
Ethan yang mendapat tatapan tajam itu melangkah mundur, ia tidak mau mencari masalah dengan vampir perempuan seperti Violin ini. Ethan tahu jika ia mencari masalah dengan Violin, tidak akan ada lagi kata maaf. Violin akan menghabisi dirinya berkeling- keping.
“Ya tidak juga, bukan pacar!” jawab Ethan ragu- ragu.
“Ah, ya ampun! Dari wajahmu itu sudah terlihat bahwa kamu akan menyerah. Memang gadis mana yang kamu dekati?” tanya Violin terus memandingi pria itu hingga ia setengah ketakutan.
“A...aku pergi dulu ya? Sampai jumpa lagi!” jawab Ethan mengakhiri perbincangan.
Kepergian Ethan tanpa menjawab pertanyaan Violin, telah membuat gadis itu terus memperhatikan tiap langkahnya. Roman pun berdiri di samping Violin sembari meletakan tangan di pundak gadis itu.
“Dia tidak akan pernah berubah. Apakah dia akan tetap sama? Aku harap dia tidak akan memusuhi klan vampir atau klan lainnya” harap Violin.
“Ya tentu, tetapi itu mungkin berpengaruh pada masa lalunya. Pangeran tak di akui itu menjalani kehidupan yang sulit. Kudengar dia dulu pernah memiliki seorang istri yang dijodohkan dengannya. Lalu mereka terpisah, dan tak pernah bertemu lagi.”
Mendengar ucapan Roman, Violin terkejut. Ia baru mengetahui jikalau Ethan dulu pernah memiliki seorang istri dan sekarang mereka telah dipisahkan oleh waktu. Violin mengerti bagaimana perasaan pria itu sekarang, perasaannya sama seperti perasaan dirinya dulu. Perasaan yang hancur berkeping- keping akan penghianatan, hanya saja Ethan bukan lah pria yang di khianati oleh kekasihnya tetapi terpisah oleh sesuatu yang lain.
“Lalu kemana istrinya pergi?” tanya Violin.
“Aku tidak tahu, tidak ada jejak ditinggalkan oleh istrinya. Mungkin istrinya tidak tahu akan ada kehidupan yang abadi atau kegelapan”
__ADS_1
“Apa Ethan mencoba mencari pengantinya?”
“Ya mungkin saja, tetapi tidak ada kehidupan yang sempurna selain bersama orang yang kita cintai saat kita masih menjadi manusia. Dan, bukan seperti ini.”
Akademi Yexiao, gedung asrama.
Kamar nomor 25, kamar yang berhias sederhana dan hanya ada satu tanaman disini. Pohon kecil yang memiliki banyak daun namun tak kunjung berbuah atau berbunga.
Kini kamar ini pun sepi, tidak ada lagi pengganggu dan Xia belum kunjung juga kembali. Ya mungkin ada sesuatu yang harus dia selesaikan disana.
Aku pun berjalan mendekati jendela, dan melihat mendangan luar dari sini.
Tiba- tiba saat aku memikirkan Ethan, seseorang muncul di kaca. Seorang perempuan mengenakan mantel warna putih.
Ia berucap, “Nona muda, Lady Dandelion sudah melakukan tugasnya. Gadis itu menyetujui tugasnya.”
Aku yang mendengar itu tersenyum manis, dan menjawab “Bagus, aku ingin kamu bereskan sisanya. Kita hanya perlu sedikit menarik perhatian.”
__ADS_1
“Baik, nona muda. Saya undur diri!”
Perempuan di dalam kaca itu pun menghilang, ia pergi seiring senyumku memudar.
Sisi lain tempat, Buniv.
Gedung Vampire Akademy ( VA) berdiri megah, dengan pengawas baru yang menarik. Kini pengawas VA, beranggotakan Erega, Eren, Steven, Netta, dan anggota baru lainnya. Keadaan VA jauh lebih baik.
Sekarang adalah waktunya anggota VA berkumpul. Mereka semua di kumpulkan atas dasar penggilan Jim Wa.
Seorang pria tak pernah tua itu tersenyum manis, kedatangannya di sambut oleh semua orang di VA. Kedatangannya di temani oleh istrinya, Martha.
“Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah datang dan berkumpul. Baiklah saya tidak mau berbelit- belit. Sebentar lagi adalah hari ujian ability magie yang akan diadakan di Glasland. Saya ingin kalian semua mengawasi anak- anak dari Buniv selama mereka mengikuti ujian ability magie. Kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi saat ujian nanti, jadi tetaplah waspada. Erega akan mengatur formasi barisan kalian untuk menjaga keamanan. Baiklah, hanya itu yang saya sampaikan. Bubarkan!”
Erega pun menjawab, “Baik! Baiklah semua, dengarkan saya! Kita akan membentuk formasi....” jelasnya pada seluruh anggotanya.
Setelah memberi arahan, Jimwa dan istrinya kembali ke ruang kerjanya. Saat itu lah Alecia yang beri misi melihat kedatangan Jimwa dan Martha. Ini lah saatnya Alecia beraksi.
Jimwa dan Martha masuk ke ruang kerja, Martha menutup pintunya lagi dan Jimwa segera duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
“Sampai kapan terus seperti ini?” ucap Martha.
“Apa maksudmu?” tanya Jimwa sembari membuka berkas kerjanya.