
Kehidupan di dunia ini hanyalah kehidupan yang fana penuh dengan kebohongan, kebencian, penghianatan,
pembunuhan, dan perbuatan keji. Semuanya telah dimulai kembali.
*Alika
Berjalan keluar kamar ini menggunakan
tongkat untuk membantu berdiri, semenjak kejadian itu aku hampir tidak dapat
berdiri lagi dan lama-lama aku akan mengalami lumpuh total. Berjalan keluar
ruangan ini menuju taman belakang. Menghirup udara segar setelah beberapa hari
memutuskan untuk tidak keluar kamar. Hatiku saat ini benar-benar merasakan
perasaan yang hancur berantakan, semua telah terluka dan aku merasakan kenapa
aku harus ada di dunia ini jika dia bukan untukku selamanya?. Berjalan mencari
tempat duduk, lalu duduk di kursi taman.
Bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu
menghisap madunya. Angin sejuk datang bersama mentari pagi memancarkan cahaya
membawa ketentraman. Aku kembali merasakan diriku akan sirna, tubuhku menjadi
lebih dingin bagaikan angin pagi.
“Aku dulu punya kepercayaan terhadap
Tuhan, dan Dewa. Kami memang masih percaya, dan aku pernah mengunjungi
orang-orang didesa yang mempercayai hal yang sama. Aku mendengar suatu nasehat
tentang pasangan. Jika memang dia tak mencintai diriku, mintalah pada Tuhan
agar Tuhan menghilangkan rasa cinta di hatimu untuknya. Tapi jika dia
mencintaiku, maka pertahankanlah hingga waktu memisahkan kami. Aku selalu
berharap akan hal terbaik dari hubungan ini, tapi pada akhirnya apa yang
kudapatkan? Semua bagaikan pagi hari, pagi yang membuatku hamba,”bisik hatiku.
Dari sisi lain, Alecia berjalan
bersama Romeo di tempat yang sama dan bertemu dengan Alika. Semua membicarakan
tentang cinta di mata sepasang merpati bermata belati.
Begitu aku duduk dalam keheningan, aku
melihat kedatangan dua merpati bermata belati menusuk hatiku. Kulihat mereka
mengenakan cincin itu. Aku benar-benar lenyap dari muka bumi ini rasanya begitu
melihat kebahagian mereka. Lalu tanpa disadari Alecia datang duduk disampingku
sementara Romeo pergi.
“Aku senang sekali, Romeo mencintaiku
sepenuhnya! Kami akan menikah nanti,”senyumnya.
“Ya, benarkah? Sungguh? Aku ucapkan
selamat”,
“Kamu baik-baik saja kan? Apa kamu
sakit? Beberapa hari ini kamu tak terlihat di luar, aku mengkhawatirkanmu”,
“Untuk apa khawatir padaku? Aku
baik-baik saja”,
“Aku sungguh khawatir padamu, Al. Kamu
tahu merasakan ada hal yang ganjil jika aku menikah dengan Romeo. Aku mendengar
bahwa dirimu memiliki janji dengan Romeo dimasa lalu”,
“Masa lalu? Untuk apa dibahas? Bukankah
dia milikmu sekarang?’,
“Ya benar, tapi hatiku tak tenang.
Sebenarnya apa janjimu bersama Romeo di masa lalu?”,
“Kamu tak pernah tahu, aku takut
membuat hatimu terluka. Dia bukan pria baik untukku tapi baik untukmu,”ucapku
pergi meninggalkannya. Berjalan pelan dengan tongkat dengan penuh harap langit
segera membuka jalan terbaik dari cerita cintaku ini.
Pagi ini, membuat diriku mengurung
diri di kamar setelah hujan lebat datang membahasai bumi. Aku hanya duduk di
depan jendela kaca melihat hujan membasahi bumi.
“Dahulu kala, hujan menjadi saksi bisu
dalam perang. Darah yang mengalir diguyur hujan di serap tanah. Dahulu kala,
ada sebuah cerita dimana gadis hutan di pertemukan dengan seorang pangeran.
Lambat laun mereka saling jatuh cinta dan mengikat janji satu sama lain. Waktu
berlalu dan membuat ujian pada mereka berdua, memisahkan satu sama lain lalu
mendatangkan pangeran lain. Darah dalam medan perang! Di sebuah kerajaan, gadis
__ADS_1
hutan duduk sebagai seorang ratu menunggu sang raja datang. Tiba-tiba sebuah
panah menusuk jantungnya dan darah mengalir ke lantai diserap tanah. Raja
datang, dan cerita berakhir. Menutup mata selama mungkin. Tuhan telah berlaku
adil dalam perjanjian,”bisik hatiku.
Hujan perlahan-lahan berhenti,
rintik-rintik membasahi. Bisikanan hati itu telah didengar Roman yang masih
mengenakan cincin itu. Ia ingat akan kejadian itu, pertempuran melawan Romeo.
Ia juga kembali di pertemukan dengan Romeo untuk membangkitkan gadis hutan itu.
Tapi Roman tak mau membuat gadis hutan itu mengingat masa lalu yang kelam pun
datang menghiburnya.
Aku kaget ketika Roman datang, ia di
luar jendela ini sekarang. Membawa bunga di tangan dan sepertinya di ingin aku
membuka jendela. Aku berdiri mendekati jendela, mendekati tirai lalu menarik
tirai untuk menutupnya. Kini ruangan ini jadi gelap, aku pun segera menyalakan
lampu dan kaget seketika melihat Roman langsung berada di ruangan ini.
“Bagaimana kamu bisa masuk kemari?
