
Chapter 43
Bus berhenti di depan gerbang sekolah, kami pun secepatnya turun dan berjalan menuju kelas. Tetapi dinampaknya kami telah ketingalan sesuatu, teman-teman bergerombolan dan membicarakan sesuatu di halaman sekolah. Entah ada apa, kami pun bergegas menuju tempat itu.
Hani mencari tahu apa yang terjadi dan bertanya pada siswi kelas lain, “Eh, ada apa? Apa Roman telah datang?”, duga Hani.
“Wah, kamu telat tadi ya? Ia datang loh sekarang sih ke ruang kepala sekolah. Kupikir sesuai informasi dia bakalan sekolah sendiri tapi ternyata dengan pria lain. Ganteng banget!,”jawabnya.
“Aaa…aku ngak sabar nih!,”ucap Hani bergegas menghampiriku, “Kau tahu Violin, dia benar-benar datang!”,
Dengan cuek aku menjawab, “Siapa?”,
“Cogan, masa sih loh ngak tertarik? Apa jangan-jangan loh masih suka sama…”,
“Duh nih anak ngebahas masa lalu gue aja! Ya iyalah gue ngak tertarik, males gue ngebahas cogan”,
“Huh, paling-paling entar pulang sekolah nanyain eh, cogannya punya pacar belum ya? Terus ngembek-ngembek ke aku buat cari tau…huh dasar!”,
“Emang aku udah bilang itu sama kamu? Ngak kan!”,
“Belum, gue bilang entar kalau pulang sekolah”,
“Ya udah…” aku pun segera meninggalkan Hani menuju ruang kelas. Namun tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan suara yang tak asing ditelinga.
“Violin!”, Violin!,”teriaknya
Aku pun segera berhenti, dan menoleh ke belakang. Aku benar-benar harus sabar sekarang, benar-benar harus sabar. Ada banyak mata yang menatapku di halaman sekolah ini sekarang. Wajah-wajah mereka datar tetapi mereka sekarang sedang di landa kegalauan berat. Sebab orang yang memanggilku itu adalah Roman, orang yang satu rumah denganku. Ia berjalan mendekat, dan spontan langsung memeluk erat diriku.
Semua orang pun tak percaya akan kejadian ini, mereka mulai menduga-duga bahkan bisa saja membenci diriku hanya karena tindakan pria ini membuat semua orang gerah.
“Lepaskan aku! Menjauhlah…,”ucapku, ia pun mulai melepaskan pelukannya dariku. “ Hah, pria macam apa kau ini? Kau sengaja mempermalukanku didepan teman-teman ya?”,
Roman pun tersenyum, “ Tidak, aku bukan bermaksud begitu. Kita kan satu rumah, kenapa harus malu begitu?”,
“Hah, meski pun satu rumah. Siapapun kamu bahkan jika kamu CEO muda atau orang kaya di dunia ini tidak berhak memeluk diriku sembarangan. Dan ingat ya, aku tidak suka diperlakukan rendahan, mengerti?”,
“Ya, maafkan aku. Aku sudah bicara dengan kepala sekolah kalau hari ini kamu yang menemaniku sehari disini. Oya kenalkan, ini Akira. Dia dan aku akan mengikutimu hari ini kemanapun kamu pergi”,
“Hah, apa benar kepala sekolah yang meminta atau kau yang minta?”,
Lagi-lagi Roman tersenyum manis, itu yang membuatku membencinya jika dugaanku benar kalau dia yang meminta bukan kepala sekolah.
“Ya baiklah, kenapa semua orang jadi melihat kita disini? Apa tidak ada kegiatan yang lain? Baiklah, ayo ikut aku ke kelas”,
Begitu mendengar ucapanku semua orang mulai membubarkan diri. Aku, Hani, Roman dan Akira berjalan menuju ruang kelas. Di jalan kami bertemu dengan Gisel.
“Pagi Violin!,”sapa Gisel,
“Pagi, barengan ke kelas yuk!”,
“Boleh, wih kamu beruntung banget jadi pemandu dua murid hari ini”
“Iya kalau beruntung, ini mah kagak! Apa emang yang aku dapat dari sini? Apa nilai raport aku bakalan di kasih nilai A?”,
“Hehehe, kalau itu aku belum bisa mastiin. Tapi kamu beruntung dibanting teman-teman yang lain,”sambung Hani,
“Benarkah? Tatatapan semua orang menjadi tajam beberapa menit tadi”,
“Roman, entar kamu duduk sama aku aja ya?,”pinta Hani,
“Aku sudah memikirkan hal itu kalau aku akan duduk di samping Violin”,
Hani yang mendengar seakan-akan putus asa karena di tolak.
“Aku akan duduk bersama Hani, boleh?”,
__ADS_1
Hani pun kembali senang, “ Tentu saja boleh!”,
“Bagaimana denganku?,”tanya Gisel
“Aku akan duduk sendirian dan Roman akan duduk bersama Gisel,”jawabku
“Ngak boleh kamu harus duduk denganku,”jawab Roman sambil menarik tanganku berjalan di depan teman-teman. Hingga menuju ruang kelas ia barulah melepaskan tanganku. Aku hanya menghela napas panjang, kupikir pria ini mulai menyebalkan.
***
Jam pertama pelajaran di mulai, ya seperti ucapannya aku duduk bersampingan dengan Roman. Hah, inilah yang membuatku kesal. Ya bagaimana tidak? Semua orang akan mulai membenciku seketika pria ini semakian dekat denganku atau bahkan mereka akan menjahiliku.
