
Pagi, setelah membersihkan diri dan berhias aku segera pergi ke luar kamar mencari Aksara. Aku memanggil-manggil namanya sambil menuruni tangga tetapi tidak ada jawaban, hanya para dayang yang datang mendekat.
“Selamat pagi tuan putri?”
“Pagi, kamu melihat Aksara?”,
“Maaf tuan putri, yang mulia telah pergi di pagi buta”,
“Apa? Apa-apaan ini? Dia pergi lagi, apa ia mengurungku disini sepanjang waktu? Hah, aku ingin pulang!”,
“Tuan putri, yang mulia berpesan pada hamba. Jika tuan putri hari ini akan tetap disini dan tak boleh keluar. Hamba dan para dayang akan menjaga tuan putri!”,
“Hah, Aksara! Kamu nyebelin banget ya? Awas kalau kamu pulang, tidur di luar kastil”, Aku mulai kembali menaiki tangga dan masuk ke kamar. Sementara dayang tersenyum manis, mereka menduga kalau Tuan Aksara tak akan lama lagi memiliki istri dan seorang ratu bagi negeri Royal Blood
***
Siang hari yang cerah, dayang-dayang menunggu pintu terbuka. Pintu kamar putri Aresha tak dapat dibuka oleh mereka. Dayang-dayang pun telah membujuk tuan putri untuk sarapan sebab ini sudah siang.
“Bagaimana ini? Apa kita harus lapor pada tuan Aksara? Tuan putri belum sarapan sejak pagi”,
“Iya, aku khawatir sekali. Tetapi siapa yang akan melapor pada Tuan Aksara?”,
“Sepertinya tuan putri tidak akan makan sebelum Tuan
Aksara datang!”, Salah satu dayang memberanikan diri mengetok pintu kamar, dan berucap “ Tuan putri, ini sudah siang. Tuan putri, apa tuan putri mau sarapannya saya bawakan ke kamar?”,
Beberapa saat kemudian dari dalam kamar,
“Tidak, kalian pergilah beristirahat. Aku baik-baik saja, tidak perlu cemas. Jika Aksara menghukum kalian, aku akan membela kalian. Pergilah…”,
“Tapi tuan putri…”,
“Pergi!”,
__ADS_1
Dayang-dayang pun segera pergi meninggalkan tempat ini, mereka sedih sekali.
***
Hingga menjelang sore, tuan putri tidak terlihat akan keluar kamarnya. Kamar itu sepi sekali seakan-akan tidak ada orang didalamnya. Dayang-dayang pun semakin cemas.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melaporkan hal ini pada Tuan Aksara. Aksara dengan cepat pergi ke kastil setelah mendapat laporan bahwa Aresha tidak mau makan sejak pagi bahkan keluar kamar. Ia khawatir sekali pada Aresha. Setiba di kastil Aksara bergegas menuju kamar Aresha. Pintu itu terkunci dari dalam yang membuat dirinya harus bicara dengan Aresha dari luar.
“Aresha, buka pintunya. Ini aku, Aksara!”,
Jawaban dari dalam, “ Kamu sudah pulang? Apa sekarang puas mengurung diriku di kastil ini?”,
“Aku minta maaf, maafkan aku! Aku hanya sibuk sebentar”,
“Sebentar? Kamu bilang sebentar? Ini sudah sejak kemarin kamu biarkan aku di kastil ini. Aku ingin penjelasan darimu”
“Baiklah, tapi buka pintunya!”,
“Baiklah, aku minta maaf telah mengurungmu di kastil ini. Tapi besok kamu bisa keluar, aku telah mencarikan orang untuk melindungimu”
“Benarkah?”,
“Ya aku serius”,
“Kenapa kamu tidak mengirimku kembali ke duniaku yang seharusnya?”,
“Itu tidak mungkin, aku tidak mau kehilanganmu. Aku mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu lagi”,
Aksara memegang pundakku, “ Lihat aku!”,
Aku pun melihat Aksara”,
“Aku sungguh mencintaimu, aku tak mau kehilanganmu lagi meski kamu tak mengingat dirimu yang dulu. Tapi aku akan tetap mencintaimu, aku akan melindungimu dari Eriska”,
__ADS_1
“Dia akan benar-benar menyakitiku?”,
“Ya, dia akan lakukan apapun untuk membunuhmu agar ia bisa menjadi ratu penyihir air. Tahta ayahmu tidak mudah diperebutkan oleh siapapun. Meski ia telah menghancurkan kerajaan air itu tetap akan ada. Hanya pewaris yang sebenarnya yang akan bisa mengendalikan semuanya. Jika Eriska mendapatkannya, maka aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, Aresha”,
“ Terima kasih telah melindungiku, aku pikir setelah kematian kakak tak akan ada lagi yang akan bersamaku”,
“Itu tak mungkin, di dunia ini kamu memiliki apa yang kamu inginkan. Seharusnya takdir melahirkan dirimu kembali di dunia ini bukan dunia masa depan”, kemudian Aksara memeluk erat diriku, pelukan hangat pria ini membuatku nyaman berada disisinya. Pelukan yang lama ini membuatku bingung, Aksara tak mau melepaskan diriku.
“Hey, bisa kamu lepaskan aku?”,
Aksara cepat melepaskan dirku, “ Maafkan aku!”,
“Aku lapar!”,
Aksara tersenyum manis, “ Kita makan ya! Kamu jangan lagi mengurung diri di kamar. Dayang-dayang sedih, kasihan mereka. Mereka mencintai tuan putri”,
“Hah, sebenarnya yang sedih itu pasti tak hanya dayang pasti ada pria lain”,
Aksara hanya tersenyum manis, dan kami berjalan menuju ruang makan. Makan bersama, dan dayang-dayang kembali senang.
***
Karena aku mengurung diri di kamar yang akhirnya membuatku tak bisa tidur di malam hari. Aku terus mondar-mandir hingga malam semakin larut. Aku pun memutuskan keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Melihat meja kosong dan hanya ada buah. Aku duduk di kursi dan menatap buah.
“ Hah, aku tak bisa tidur! Ini menyebalkan sekali,”gumanku.
Tiba-tiba seorang dayang datang menghampiri, “ Tuan putri, malam-malam begini belum tidur? Ada apa?”,
“ Aksara mana?”,
“Tuan Aksara ada di kamarnya, Tuan putri”,
“Hah, terima kasih!”,
__ADS_1