Masuk tanpa ijin itu tidak baik”,
“Aku membawakan bunga mawar
untukmu!,”seru Roman segera memberikannya pada Alika meski nampak Alika tak
mengambilnya.
Aku ambil bunga itu ketika hampir
jatuh ke lantai, “ Hah, keluar sekarang! Aku ingin sendiri”,
“Galak sekali! Aku datang baik-baik”,
“Hah, keluar atau aku yang keluar”,
“Kau yang keluar!”, seketika itu aku
keluar kamar, tetapi apa yang terjadi ketika aku telah mengunci kamarnya. Dia
masih tetap ada di depanku,
“Bagaimana kabarmu?”,
“Kau lagi!”,
“Ya ada apa?”,
“Kenapa selalu ada di mana-mana? Apa
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”,
“Masih hujan nanti sakit! Menambah
sakitku saja”,
“Nanti setelah hujan reda ya!
Bagaimana kalau kita main ke kamarku?”,
“Ngak mau!”,
“Mau?”,
“Ngak!”,
“Mau ya? Sekali saja!”,
“Ya iya dech cuman sekali”,
Aku pun berjalan bersama Roman menuju
kamarnya. Siapa pikir kamar cwok itu berantakan? Kamarnya rapi dan bersih.
Roman segera mencarikan kursi untukku lalu memintaku duduk. Sementara dia duduk berhadapan denganku.
“ Kamu, jika kamu melepaskan Romeo
seperti itu nanti kamu akan terus sakit. Kenapa tak katakan yang sebenarnya
saja pada Romeo bahwa kau memang masih mencintainya?”,
“Dulu kala ada seorang gadis yang
datang ke istananya, mengatakan bahwa suaminya berjanji akan menikahi gadis
itu. Tetapi apa yang didapatkannya?”,
Roman menundukan kepala, “ Tapi jika
kamu tak mencobanya maka perjanjian itu akan di mulai. Aku tidak mau
kehilanganmu”,
“Kenapa kamu takut dan sedih?”,
“ Aku tidak mau kehilanganmu lagi, aku
ingin terus bersamamu”,
“Itu semua waktu akan menjawabnya!
Tapi jangan sedih di depanku”,
Roman tersenyum berupaya
__ADS_1
menyembunyikan sedihnya.
***
Ethan yang berhasil menyelamatkan diri
dari kejadian itu bersembunyi dalam rumah kosong. Dirinya kini tahu siapa
penyihir biru yang sebenarnya adalah Alika, Ethan melihat hal itu ketika Alika
dan Roman mulai bergabung melawan dirinya. Roman pun mulai mencari cara membuat
banyak pasukan kembali.
***
*Alika
Bicara dengan Roman di kamar ini, ya
tersenyum manis padanya menyimpan sesuatu itu adalah hal yang terbaik. Ya
sesuai janji Roman mengajakku jalan-jalan. Tak akan pernah terpikir mengunjungi
taman danau kembali bersamanya. Siapa sangka pula aka nada orang lain disana
mempersiapkan segala sesuatu untuk kami. Seperti sebuah kejutan, makan berdua
di tepi danau yang indah ini dengan hidangan istimewa. Aku hanya tersenyum
menatap pria yang ada didepanku ini.
“Aku ingin menghiburmu, jadi kupikir
ini…”,
“Menepati janji, ya baiklah”, lalu
kami mulai mencicipi hidangan yang ada di meja. Makanan yang enak.
“Bagaimana rasanya? Kamu suka menemunya?”,
“Ya, sedikit tapi aku suka kok”,
“Mau menu yang lainnya?”,
“Tidak, tapi lebih baik kita
jalan-jalan ke tempat lain”,
“Kamu tak suka tempat ini, Alika?”,
“Tidak, aku sangat suka tapi berdua
denganmu aku tidak suka! Apa lagi…”,
“Apa lagi?”,
“Dengan cincin yang kamu pakai, apa
kamu selalu mendengarkan kata hariku itu? Hah, membosankan jika aku jadi
dirimu”,
“Tidak, aku tidak mendengarkan kata
hatimu!”,
“Jangan bohong, sini lepaskan
cincinnya!”, Roman segera melepaskan cincin dan memberikannya padaku. Aku
melihat cincin ini jelas adalah cincin yang digunakan untuk mendengarkan kata
hatiku yang selama ini kututupi. Segera kugunakan sihirku didepannya untuk
menghancurkan cincin itu.
“Akan lebih jika kamu memakai cincin
lain, Roman”,
“Ya baiklah, sekarang aku tidak bisa
mendengarkan kata hatimu!”,
Aku tersenyum dan tertawa kecil
padanya, “ Bagaimana kalau kamu membeli cincin yang lain?”,
“Apa untukmu juga?”,
“Tidak, hanya untukmu. Itu saran
dariku agar kamu berhenti mendengarkan kata hatiku”,
“ Sekarang kamu mau pergi kemana?
Bosan terus disini kan?”,
“Bagaimana kalau kita bermain petak
umpet di taman ini? Jika kamu menemukanku, aku akan mencarimu”,
“Baiklah, boleh juga! Aku akan menutup
mataku di pohon besar itu sementara kamu bersembunyi”,
“Hanya kita berdua dalam permainan
ini”,
“Ya setuju!”. Roman mulai melangkah
pergi menuju pohon besar sementara anak buahnya pergi meninggalkan kami. Aku
pun mulai berlari dan bersembunyi di taman danau ini. Ya seperti kataku, hanya
__ADS_1
ada kita berdua! Senyum manis nan hangat di wajah.