Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 31


__ADS_3

          Kehidupan di dunia ini hanyalah kehidupan yang fana penuh dengan kebohongan, kebencian, penghianatan,


pembunuhan, dan perbuatan keji. Semuanya telah dimulai kembali.


*Alika


          Berjalan keluar kamar ini menggunakan


tongkat untuk membantu berdiri, semenjak kejadian itu aku hampir tidak dapat


berdiri lagi dan lama-lama aku akan mengalami lumpuh total. Berjalan keluar


ruangan ini menuju taman belakang. Menghirup udara segar setelah beberapa hari


memutuskan untuk tidak keluar kamar. Hatiku saat ini benar-benar merasakan


perasaan yang hancur berantakan, semua telah terluka dan aku merasakan kenapa


aku harus ada di dunia ini jika dia bukan untukku selamanya?. Berjalan mencari


tempat duduk, lalu duduk di kursi taman.


          Bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu


menghisap madunya. Angin sejuk datang bersama mentari pagi memancarkan cahaya


membawa ketentraman. Aku kembali merasakan diriku akan sirna, tubuhku menjadi


lebih dingin bagaikan angin pagi.


          “Aku dulu punya kepercayaan terhadap


Tuhan, dan Dewa. Kami memang masih percaya, dan aku pernah mengunjungi


orang-orang didesa yang mempercayai hal yang sama. Aku mendengar suatu nasehat


tentang pasangan. Jika memang dia tak mencintai diriku, mintalah pada Tuhan


agar Tuhan menghilangkan rasa cinta di hatimu untuknya. Tapi jika dia


mencintaiku, maka pertahankanlah hingga waktu memisahkan kami. Aku selalu


berharap akan hal terbaik dari hubungan ini, tapi pada akhirnya apa yang


kudapatkan? Semua bagaikan pagi hari, pagi yang membuatku hamba,”bisik hatiku.


          Dari sisi lain, Alecia berjalan


bersama Romeo di tempat yang sama dan bertemu dengan Alika. Semua membicarakan


tentang cinta di mata sepasang merpati bermata belati.


          Begitu aku duduk dalam keheningan, aku


melihat kedatangan dua merpati bermata belati menusuk hatiku. Kulihat mereka


mengenakan cincin itu. Aku benar-benar lenyap dari muka bumi ini rasanya begitu


melihat kebahagian mereka. Lalu tanpa disadari Alecia datang duduk disampingku


sementara Romeo pergi.


          “Aku senang sekali, Romeo mencintaiku


sepenuhnya! Kami akan menikah nanti,”senyumnya.


          “Ya, benarkah? Sungguh? Aku ucapkan


selamat”,


          “Kamu baik-baik saja kan? Apa kamu


sakit? Beberapa hari ini kamu tak terlihat di luar, aku mengkhawatirkanmu”,


          “Untuk apa khawatir padaku? Aku


baik-baik saja”,


          “Aku sungguh khawatir padamu, Al. Kamu


tahu merasakan ada hal yang ganjil jika aku menikah dengan Romeo. Aku mendengar


bahwa dirimu memiliki janji dengan Romeo dimasa lalu”,


          “Masa lalu? Untuk apa dibahas? Bukankah


dia milikmu sekarang?’,


          “Ya benar, tapi hatiku tak tenang.


Sebenarnya apa janjimu bersama Romeo di masa lalu?”,


          “Kamu tak pernah tahu, aku takut


membuat hatimu terluka. Dia bukan pria baik untukku tapi baik untukmu,”ucapku


pergi meninggalkannya. Berjalan pelan dengan tongkat dengan penuh harap langit


segera membuka jalan terbaik dari cerita cintaku ini.


          Pagi ini, membuat diriku mengurung


diri di kamar setelah hujan lebat datang membahasai bumi. Aku hanya duduk di


depan jendela kaca melihat hujan membasahi bumi.


          “Dahulu kala, hujan menjadi saksi bisu


dalam perang. Darah yang mengalir diguyur hujan di serap tanah. Dahulu kala,


ada sebuah cerita dimana gadis hutan di pertemukan dengan seorang pangeran.


Lambat laun mereka saling jatuh cinta dan mengikat janji satu sama lain. Waktu


berlalu dan membuat ujian pada mereka berdua, memisahkan satu sama lain lalu


mendatangkan pangeran lain. Darah dalam medan perang! Di sebuah kerajaan, gadis

__ADS_1


hutan duduk sebagai seorang ratu menunggu sang raja datang. Tiba-tiba sebuah


panah menusuk jantungnya dan darah mengalir ke lantai diserap tanah. Raja


datang, dan cerita berakhir. Menutup mata selama mungkin. Tuhan telah berlaku


adil dalam perjanjian,”bisik hatiku.


          Hujan perlahan-lahan berhenti,


rintik-rintik membasahi. Bisikanan hati itu telah didengar Roman yang masih


mengenakan cincin itu. Ia ingat akan kejadian itu, pertempuran melawan Romeo.


Ia juga kembali di pertemukan dengan Romeo untuk membangkitkan gadis hutan itu.


Tapi Roman tak mau membuat gadis hutan itu mengingat masa lalu yang kelam pun


datang menghiburnya.


          Aku kaget ketika Roman datang, ia di


luar jendela ini sekarang. Membawa bunga di tangan dan sepertinya di ingin aku


membuka jendela. Aku berdiri mendekati jendela, mendekati tirai lalu menarik


tirai untuk menutupnya. Kini ruangan ini jadi gelap, aku pun segera menyalakan


lampu dan kaget seketika melihat Roman langsung berada di ruangan ini.


          “Bagaimana kamu bisa masuk kemari?


