulai terdengar jelas di teligaku.
Malam yang melelahkan setelah kejadian itu, tetapi tampaknya hari ini Xia telah kembali. Dia sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Xia datang dengan penampilan cantik. Aku yang melihat Xia masuk ke kamar ini pun dibuat setengah tak percaya darinya.
“Ah, ini kah Xia yang sebenarnya? Dia sangat cantik!” gumanku dalam hati.
“Pagi, hei! Apa yang kamu lakukan? Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Xia sembari melambaikan tangannya padaku.
__ADS_1
Aku pun segera tersadar dari lamunan, “Ah, tidak apa- apa. Aku tidak memikirkan apapun. Kamu sudah kembali, dan penampilanmu juga sangat berbeda. Apa yang terjadi disana? Kamu kembali dengan penampilan yang berbeda loh!” ucapku segera mendekatinya.
Xia tersenyum manis, ia tampak memiliki jawaban yang bagus dan menarik. Xia meletakan beberapa barang dikamarnya. Setelah itu, ia duduk di kasur dan diriku duduk di kasurku. Aku sangat siap mendengarkan jawaban dan cerita Xia.
“Aku pulang, ya aku pulang. Kedatanganku di sambut oleh keluargaku. Suasananya berbeda dengan yang dulu. Kakaku sakit, ia serang oleh orang tak dikenal. Kakak menceritakan banyak apa yang terjadi di rumah tanpa aku. Aku pikir ayah dan ibu tidak akan merindukanku. Ternyata aku salah. Aku disini adalah harapan besar ayah ibuku. Kakak ceritakan padaku. Jika aku tidak ada di rumah, ayah dan ibu selalu mencemaskanku. Ayah dan ibuku tidak pernah menakutkan aku gagal tetapi mereka ingin aku selamat. Tidak peduli aku gagal atau pun berhasil, mereka akan selalu ada di belakangku dan mendukungku sebisa mereka. Mereka akan datang saat ujian ability magie nanti. Aku sangat senang, aku merasa legah. Oh ya ada banyak pertanyaan untukmu. Apa kamu juga memiliki pertanyaan untukku?”
“Ya tentu saja. Bagaimana kabar kakakmu? Apa dia sudah sembuh? Tampaknya kamu ceria sekali, apa ada hal baik yang lain kamu sembunyikan dariku?”
Xia tersenyum manis, ia tampak memiliki jawaban yang bagus dan menarik. Xia meletakan beberapa barang dikamarnya. Setelah itu, ia duduk di kasur dan diriku duduk di kasurku. Aku sangat siap mendengarkan jawaban dan cerita Xia.
“Aku pulang, ya aku pulang. Kedatanganku di sambut oleh keluargaku. Suasananya berbeda dengan yang dulu. Kakaku sakit, ia serang oleh orang tak dikenal. Kakak menceritakan banyak apa yang terjadi di rumah tanpa aku. Aku pikir ayah dan ibu tidak akan merindukanku. Ternyata aku salah. Aku disini adalah harapan besar ayah ibuku. Kakak ceritakan padaku. Jika aku tidak ada di rumah, ayah dan ibu selalu mencemaskanku. Ayah dan ibuku tidak pernah menakutkan aku gagal tetapi mereka ingin aku selamat. Tidak peduli aku gagal atau pun berhasil, mereka akan selalu ada di belakangku dan mendukungku sebisa mereka. Mereka akan datang saat ujian ability magie nanti. Aku sangat senang, aku merasa legah. Oh ya ada banyak pertanyaan untukmu. Apa kamu juga memiliki pertanyaan untukku?”
“Ya tentu saja. Bagaimana kabar kakakmu? Apa dia sudah sembuh? Tampaknya kamu ceria sekali, apa ada hal baik yang lain kamu sembunyikan dariku?”
“Tentu, aku sudah siap.”
“Ya, aku juga sudah siap. Eh, dari tadi aku ngak lihat empat gadis yang suka cari gara- gara itu loh! Mereka kemana?”
__ADS_1
“Eh...Apa kamu sudah lupa dengan taruhannya?”
Xia terkejut, dan mulai ingat akan taruhan yang telah di buat sewaktu ia pergi dulu.
“Ya, aku ingat. Ah, apa jangan- jangan kamu....!”
“Ya benar!”
Spontan Xia berdiri, ia menari dengan perasaan senang. Memutar mutar hingga “Brukkk!” tubuhnya menghantam tembok. Xia pun terjatuh dan membuatku tertawa.
“Hahaha.... apa kamu baik- baik saja? Tidak perlu sesenang itu kan?!”
Xia berdiri, dan ia menahan malunya.
“Ya maaf. Oh ya, bagaimana lapangan ujian ability magie? Apa sudah selesai di buat?”
“Ya aku rasa sudah!”
__ADS_1
“Itu tidak menyakinkan tau!”