Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 58


__ADS_3

Memasuki rimbunan ilalang yang tumbuh subur yang diterangi oleh cahaya bulan. Kusembunyikan diriku disini, merunduk dan berjalan terus ke depan. Aku merasakan angin itu kembali mendahuluiku. Aku pun mulai berdiri dan melihat disekitarku dengan senter. Tidak ada siapa-siapa disini kecuali aku, cahaya senter menyorot kegelapan dan lagi tak ada siapapun. Namun dalam kegelapan itulah aku merasa mereka ada dan menghindari sorotan cahaya senter ini.


Kukembali berlari keluar dari rimbunan ilalang, langkahku terhenti ketika melihat tak ada ilalang lagi di depanku. Sebuah hamparan bunga dandelion yang tumbuh subur mulai menghiasi tempat ini, dan tentu tempat ini mudah dilihat oleh vampire. Aku akan jadi sasaran empuk begitu melewati tempat ini.


Kuberanikan diriku untuk mengambil risiko itu, ya aku harus lakukan itu demi dua sahabatku. Begitu keluar dari rimbunan ilalang keadaan terasa aman, namun tidak begitu jauh dari sana. Eren dan Akira mulai terlihat. Mereka berlari dengan cepat, lalu berhenti tepat di dekatku yang membuatku kaget dan panik. Namun kusembunyikan semua rasa panik diriku untuk tidak takut.


Akira tersenyum manis memperlihatkan mata merah itu padaku, lalu tersenyum manis berucap “Hallo, Violin. Sedang apa kamu disini?”


Dengan sedikit gugup aku menjawab sambil melangkah mundur menjauh dari mereka, “Aku sedang jalan-jalan.”


“Benarkah? Sendirian?”tanya Eren dengan memperlihatkan taring panjang yang bertanda tak main-main untuk menghabisiku.


“Ya, benar”jawabku kembali melangkah mundur. Namun dua pria ini tak legah sedikit pun, mereka berjalan cepat hingga terus ada di dekatku.


Akira dan Eren bersamaan mencium aroma tubuhnya, lalu mereka menggunakan kekuatan mereka untuk melihat diriku beberapa menit yang lalu. Mereka melihat hal yang sebenarnya terjadi, dan seketika itu juga aku berlari menjauh dari mereka.


Hal yang sebenarnya dilihat oleh mereka adalah aku yang menyembunyikan dua sahabatku dalam sebuah buku hingga membuat Eren dan Akira tersenyum manis. Mereka menemukan apa yang mereka cari yaitu keberadaan Gisel dan Hani. Mereka melihat hal yang sebenarnya terjadi, dan seketika itu juga aku berlari menjauh dari mereka.


“Jadi buku itu? Berikan saja pada kami”ucap Akira


“Kau seorang penyihir ya? Jadi benar ucapan itu, kau tetap sama seperti dulu”kata Eren


“Aku bukan penyihir, jadi menjauhlah dariku dan jangan harap aku akan memberikan buku ini pada kalian berdua”jawabku


“Baiklah, tidak masalah. Tapi kami akan melakukan kekerasan jika kamu tak memberikan buku itu pada kami”,


“Benarkah? Vampire lemah keturunan hybrid!”ejekku.


Sorot mata merah Akira menajam, seolah-olah dia tidak menerima ejekan itu. Ia menyadari bahwa ejekannya benar. Vampir lemah yang menjadi kuat dengan keturunan hybrid penuh masa lalu yang suram.


“Apa aku terlihat lemah?”tanya Akira, “Sekarang yang kulihat yang lemah itu adalah manusia di depanku ini”ucapnya lagi.


“Kupikir begitu”jawabku tersenyum berupaya mengejeknya.


“Hah, jadi mereka berdua ada di buku ya? Berikan buku itu pada kami”ucap Eren kembali menanyakan hal yang sama. Mata Eren kembali memerah, taring mulai keluar dari mulutnya dan kukunya sedikit memanjang. Begitu juga dengan Akira.


Aku merasa keadaan mulai memburuk, dan dua pria ini tak akan membebaskanku begitu saja. Aku terus melangkah mundur, dan mulai berpaling lalu berlari tanpa harus melihat ke belakang.


Akira berteriak, “Larilah sekuatmu! Kami akan mengejarmu dan akan merebut buku itu. Kamu tak akan bisa lari meninggalkan tempat ini!”


