
Terlihat dari luar jendela bus, matahari akan tenggelam beberapa menit lagi. Angin dingin pun mulai datang disertai kegelapan yang mengerikan dari dalam hutan. Bulan pun mulia terlihat. Untung saja bus ini telah tiba di hutan flower. Aku pun segera turun dari bus, tapi sang sopir berucap padaku.
“Nona, apakah Anda hendak masuk ke hutan itu?”
“Ya Pak, ada apa?”
“Nona sebaiknya hati-hati jika masuk ke hutan itu. Saya dengar ada makhluk mistis disana”,
“Ya Pak, terima kasih telah memperingatkan saya. Tapi saya harus menemui teman saya disana”,
“Temanmu? Sebaiknya kamu cepat menemui temanmu sebelum malam tiba”
“Terima kasih Pak!”
Sopir bus pun segera pergi setelah ia memperhatikan matahari yang beberapa menit lagi akan tenggelam, ia harus meninggalkan jalan hutan ini demi keselamatan penumpangnya.
Bus berlalu pergi, aku pun berjalan masuk ke hutan Flower. Sambil berjalan aku mengambil handphone dan senter dalam tas. Lalu memasukan handphone dalam saku jaket dan memegang senter.
“Ya Tuhan, sekarang aku harus pergi ke arah mana?”gumanku
Terdengar dari arah belakang suara mobil, entah siapa pengemudinya hingga kedatangannya membuat langkahku terhenti. Mobil itu pun berhenti tepat di depanku. Pengemudinya keluar dari mobil, terlihat lah sekarang pengemudi mobil itu begitu pintunya di buka. Ia tak lain adalah Roman.
“Astaga, sedang apa ia disini?”gumanku dalam hati.
“Hem, halo nona cantik. Sedang apa disini? Apa kamu sedang mencari pengalaman untuk blogmu? Adena!”ucapnya
“Ah yang sebenarnya, aku menulis di blog tak perlu datang kemari. Kamu sendiri sedang apa disini? Mengikutiku?”
Roman menolak mentah ucapan Violin, “Hah, aku mengikutimu? Yang benar saja! Aku kemari untuk ke vila. Mau ikut?”
“Vila? Tunggu sebentar” aku mulai mencek handphone, melihat lokasi handphone Gisel dan Hani. Kuperhatikan jelas bahwa ponsel mereka memang berada di vila. “Oh tentu saja, aku akan ikut denganm dengan senang hati”kataku sambil tersenyum.
Roman pun membuka pintu dengan mobil, “Silahkan masuk nona cantik!”
“Terima kasih”jawabku.
Roman segera memutar, lalu masuk ke mobil. Ia mulai mengemudikan mobil menuju vila dimana pelacak menunjukan lokasi kedua sahabatku.
Sambil mengemudikan mobil, Roman berucap “Kamu sedang apa disini? Disini bahaya tau, apa lagi gadis sepertimu!”
“Memang ada masalah apa dengan gadis sepertiku di tempat seperti ini?”,
“Hah, bagaimana kalau ada seorang pria yang macam-macam denganmu? Apa kamu bisa membela dirimu? Lihat tempat ini, sepi dan tak ada seorang pun yang akan menolongmu disaat seperti itu”,
“Oh, benar. Kamu perhatian sekali padaku, tapi jangan khawatir. Aku kemari karena dua sahabatku ada di vila itu. Aku mengkhawatirkan mereka”,
Roman mulai berpikir keadaan akan bertambah kacau setiba disana jika Violin melihat dua sahabatnya dalam tradisi gadis bunga mawar. Roman pun dengan terpaksa mengalihkan tujuannya agar Violin membatalkan niatnya ke vila itu.
“Violin, bagaimana kalau kamu pulang saja. Aku antar kamu pulang, lalu aku akan menemui temanmu itu dan meminta mereka menghubungimu”,
“Apa? Aku sudah pergi sejauh ini dan kamu memintaku pulang? Roman, bagaimana pun juga sekarang aku harus bertemu dengan dua temanku. Jadi jangan menghalangiku!”
