Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Chapter 178


__ADS_3

Aku menganggukan kepala,  dan menjawab “Ya mirip, tapi aku tidak terpikir begitu. Aku klan? Klan apa ya? Apa aku harus menjawabnya?”


“Ya tentu saja, baiklah aku akan memperkenalkan diriku padamu lebih dulu. Namaku Violin, aku dari klan penyihir bulan, tapi aku bergabung dengan klan vampir karna kekasihku adalah pemimpin klan vampir. Kamu tahu kan namanya?”


Aku menggelengkan kepala yang membuat ketiga gadis itu terkejut.


“Apa? Kamu sungguh tidak tahu!”


“Ya begitulah!” jawabku sembari tersenyum manis.


Teman di samping Violin sangat tidak percaya padaku hingga ia berucap, “Kamu sungguh tidak tahu? Atau tidak pernah bertemu dengannya?”


“Ya keduanya!”


“Hah, panta saja! Kekasih sekaligus tunangan Violin itu adalah Roman. Dia pemimpin pengawas tempat ini dari klan vampir!”


“Oh, jadi dia pemimpin disini ya?! Itu bagus, ternyata gadis sepertimu pintar juga dalam memilih pasangan. Kamu pasti orang yang beruntung memiliki pacar seperti dia!”


Dengan malu- malu Violin menjawab, “Ya, aku sangat bahagia bersamanya. Jadi siapa namamu?”


“Namaku Aresha, senang berkenalan denganmu!”


Kemudian aku dan mereka bertiga saling berjabat tangan. Dua gadis teman Violin pun kembali memperkenalkan diri padaku meski kami pernah bertemu.


Teman di samping Violin sangat tidak percaya padaku hingga ia berucap, “Kamu sungguh tidak tahu? Atau tidak pernah bertemu dengannya?”


“Ya keduanya!”


“Hah, panta saja! Kekasih sekaligus tunangan Violin itu adalah Roman. Dia pemimpin pengawas tempat ini dari klan vampir!”


“Oh, jadi dia pemimpin disini ya?! Itu bagus, ternyata gadis sepertimu pintar juga dalam memilih pasangan. Kamu pasti orang yang beruntung memiliki pacar seperti dia!”

__ADS_1


Dengan malu- malu Violin menjawab, “Ya, aku sangat bahagia bersamanya. Jadi siapa namamu?”


“Namaku Aresha, senang berkenalan denganmu!”


Kemudian aku dan mereka bertiga saling berjabat tangan. Dua gadis teman Violin pun kembali memperkenalkan diri padaku meski kami pernah bertemu.


“Gisel!”


“Hani”


Setelah perkenalan itu, kami mulai membicarakan hal lainnya mengenai diri kami. Ya mencoba untuk saling akrab meski baru kenal.


“Jadi, maaf ya Aresha. Kamu dari klan mana?”


“Oh, tentang klan ya? Apa itu penting?”


Violin tersenyum manis, ia baru pertama kali bertemu dengan orang yang menganggap klan itu tidak begitu penting baginya.


“Aresha, apa kamu tidak punya klan? Kamu dari kelas mana?”


“Ya benar, tapi semua orang disini membawa nama baik klannya. Ya, tidak apa jika kamu tidak mau mengatakannya. Kamu sedang apa disini?”


“Aku? Aku menunggu Xia, dia akan pergi jadi aku mengantarnya.”


“Xia, klan air kan?”


“Ya benar! Apa kamu menganggap gadis itu lemah juga?”


Violin terdiam, dan ia menggelengkan kepalanya.


“Sebenarnya Xia itu kuat, hanya saja orang bodoh lah menganggapnya lemah. Aku akan jadi timnya dan mengalahkan klan vampir. Ya aku rasa itu nama klanmu, penyihir bulan!”

__ADS_1


“Ya benar, jadi kamu dan Xia akan mengalahkan klan vampir?”


“Ya tentu, apa ada masalah dengan itu?” ucapku sembari melihat ke arah dua temannya.


Tampak dua temannya menyimpan tawa kecil, yang kemudian Violin menyadari akan hal itu. Violin pun menatap tajam dua temannya hingga membuat mereka terdiam.


Violin pun kembali melihat ke arah diriku, dan berucap “Maaf ya, tidak ada masalah kok. Kalau begitu, kamu harus berlatih dengan keras lagi. Ya semoga saja kamu bisa mengalahkan klan vampir, jika nanti itu terjadi aku akan mengucapkan selamat padamu”


“Ya tentu, akan kuingat!”


Tidak lama kemudian, akhirnya Xia keluar juga dari ruang pengawas Ibu Oshaberi. Ia tersenyum manis dan mendekatiku. Dirinya setengah kaget setelah melihat kehadiran pengawas. Xia menundukan kepalanya sambil tersenyum sebagai sapaan.


“Aresha, ayo kita pergi?!” ajak Xia padaku.


Tanpa menjawab ajakan Xia aku segera berdiri dan memegang koper, lalu berucap “Violin, Hani, Gisel. Saya pergi dulu, sampai jumpa lagi1”


Spontan ketiganya berucap secara bersamaan, “Ya!”


Lalu Hani berucap, “Sampai jumpa lagi, Aresha!”


Kemudian aku mulai menggerek koper dan pergi bersama Xia.


Aku dan Xia menuju gerbang depan Akademi Yexiao. Berjalan bersama gadis ini, ia pun mulai menceritakan apa yang terjadi di dalam padaku.


“Aresha, tadi saat aku di dalam. Ibu Oshaberi menceritakan apa yang terjadi dan keputusan masalah. Ibu Oshaberi memberiku ijin dan dia meminta maaf pada kita. Kamu memaafkannya kan?”


“Maaf? Maaf untuk apa?”


“Ibu Oshaberi katakan kalau dia telah salah menilai kita, kita memang tidak melakukannya. Jadi Ibu Oshaberi minta maaf karna dulu pernah menghukum kita. Kamu masih ingat kan tentang hukuman berdiri di depan asrama sepanjang hari?”


“Oh waktu itu!”

__ADS_1


“Ya, jadi apa kamu.....” terhenti karena melihat sekelompok gadis yang di perban wajahnya.


Sekelompok gadis yang telah menjahili Xia, dan sekarang mereka kena getahnya. Saat kami bertemu dengannya di jalan ini, tampak ke empat gadis itu sedang dalam masalah. Mereka menaruh wajah cemberut, dan salah satu dari mereka telah menangis, itu terlihat di matanya yang memerah.


__ADS_2