“Hahaha…lari lah…..”sambung Eren.


Begitu terasa jauh, dua pria ini mulai mengejar Violin. Aroma mawar tubuh Violin tercium, dan aroma darah segar itu. Penciuman yang tajam dan penglihatan malam yang sempurna mempermudah Akira dan Eren menemukan Violin.


Aku terus berlari dan terus merasakan angin kegelapan mengikuti kemana pun aku pergi. Angin itu terus menemukanku. Aku kelelahan dan tenagaku untuk berlari lagi telah habis. Semua terasa sia-sia, apakah aku akan gagal?.


Aku berhenti tempat di ujung jurang, hanya selangkah lagi aku akan jatuh. Aku melihat pemandangan yang mengerikan di bawah. Kegelapan menguasi malam ini namun dari sinilah cahaya bulan menerangiku. Cahaya bulan bersinar disini. Aku berpaling, melihat ke dataran yang dipenuhi tanaman bunga liar dan merasakan angin itu semakin dekat denganku.


Tiba-tiba seseorang berucap dari bekalang yang membuatku kaget.


“Hallo, sudah lama menunggu?”ucapnya


Aku pun berpaling, tepat di ujung jurang aku melihat seorang perempuan mengenakan jubah putih bercahaya. Ia kembali membuatku kaget begitu ia membuka penutup kepala yang ia kenakan. Aku melihat diriku sendiri, dan ini seperti mimpi bagiku.


“Siapa kamu?”tanyaku


“Aku adalah kamu. Aah..angin ini! Huh aku sangat merindukan momen ini. Mau ikut denganku atau mati disini?”ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku.


Tanpa pikir panjang aku langsung menyambut tangannya, aku ikut dengannya. Ia menarik tanganku untuk lebih dekat denganya. Ia membawaku ke tepian jurang.


“Lihat dunia ini, indah bukan? Ya seharusnya kamu tak seperti ini. Aku sungguh minta maaf, karna aku….”


“Aaaaa…..bisakah kita pergi? Mereka semakin dekat!”ucapku hampir berteriak


“Tentu saja”jawabnya


Cahaya berkulai biru mulai menyelimuti kami berdua, cahaya itu semakin lama semakin banyak dan pandanganku tak terlihat lagi pada jurang yang gelap. Semua sirna ditelan cahaya biru.


Eren dan Akira tiba di tepi jurang, tempat terakhir aroma tubuh itu tercium.


“Dimana dia? Apa kamu menciumnya?”tanya Eren


“Tidak, apa mungkin ia jatuh ke jurang?”


“Ah, mungkinkah? Coba kita lihat!”


Eren dan Akira mulai melompat ke jurang dan merubah diri mereka menjadi kelelawar vampire kecil. Mereka mencari keradaan Violin. Begitu sampai di bawah jurang, kaki mereka mulai menginjak ke tanah, mereka pun kembali mencari Violin dengan penciuman tajam yang dimiliki. Mereka mengupayakan cara terbaik untuk menemukan gadis itu. Namun tak satu aroma pun yang mereka dapati, apa lagi jasad Violin.

__ADS_1


“Hah, mungkin ia tak jatuh. Tapi siapa yang menolongnya? Tak satu pun ada aroma manusia disini”ucap Akira


“Bagaimana dengan Roman?”


“Tak mungkin ia mengkhianati kita. Ia masih disana, coba hubungi Netta”


“Oh baiklah”,


Akira mulai menghubungi Netta lewat ponsel, komunikasi terhubung.


“Netta, apa Roman ada disana?”


“Ya, dia sedang minum. Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?”


“Tidak, tapi kamu serius kan?”


“Ya tentu saja, kami sedang minum bersama dan menunggumu mendapatkan dua gadis itu. Apa kalian sudah mendapatkan mereka?”


“Belum”


“Oh begitu, selesaikan saja tugas kalian bukankah perlu waktu 3 hari. Jadi masih ada waktu yang panjang untuk menemukan mereka”


“Terima kasih sudah mengingatkan”


Akira segera menutup telpon, ia menyimpan ponselnya dalam baju jas yang dikenakan.


“Apa?”tanya Eren


“Netta bilang Roman masih disana. Apa mungkin ada yang membantu Violin kabur dari sini?”