Masuk tanpa ijin itu tidak baik”,


          “Aku membawakan bunga mawar


untukmu!,”seru Roman segera memberikannya pada Alika meski nampak Alika tak


mengambilnya.


          Aku ambil bunga itu ketika hampir


jatuh ke lantai, “ Hah, keluar sekarang! Aku ingin sendiri”,


          “Galak sekali! Aku datang baik-baik”,


          “Hah, keluar atau aku yang keluar”,


          “Kau yang keluar!”, seketika itu aku


keluar kamar, tetapi apa yang terjadi ketika aku telah mengunci kamarnya. Dia


masih tetap ada di depanku,


          “Bagaimana kabarmu?”,


          “Kau lagi!”,


          “Ya ada apa?”,


          “Kenapa selalu ada di mana-mana? Apa


          “Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”,


          “Masih hujan nanti sakit! Menambah


sakitku saja”,


          “Nanti setelah hujan reda ya!


Bagaimana kalau kita main ke kamarku?”,


          “Ngak mau!”,


          “Mau?”,


          “Ngak!”,


          “Mau ya? Sekali saja!”,


          “Ya iya dech cuman sekali”,


          Aku pun berjalan bersama Roman menuju


kamarnya. Siapa pikir kamar cwok itu berantakan? Kamarnya rapi dan bersih.


Roman segera mencarikan kursi untukku lalu memintaku duduk.  Sementara dia duduk berhadapan denganku.


          “ Kamu, jika kamu melepaskan Romeo


seperti itu nanti kamu akan terus sakit. Kenapa tak katakan yang sebenarnya


saja pada Romeo bahwa kau memang masih mencintainya?”,


          “Dulu kala ada seorang gadis yang


datang ke istananya, mengatakan bahwa suaminya berjanji akan menikahi gadis


itu. Tetapi apa yang didapatkannya?”,


          Roman menundukan kepala, “ Tapi jika


kamu tak mencobanya maka perjanjian itu akan di mulai. Aku tidak mau


kehilanganmu”,


          “Kenapa kamu takut dan sedih?”,


          “ Aku tidak mau kehilanganmu lagi, aku


ingin terus bersamamu”,


          “Itu semua waktu akan menjawabnya!


Tapi jangan sedih di depanku”,


          Roman tersenyum berupaya

__ADS_1


menyembunyikan sedihnya.


***


          Ethan yang berhasil menyelamatkan diri


dari kejadian itu bersembunyi dalam rumah kosong. Dirinya kini tahu siapa


penyihir biru yang sebenarnya adalah Alika, Ethan melihat hal itu ketika Alika


dan Roman mulai bergabung melawan dirinya. Roman pun mulai mencari cara membuat


banyak pasukan kembali.


***


*Alika


          Bicara dengan Roman di kamar ini, ya


tersenyum manis padanya menyimpan sesuatu itu adalah hal yang terbaik. Ya


sesuai janji Roman mengajakku jalan-jalan. Tak akan pernah terpikir mengunjungi


taman danau kembali bersamanya. Siapa sangka pula aka nada orang lain disana


mempersiapkan segala sesuatu untuk kami. Seperti sebuah kejutan, makan berdua


di tepi danau yang indah ini dengan hidangan istimewa. Aku hanya tersenyum


menatap pria yang ada didepanku ini.


          “Aku ingin menghiburmu, jadi kupikir


ini…”,


          “Menepati janji, ya baiklah”, lalu


kami mulai mencicipi hidangan yang ada di meja. Makanan yang enak.


          “Bagaimana rasanya? Kamu suka menemunya?”,


          “Ya, sedikit tapi aku suka kok”,


          “Mau menu yang lainnya?”,


          “Tidak, tapi lebih baik kita


jalan-jalan ke tempat lain”,


          “Kamu tak suka tempat ini, Alika?”,


          “Tidak, aku sangat suka tapi berdua


denganmu aku tidak suka! Apa lagi…”,


          “Apa lagi?”,


          “Dengan cincin yang kamu pakai, apa


kamu selalu mendengarkan kata hariku itu? Hah, membosankan jika aku jadi


dirimu”,


          “Tidak, aku tidak mendengarkan kata


hatimu!”,


          “Jangan bohong, sini lepaskan


cincinnya!”, Roman segera melepaskan cincin dan memberikannya padaku. Aku


melihat cincin ini jelas adalah cincin yang digunakan untuk mendengarkan kata


hatiku yang selama ini kututupi. Segera kugunakan sihirku didepannya untuk


menghancurkan cincin itu.


          “Akan lebih jika kamu memakai cincin


lain, Roman”,


          “Ya baiklah, sekarang aku tidak bisa


mendengarkan kata hatimu!”,


          Aku tersenyum dan tertawa kecil


padanya, “ Bagaimana kalau kamu membeli cincin yang lain?”,


          “Apa untukmu juga?”,


          “Tidak, hanya untukmu. Itu saran


dariku agar kamu berhenti mendengarkan kata hatiku”,


          “ Sekarang kamu mau pergi kemana?


Bosan terus disini kan?”,


          “Bagaimana kalau kita bermain petak


umpet di taman ini? Jika kamu menemukanku, aku akan mencarimu”,


          “Baiklah, boleh juga! Aku akan menutup


mataku di pohon besar itu sementara kamu bersembunyi”,


          “Hanya kita berdua dalam permainan


ini”,


          “Ya setuju!”. Roman mulai melangkah


pergi menuju pohon besar sementara anak buahnya pergi meninggalkan kami. Aku


pun mulai berlari dan bersembunyi di taman danau ini. Ya seperti kataku, hanya

__ADS_1


ada kita berdua! Senyum manis nan hangat di wajah.


__ADS_2