“Aku tidak menghalangimu sedikit pun, aku hanya tidak ingin kamu terluka nanti. Jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana aku harus mempertanggungjawabkannya pada ibumu?”
“Katakan saja aku yang ceroboh apa sulitnya? Hentikan saja mobil ini disini. Hentikan Roman!”
Roman segera menghentikan mobilnya, “Kamu mau kemana? Sebentar lagi malam, bahaya diluar. Ikut saja denganku!”
Aku tetap bersikeras untuk keluar dari mobil ini, jelas sudah bahwa Roman telah menghalangiku untuk menemui dua sahabatku. Aku yakin sesuatu telah terjadi pada dua sahabatku hingga Roman menutupi yang sebenarnya dariku.
“Aku pergi kemana pun bukan urusanmu, karna kamu bukan siapa-siapa aku”ucapku dengan nada tinggi, segera keluar dari mobil dan berjalan terus.
Roman memperhatikan Violin dari jauh akhirnya menyusulnya juga.
“Violin, maafkan aku. Aku tak bermaksud menghalangimu”,
Diriku tak menghiraukan ucapannya, hingga sepanjang perjalanan ia terus berusaha memperbaiki keadaan.
“Violin, dengarkan aku. Aku hanya tidak mau kamu terluka nanti. Aku tidak mau kamu bersedih. Temanmu itu baik-baik saja disana”, “Ayolah Violin dengarkan aku! Berhenti…berhenti Violin!”,
Hingga akhirnya Roman pergi lebih dulu karna aku tak peduli dengan ucapannya lagi. Tapi siapa sangka pria itu tidak akan menyerah karna aku tak peduli dengan ucapannya. Roman menghalangi jalanku menuju vila, ia menghalangi jalanku dengan mobilnya. Pria itu berdiri di depan pintu mobilnya kini, sambil melihat diriku yang tak peduli dengannya.
“Roman, jangan halangi langkahku!”ucapku dengan nada tinggi.
“Aku harus bagaimana lagi menyikapimu, aku tidak ingin kamu terluka”jawabnya mengeluarkan air mata yang tidak sengaja jatuh ke pipi.
Aku pun kaget, apa aku baru saja melihat pria itu menangis memohon padaku agar aku tak pergi ke vila menemui dua sahabatku? Ini sungguh kejadian langka menurutku, ada pria menangis di depan seorang gadis yang menurutku tak patut diperjuangkan. Mendekati Roman, dan menghapus air matanya yang jatuh dengan kedua tanganku.
“Apa yang terjadi Roman? Katakan padaku!”
Entah apa yang terjadi padanya, ia memeluk erat diriku.
__ADS_1
Memeluk erat dan berbisik padaku, “Bagaimana aku mengatakannya padamu? Aku tidak ingin kamu terluka”,
“Lepaskan aku, Roman! Katakan padaku yang sebenarnya, apa yang telah terjadi pada dua sahabatku?”
Roman melepaskan pelukan, ia memandangiku seolah-olah melihat seorang gadis yang dicintai akan segera pergi meninggalkannya. Matanya berbinar-binar, wajahnya mendadak imut. Wajah tampannya membuatku ingin menghajarnya karna dia kembali mengecoh diriku.
“Roman, berhentilah menatapku seperti itu. Cepat katakan padaku apa yang terjadi?”bentakku
“Baiklah, kita masuk ke mobil sekarang ya?”
“Tidak mau, katakan disini saja!”
“Baiklah, tapi kamu jangan marah padaku ya? Aku tidak bisa jauh darimu, Violin”,
“Ah, hentikan gombalan anehmu! Katakan cepat!”
“Dua temanmu sedang mengikuti tradisi gadis bunga mawar”,
“Tradisi gadis bunga mawar? Maksudmu?”
