Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 162


__ADS_3

“Ethan!” panggil mereka semua bergantian menyebut namanya, mereka mencari Ethan penuh semangat. Bahkan ada yang mencari Ethan di bak sampah, ya dia pikir pria itu adalah sampah mungkin hingga harus mencarinya di tempat seperti itu.


Aku yang memperhatikan tingkah mereka hanya bisa tersenyum manis. Aku pun tak pernah terpikir jika mereka akan mendekat kemari dan bertanya tentang Ethan padaku. Mereka mendekatiku, dan menanyakan tentang pria itu.


“Hei kamu!” ucapnya menunjuk ke arahku.


“Ya ada apa?” jawabku dengan ekspresi merenggut.


“Apa kamu melihat seorang pria lewat disini? Ya kira- kira beberapa menit lalu!”


Tersenyum sinis dan berpikir, lalu menjawab “Tidak, aku tidak melihat siapa- siapa!”


“Serius?” tanyanya dengan tatapan tajam.


Aku pun segera berdiri, “Ya tentu saja, kenapa? Aku bukannya tidak mau membantumu mencarinya, tapi aku memang tidak ada urusan dengan kalian. Aku punya urusan yang lebih penting. Mungkin dia pergi ke arah sana!” tunjukku ke arah Ethan tadi pergi.


“Hah, ya karna kamu sudah membantu kami menunjukan jalan ya kami ucapkan terima kasih. Terima kasih banyak!” ucapnya segera pergi ke arah yang kutunjuk.


Kini aku pun kembali sendiri dan setidaknya aku terbebas dari sekelompok gadis -gadis itu. Ya sepertinya mereka adalah fans pria tampan itu.

__ADS_1


Aku segera pergi meninggalkan tempat ini, dan mencari Xia di taman ini. Tetapi di tempat yang kutinggalkan Xia memperhatikan pria yang dia sukai, aku tidak menemukannya disana. Aku pikir Xia telah pulang ke asrama lebih dulu. Aku pun segera pergi ke asrama.


Setiba di asrama, aku tidak menemukan Xia di kamar ini. Aku pun mulai mencarinya di tempat lain. Aku pergi ke perpustaan akademi, tetapi disana aku tidak menemukannya. Aku bertanya pada semua orang, tetapi hasilnya membuatku kecewa.


“Maaf, apa kamu melihat Xia?”


“Xia, oh gadis lemah itu! Aku tidak melihatnya”


“Maaf, apa kamu melihat Xia?”


“Tidak!”


“Maaf, apa kamu melihat Xia?”


“Tidak!”


Suara langkah kaki yang berlari secepat mungkin mengikuti petunjuk dari cermin yang membawaku ke gudang akademi. Aku pun melihat Xia dengan penampilan yang kacau. Seseorang baru saja membuatnya terluka, rambutnya telah di potong tak beraturan, dan Xia terpojok. Ia ketakutan dengan pakaian yang sobek.


Aku pun mendekati Xia, dan berucap “Xia, ada apa? Apa yang terjadi?” tanyaku sembari mencoba memegang dirinya.

__ADS_1


Xia tidak menjawab padaku, tetapi aku mendengar suara isak tangis yang kecil. Aku merasa Xia telah menangis dan dirinya terluka.


“Xia, tidak apa! Aku disini!”


Xia tidak menjawab pertanyaanku, dia diam membisu. Aku pun segera melihat ke cermin dan seseorang di cermin yang kulihat memberiku jawabnnya. Mendengar penjelasan dari cermin itu, aku pun geram dan marah. Seseorang telah menyakiti temanku, dan orang itu tidak sendiri. Ia memukul temanku, memotong rambutnya secara paksa dan mencaci maki Xia. Aku pun mengerti mengapa Xia hanya bisa diam, ia benar- benar terluka.


“Xia, tidak apa. Aku tidak akan menyakitimu seperti mereka, kita kembali ke asrama ya?”


Lagi, Xia tidak menjawab pertanyaanku. Aku pun kembali berucap “Kita tidak akan melewati jalan yang mereka lewati, aku akan membawaku ke dengan cepat ke asrama!” yang kemudian aku segera memegang pundaknya dan mulai menggunakan kemampuanku untuk membawa Xia ke asrama tanpa melewati jalan yang biasanya kami lewati.


Aku dan Xia telah tiba di asrama, aku pun segera melepaskan tanganku darinya dan berucap “Kita telah di asrama, jadi buka matamu! Aku akan mengambil air untukmu, kamu tunggulah disini”.


Tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera mengambil air dan membawanya kembali kemari. Saat aku kembali, aku masih melihat Xia tertunduk, ia tak bergerak sedikit pun. Aku segera meletakan air di baskom yang kubawa, di dekat dirinya lalu mengambilkan selimut untuknya.


Aku pun menyelimuti dirinya dengan selimut, lalu duduk di dekatnya.


“Xia, aku akan mengambilkan dirimu kesemula. Tetapi mulai sekarang bersikap lah yang baik, jika kamu ingin balas dendam aku akan membantumu. Mereka memang sudah keterlaluan padamu. Kamu tenang saja, dari mana pun asalmu. Aku tidak peduli! Dari mana pun asal keluarga mereka, itu bukan rintangan bagiku. Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu sampai mereka mengakui perbuatan mereka!”


Spontan Xia langsung memeluk erat diriku, ia menangis dalam pelukanku. Aku merasakan perasaan Xia yang terluka. Xia melepaskan pelukannya padaku, dan ia memperlihatkan wajahnya padaku, wajah memar karna di pukul oleh orang lain. Orang jahat.

__ADS_1


__ADS_2