
Aku dan Tagao kembali pulang ke kastil Afela. Kulangkahkan kaki masuk kekamar dan tidur bersama Tagao.
Ketika Aresha telah tertidur, Tagao pergi mencari mangsa. Tagao benar-benar harus darah.
Aira, ketua pemberontak sekaligus wolf datang ke desa, tepat dimana tak jauh dari istana Tagao bersama pasukannya. Mereka menyebar dan bersembunyi di desa. Aira, juga pernah melakukan
pemberontakan langsung melawan Tagao saat Tagao berkemah bersama istrinya. Hampir kemenangan itu berada ditangannya namun sayang Zuya datang melawan dirinya dengan sihir hingga Aira beserta pasukannya memilih mundur.
Kami kembali ke pulang ke istana pagi ini dengan kereta kencana dan diiringin beberapa orang pengawal
dibelakang. Didepanku sekarang ada suamiku, aku hanya menatapnya sebentar lalu melihat keluar jendela. “ Bagaimana kamu bisa berdiam diri sedangkan kamu menyembunyikan yang sebenarnya dariku, Tagao. Terus sampai kapan kebohongan ini. Aku sudah mengetahuinya, penyerangan itu hanya kebohongan dan hanya demi
cintamu padaku kan? Untuk apa semua ini? Aku merasa di khianati beribu-ribu kali oleh orang yang tak pernah kucintai meski dia melakukan pengorbanan untukku. Aku tak akan pernah bisa mencintainya sampai kapan pun juga. Karena bukan hanya karna ayahmu membunuh ibuku tapi juga atas apa yang telah kamu lakukan padaku. Cinta itu memang telah membuat dirimu buta!” ucapku dalam hati.
Setiba di istana, kami disambut oleh ibu. Ibu terlihat sangat senang atas kedatangan putra putrinya. Ibu Tagao mengajak Tagao untuk bicara dua mata, dan inilah kesempatan diriku untuk jalan-jalan sendirian tanpa pengawalan didesa. Sebelum jalan-jalan kukenakan kerudung warna merah agar orang lain tak mengenali diriku.
Keramaian desa ini membuat tenang, sedikit tenang dan setidaknya harus waspada juga. Kulihat seorang pencopek beraksi mengambil uang di keranjang seorang wanita yang sedang berbicara dengan penjual.Setelah pencopet itu berhasil, dia berjalan dengan tenang seolah-olah dia tak melakukan apapun.
Kulihat juga anak kecil merengek kepada ibunya minta dibelikan mainan. Semakin berjalan diriku semakin memasuki pasar. Di pasar inilah aku melihat peri dan vampire. Mereka berdagang, dan manusia seolah-olah telah berteman dengannya. Penjaga istana pun tak menangkap mereka, bahkan ada manusia yang membeli barang
dagangan mereka juga. Aku mulai berpikir “ Apa perdamaian itu telah terjadi? Mereka melupakan diriku dan sekarang aku bagaikan kacang polong yang sendirian, masih pada pendirian. Suamiku benar-benar menyembunyikan semua ini dariku”.
Aku terus berjalan hingga keluar
dari desa, berjalan menuju sungai. Airnya mengalir deras dan jernih. Mengambil
batu dan meleparkannya kesungai, lalu berucap “ Untuk apa pernikahan ini, untuk
apa? Percuma kamu berkorban sedangkan kamu benar-benar mulai perasaanku. Kau
pembohong….”.
Tiba-tiba seseorang berucap dari
arah belakang, “ Kamu kenapa berucap seperti itu? Ucapkan saja semua amarahmu di sungai ini”
Kumenoleh kebelakang dan melihat
pria yang memberontak dikemah. Ketika itu dirinya hampir saja membunuh Tagao,
namun aku mencegahnya.
“ Siapa kamu? Apa urusanmu padaku!”
Aira mengulurkan tangan kanannya, “
Perkenalkan namaku, Aira. Aku jalan-jalan di sini dan tak sengaja mendengar
ucapanmu”.
