Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 45


__ADS_3

Kantor Mama,


Seperti biasa aku menunggu mama dan lagi-lagi bus sekolah memang tak menjemput kami di sekolah. Mama mengerjakan tugas pekerjaanya sementara aku kusempatkan menulis cerita di blog, Adena.


“Hello…, suara seseorang membuka pintu kamar yang tertutup dan gelap. Perlahan-lahan ia masuk ke ruangan. Ia berjalan masuk ke ruangan itu, menyalakan lampu. Begitu menyala, ia melihat seseorang di depan jendela. Pria yang berpakaian serga gelap dengan mantel hitam. Ia berpaling dan melihat orang itu. Matanya merah darah dengan senyuman manis. Secepat kilat pria itu berubah menjadi kelelawar dan terbang keluar dari sela jendela. Kini orang itu juga bisa melepas napas panjangnya. Rasa takutnya mulai sirna.


Tetapi, ada dua wanita datang membawa cahaya. Mereka seolah-olah telah mengejar pria vampir itu. Tapi mereka datang terlambat dan pergi lagi. Orang itu adalah seorang gadis yang tinggal di apartemen sederhana”, lalu aku mulai memposting cerita. Aku berharap akan ada pembaca lagi untuk cerita singkat kali ini.


Entah apa atau kenapa dua sahabatku langsung mengomentari tulisanku itu, ya lagi-lagi mereka berdua seperti hantu yang gentayangan.


“@Hani, btw kenapa ngak tulis tentang play boy gadungan?”


“@Gisel, eskrim meleleh!”,


Aku pun menjawab, “ @Gisel, masukan dalam kulkas jangan lupa eskrim coklat nanti sore. Btw kamu di toko kan?”, “ @Hani, Play boy udah minggir nih. Aku udah punya sesuatu banget, eskrim coklat lezat!”.


Tiba-tiba aku mendapat pesan dari Pangeran Rahasia, “ Siang! Aku membaca lagi karyamu. Kali in menarik dan sepertinya ceritamu nyata bagiku. Apa kamu seorang peramal?”,


Aku pun segera membalas, “ Bukan, aku menceritakan itu yang kurasa pernah terjadi padaku juga. Aku hanya berpikir begitu”,


“Ya, hanya sebuah tebakan ya? Tapi tebakanmu benar, bagaimana bisa begitu?”,


“Itu mungkin hanya kebetulan”,


Temanku pun juga membalas di blog dan pesan dari Pangeran Rahasia ini tapi aku tidak membalas sebab mamaku mengajakku pergi. Ya tapi kali ini Briand juga ikut. Rupanya mama dan Briand tidak merencanakan ini sebelumnya hingga kami pergi dengan mobil masing-masing. Entah apa atau kebetulan kami pergi ke toko Gisel. Kami masuk bersamaan dan tentunya disambut oleh Gisel sendiri.


Gisel menghampiri dengan senyum manisnya, “ Hay tante, ada yang bisa aku bantu?”,


“Gisel, ya kami mau memesan eskrim. Kamu mau pesan apa Violin?”,


Tak perlu menjawab, Gisel sudah menjawabnya lebih dulu “ An sudah aku buatkan eskrim coklat tante! Jadi ia tak akan pesan apa-apa”,


“Apa benar itu Violin?”,


“Iya Ma, rencananya nanti sore aku, Gisel dan Hani akan ke taman tapi karena kita kumpul disini ya sudah undang Hani aja ke sini”,


“Bagus, oke. Om mau pesan apa?’,


“Panggil saja Briand!”,


“Briand mau pesan apa?”,


“Cofe latte coklat full krim”,


“Baik, aku akan mengambilkan pesanan dan menelpon Hani”,


“Oke!”,


***


Hani yang sedang asik duduk sambil membaca buku mendapat telpon dari Gisel,


“Han, yo ke toko aku! Ada Violin sama mamanya dan juga Briand”,


“Siapa Briand?”,


“Itu loh cowok yang jemput Violin”,


“Okey aku segera ke sana jangan lupa eskrimnya ya?”,


“Sip, beres deh jangan lupa bayar juga. Hehehe…”,


“Gampang! Kalau eskrim ada uang juga ada”,

__ADS_1


Telpon terputus, Hani pun segera bergegas pergi ke toko Gisel dengan sepeda motor kesayanganya. Tetapi di perjalanan Hani bertemu dengan Akira dan teman-teman. Hani berhenti karena Akira menghalangi jalannya.


“Mau kemana Hani?”,


“Ke toko Gisel, ada apa? Jangan menghalangi jalanku nanti aku datang terlambat”,


“Eh, aku ikut ya?,”senyum Akira.


Siapa yang akan permintaan Akira? Pria tampan dengan sunyum manisnya tentu saja Hani mengijinkan dia ikut dan teman-temannya juga. Perjalanan pun dilanjutkan kembali hingga tiba di toko Gisel.


Semua masuk satu persatu ke toko itu.


***


Aku kaget ketika Hani datang tak sendirian melainkan bersama Roman. Aku pun hanya menghela napas panjang, ya mau gimana lagi pria itu membuatku jengkel di sekolah tapi aku juga tertolong oleh kehadirannya. Teman-teman Roman duduk di meja sebelah sementara Hani, Akira dan Roman mendekati kami.


“Tante boleh gabung?”,


“Oh tentu saja, kami menunggu kedatanganmu juga”,


Hani duduk di sebelah kananku sementara Roman disebelah kiri, dan Akira disebelah Roman.


Kemudian Gisel datang dan menawarkan pesanan pada teman-teman Roman di meja sebelah, lalu ke meja kami.


