Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 15


__ADS_3

          “ Tapi


dimana aku akan menemukan Alika?” tanya Roman,


          “Dia


tinggal di Apartemen Tanima, itu adalah tempat kos yang tak jauh dari Unima.


Dia ada di nomor 25 lantai 2”jawab Martha,


          “Baiklah,


aku akan pergi. Tapi apa kamu berjanji untuk tidak memberitahu hal ini pada


Romeo?”,


          “Ya


tentu saja tidak, kau tahu setelah An tewas di tangannya sendiri keadaan


berubah. Dia berhasil merebut kerajaannya kembali dan memimpin dengan kejam.


Aku menyelamatkan dirimu karena satu hal. An atau Putri Anita adalah gadis yang


baik dan pernah menyelamatkanku. Aku berhutang budi padanya hingga mendengar


bahwa dia terbunuh di tangan kekasihnya sendiri. Kekasih yang lupa pada dirinya


dan janji. Apa Romeo sekarang ingat janji itu?”,


          “Aku


rasa tidak, dia bahkan hanya memikirkan Alecia gadis vampire biasa itu”sambung


Rasi,


          “Alecia,


gadis vampire?”,


          “Ya


Roman, kami mengatakannya begitu karena aku tak yakin dia adalah An. Jika dia


adalah An, kemungkinan An akan mengambil tindakan untuk pergi dari kekasih yang


telah membunuhnya. Aku tahu gadis itu, Roman. Sebelum kamu datang ke


kehidupannya. Dia adalah sahabat baikku. Aku ingat siapa dirinya dengan jelas”


jelas Rasi,


          “Aku


tidak tahu apa yang kamu rasakan saat ini Roman, tapi tahukah kamu! Aku


bukanlah ibu yang baik untuknya. Aku menjodohkanmu dengannya karena agar dia


bahagia di dunia ini”,


          “Ya,


ketika dia ditinggalkan oleh Romeo. Dia sedih sekali dan terus menunggu, lalu


kau datang. Dia berusaha bahagia di depanmu, menjadi istri yang baik. Tapi kau


tak pernah menunjukan rasa cintamu padanya kan karena kamu mengingat gadis lain


yang direbut oleh Romeo? Sekarang saatnya kau memperbaiki keadaan, buat dia


bahagia maka dia akan melupakan Romeo dan memilihmu sepenuhnya sebelum Romeo


menyadari hal ini”,


          “Ya


Rasi kamu benar, aku tak pernah menunjukan rasa cintaku padanya saat kami


menikah bahkan aku memperlakukannya dengan buruk hingga terbunuh”,


          “Ya,


itu tak perlu kau sesalkan sekarang. Sekarang adalah waktunya untuk memperbaiki


masa lalu. Ini kesempatan baik setelah pengorbanan itu, Roman”


          “Ya


benar Martha. Aku akan menyusulnya, ini pasti akan sangat menyenangkan untuk


membuatnya ingat kembali padaku”, lalu Roman pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara Martha dan Rasi hanya tersenyum manis.


          “


Martha, apa dengan begini putrimu akan merasa bahagia? Dia tampaknya tak


siap?”,


          “ Ya


aku tahu ia tak siap karena usianya masih remaja dan beberapa bulan disini


pindah kampus lagi. Tapi setidaknya dengan memberitahu Roman hal yang


sebenarnya setidaknya membuat Romeo jauh dari Alika. Menjauhkan mereka berdua


dengan cepat lebih baik sebelum Romeo mengetahuinya”,


          “ Romeo


ya! Hah, dia pangeran yang baik kan? Setidaknya dia tak pernah mengingkari


janji antara kerajaan kita”,


          “Ya


tapi dia telah membunuh calon ratu kita! Kau tahu kan sejak kecil An diasingkan


karena kekuatannya yang begitu besar. Raja dan ratu takut kalau An sampai


terluka dan kita diminta untuk menjaganya. Kita gagal kan!”,

__ADS_1


          “Ayolah


jangan begitu, kita berhasil setidaknya membangkitkan ratu kita ini”,


          “Hah,


aku ini hanyalah ratu sementara dan ratu sebenarnya adalah An. Aku bukan orang


yang suka merebut tahta orang tau”,


          “Ya…ya


ada benarnya!”


****


          Sementara


itu, Romeo merasa bahagia sekali karena telah menepati janji dan mendapatkan


gadis yang ia cintai kembali. Alecia pun sangat bahagia karena telah


mendapatkan Romeo sepenuhnya dan telah berhasil menyingkirkan Alika dari Buniv.


          Roman


berjalan menuju VA, menuju kamar dan mengemasi barang-barang miliknya.


Menghubungi supir pribadi untuk menjemputnya di Buniv. Netta yang melihat Roman


berkemas pun mengetuk pintu kamar Roman yang terbuka. Roman menoleh ke pintu


dan melihat Netta.


