
Semua telah berubah dan menerima nasib mereka. Semua lenyap bagaikan mimpi dalam tidur, mimpi buruk. Tetapi semua belum berakhir, mereka yang ditinggalkan masih terus berusaha mencari, menunggu dan menjalani hidup mereka dibalik kehidupan manusia seutuhnya. Bunga mawar itu terbang jauh hingga ke sebuah rumah sakit besar di kota ini.
Di rumah sakit Mawar, ruangan kamar pasien. Ruang ICU yang begitu sepi. Terlihat disalah satu ruangan, seorang ibu sedang menunggu putri tercintanya. Dia tertidur lelap dengan infus, oksigen, dan alat monitor hemodinamik. Di tempat tidur pasien tertulis nama Anita Violinderina.
Tiba-tiba saja ibu itu meneteskan air mata di kedua pipinya, “ Tuhan, aku mohon padamu. Bangunkan putriku dari tidurnya selama ini, bangunkan dia dari komanya. Tuhan, kumohon bangunkan dia. Aku hanya memiliki dia, jangan kau ambil dia dariku. Tuhan, telah kubahiskan hidupku berjuang untuknya. Aku tidak punya apa-apa lagi selain dirinya,”lirih doa ibu untuk kesembuhan putrinya.
Kemudian tiba-tiba gadis itu menghembusnya nafas terakhirnya, ibu itu pun secepatnya berlari berteriak minta tolong.
“Dokter! Dokter….”
Seorang dokter dan suster datang menolong. Tetapi sudah terlambat, dia sudah pergi dan benar-benar pergi meninggalkan ibunya seorang diri. Ibu dari gadis itu menangis, dia benar-benar sedih. Hingga tak sanggup melihat jasad putrinya. Ibu gadis itu hanya bisa melihat kain putih menutup tubuh putrinya dari pintu.
Dokter dan suster ingin pergi meninggalkan pasiennya yang telah dinyatakan meninggal. Sebuah cahaya datang memasuki tubuh gadis itu. Dalam bersamaan tiba-tiba pasien itu terbangun dan berteriak, “ Tidak! Tidak!”.
Dokter dan sister berpaling lalu menolong pasien itu, ibu dari gadis itu mendengar teriakan putrinya secepatnya masuk ke ruangan. Ia bersama dokter dan suster menenangkan putrinya.
Dengan terpaksa dokter menyuntikan obat penenang lalu memeriksa pasiennya kembali. Ibu dari gadis itu sangat senang melihat putrinya telah kembali.
“Dia terlihat baik-baik saja, bahkan lebih baik dari pada sebelumnya. Dia bisa pulang setelah kami memeriksanya lebih lanjut,”ucap dokter.
“Terima kasih dokter”
Setelah memeriksa, dokter pergi diiringi langkah suster. Ibu dari gadis itu sangat bahagia atas kesembuhan putrinya.
“Tuhan, terima kasih telah membangunkan putriku dari koma. Semoga saja dia menjadi anak yang lebih baik. Aku berjanji akan menjaganya sepenuh hatiku, Tuhan”.
***
2 hari kemudian…
Ibu dari gadis itu memasukan pakaian anak gadisnya ke dalam tas, sementara putrinya melihat pemandangan dari luar jendela. Gadis itu diijinkan pulang setelah ibu dari gadis itu mendapat penjelasan dari dokter bahwa putrinya mungkin akan sedikit lupa karena waktu yang terus berjalan. Diharapkan ibu dari gadis itu sedikit membimbingnya kembali mengenal siapa dirinya, dan lingkungan sekitar.
“An, ayo kita pulang! Ibu sudah membereskan semuanya,”ucap ibu
“Ya bu, kita akan pulang. Aku tidak sabar untuk melihat pemandangan di luar”,
Kemudian mereka berdua berjalan keluar dari rumah sakit, mereka pulang ke rumah dengan jalan kaki. Ibu An berharap putrinya akan mengenal dunianya kembali setelah sembuh dari koma dengan cara mengajaknya jalan-jalan hingga sampai ke rumah.
An nampak menikmati pemandangan yang ia lewati berjalan bersama ibunya.