“ Apa pedulimu padaku, untuk apa kamu
berhenti di sini dan bicara padaku”
Karena perempuan didepannya tak mau
berjabat tangan dengannya, Aira menarik tangannya kembali.
“ Kupikir kamu perlu teman untuk
bicara disini”
Kutarik nafas dan menghembuskannya
kembali lewat hidung, dan berucap “ Menjauhlah dariku, kamu orang yang pernah
menyerang diriku dan suamiku di kemah. Jadi pergi kamu sekarang dari hadapanku!
Aku tidak mau melihatmu”
“Ow, kamu istri Tagao ya! Tenanglah,
aku kemari sendirian, pasukannya di desa. Aku tak akan melukaimu kok”. Aira
duduk di tanah tepi sungai, “ Ayo duduk sini! Ayo, aku janji tak akan melukaimu
kok”.
Aku menurut perintahnya, duduk
disampingnya di tepi sungai.
“ Kamu tau mengapa aku menyerang
dirimu dan Tagao?”
“ Tidak”
“ Karena wolf tak pernah diakui,
semua wolf adalah budak vampire. Vampir dan peri itu saling membantu untuk
memburu kami. Itu tak adil bagi kami, hanya sebagian dari kami yang dibebaskan
dan sebagian besar di bunuh. Aku pernah bertemu dengan Raja Affesta dan
memintanya untuk memerdekakan kami namun apa yang kami dapat. Kami malah
dibantai olehnya. Kami juga tau Ratu Mora dibunuh olehnya, dia menghinati
perdamaian. Kamu tau mengapa Tagao juga terlibat?”
__ADS_1
“ Tidak”
“ Karena dia putra Raja Affesta yang
juga memberlakukan kami dengan buruk. Sebelum dia diangkat menjadi raja, dia
pernah memburu kami bersama ayahnya”
“ Hah, masalahmu berat sekali ya!
Penuh dengan kebencian pada vampire dan peri. Kamu seorang wolf?”
“ Ya, aku wolf”
“ Mengapa kamu tak meminta pada
sihir untuk memerdekakan kamu dan yang lain?”
“ Sihir telah kacau, kegelapan
menghilang sirna ketika Ratu Mora telah dibunuh oleh Raja Affesta. Tak akan
mungkin kami akan meminta padanya, penyihir menghilang dari bumi. Kami tak
pernah bertemu dengannya. Lalu apa masalahmu? Coba ceritakan!”
“ Aku hanya punya masalah kecil
dengan suamiku, tapi sebenarnya masalah besar. Aku tak mencintainya dan aku
ingin bercerai dengannya tapi tak ada alasan kuat untuk menceraikan dirinya”
“ Bercerai? Hanya karena kamu tak
cinta, kamu menceraikan dia? Memang alasan pertama kamu menikah dengannya apa?”
“ Bujukan, Zuya memintaku untuk
menikah dengan Tagao. Aku melakukannya, dan beberapa waktu berlalu…..Zuya,
adikku menikah dengan adiknya”
“Heh, seharusnya kamu menolaknya”
“ Hah, sudahlah aku pergi dulu.
Namaku, Aresha. Salam kenal Aira”, pergi meninggalkan Aira menuju desa.
Tak lama kepergian Aresha, Aira juga
pergi kedesa menemui pasukannya. Kemudian Aira dan pasukannya pergi ke Hutan
Argon untuk menyerang vampire. Penyerangan secara mendadak inilah menimbulkan
dilakukan. Saat kebetulan Aira bertemu dengan penyihir dari kegelapan hingga
mereka berdua membuat sebuah kesepakatan bersama. Aira dan pasukan kembali
memburu vampire dengan bantuan para penyihir hingga membuat Raja Arkares turun
tangan. Perlawanan terhadap pemberontak pun dilakukan oleh Raja Arkares dengan
pasukannya. Saat perlawanan Raja Arkares tewas terbunuh di tangan Aira. Aira
dan pasukannya berhasil merebut istana Raja Arkares. Kini sebagian Hutan Argo
telah menjadi milik Aira. Vampire yang berhasil menyelamatkan diri pergi ke
wilayah peri, meminta bantuan pada Raja Oishima. Di bawah sinar bulan, Aira dan
pasukannya berubah menjadi wolf. Kemudian mereka berpencar memburu vampire yang
masih ada diwilayahnya dalam perjalanan menuju wilayah peri.