“Ya tradisi itu disebut juga dengan rosas de nena. Tradisi memikat pengantin wanita untuk selalu bersama pengantin pria selamanya”,
“Maksudmu mereka akan menikah diam-diam?”
“Bukan hanya menikah tapi kamu juga akan kehilangan mereka, dua sahabatmu tak akan lagi seperti dulu. Mereka akan benar-benar berubah dan mengikuti kemana pun kekasih mereka pergi. Tradisi itu….pernikahan antara vampire dan manusia. Karna itu aku tak ingin kamu pergi kesana! Aku tidak ingin kamu terluka”
“Tapi mereka sahabatku, aku harus menyelamatkan mereka”,
“Untuk apa? Bukankah mereka saling mencintai?”
“Gisel dan Hani, adalah gadis polos yang tidak tahu soal vampire seperti temanmu itu. Mereka tak menyadarinya jadi aku harus menyelamatkan mereka”
“Baiklah jika itu maumu, aku hanya akan memberi rencana ini. Kita harus lakukan ini bersamaan”ucap Roman yang kemudian membisikan rencana ke telingaku.
***
Cahaya bulan mulai menerangi hutan, hanya sebagian saja yang dapat di tembus oleh cahaya bulan. Aku pun mulai menunggu kedatangan seseorang di hutan ini dengan berbekal senter. Aku telah siap untuk ancang-ancang lari menyematkan diri dari kejaran vampire.
***
Roman datang ke vila dengan mobilnya, ia segera merapikan diri dan turun dari mobil. Berjalan menghampiri teman-temannya. Semua orang berkumpul. Para vampire mulai berkumpul menyaksikan tradisi gadis bunga mawar.
Akira dan Eren mulai mengajak kekasih mereka menuju sebuah meja dan kursi yang di siapkan. Sebuah tempat yang telah disiapkan dengan indah. Kain yang menutup mata Gisel dan Hani mulai di buka. Mereka kaget dan kagum dengan tempat yang telah disiapkan ini.
“Gisel, bersediakah kamu menerima Eren sebagai kekasihmu seumur hidupmu. Ia akan menjadi pasangan vampire untukmu”tanya Netta
“Ya, aku bersedia”jawab Gisel
“Eren, bersediakah kamu menjaga Gisel seumur hidupmu sebagai pasangan vampire?”tanya Netta
“Ya, aku bersedia menjaga Gisel seumur hidupku”jawab Eren,
Kemudian mereka saling memasangkan cincin di jari manis satu sama lain.
Lalu pasangan Hani dan Akira.
“Hani, bersediakah kamu menerima Akira sebagai kekasihmu seumur hidupmu. Ia akan menjadi pasangan vampire untukmu”tanya Steven
“Ya, aku bersedia”jawab Hani
“Akira, bersediakah kamu menjaga Hani seumur hidupmu sebagai pasangan vampire?”tanya Steven
“Ya, aku bersedia menjaga Hani seumur hidupku”jawab Akira,
Kemudian mereka saling memasangkan cincin di jari manis satu sama lain. Mereka saling memeluk kekasih mereka. Lalu Netta memberikan minuman kepada Hani dan Gisel. Mereka mulai minum minuman bewarna merah dengan aroma yang sedikit amis dan rasa yang aneh.
“Minuman apa ini?”tanya Hani
“Minum saja, minuman ini adalah minumn special untuk kalian”jawab Akira
Hani dan Gisel menghabiskan segelas minuman, lalu Steven berucap “Dalam sebuah permainan, dalam tradisi gadis bunga mawar. Dimana pengantin wanitanya harus berlari menghindari pengantin pria. Dalam hal ini jika pengantin wanita tertangkap ia akan mengikuti kemana pun pengantin pria pergi meski tak akan bertemu dengan keluarganya lagi. Dan, sebaiknya mulai dari sekarang kalian berdua berlari menjauh dari Eren dan Akira”,
“Kenapa?”tanya Gisel
“Karna kami akan mulai menyakiti kalian”jawab Eren.