          “Mau


kemana Roman?” tanya Netta,


          “Pergi!”,


          “Ya aku


tahu kamu pergi, tapi kemana dan mengapa?”,


          “Hah…Netta,


aku akan pergi untuk mengurus bisnis. Sudah waktunya kembali bukan?”,


          “Em,


aku ikut denganmu ya?”,


          “Ikut


denganku? Kau tak betah disini ya?”,


          “Ya


sejak ada Alecia, kau tahu dia selalu membongkar yang tak seharusnya kalian


tahu. Dia juga pernah memfitnahku. Akan kulakukan apapun yang kamu minta,


sungguh!”,


          “ Hah,


          “Mungkin


dia akan ikut juga, atau bertahan disini”,


          Tiba-tiba


Steven datang dan menjawab “ Aku akan ikut, tak ada gunanya terus-terus berada


di VA”,


          “Hah,


baiklah. Tapi kita giliran keluarnya agar tidak ada yang tahu. Aku duluan,


nanti malam kau dan Steven keluar diam-diam”


          “Em,


seperti mau merencanakan sesuatu yang besar”ucap Steven,


          “Mau


keluar apa gak? Kalau yang lain tahu kita keluar, bagaimana dengan VA ini?”,


          “Begini


saja, kami tak akan keluar untuk sesaat. Kami akan merekrut orang lagi”,


          “Tapi


ini masih waktu liburan Steven!”bentak Netta,


          “Kirim


email saja pada mereka semua, nah dengan begitu mereka akan ikut. Kita buat


persayaratannya begini saja, pertama tinggi badan, foto, penampilan, usia.


Kedua, keahlian, prestasi, dan perilaku yang baik. Mudah saja akan banyak yang


ikut”,


          “Hem,


boleh juga itu. Kamu yang kirim emailnya ya Steven!”,


          “Ya


baiklah tenang saja, yang ikut akan segera datang!”,


***


*Apartemen Tanima


          Aku


kembali ke aparteman di sore hari sendirian, disini tak terlihat banyak orang

__ADS_1


yang kemungkinan mereka sedang pergi berlibur. Saat aku di Unima juga menemui


hal yang sama dan hanya ada beberapa orang saja.


          Membuka


pintu kamar, dan menutupnya kembali. Berbaring di kasur empuk sambil melepas


rasa lelah. Tanpa terasa aku tertidur pulas.


          Pukul


07.00 malam aku terbangun, dan segera pergi ke kamar mandi. Membersihkan diri,


dan tanda bulan sabit biru di tanganku kembali terlihat karena make up yang


menutupinya telah hilang karena air.


          Beberapa


menit kemudian aku telah berpakaian rapi, tapi mendadak perutku mulai


keroncongan. Aku belum makan sore ini, aku juga belum memasak bahkan tak ada


simpanan makanan di kamar ini. Akhirnya kuputuskan untuk mencari makanan di


luar. Bermake-up dan menutupi tanda bulan sabit dengan make-up, mengambil tas,


memasukan handphone ke dalam tas lalu pergi.


          Di luar


apartemen pemandangannya sangat indah di malam hari, banyak lampu menghiasi jalanan


ini. Berjalan kaki mencari makanan siap saji yang ingin dicicipi. Memang di


pinggir jalan malam hari banyak yang jualan makanan tapi tak semuanya menggoda


seleraku.


          Berjalan


beberapa menit akhirnya aku menemukan tempat yang pas, sebuah café dengan hiasan


lampu kelap kelip, ada meja di luar dan didalam. Ada papan yang bertulisan menu


makanan dan harga. Kulihat makanan yang dijual bervariasi dengan harga


terjangkau. Memasuki café tersebut aku sudah dapat merasakan betapa bersih dan


aroma menyegarkan dari café ini. Lalu mencari tempat duduk, aku memilih meja


yang dekat dengan jendela luar. Tak beberapa lama kemudian seorang pelayan


datang menawarkan menuju. Aku memilih nasi goreng, teh lemon, jus buah naga,


kue pie, dan puding strawberry coklat apel.


          Setelah


itu pelayan itu pergi dan aku menunggu pesanan datang. Ada beberapa orang yang


juga menunggu pesanan datang serta baru datang ke café ini. Awalnya tak ada


yang aneh di café ini tetapi aku melihat ada sesuatu yang aneh terutama pada


makanan yang dihidangkan. Entah apa karena kokinya lalai atau karena pesanan


orang itu, terlihat ia memesan makanan yang masih setengah matang. Ya setengah


matang dengan masih ada darah segar disana, serta minuman warna merah seperti


darah. Saat aku melihat orang yang memesan itu adalah seorang pria, ia berbalik


melihat ke arahku dan aku hanya menundukan kepala saja. Aku beranggapan tidak


melihat hal itu tadi.


          Aku tak


pernah terpikir jika pria itu datang mendekati, ia duduk tepat didepanku. Aku


gugup sekali dan takut dia marah padaku karena aku memperhatikan dirinya sejak


tadi.


          “ Hay,


nampaknya kamu memperhatikanku dengan temanku sejak tadi. Ada apa? Apa kau mau


berkenalan dengan kami?” sapanya,


          “


Tidak, aku tidak memperhatikanmu dengan temanmu itu”,


          “Benarkah?


Namaku Rey, namamu siapa?”,


          “Nama


depanku A…”,


          Pelayan


datang menghidangkan pesanan di atas meja,


          “Kau


sendirian disini?”,


          “Ya


sendirian, ada apa memang jika sendirian?”,


          “Em,


nampaknya kamu belum tahu betul ya disini. Kamu tahu tidak kalau ada beberapa


tempat yang sering dikunjungi  Wolf dan


makhluk lainnya”,

__ADS_1


          “Tidak, memang wolf itu ada?”,  Pria itu hanya tersenyum manis menyimpan sesuatu, aku pun mulai menyantap makanan


yang kupesan sambil menawarkan makanan itu padanya tapi ia menolak.


__ADS_2