Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 320 Dunia Mimpi Martha Part.2 END


__ADS_3

Perempuan yang disangka Alika itu memasang wajah datar, ia tak lagi tersenyum bahkan tertawa. Ia menggenggam tangannya, menahan rasa kesal dan marah.


“Lalu apa yang terjadi padanya? Apa kamu memikirkan tentang keluarganya?”


“Em, tidak. Aku rasa ia tidak punya keluarga. Tidak ada yang menjemputnya di rumah sakit itu loh. Tapi ia dimakamkan dengan baik. Ia juga manusia dan layak diperlakukan dengan baik. Oh ya, terakhir, ia dimakamkan di pemakaman.”


Mendengar hal itu ia terdiam, lalu berucap “Jadi apa kalian menyerah dan tidak mau berusaha mencari keluarganya setelah memanfaatkannya sebagai tumbal?”


“Oh, bukan begitu. Kamu tidak suka ya? Aku sungguh minta maaf, tapi setidaknya kita membesarkan dia dengan sangat baik. Sudah sangat cukup kan?.


“Cukup? Lalu, cukupkah berhenti mencari keberadaan keluarganya juga? Ia bahkan sampai di kutuk, lalu kenapa kamu tidak melindunginya? Kamu seharusnya melindunginya, tanpa dia penyihir sialan ini tidak akan terlahir di dunia fana ini!”


“Hah, mengapa kamu sangat peduli dengannya? Ya, apa yang kamu katakan ada benarnya. Tapi kami sudah sebisa mungkin mencari keluarganya, tapi hasilnya tetap saja nihil. Mau kemana lagi?”


“Begitu ya!. Ah, aku juga mau mengatakan hal lainnya loh. Kau tahu tidak, dahulu sekali. Orang sepertiku tidak lahir seorang diri loh. Aku dengar masih ada yang lainnya, kembaranku. Kamu tahu siapa dia?”


Martha terdiam, ia mencoba mengingat masa lalu itu. Martha ingat akan masa lalu itu dan memang ada. Ia tahu akan kembaran Alika.


“Ya, aku ingat. Aku ingat dirinya tetapi waktu itu ia masih kecil. Memang ada apa dengannya?”


“Apa yang kamu tahu tentangnya untuk terakhir kali?”


“Ya, yang aku tahu dia tumbuh besar di istana lalu dijodohkan dengan pangeran tak diakui. Setelah itu aku tidak tahu lagi, tetapi saat adiknya menjadi raja dan memerintah. Kerajaan itu menjadi kacau, hal buruk pun terjadi. Raja terdahulu sekaligus ayah dari dua anak perempuan yang di sia-siakan kecewa dan ia tewas di tangan anak terakhirnya sendiri. Anak yang sangat dia banggakan. Dalam masa pemerintahan itu juga, perang melanda negeri itu dan menghancurkannya berkeping- keping. Entah bagaimana dengan istananya. Tapi yang aku tahu masa itu adalah masa kekacauan dan semejak itu berbagai versi cerita bermunculan. Ya aku rasa ada sisi cerita yang menceritakan dirimu, dan ada pula kembaranmu.”


“Jadi begitu ya. Aku rasa sudah cukup bicaranya. Tetapi ada hal yang mengangguku sejak tadi. Apa kamu tahu tentang arti keluarga?”


“Ya, tentu. Menurutku keluarga itu adalah hal yang paling berharga”


“Lalu apa yang akan kamu lakukan jika salah satu keluargamu dibunuh?”


“Sebagai manusia tentu aku akan melaporkannya pada pihak berwajib”


“Orang yang membunuh keluargamu adalah bukan manusia biasa?”

__ADS_1


“Maka aku akan berusaha membuat orang itu menembus kesalahannya”


“Begitu ya? Bagaimana kalau orang yang membunuh ini melakukannya demi orang yang ada di dekatmu?”


“Jika memang begitu, maka aku akan memberi pelajaran pada keduanya. Sikap keegoisan mereka harus dibayar!”


“Baiknya, terima kasih atas jawabannya. Aku akan memulainya sekarang, karena kamu dan Rasi juga mengatakan yang sama. Mengakui kesalahan dan memberitahukan siapa saja yang terlibat.”


“Apa? Maksudmu apa?”


“Ya, maksudku adalah menghabisi orang- orang yang terlibat dalam pembangkitan ini. Meskipun orang yang dibangkitkan adalah kembaranku, bukan berarti aku akan diam saja. Kau tahu siapa yang telah menjadi tumbalnya?”