***
Kematian Raja Arkares telah
diketahui oleh Raja Oishima. Pangeran Danes menyimpan amarah besar pada wolf
terutama Aira yang telah membunuh ayahnya. Malam ini Danes, Oishima dan Kazima
melakukan pertemuan membahas pemberontakan yang berhasil merebut wilayah
vampire.
“ Kita harus lakukan penyerangan
balik pada mereka tanpa memberi ampun” ucap Kazima.
“ Ya, aku mengerti putraku. Tapi
jika kita gegabah, kita akan masuk dalam perangkapnya”
“ Berikan aku pasukan, biar aku
sendiri yang menghadapinya”
“ Apa kau sanggup? Mereka banyak
sekali Danes, jangan biarkan dirimu dikalahkan amarahmu sendiri. Sebaiknya kita
__ADS_1
susun rencana besar penyerangan ini dulu. Aku tak bisa memberimu pasukan jika
hanya membalas dendam kematian ayahmu dan kau korbankan dirimu. Aku tak mau
kehilanganmu setelah kehilangan ayahmu”.
“ Paman, kumohon berikan aku
pasukan”
“ Aku akan memberikan pasukan
untukmu tapi hanya untuk mempertahankan tempat ini dan kau yang memimpin”.
“ Baiklah, setidaknya aku akan
membunuh wolf malam ini”.
Raja Oishima memberikan pasukan
untuk Danes menjaga tempat ini dari serangan wolf secara tiba-tiba.
***
Siapa tak kaget jika pagi-pagi
sekali ada seseorang yang ingin bertemu denganku? Ya, seusai sarapan pagi.
Pengawal memberitahu diriku bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganku dan
dia sedang menunggu didepan gerbang istana. Aku pun pergi menemuinya. Di depan
gerbang, kulihat seorang memakai kerudung hitam memegang bunga mawar.
“ Ada apa? Apa yang bisa aku bantu
untukmu” ucapku.
“ Aku ingin memberikan bunga ini
untukmu, kupikir kamu akan tertarik”, memberikan bunga padaku.
“ Terima kasih”.
“ Apa kamu tak keberatan jika kita
jalan-jalan sebentar?”
“ Tentu saja tidak. Pengawal, jika
Tagao bertanya tentang diriku. Katakan saja aku jalan-jalan bersama temanku”
“ Baik Ratu Aresha”.
Kemudian aku dan dia jalan-jalan
diluar istana. Ketika dia bicara, terdengar suara laki-laki yang pernah kutemui
sebelumnya.
“ Jadi kamu adalah….”
“ Aira”
“ Sudah kuduga, kamu nekad sekali
datang keistana. Aku takut kamu sampai ditangkap, apa lagi suamiku itu tak suka
jika aku dekat dengan laki-laki lain”
“ Aku tidak takut. Akan kulakukan
apapun asal bertemu denganmu”
“ Hah, kupikir kamu akan melupakanku
setelah dua kali kita bertemu”
“Aku tak bisa melupakanmu, entah
kenapa sepanjang malam aku selalu terjaga dan memikirkanmu”
“ Benarkah?”
“ Ya”
“ Tapi sebaiknya itu jangan lagi.
Aku tidak mau kamu berurusan dengan suamiku”
“ Suami yang tak pernah kamu cintai”
“ Ya, tapi terima kasih bunga
mawarnya. Bunganya wangi dan menawan”
“ Aku memetiknya sendiri untukmu”
‘ Begitu special ya diriku?”
“ Ya, aku senang kamu menyukainya”
__ADS_1
Seharian kuhabiskan waktu bersama Aira. Aku menyadari Aira memiliki perhatian lebih padaku tapi aku harus tetap menjaga jarak dengannya.
Sementara itu Tagao memanfaatkan kepergian Aresha ini untuk pergi ke istana Oishima bersama Zuya.