
“Oh, itu ( tersenyum manis) itu karna salahku. Aku tidak bisa menceritakannya pada dokter, maafkan aku!”
“Yah, tidak apa. Sepertinya itu sensitif ya? Ya aku mengerti!”
“Dokter, apa yang harus saya lakukan? Saya bukan seorang suster jadi saya tidak begitu tahu soal merawat seseorang”
“Oh, itu. Kamu tenang saja, kamu hanya perlu memastikan dia menganti perban di lehernya. Luka kecil itu nantinya juga akan sembuh, tapi agak lama sih.”
“Ya tidak apa, saya bersedia melakukannya. Terima kasih banyak dokter telah membantu saya”
“Ya, terima kasih kembali. Kalau begitu saya permisi dulu”
“Ya dokter, hati- hati di jalan”
Dokter itu tidak menjawab ucapanku, ia pergi dengan senyumnya yang ramah. Aku benar- benar bersyukur Ethan baik- baik saja, dan pikiranku di buat legah.
Sebelum pergi, dokter itu menghentikan langkahnya dan berpaling, ia berucap “Kamu boleh menemuinya”, yang kemudian dia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan tempat ini.
Aku pun segera bergegas menemui Ethan, hingga aku lupa mengetok pintu. Aku langsung masuk begitu saja, dan melihat Ethan bersama sekretarisnya. Aku pun terdiam, dan langsung memalingkan diri.
Namun, Ethan sempat memanggilku.
“Aresha!” panggilnya padaku, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku bergegas keluar dan menunggunya di lobby.
“Hah, dia sibuk dan baik- baik saja. Kenapa aku harus se-khawatir ini? Bodoh!” gumanku pada diriku sendiri.
Tidak lama kemudian Ethan datang bersama sekretarisnya. Ethan mendekatiku dan duduk di sampingku.
__ADS_1
“Yah, maaf sudah membuatmu lama menunggu. Tapi aku punya pekerjaan yang harus kuselesaikan. Apakah kamu mengkhawatirkanku?”
Aku tersenyum manis, dan melihat dirinya. Dalam senyuman ini aku memang mengkhawatirkannya tapi setelah melihat kondisi yang sebenarnya aku ingin sekali memukulnya, dia benar- benar membuatku kesal.
“Ya, aku mengerti. Bagaimana kalau kita makan- makan dulu? Aku belum sarapan pagi!” ucap Ethan.
“Yah, tapi maaf aku sangat sibuk. Aku harus pergi, maaf ya aku tidak bisa menepati janjiku!”
“Aaa... kenapa?” ucapnya kaget.
“Coba kamu perhatikan apakah ada yang aneh di antara kita? Siapa yang berbohong di antara kita? Hah, sial! Seharusnya aku memang tidak berlebihan mengkhawatikanmu. Ethan, aku pergi dulu. Nanti sore aku akan datang lagi kemari”
“Kamu mau kemana? Bukankah kamu sudah berjanji akan merawatku?”
“Ya benar, tapi aku kecewa padamu!”
Ethan terkejut mendengar ucapan itu, ia tidak menyangka gadis ini kecewa padanya. Ia pun mulai mengoreksi diri apakah kebohongannya telah terbongkar.
“Apa yang membuatmu kecewa padaku?”
“Kau lihat tempat ini dan luka di lehermu?”
“Lalu?”
“Aku rasa kamu tidak perlu aku, aku lebih baik pulang. Aku harus mempersiapkan diri untuk sebuah acara yang tidak begitu penting. Kamu sendiri harusnya begitu kan? Ya, aku rasa lukamu juga tidak terlalu serius jadi aku boleh pergi kan?”
“Oh, jadi begitu!”
__ADS_1
“Apa?”
“Kamu pikir karna aku tidak ke rumah sakit, kamu menganggap lukaku tidak serius?”
“Hah, akhirnya kamu sadar juga! Tapi jangan pedulikan itu, aku senang kamu membawaku jalan- jalan hari ini. Aku pulang dulu untuk membuat obat yang lebih baik untukmu. Kita akan bertemu lagi nanti”
“Oh begitu, ya baiklah. Kapan kamu akan kembali?”
Ethan terkejut mendengar ucapan itu, ia tidak menyangka gadis ini kecewa padanya. Ia pun mulai mengoreksi diri apakah kebohongannya telah terbongkar.
“Apa yang membuatmu kecewa padaku?”
“Kau lihat tempat ini dan luka di lehermu?”
“Lalu?”
“Aku rasa kamu tidak perlu aku, aku lebih baik pulang. Aku harus mempersiapkan diri untuk sebuah acara yang tidak begitu penting. Kamu sendiri harusnya begitu kan? Ya, aku rasa lukamu juga tidak terlalu serius jadi aku boleh pergi kan?”
“Oh, jadi begitu!”
“Apa?”
“Kamu pikir karna aku tidak ke rumah sakit, kamu menganggap lukaku tidak serius?”
“Hah, akhirnya kamu sadar juga! Tapi jangan pedulikan itu, aku senang kamu membawaku jalan- jalan hari ini. Aku pulang dulu untuk membuat obat yang lebih baik untukmu. Kita akan bertemu lagi nanti”
“Oh begitu, ya baiklah. Kapan kamu akan kembali?”
__ADS_1
“Sore nanti, aku harus membeli beberapa bahannya lalu membuatnya. Itu perlu konsentrasi yang tinggi. Jangan khawatir, aku tidak akan gagal membuat obatnya untukmu. Oh ya, aku membawa cermin. Kupikir akan kamu perlukan untuk melihat lukamu. Kata dokter kamu jangan lupa ganti perbannya. Oke?” ucapku sembari memberikan cermin kecil padanya.