“Tidak, aku tidak tahu! Jadi dia siapa?”


“Dia adalah adik dari ayahku!”


Seketika itu Martha terkejut, matanya mulai membulat. Ia tidak menyangka akan hal ini terjadi.


“Kau, kau bukanlah Alika?!”


“Kau adalah Alecia!”


“Salah, maaf ya kamu salah menjawab!”


“Kau siapa?”


“Aku....ya aku adalah kembaran Alika. Senang bertemu denganmu, Nona. Terima kasih atas bantuannya!”


Martha terkejut ia segera menjauh dari orang itu, ia mengambil aba- aba untuk menghadapi serangan tak terduga.


“Martha, senang bertemu denganmu. Ah ya maaf, selamat tinggal!”


Seketika itu kabut tebal datang menghampiri bersamaan dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Martha kembali terjebak dalam kabut. Ia tidak bisa melihat apapun di sekelilingnya.

__ADS_1


“Sial! Seharusnya aku sadar sejak awal kalau dia bukanlah Alika. Tapi- tapi bagaimana dia kembali?” guman Martha pada dirinya sendiri.


Kabut tebal dengan suhu dingin ini menyelimuti dirinya perlahan- lahan, tubuh Martha pun mulai kedinginan dan perlahan- lahan membeku hingga dirinya tidak bisa bergerak sedikit pun.


Saat membeku itu lah, ia melihat cahaya yang terang datang melenyapkan kabut dan memperlihatkan Rasi yang berlutut dan seorang pria yang berdiri di depannya. Pria itu mengeluarkan pedang yang bermata tajam. Pedang berkilau tanpa noda dan sangat tajam.


Martha yang melihat tercengang, ia tak percaya akan Rasi yang menghadapi ajalnya. Tiba- tiba suasana berubah, terdengar suara teriakan banyak orang di sekelilingnya.


Orang- orang yang meneriakkan kata- kata yang tak pantas di dengar, teriakan orang- orang yang ingin eksekusi terhadap Rasi segera dilakukan dan teriakan orang- orang yang membenci Rasi.


“Habisi dia!”


“Dasar wanita jalang! Hari ini kamu akan menerima ajalmu!”


“Lihat dia! Itu akibatnya kalau mencari masalah dengan keluarga kerajaan!”


“Ya, aku harap eksekusi ini segera cepat dilaksanakan agar semua orang melihat bahwa kita sebagai penyihir matahari tidak boleh mengkhianati ratu kita!”


“Wanita jalang, habislah kau hari ini!”


Seketika itu eksekusi pun di lakukan tepat di hadapan Martha. Pedang bermata tajam itu segera diangkat dan diarahkan ke Rasi. Lalu hukuman itu pun terjadi, darah segar segera mengalir membasahi tanah itu. Rasi telah pergi, Rasi sudah tidak ada. Martha yang menyaksikan ini ingin sekali rasanya menyelamatkan Rasi tetapi dirinya sekarang telah membeku dan tidak bisa melakukan apapun. Dirinya tak lagi memiliki banyak kekuatan sebagai seorang penyihir.


“Rasi...Rasi....Rasiiiii....!!!” teriak Martha dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. Perasaan hati Martha terluka, ia sangat sedih atas kehilangan sahabatnya. Sahabat satu- satunya, dan hanya dia lah yang dia miliki.


“Rasi... Rasi...Rasi jangan pergi, jangan pergi!” ucap Martha hingga terbangun dari mimpinya.


Jantungnya berdetak cepat, suaminya yang tidur di sampingnya pun terbangun dan segera mengambilkan segelas air dan memberikannya.


“Mimpi buruk lagi ya? Minumlah!” ucap Jimwa.


Martha pun segera meminum segelas air, lalu memberikan gelasnya kembali pada Jimwa. Jimwa meletakan gelasnya di atas meja.


“Apa yang terjadi? Ada apa?”

__ADS_1


“Aku- aku bermimpi bertemu dengan kembaran Alika. Dia menanyakan banyak hal padaku, dan tentang perempuan yang menjadi persembahan. Lalu aku bermimpi tentang Rasi. Rasi menghadapi hukumannya, ia .....” ucap Martha tak sanggup lagi melanjutkan ceritanya. Wajahnya dipenuhi air mata hingga Jimwa pun memeluk erat dirinya. Jimwa mencoba menenangkan istrinya saat ini yang telah bermimpi buruk.


__ADS_2