“Ibu, tempat ini indah sekali. Aku belum pernah melihatnya”,
__ADS_1
“Ya tentu saja sayang”,
“Tapi sejak tadi ibu memangilku dengan nama An, apa itu namaku?”,
“Ya, itu namamu. Nama aslimu adalah Anita, dengan panggilan An”,
“Em, bu. Aku bingung kenapa aku lupa pada diriku sendiri, Bu”,
“Tidak apa sayang, itu adalah hal yang wajar nanti kamu juga akan mengingatnya. Kamu baru sembuh dan maafkan ibu tidak bisa menyewa mobil atau taksi untuk membawa kita pulang ke rumah”,
“Tak apa bu, aku senang kita bisa jalan-jalan meski kita dalam perjalanan pulang”,
“Ya sayang, ibu juga senang!”
***
Di rumah yang sederhana lah aku tinggal bersama ibuku. Rumah ini kecil dengan perkarangan rumah yang dipenuhi rumput taman dan beberapa bunga. Ada pohon besar di pinggir jalan dengan kursi kayu panjang. Memasuki ruang depan, ruang tamu. Ibuku langsung mengajakku pergi ke kamar.
“Ini kamarmu, ibu harap kamu suka. Maaf jika ibu belum sempat membersihkannya hingga banyak debu”,
“Ya tak apa bu, aku akan membersihkannya”,
“ Ya bu!”,
Ibu pergi meninggalkanku, secepatnya kubersihkan kamarku dan menatap pakaian dalam lemari. Setelah semua bersih dan rapi, buka jendela dan melihat pemandangan sekitar dengan senyuman manis.
Menghela nafas panjang lalu pergi menemui ibu, membantu dia membersihkan rumah ini. Melihat dia yang lelah, dan dia masih bisa tersenyum dalam kehidupan ini.
***
Sore hari yang cerah dengan angin yang sejuk, entah siapa yang datang dan langsung memeluk erat diriku. Mereka terlihat bahagia sementara aku kebingungan. Kedatangan dua orang wanita, yang satu mungkin dia adalah putri dari wanita itu.
“Hay, An. Bagaimana kabarmu? Kami datang membawa manisan buatmu, enak loh! Ini ambil,”ucapnya sambil memberikan bungkusan berisi manisan buah.
Sementara aku hanya kebingungan siapa gadis yang bicara padaku ini?”.
“An, ini Hani. Dia teman satu sekolah denganmu, apa kamu lupa?,”tanya ibu
“Hani? Teman satu sekolah?,”pikirku.
Aku pun kembali mengingat jelas semuanya, orang-orang yang kukenal.
“Hani, hay Hani!”ucapku
“Kau sudah ingat?”,
“Ya, terima kasih manisannya. Dia ibumu kan? Kenapa dia semakin muda?”,
Hani tersenyum manis lalu mengajakku duduk di sofa sementara ibuku pergi ke dapur bersama ibu Hani.
“ Hani, aku minta maaf. Aku agak sedikit lupa, tapi sekarang aku ingat kok!”,
“Iya ngak apa-apa, aku paham kok. Jadi bagaimana keadaanmu? Apa sekarang lebih baik?”,
“Ya, lebih baik. Hani, boleh aku tanya padamu?”,
“Ya, tentu saja. Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?”,
“Apa yang terjadi padaku hingga aku masuk rumah sakit?”,
“Itu karena….hah..sebaiknya kamu tak perlu memikirkannya. Sekarang yang terpenting kamu baik. Aku sangat senang melihatmu telah pulang”,
__ADS_1
Aku tersenyum manis padanya, “Iya, aku juga senang telah pulang. Terima kasih telah berkunjung ke rumahku.”
“Tidak perlu berterima kasih, kita adalah teman satu kelas dan satu komplek”
“Benarkah?”
Hani pun kaget, ia merasa bahwa Violin tidak mengingat siapa dirinya. “Astaga, apa kamu lupa?”
“Tidak, aku hanya bercanda. Tapi ya sebenarnya aku lupa. Mungkin nanti kamu bisa mengatakan sesuatu perlahan-lahan agar aku mengingatnya”,
“Tentu saja, aku akan melakukan itu untuk temanku!”
Tiba-tiba ibu datang bersama ibu Hani. Mereka duduk disamping kami berdua.
