
“Apa maksud kalian? Kalian tidak perlu berlebihan. Aku tidak melakukan hal yang besar kok!”
“Ya, tapi bagaimana.... bagaimana pun juga kami akan mengucapkan terima kasih padamu. Karna kamu sudah menyelesaikan masalah yang kami hadapi”
“Hah, masalah ya? Bukankah kalian juga sering mengunjing Xia, apa itu bukan masalah?”
Mendengar ucapan itu, mereka semua saling tatap satu sama lain.
“Maaf soal itu, kami hanya melakukan yang mereka perintahkan. Klan vampir adalah yang terkuat jadi kami akan melakukan apa yang mereka perintahkan. Kami tahu apa yang telah kami lakukan adalah kesalahan. Maaf kan kami, kami tidak akan melakukan itu lagi. Kami benar- benar minta maaf!”
“Ya terserah kalian saja, aku tidak punya masalah dengan kalian. Tapi kalian punya masalah dengan Xia, bukan aku!” ucapku segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Mereka yang di luar pun saling tatap satu sama lain, lalu saling bicara satu sama lain.
“Ya sepertinya apa yang dia ucapkan benar, kita harus minta maaf pada Xia kan?”
“Ya tentu, tidak seharusnya kita pengecut!”
“Tapi jika kita melawan Vera, bukankah kita semua akan kalah. Tapi gadis ini bisa melawan mereka berempat, aku yakin dia gadis yang kuat. Tapi dia dari klan apa? Apa dari klan vampir?”
“Tidak, aku rasa dia bukan dari klan vampir”
“Lalu?”
__ADS_1
“Entahlah!”
Perlahan- lahan kegelapan datang, burung- burung terbang menuju cahaya matahari sembari berkicau merdu. Hari telah menjelang sore dan sebentar lagi matahari akan di gantikan oleh bulan. Langit pun tak lagi bewarna biru, langit telah berubah menjadi warna yang indah.
Suasana hening di sore hari menjadi suasana yang ramai setelah matahari tenggelam. Ya di akademi ini, begitu kegelapan datang klan vampir dan serigala keluar dari asrama. Mereka seperti biasa selalu menunjukan kekuatan mereka pada semua orang yang ada disini.
Kegalapan yang telah datang, telah membuat seseorang mengamati dari kejauhan . Ia memperhatikan asrama, mengamati tepat menuju kamar seseorang. Ia tidak sendirian, ia bersama dua sahabatnya.
“Violin, mengapa kamu terus mengamati kamar nomor 25?” tanya Gisel yang sembari memakan eskrim kesukaannya.
“Aku hanya ingin memastikan kalau dia adalah kembaranku, aku selalu merasa ada yang aneh jika bersamanya. Seperti kami pernah bertemu dan bersama sebelumnya. Wajahnya mirip denganku, tetapi aku tidak punya bukti untuk mengatakan kalau dia memang kembaranku”
“Hah, kembaranmu? Kamu punya kembaran?” tanya Hani terkejut.
“Jadi kamu penasaran dengan anak itu ya? Bukankah namanya adalah Aresha!”
“Ya benar, nama itu dan perasaanku yang aneh ini membuatku teringat pada kembaranku, maka dari itu aku harus menyelidikinya”
“Ya, ya tidak masalah. Apa dulu kembaranmu itu orang baik?”
Violin menggelengkan kepala, dan menjawab “Aku tidak tahu, saat kami terlahir di dunia ini orang tua kami telah memisahkan kami berdua. Dia lah yang bersama ayah ibu”
“Dia pasti anak yang bahagia, ya kan?”
__ADS_1
“Tidak, justru sebaliknya. Ayahku seorang tiran, dan ibu. Aku tidak bisa menjelaskannya. Keluarga kami tidak seperti orang lain, dia mungkin didik dengan sangat keras. Tetapi aku harap itu adalah dirinya. Aku tidak tahu kalau dia akan pergi waktu itu, aku ingin dia kembali”
“Yah, jika itu memang dia. Kami berdua akan membantumu dan membuatnya kembali. Ya kan Gisel?” ucap Hani menyakinkan.
Gisel sibuk dengan eskrimnya, dia hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju pada ucapan Hani.
Hani yang melihat tingkah Gisel pun kesal, ia berteriak pada temannya itu “Gisel!” hingga spontan Gisel terkejut dan menjatuhkan eskrim di tangannya.
Eskrim milik Gisel jatuh ke tanah, seketika itu juga Gisel marah dan menatap Hani dengan tajam. Hani yang mendapat balasan seperti itu ia pun segara meminta maaf.
“Maaf, maaf. Nanti aku ganti deh eskrimnya!”
Gisel masih memasang wajah kesalnya, ia pun segera mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ucapan Hani yang tidak di respon Gisel membuat Hani semakin khawatir, Hani takut kalau Gisel benar- benar marah padanya.
“Yah, jika itu memang dia. Kami berdua akan membantumu dan membuatnya kembali. Ya kan Gisel?” ucap Hani menyakinkan.
Gisel sibuk dengan eskrimnya, dia hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju pada ucapan Hani.
Hani yang melihat tingkah Gisel pun kesal, ia berteriak pada temannya itu “Gisel!” hingga spontan Gisel terkejut dan menjatuhkan eskrim di tangannya.
Eskrim milik Gisel jatuh ke tanah, seketika itu juga Gisel marah dan menatap Hani dengan tajam. Hani yang mendapat balasan seperti itu ia pun segara meminta maaf.
“Maaf, maaf. Nanti aku ganti deh eskrimnya!”
__ADS_1
Gisel masih memasang wajah kesalnya, ia pun segera mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ucapan Hani yang tidak di respon Gisel membuat Hani semakin khawatir, Hani takut kalau Gisel benar- benar marah padanya.