“Roman, Akira dan Hani mau pesan apa?”,


“Aku eskrim coklat ful seperti yang dipesan Violin,”ucap Hani,


“Aku eskrim pisang aja”,


“Aku pesan red ice ya full toping seperti di gambar ini”,


“Baik, apa ada lagi?’,


“Itu saja”,


Tak lama kemudian Gisel kembali dengan membawa eskrim pesanan kami bersama dua orang lainnya. Gisel meletakan eskrim di meja lalu pergi. Tak beberapa lama kemudian ia datang kembali dengan menganti pakaiannya.


“Maaf ya menunggu lama”,


“Iya tak apa-apa”,


“ Violin kamu kenapa? Kok diam aja?,”tanya Hani


“Btw siapa yang mengundang mereka?”,


“Hehe, jangan marah tadi ketemu dijalan dan katanya mau ikut. Mereka kebetulan juga mau kemari”,


“Hah, aku pindah meja aja ya bentar!”, mengambil semangkuk eskrim milikku dan pindah meja. Duduk sendirian.


“Hani, Violin marah ya sama kita?,”tanya Akira


“Siapa yang marah?”,


“Violin?”,


“Engga lah, dia emang gitu. Waktu ngumpul juga dia pasti gitu”,


“Iya benar apa yang diucapkan Hani. Jangan tersinggung dia memang begitu punya masalah atau tidak, marah atau tidak ia akan tetap satu meja sendirian. Jika didekati ia pun akan pergi lebih parahnya pulang,”jelas Gisel


“Ya maaf ya Akira, anak tante memang begitu”,


“Iya aku pikir dia marah dan aku enak jadinya”,

__ADS_1


“Jangan begitu, meski ia jauh ia memperhatikan kita semua kok”,


Kemudian mereka memakan eskrim bersama-sama, tapi Roman lebih memperhatikan Violin. Roman akan membuat Violin mengingat dirinya kembali dan berharap ia akan menerima dirinya lagi.


***


Aku hanya menatap handphone dan menulis catatan, “ Aku benci kalian semua, yang benar saja! Aku tidak mengijinkan dan mengundang mereka datang atau bahkan kemari! Apa makan eskrim coklat rasanya begini? Benar-benar coklat plus rasa pahitnya!”.


Aku rasa telah cukup makan eskrim coklat rasa pahit ini hingga memutuskan keluar dari toko dan masuk ke mobil. Aku tidak peduli apa pendapat mama bahkan mama marah sekalipun. Semuanya seperti telah di luar rencana.


Mama yang melihat Violin masuk ke mobil secepatnya menyusul, dan masuk ke mobil.


“Sayang kamu marah ya? Apa yang membuatmu marah?”,


“Mama kenapa mama mengajak Briand pergi kesini? Aku tahu mama menyukainya tapi bukan berarti ia harus ikut dengan kita”,


“Sayang, dengarkan mama! Mama…”,


“Menikah lagi tidak masalah bagiku, tapi ia tak boleh ikut makan bersama kita atau bahkan bersamaku. Ia tak boleh terlihat, aku tidak mau!”,


“Tapi kenapa?”,


“Aku tidak menyukainya”,


“Kenapa?”,


“Terserah mama! Aku pokoknya mau pulang sekarang! Kalau mama ngak mau pulang aku pulang sendiri aja”,


“Ya udah kita pulang!”, mama mulai mengemudikan mobil dan kami pergi tanpa pamit.


Seketika itu juga Hani dan Gisel melihat kepergian Violin menghela napas panjang.


“Ada apa?,”tanya Akira


“Violin marah!”,


“Kenapa? Apa itu karena kami?”,


“Tidak”,


“Lalu?”,


“Ia tidak menyukai siapapun yang akan menjadi ayah barunya seperti pak Briand”,


“Apa itu benar?”,


“Ya benar, kami berdua selalu ada untuknya jadi kami tahu semuanya. Ia bilang ayahnya memang tak akan kembali tapi bukan berarti ayah baru akan mengantikan posisi ayahnya”,


“Jangan tersingung Briand, maksudnya adalah Violin sangat trauma makan bersama seorang ayah. Ayah penganti! Ia bilang begitu,”jelas Hani


“Apa ia dulu ada masalah dengan ayah kandungnya?”,


“Hah, dulu ayah dan Violin pergi ke sebuah tempat. Mereka akan makan bersama dan melakukan aktivitas antara ayah dan anak. Memancing di sungai, berkemah dan melihat bintang di alam bebas. Tapi suatu hari saat makan malam, ayah Violin tewas dibunuh. Violin sangat sedih, ia melihat sendiri di depan matanya. Violin berlari hingga dirinya jatuh ke jurang. Untung saja tidak membuatnya pergi, ia mengalami koma untuk pertama kalinya. Ia mengalami koma 3 hari dan truma berat. Ia akan sedih bahkan sangat sedih atas kejadian itu. Hingga kini ia masih ketakutan”,


“Kasihan sekali Violin”,


“Maaf, aku sungguh tidak tahu itu”,


“Tidak apa”


“ Tapi jangan beritahu siapapun atau dia akan marah. Jaga rahasia ini, kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika terjadi lagi. Bisa saja trauma itu berubah menjadi kebencian”,


“Ya, jika Briand benar-benar mencintai keluarga itu jagalah jangan sampai ada yang tahu atau bercerita dengan siapapun”,

__ADS_1


“Tapi karena Briand menyukai tante Vion jadi kami beritahu”,


Senyum manis Hani dan Gisel bersamaan. Kini Roman dan Akira mengetahui lebih tentang anak itu, meski pun begitu Roman akan tetap mencintainya.


__ADS_2