Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Chapter 180


__ADS_3

Aku tersenyum manis, dan melihat Xia. Xia menggelengkan kepala, tanda ia tidak setuju dengan taruhan itu. Tapi aku tidak peduli apa akhir cerita ini. Aku pun menjabat tangannya, dan berucap “Setuju!.”


Xia yang melihat kesepakatan hanya bisa menarik napas panjang dan sangat mengkhawatirkan temannya ini. Lalu kami semua segara mengantar Xia ke pintu gerbang.


Sementara itu tiga pengawas yang mengawasi Xia dan teman- temannya telah beranggapan ke empat gadis itu telah minta maaf pada Xia dan Aresha.


“Yah, sepertinya tidak ada masalah! Jadi kita tidak perlu mengawasi mereka kan?”


“Oh ya benar, mari kita pergi!”


Mereka bertiga pun segera pergi dan tidak lagi mengewasi Xia dan teman- teman. Mereka menganggap khasus dan tugasnya telah selesai.


Gerbang depan Akademi Yexiao.


Sebuah taksi telah menunggu di depan gerbang akademi ini, taksi yang telah dipanggil untuk menjemput Xia oleh Ibu Oshaberi. Ke empat gadis menunggu jauh dari keberadaan kami berdua. Xia pun memasukan kopernya ke bagasi mobil, lalu ia bicara dengan sopir.


Setelah itu, Xia mendekatiku. Wajahnya tampak cemas saat kepergiannya ini.


“Aresha, kamu! Hah... kenapa kamu mengikuti kemauan mereka? Mereka itu kuat, aku takut sesuatu terjadi padamu. Bagaimana jika kamu kalah dan semua itu terjadi! Aku tentu tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri sebagai temanmu”


Gerbang depan Akademi Yexiao.


Sebuah taksi telah menunggu di depan gerbang akademi ini, taksi yang telah dipanggil untuk menjemput Xia oleh Ibu Oshaberi. Ke empat gadis menunggu jauh dari keberadaan kami berdua. Xia pun memasukan kopernya ke bagasi mobil, lalu ia bicara dengan sopir.

__ADS_1


Setelah itu, Xia mendekatiku. Wajahnya tampak cemas saat kepergiannya ini.


“Aresha, kamu! Hah... kenapa kamu mengikuti kemauan mereka? Mereka itu kuat, aku takut sesuatu terjadi padamu. Bagaimana jika kamu kalah dan semua itu terjadi! Aku tentu tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri sebagai temanmu”


“Ah, apa yang kamu maksud? Jangan khawatir, sebaiknya kamu pulang dan temui keluargamu. Aku baik- baik saja, nanti setelah urusan ini selesai aku akan menghubungimu agar kamu tidak khawatir padaku!”


“Ya tapi....”


“Tidak ada tapi- tapian, kamu sangat diperlukan di keluargamu, pulang dan temui keluargamu! Hal seperti ini bukan masalah kecil, dan semuanya akan baik- baik saja. Aku janji setelah semuanya selesai, dan apa pun hasil akhirnya, aku akan tetap menghubungimu!”


“Ya tapi, masalahnya aku belum punya nomor ponselmu!”


“Oh begitu ya, aku akan memberikan nomor ponselku padamu!” ucapku yang kemudian membagikan nomor ponselku pada Xia.


Namun kupikir, setelah itu Xia akan berhenti cemas. Dugaanku itu masalah sebaliknya, dia malah semakin cemas dan tidak ingin pergi. Tetapi aku terus berusaha untuk membuatnya pergi.


“Tapi... jika seperti ini, aku tetap saja cemas! Aku tidak mau pergi!” ucap Xia yang membuatku kaget.


Gadis ini ternyata memiliki hati yang baik dan dia peduli dengan temannya yang dia sendiri tidak tahu siapa temannya yang sebenarnya.


Aku tersenyum manis dan menyakinkan Xia untuk tetap pergi, aku berucap “Xia, tidak apa! Percaya saja padaku, aku akan menghubungimu setelah masalah ini selesai. Jangan khawatir!”


“Ya, kamu serius akan baik- baik saja?”

__ADS_1


“Tentu, aku merasa lebih baik jika menyelesaikan masalah ini. Kamu pulanglah!”


Spontan gadis ini memeluk diriku, ia tersenyum manis dan kemudian masuk ke mobil. Ia membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya sembari mobil itu berjalan.


Mobil yang di tumpangi oleh Xia melaju di jalanan, dan aku tetap berdiri disini untuk memastikan Xia benar- benar telah pergi tanpa kembali. Aku hanya tidak ingin dia datang dan menghalangi diriku untuk menghabisi klan bawahan ini.


Kini, mobil itu telah menghilang dari pandanganku dan ke empat gadis itu mulai mendekatiku menagih janji yang telah kubuat.


“Jadi, apa kamu akan menyerah sekarang?” ucapnya dengan kesombongan.


“Hih, kita belum bertarung! Jadi aku tidak akan mengakui kekalahan!”


“Hah, baiklah. Sekarang kamu ingin kita bertarung dimana?”


“Menurutmu? Sebaiknya kamu punya empat yang aman!”


“Hah, mudah saja! Bagaimana kalau di Glasland? Disana tidak akan ada seorang pun yang akan menghalangi kita!”


“Wow, ide bagus!” ucapku menyetujuinya.


Mendengar ide temannya itu, salah satu dari ke empat gadis berucap “Tapi bagaimana caranya agar kita bisa kesana? Jika kita ke aula sekarang, mungkin Ibu Oshaberi akan menaruh rasa curiga!”


“Hah, itu tidak akan terjadi!” ucapnya membantah ucapan temannya sendiri.

__ADS_1


Aku tersenyum manis, ya seperti sifatnya dia keras kepala. Aku pun terpaksa mengikuti kemana mereka pergi, mereka membawaku ke aula dan menuju Glasland yang di anggap mereka adalah dunia tanpa penghalang.


__ADS_2