Hani dan Gisel mulai mengambil ancang-ancang setelah suasana terasa berubah. Suasana yang indah kini berubah mencengkam. Hani dan Gisel mulai berlari menuju hutan. Mereka tak tahu harus kemana. Mereka berlari bukan karna ucapan Steven tapi wajah kedua kekasih mereka berubah menjadi pria yang siap membunuh mereka.
Dengan tertatih-tatih Hani dan Gisel berlari, gaun yang mereka kenakan sobek akibat terkait dengan ranting kayu. Gisel terjatuh, dan lututnya tergores. Hani yang berlari lebih dulu berhenti, dan segera berpaling. Ia segera mendekati Gisel, menolongnya.
“Kau baik-baik saja?”tanya Hani
__ADS_1
“Ya hanya luka kecil”
“Masih bisa berjalan?”
“Ya”,
“Kalau begitu ayo kita pergi, jangan sampai mereka menemukan kita”
“Ya, aku tidak menyangka akan berakhir begini. Aku menyesal, karena telah menghiraukan perkataan Violin”
“Aku juga, tapi ini bukan waktunya”
Hani dan Gisel kembali berlari sekuat tenaga mereka. Mereka harus keluar dari hutan ini dan pergi bersembunyi.
***
Cahaya bulan masih bersinar tanpa awan, bintang masih menerangi. Malam yang seharusnya romantic harus berubah menjadi menakutkan. Hani dan Gisel berlari ketakutan, ya itulah yang dirasakan Akira dan Eren. Begitu mereka telah terasa berlari jauh, dua pria ini mulai mengejar mereka. Penglihatan dan penciuman yang tajam menjadi jalan satu-satunya menemukan gadis mereka. Malam mencengkam.
Dalam kegelapan aku bersembunyi untuk tidak dilihat oleh cahaya bulan malam ini. Dari kejauhan telah terdengar suara langkah kaki diiringi suara lelah dua orang yang berlari.
“Ayo cepat!”ucap Hani
“Kita harus kemana? Mereka dapat dengan mudah menemukan kita, mereka vampire!”jawab Gisel
Kunyalakan sintarku, dan mencari sumber suara mereka.
“Gisel, Hani. Ini aku, Violin. Keluarlah, aku datang untuk menemui kalian”ucapku.
Dari balik pohon dua sahabatku keluar, segera kudekati mereka. Wajah kedua sahabatku penuh kesedihan, sesal, keringat yang berkucuran dan air mata.
“Violin, aku…aku sungguh minta maaf”
“Maafkan kami, Violin. Seharusnya kami mendengarkanmu”
“Sudahlah, kita sahabat. Jadi tak perlu minta maaf, sekarang ayo kita pergi!”ajakku
“Tapi, Akira dan Eren akan menemukan kami. Kami harus sembunyi”
“Akira dan Eren? Ada apa dengan mereka?”
Belum terjawab, suara angin dengan cepat berhembus. Aura kegelapan dan perasaan buruk datang menghampiri. Langkah kegelapan itu perlahan semakin mendekat.
“Ayo lari, kita akan pergi. Dan….maafkan aku. Hanya ini jalan satu-satunya. Nanti kujelaskan!”ucapku tersenyum manis sambil membuka buku di tanganku. Buku ini terbuka dengan bantuan cahaya bulan yang sedikit masuk ke sini. Begitu buku terbuka, dalam sekejab cahaya keluar lalu menarik temanku masuk ke dalam buku dan buku mulai tertutup kembali.
“Baiklah, kita lihat siapa kali ini yang berhasil menemukan ketiga gadis ini”gumanku sambil tersenyum. Kumulai memasukan buku ke dalam tas. Setelah itu aku mulai berlari dengan berbekal sintar yang menerangi jalanku. Aku tak akan mengengok sedikitpun kebelakang, tak akan pernah dan akan terus berlari hingga keluar dari hutan ini lalu menuju kota.