“Hah mungkin mereka tak jauh dari sini. Jadi ayo kita mulai mencari lagi”


“Tapi ini aneh Eren, tidak ada petunjuk sedikitpun”


“Hah, tenang saja. Waktu kita masih 3 hari untuk mencari mereka. Jadi kita akan menemukan mereka dengan mudah, mengapa tak berkunjung ke rumah Violin”


“Kau yakin itu? Roman akan marah nanti”


“Kita tidak akan menyakiti gadis itu, kita hanya mengambil bukunya”


“Tentu saja”


Keberadaan Roman di villa bersama yang lain. Di halaman rumah, tempat acara gadis bunga mawar. Roman sedang menikmati secangkir darah segar. Steven menghampiri Roman yang sedang duduk di kursi dengan secangkir darah segar di tangannya.


Steven duduk di dekat Roman lalu mengamati tingkah Roman yang begitu tenang.


“Roman, apa kabar?”


“Baik, bagaimana denganmu?”


“Sangat baik”


“Hubunganmu dengan Netta?”


“Juga sangat baik, apa kamu sudah bertemu dengan Alecia hari ini?”


“Bertemu dengannya? Hah, dia mulai membenciku tanpa sebab. Ya mungkin sifatku keterlaluan dengannya”


“Keterlaluan? Kau ini vampire bangsawan. Apa yang tak kau bisa dapatkan? Semua gadis itu mudah di luluhkan hati mereka. Memang kau berbuat apa dengannya?”


“Aku mengisap darahnya, ia menjauhiku seketika itu. Ya aku yang salah, tak menanyakan apakah dia mau memberikan darahnya padaku!”


“Sungguh kau lakukan itu?”dengan nada keras hingga Netta mendengar ucapan Steven lalu menghampiri dan bergabung.


“Benarkah itu, Roman?”


“Ya, tapi ia mulai menjauhiku dan ketika ia tahu akulah pria yang mengirim pesan padanya”


“Ah, kamu beruntung sekali Roman. Kamu akan segera mendapatkan penganti, darah dia enakkan?”


“Ya tentu saja, darah segar manusia itu enak apa lagi darah itu adalah darah Violin”


“Ya ampun, apa Violin beneran marah?”


“Ya, dia benar-benar marah”


“Sebaiknya kamu mendekatinya dari sekarang, berikan hatimu padanya. Ya kamu tahu kan aturan dunia vampire. Darah yang kamu minum akan menjadi pendampingmu jika itu perempuan dan jadi budakmu jadi dia laki-laki. Dan, darah itu harus enak, lalu kalian juga harus saling mencintai. Terakhir, buatlah tradisi gadis bunga mawar”saran Netta

__ADS_1


“Hah, aku tidak mau melakukan hal itu. Aku tidak mau melakukan seperti yang di lakukan dua sahabatku. Aku tidak mau menyakitinya”


“Dia tidak akan tersakiti, hanya 3 hari saja. Jika menemukannya kalian akan menikah”


“Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?”


“Maka tak bisa, kalian harus saling mencintai atau sampai dia menyatakan perasaan cinta padamu”


“Dia sulit dipahami, Netta”


“Ah….apa kamu sudah memberitahunya bahwa dia adalah Alecia?”ucap Steven


“Aku tidak memberitahunya sedikitpun, aku tidak mau dia terluka karena masa lalu”


“Roman, kamu menyebalkan sekali! Semua yang dilakukan akan ada risikonya. Mengapa kamu tidak mau? Kamu mau kehilangan dia lagi?”


“Tidak”


Perbincangan itu telah menghabiskan secangkir darah segar. Roman tak sengaja melihat seseorang berjalan mendekat. Orang itu terlihat begitu cahaya lampu meneranginya, dia adalah Violin.


Violin jatuh pingsan seketika itu juga. Roman dengan cepat menyambut tubuh Violin sebelum jatuh ke tanah. Seketika itu juga, Roman langsung membawa Violin ke kamarnya.


Netta dan Steven menyusul Roman yang pergi. Roman membaringkan tubuh Violin ke kasur yang empuk. Lalu Netta memeriksa tubuh Violin.


“Dia hanya kelelahan, tenang Roman. Dia hanya kelelahan”ucap Netta


“Apa ia akan bangun?”


“Tentu, dia hanya perlu istirahat. Sebaiknya kita keluar dan membiarkannya sendiri”saran Netta.


“Boleh aku bersamanya?”