“Jadi, apa besok An akan pergi bersekolah?”,
“Menurutmu bagaimana An? Ibu tidak mau memaksakanmu”,
“Sekolah ya? Ya tentu aja”,
“Bagus kalau begitu, nanti aku akan jempt kamu jam tujuh. Jadi siap-siap besok dan jangan terlambat”,
“Oke!”,
“Karena An besok sekolah jadi besok akan tante buatkan kamu bekal kesukaan. Jadi kalian bisa sama-sama kan?”,
“Benar ma? Aku mau!”,
“Iya Hani, Hani jemput An. Kalian pagi kan menunggu bus datang jadi bisa kutitipkan pada Hani”,
“Iya, tan. Terima kasih”,
“Besok jeng, kerja kan?”,
“Iya kerja, nanti aku jemput”,
“Terima kasih”,
***
Pagi hari yang cerah, matahari telah bersinar menerangi negeri. Bunga-bunga bermekaran, burung berkicau merdu, seluruh alam menyambut datang sang cahaya. Begitu indah pagi ini. Seperti janji hari ini aku akan dijemput oleh sahabatku. Ia datang lebih pagi, dan aku telah siap untuk berangkat ke sekolah. Hani datang dan mengetok pintu rumah, ibu yang melihat kedatangan Hani segera memanggilku. Keluar kamar dan melihat sahabatku yang datang.
“Ibu, aku berpamitan. Aku berangkat sekolah dulu,”ucapku sambil mencium tangan ibu. LaluHani juga berpamitan.
“Anita, nanti sepulang sekolah. Seseorang akan menjemputmu, mama tidak bisa menjemput kamu. Jadi orang itu bernama Seto, dia teman kerja mama. Kamu pulang sama dia ke kantor mama, lalu kita pulang bersama”
“Oke Ma!”jawabku yang kemudian berjalan berdua menuju halte bus sekolah.
“An, apa aku boleh bertanya?”,
“Ya Hani, mau tanya apa?”,
“Apa kamu ingat siapa namamu yang sebenarnya?”,
“Nama? Ibuku menyebutku dengan nama Anita”,
“Hahaha, bukan namamu Anita Violinderina”,
“Hah, benarkah itu?”,
“Iya benar, ibumu tak memberitahumu ya?”,
“Ia memberitahuku hanya nama Anita”,
“Hem, mungkin dia ngak mau buat kamu sakit kepala. Tapi nanti lama-kelamaan kamu akan ingat semuanya kok. Ngak ada yang berubah kok di sekolah. Violin!,”senyumnya.
Setiba di halte bus, kami duduk di bangku. Perlahan-lahan ucapan sahabatku membuat ingatanku kembali. Aku dapat mengingat hampir semuanya.
“Violin, kamu ngak sedih kan? Kamu ngak kenapa-napa kan?”,
“Aku baik Hani, memang ada apa?”,
“E, kamu ngak marah sama aku lagi kan?”,
“Marah? Ngak tentu saja tidak. Setelah kejadian itu, aku merasa kamu benar. Dia bukan yang terbaik. Oya, tolong jangan bahas lagi. Soalnya bukan hanya dia cwok didunia ini”,
“Nah itu baru temanku!”
“Ya!”,
Bus datang dan berhenti didepan kami berdua, segera saja kami naik ke bus. Duduk di samping jendela dan Hani disampingku.
“Jadi kabar sekolah bagaimana Han?”,
“ Baik, hanya saja kau tahu kan si….masih berkuasa. Anak konglomerat kaya tapi sombong. Hahaha, sebenarnya dia ngak pintar”,
“Kamu masih menertawakannya ya? Dia memang sedikit b…”,
“Ya, mau gimana ngak. Coba pikir masa cwok mantan loh dia rebutin, cwek m donk!”,
“Sttt…”,
“Tapi aku kesal sama dia, gara-gara dia kamu jadi…”,
“Ngak apa-apa, semua baik-baik saja”,
“Hah, baik? Emang kamu pikir kamu dibuat berapa lama jadi koma karena dia? Tahu berapa lama?”,
“Iya aku tahu, tapi ngak apa lah. Selama waktu itu aku merasa lebih baik”,
“Ya jika itu membuat temanku senang aku juga!”,
__ADS_1
Bus berjalan dan berhenti di High School 7.