Namun angin dengan aura kegelapan terus mengikutiku dari belakang, lalu angin itu medahului langkahku. Kini ia ada didepan. Mereka ada di atas pohon dengan mata merah dan taring yang siap menghisap darah mangsanya.
Mereka dapat melihatku dari sini, dalam kegelapan. Aku pun membelokkan langkahku, menjauh dari mereka dan terus berlari.
Memasuki rimbunan ilalang yang tumbuh subur yang diterangi oleh cahaya bulan. Kusembunyikan diriku disini, merunduk dan berjalan terus ke depan. Aku merasakan angin itu kembali mendahuluiku. Aku pun mulai berdiri dan melihat disekitarku dengan senter. Tidak ada siapa-siapa disini kecuali aku, cahaya senter menyorot kegelapan dan lagi tak ada siapapun. Namun dalam kegelapan itulah aku merasa mereka ada dan menghindari sorotan cahaya senter ini.
Kukembali berlari keluar dari rimbunan ilalang, langkahku terhenti ketika melihat tak ada ilalang lagi di depanku. Sebuah hamparan bunga dandelion yang tumbuh subur mulai menghiasi tempat ini, dan tentu tempat ini mudah dilihat oleh vampire. Aku akan jadi sasaran empuk begitu melewati tempat ini.
Kuberanikan diriku untuk mengambil risiko itu, ya aku harus lakukan itu demi dua sahabatku. Begitu keluar dari rimbunan ilalang keadaan terasa aman, namun tidak begitu jauh dari sana. Eren dan Akira mulai terlihat. Mereka berlari dengan cepat, lalu berhenti tepat di dekatku yang membuatku kaget dan panik. Namun kusembunyikan semua rasa panik diriku untuk tidak takut.
Akira tersenyum manis memperlihatkan mata merah itu padaku, lalu tersenyum manis berucap “Hallo, Violin. Sedang apa kamu disini?”
Dengan sedikit gugup aku menjawab sambil melangkah mundur menjauh dari mereka, “Aku sedang jalan-jalan.”
“Benarkah? Sendirian?”tanya Eren dengan memperlihatkan taring panjang yang bertanda tak main-main untuk menghabisiku.
“Ya, benar”jawabku kembali melangkah mundur. Namun dua pria ini tak legah sedikit pun, mereka berjalan cepat hingga terus ada di dekatku.
Akira dan Eren bersamaan mencium aroma tubuhnya, lalu mereka menggunakan kekuatan mereka untuk melihat diriku beberapa menit yang lalu. Mereka melihat hal yang sebenarnya terjadi, dan seketika itu juga aku berlari menjauh dari mereka.
Hal yang sebenarnya dilihat oleh mereka adalah aku yang menyembunyikan dua sahabatku dalam sebuah buku hingga membuat Eren dan Akira tersenyum manis.
“Jadi buku itu? Berikan saja pada kami”ucap Akira
“Kau seorang penyihir ya? Jadi benar ucapan itu, kau tetap sama seperti dulu”kata Eren
“Aku bukan penyihir, jadi menjauhlah dariku dan jangan harap aku akan memberikan buku ini pada kalian berdua”jawabku
“Baiklah, tidak masalah. Tapi kami akan melakukan kekerasan jika kamu tak memberikan buku itu pada kami”,
“Benarkah? Vampire lemah keturunan hybrid!”ejekku.
Sorot mata merah Akira menajam, seolah-olah dia tidak menerima ejekan itu. Ia menyadari bahwa ejekannya benar. Vampir lemah yang menjadi kuat dengan keturunan hybrid penuh masa lalu yang suram.
“Apa aku terlihat lemah?”tanya Akira, “Sekarang yang kulihat yang lemah itu adalah manusia di depanku ini”ucapnya lagi.
__ADS_1
“Kupikir begitu”jawabku tersenyum berupaya mengejeknya.