
Xia menyentuh tanganku, dan aku mulai mengalihkan padanganku padanya.
“Ya, ada apa Xia?” tanyaku.
“Hah, kamu! Aku bicara kamu malah asik sendiri!”
“Hahahah.... jangan marah, aku tertarik dengan berita itu”
“Oh, apa karna kita tidak punya televisi di asrama ya?”
Aku tersenyum manis dan menganggukan kepala, lalu berucap “Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Ya, bukan apa- apa. Terima kasih telah menolongku, berkat cermin yang kamu berikan aku terselamatkan!”
“Ah tidak masalah, aku adalah temanmu. Itu bukan hal yang berat bagiku!”
“Ya, tapi jika tidak ada kamu. Aku pasti sudah berakhir!”
“Sudahlah!”
“Ah iya, tadi aku melihatmu bicara sama pria tampan. Dia siapa? Pacarmu ya?”
“Oh pria itu, itu bukan siapa- siapa kok!”
“Sungguh?” ucap Xia menatap tajam diriku.
Mendapat tatapan tajam itu aku hanya bisa bersikap dingin, dan menjawab “Ya benar. Ia bukan siapa- siapa. Ah, apa kamu sendiri sudah punya pacar?”
Xia memainkan jemari tangannya, dan menjawab “Tidak, aku tidak punya pacar!”
“Oh, masa sih? Aku lihat kamu suka banget memperhatikan salah satu anggota pengawas itu loh!”
Xia kaget mendengar ucapan itu, “AAA! Bagaimana kamu tahu jika aku memperhatikan....”
“Aku tidak bodoh! Siapa nama pria itu?”
__ADS_1
“Namanya Zanko, dia dari elemen api. Dia tampan kan?”
“Ya lumayan, tapi dia bukan typeku!”
“Ah, ya syukurlah!”
Mendapat tatapan tajam itu aku hanya bisa bersikap dingin, dan menjawab “Ya benar. Ia bukan siapa- siapa. Ah, apa kamu sendiri sudah punya pacar?”
Xia memainkan jemari tangannya, dan menjawab “Tidak, aku tidak punya pacar!”
“Oh, masa sih? Aku lihat kamu suka banget memperhatikan salah satu anggota pengawas itu loh!”
Xia kaget mendengar ucapan itu, “AAA! Bagaimana kamu tahu jika aku memperhatikan....”
“Aku tidak bodoh! Siapa nama pria itu?”
“Namanya Zanko, dia dari elemen api. Dia tampan kan?”
“Ya lumayan, tapi dia bukan typeku!”
“Ah, ya syukurlah!”
Lagi, Xia memainkan jemari tangannya, dan menjawab “Ya, kadang aku cemburu. Tapi aku tidak punya hak!”
“Ya ampun, tidak apa nanti pasti ada saatnya kamu dan dia dekat!”
“Ah ya aku percaya itu! Tapi....”
“Tapi apa?”
“Aku masih penasaran dengan pria yang bersamamu tadi, aku baru pertama kali melihatmu bersama pria asing di luar loh!”
“Hah, pria asing? Dia bukan pria asing dan bukan siapa- siapa. Jadi kamu tidak perlu kepo!”
Xia tersenyum manis, ia bahkan tertawa kecil padaku. Aku hanya diam saja dan melihat tingkahnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, makanan dan minuman yang kami pesan datang. Pelayan meletakan makanan dan minuman di atas meja. Setelah itu, pelayan pergi dan Xia tampak tidak sabar untuk makan.
“Xia, makan saja lebih duluan. Aku pergi ke toilet dulu ya?” ucapku bergegas pergi.
“Ya, cepat lah kembali!” jawabnya mulai mencicipi makanan dan minuman.
Toilet perempuan.
Melihat diri sendiri di depan cermin, dan tersenyum manis. Lalu mencuci tangan dengan air.
“Srashhhhh....” suara air yang keluar dar kran. Aku mulai membahasai tanganku dengan air, dan mulai mencuci tangan sampai bersih.
Seorang perempuan keluar dari toilet dan mulai mencuci tangannya, setelah itu ia mengeringkan tangannya dan pergi meninggalkan tempat ini. Pintu toilet ini di tutup lagi oleh gadis itu, dan aku segera mendekati pintunya. Aku mengunci pintu toilet itu dengan sihir yang aku miliki.
Aku hanya berharap pintu ini bisa menahan orang lain untuk tidak masuk kemari. Setelah itu kudekati cermin yang cukup panjang dan lebar ini. Melihat bayangan sendiri di cermin dan tersenyum manis.
Tiba- tiba entah dari mana seorang perempuan cantik berambut panjang dan memakai mantel berwarna putih muncul di belakangku. Aku yang melihat dirinya di cermin kaget, dan segera menoleh ke belakang. Tetapi aku tidak melihat siapa- siapa di belakang. Aku kembali melihat ke cermin dan melihat dirinya.
Perempuan bermantel putih itu tersenyum padaku, dan aku membalas senyumannya.
Ia pun berucap, “Sudah aku lakukan! Kudapatkan semua darahnya”
Aku tersenyum manis dan menjawab, “Ya, sekarang hanya beberapa darah klan yang kuperlukan. Lakukan rencana berikutnya!”
“Baik, nona!” jawabnya yang kemudian perempuan di cermin itu perlahan- lahan menghilang.
Saat itu lah terdengar suara ketokan pintu di luar berulang kali, aku pun segera menghilangkan sihir yang mengunci pintu. Begitu hilang, aku segera membuka pintu dan pergi dari sini.
Beberapa orang telah mengantri, dan orang yang mengetok pintu itu adalah salah satu karyawan tempat ini. Aku hanya tersenyum manis begitu mereka memperhatikan diriku.
Aku segera duduk di kursiku, dan di depanku adalah Xia. Kulihat ia telah menghabiskan makanan dan minuman yang dia pesan.
“Aresha, kamu kemana saja? Mengapa lama sekali?” tanyanya padaku.
“Ah, ya maaf! Kamu boleh makan makananku, nanti aku yang bayar. Aku hanya haus!” jawabku segera minum minumanku.
__ADS_1
Xia setuju dengan ucapanku, ia mengambil makanan yang kupesan.