Roman mulai berbisik padaku ketika guru menjeleskan pelajaran , “ Apa kamu membenciku karena aku merepotkanmu?”,
“Kenapa kamu bertanya begitu? Aku mulai berpikir jika menolakmu apakah ibuku tidak akan dipecat? Bukannya kamu dekat dengan pak Dir ya?”,
“Ya dekat, tapi ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ibumu”,
“Benarkah?”,
“Iya, tenang aja. Aku bukan anak pak Dir kok!,”senyumnya
Tiba-tiba guru berdeham bertanda ada keributan, akhirnya aku berhenti bicara dengan Roman.
***
Kantin sekolah, seperti ucapannya aku harus menemaninya satu hari. Duduk di satu meja, aku, Gisel, Hani, Akira dan Roman. Mereka sibuk membicarakan sesuatu. Hani dan Gisel lebih banyak ngomong sekarang karena kehadiran dua pria ini. Sementara aku lebih memilih membuka handphone. Menulis di note handphone, “ Vampir, memang dalam sebuah cerita sangat menyenangkan untuk di baca tetapi tahukah kalian bahwa mereka itu mengerikan dan menakutkan. Aku bahkan mendapat komentar dari pemburu vampir bahwa aku harus berhenti mencari tahu tentang mereka tapi aku boleh menceritakan tentang vampir pada kalian,”tulisku. Lalu kupos tulisan itu ke blog milikku.
Aku henti mengetik ketika melihat Angel bersama pria yang pernah kucintai, memang saat aku melihat pria itu hatiku kembali terluka. Kumasukan handphone ke saku baju, dan menundukan kepala kebawah. Hani dan Gisel yang melihat itu, berupaya mengubah suasana.
“Violin, nanti sore kita ke taman lagi yuk!,”ajak Hani
“Buat apa?”,
“Ya seperti biasa lah, kamu ngak sibukan?”,
“Masih kepikiran yang itu ya?,”tanya Gisel
“Sudahlah, jangan sedih terus. Lagi pula dia bukan satu-satunya di muka bumi ini kok,”ucap Hani dengan senyuman manisnya.
“Hah, sore nanti aku ada acara. Jadi aku ngak bisa jalan”,
“Acara apa? Ikut dong!”,
“Aku mau menemui pemburu vampir”,
“Ketemu pemburu vampir?”,
“Iya”,
“Ada apa memang?’,
“Buat ngeburu kalian berdua”,
“Kami berdua?”ucap Hani dan Gisel bersamaan
“Iya kalian berdua biar ngak nongol dimana-mana kayak hantu”,
“Hehehe, ngak usah pake pemburu vampir toh. Buatian aku sesuatu aja udah bikin senang kok”,
“Heh…”
“Makan ice krim di toko aku gimana?”,
“Asik tuh, Roman dan Akira ikut ngak?”tanya Hani
__ADS_1
“Boleh, Violin ikut kan?”tanya Roman
“Ngak ikut!”,
“Masa sih, aku buatin ice krim coklat loh”,
Di telingaku tawaran Gisel memanglah mengoda, ya ice krim buatan ibunya Gisel memanglah enak banget.
“Ya udah aku ikut tapi ada topingnya ya?’,
“Tenang aja, pasti ada”,
“Gratis?”,
“Bayar lah!”,
“Hah, ngak ikut aku!”,
“Gratis, aku udah buatin tadi malam buat teman aku yang special”,
“Untuk mereka berdua”,
Kami pun tersenyum, sementara Roman dan Akira hanya diam saja. Mereka tidak mengerti apa yang telah kuucapkan.
*Jangan lupa klik bintang ya!*
Sementara itu Angel yang melihat kedekatan Violin dengan dua pria itu jelas membuatnya benci. Ia benar-benar tidak suka jika melihat Violin bahagia. Angel pun membuat rencana jahil untuk Violin.
Bel berbunyi, kami pun bergegas pergi tetapi saat itu Angel tidak sengaja menabrakku hingga minuman yang dibawanya tumpah ke baju. Angel meminta maaf padaku sambil membersihkan pakaianku.
Hani dan Gisel menatap tajam Angel lalu menarikku pergi. Kami pergi ke toilet membersihkan pakaian. Sementara Roman dan Akira tertinggal disana. Dalam kesempatan ini Angel berusaha mencari perhatian pada mereka berdua. Tapi nampaknya Roman dan Akira tidak peduli padanya. Angel pun kesal melihat hasil kejahilannya berbuah kegagalan.
Toilet wanita,
“Dasar tuh Angel, dia pasti sengaja mencelakaimu!”ucap Hani
“Sengaja bagaimana? Dia bilang kan ngak sengaja menabraku”,
“Hah anak polos, emang kamu lupa yang di lakukan Angel sama kamu sebelum kamu mengalami koma?,”ucap Gisel
“Mungkin dia sudah berubah, kan dia udah dapatin mantan aku tuh”,
Gisel dan Hani tersenyum manis,
“Lalu kamu udah dapatin pacar baru tuh buat balas Angel?,”tanya Hani
“Belum lah, buat apa membalas perbuatan mereka? Ngak baik. Hah buat apa sih ngebahas Demian, pikiranku itu udah ngak ke Demian lagi. Meski pun Demian itu ganteng dan keren tapi play boy siapa yang mau sama dia?”,
Lagi Hani dan Gisel tersenyum manis,
“Jadi kan kalian berdua ke toko aku?”,
“Jadilah Gisel, masa ngak. Tapi aku ngak janji buat lama-lama disana”,
“Em, ya benar tahulah kalau banyak tugas harus gimana!”,
“Benar kata Hani!”
“Dah yuk kita ke kelas, aku takutnya guru masuk kelas kita lebih awal”,
“Hah, aku mah takutnya Roman mengadu sama guru”,
“Cieee….”
“Hah, terserahlah…”
__ADS_1