“Ya silahkan saja, asal jangan macam-macam”


“Oh baiklah, aku juga tak akan lama kok!”


Netta hanya menarik napas panjang dengan ucapan sahabatnya, ia pun pergi bersama Steven meninggalkan Roman.


“Hah, apa yang telah terjadi ya? Hingga Violin jatuh pingsan?”tanya Netta pada Steven


“Entahlah, mau menunggu Akira dan Eren di halaman depan?”


“Tentu”


Steven dan Netta hanya tersenyum manis satu sama lain. Mereka pergi menuju tempat tradis gadis bunga mawar. Duduk di salah satu meja yang disiapkan.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Dimana dua sahabat kita, mengapa mereka lama sekali?”


“Mungkin mereka kesulitan menemukan dua gadis itu”jawab Netta


“Bukankah mereka adalah vampire hebat, mengapa tidak menemukan? Jangan meremehkan mereka, Netta!”


“Aku tidak meremehkan mereka, Steven. Ini sudah jelas dan mereka baru saja menghubungi kita kan?”


“Ya. Tapi sampai kapan mereka akan terus sendiri? Bukankah Akira pergi dalam waktu yang lama hanya untuk menambah kekuatannya?”


“Hah, aku tahu itu tapi ia tak akan bisa memaksakan cinta. Tradisi ini bukan hanya sekedar mencari cinta sejati tetapi juga menemukan. Kau lihat mereka lari?”


“Ya”


“Apa itu artinya mereka mencintai Eren dan Akira? Aku melihatnya dengan sangat jelas bahwa mereka ketakutan dan tidak mencintai Eren dan Akira. Jadi kemungkinan mereka akan gagal walau waktu yang diberikan adalah 3 malam bukan tiga hari untuk vampire”,


“Hah, aku sangat berharap kamu mencintaiku dengan tulus dan tak akan lari dariku”


“Kamu ini! Kita membicarakan Eren dan Akira bukan membicarakan hubungan kita. Tentu saja aku akan selalu ada di dekatmu. Kau tahu bahwa aku dan kamu adalah vampire. Kita juga telah melalui banyak hal hingga menyaksikan kesedihan Roman pada Alika. Gadis itu sebenarnya cinta atau tidak sih sama Roman?”


Steven tersenyum manis pada Netta, ia mengelus kepala Netta perlahan-lahan. “Arti cinta sebenarnya adalah meninggalkan yang membuat kita sakit. Sementara Alika itu harus menerima kenyataan yang pahit maka ia memutuskan pergi dan Roman masih mencintainya berharap dia akan kembali. Coba kamu pikirkan, apa yang akan kamu lakukan jika mengalami seperti Alika? Apa juga akan melakukan hal yang sama?”


“Tentu, itu jalan satu-satunya yang kurasa adalah jalan terbaik”,


“Nah kamu sendiri saja setuju dengan keputusan Alika. Jadi bantulah Roman menemukannya, bukankah dulu Alika pernah membuatmu merasa lebih baik ketika Alecia mencoba menyingkirkanmu dari VA?”


“Ya, jadi aku harus membantu hubungan mereka kembali bersatu?”


“Tentu, aku juga akan membantu. Tidak masalah kan?”


“Tidak, pria baik!”senyum Netta pernuh makna pada Steven. Netta sangat bangga akan memiliki kekasih yang pengertian dan perhatian padanya selama ini.

__ADS_1


Roman duduk di kursi dekat Violin yang terbaring. Ia memperhatikan Violin sejenak, lalu tersenyum manis.


“Hay, Violin. Apakah kamu masih mengingat aku dimasa lalu? Aku hanya ingin kamu tidak melupakanku. Apakah aku bisa menjadi bagian dari hidupmu? Aku akan melindungimu dari siapapun yang ingin berbuat jahat padamu. Hah….tapi aku sungguh minta maaf. Aku tidak bisa melindungimu saat ini. Tapi lain waktu, aku akan melindungimu. Violin, bolehkah aku bertanya padamu? Apakah kamu masih mengingat diriku ataukah kamu masih mencintaiku?”guman Roman sambil memegang tangan Violin. Roman sangat merindukan gadis yang ada dimasa lalunya. Ia berharap reinkarnasi ini akan mengubah takdirnya dan dirinya lah yang akan selalu disamping Violin.


__ADS_2