
Kuhabiskan waktuku bersama Aira, setelah berendam di kolam. Naik ketepian dan mengenakan pakaian. Keluar dari air terjun bersamanya. Lalu kembali ke istana, makan malam bersamanya. Tapi
entah mengapa aku teringat dengan Tagao.
Ketika cahaya bulan datang mengantikan matahari, aku tak lagi bersama suamiku itu. Dia sibuk dalam ruang
kerjanya bersama para penyihir dan wolf. Entah apa yang mereka bicarakan tapi aku mengetahui jika penyihir telah menghianatiku. Kubaringkan tubuhku dikasur empuk, melihat langit-langit yang tak lama kemudian tertidur.
***
Di ruang kerja, Aira sedang
mengadakan rapat. Duduk di kursi sambil melihat ke depan. Salah satu penyihir
berucap“ Aira, kami sangat senang atas kemenangan ini. Lihat lah kekuasan ini
begitu besar”.
“ Bukankah
ini impian kita dulu, impian para wolf dan penyihir” jawab Aira.
“ Ada kabar
buruk tuanku, Tagao menyerang beberapa wilayah kita bersama pasukannya mereka
akan merebut tempat ini”
“ Jika
begitu persiapkan diri kalian untuk kembali berperang, serang mereka diam-diam
dimalam hari ketika mereka semua tertidur. Bunuh Tagao, aku tak ingin melihat
dirinya lagi. Dan aku tidak ingin istriku berpaling dariku hanya kerena melihat
vampire itu”
“ Baik
tuanku”
Kemudian
Aira berjalan keluar ruang kerja, dan mereka juga kembali ketempat
masing-masing. Aira melangkah masuk kekamar, melihat istrinya telah tertidur
dengan pulas. Berbaring disamping, mengarahkan tubuh ke arah Aresha tidur.
Mengelus-elus rambut Aresha.
***
Aku merasa ada seseorang mengelus
rambutku, kubuka mataku dan melihat Aira disamping. “ Sayang, kamu sudah
selesai…..”ucapku.
“ Sudah,
kamu tertidur menungguku ya?”
“ Ya, dan
aku merasa sangat lelah. Kamu mau tidur?”
“ Ya”
“ Ayo
berbaringlah, mendekatlah”, kupeluk erat tubuhnya dan memejamkan mata.
Sebenarnya perasaanku sangat berat menerima Aira menjadi suamiku. Bukan hanya
karena dia sama seperti Tagao tapi dia lebih dari Tagao. Awalnya aku
menerimanya tapi setelah mengetahui dia lebih dari Tagao, hatiku mulai terasa
sakit. Dia tak pernah cerita padaku atas apa yang dia lakukan. Hingga malam
semakin larut, barulah diriku benar-benar tertidur.
***
Tagao kembali menyerang dimalam hari
bersama pasukannya. Tagao berhasil mengambil alih kekuasaan Aira, wilayah peri
dan vampire. Kini Tagao hanya perlu merencanakan rencana besar untuk menyerang
dan merebut kembali wilayahnya dari wolf dan penyihir. Dalam terangnya sinar
bulan, vampire semakin berkuasa dan haus darah. Usai menyerang, Tagao kembali
mencari mangsa. Tagao seperti musuh dalam selimut manusia dimalam hari.
***
__ADS_1
Berjalan ditaman sendirian,
menghirup segarnya angin pagi. Embun pagi masih membasahi bunga-bunga di taman
bahkan bangku pun masih basah. “ Kamu sekarang dimana? Apa kamu masih ada?
Sebenarnya aku membencimu tapi aku tak bisa melupakanmu. Semoga kamu baik-baik
saja ya” ucapku.
Sementara itu Aira berada di
singgasana.
“ Tuan,
Tagao telah merebut wilayah peri dan vampire. Kita harus cepat bergerak”
“ Dia sudah
berani rupanya, kirimkan dia pesan untuk menyerahkan tahtanya padaku jika tidak
dia akan menangung akibatnya. Aku harap dia segera membalas pesan ini”
“ Baik
tuanku”. Kemudian surat itu ditulis dan dikirimkan melalui burung hantu.
***
Diriku tak sengaja melihat burung
hantu terbang membawa pesan, “ Ini kesempatan baik untukku” gumanku segera
pergi meninggalkan istana menyusul kepergian burung hantu itu. Aku terus
berlari hingga masuk ke hutan. Langkahku terhenti ketika gaun yang aku kenakan
tersangkut kayu, kulihat burung hantu semakin terbang jauh. Kutarik-tarik
hingga sobek, kini aku bisa kembali berlari tapi sayang aku telah kehilangan
jejak burung hantu. “ Hah….sial! Sekarang kemana aku harus pergi? Tapi alangkah
baiknya jika aku menyingkirkan penyihir jahat itu lebih dulu” gumanku. Lalu
kupejamkan mata dan berucap “ Dengarlah bumi dan langit, aku Putri Aresha. Aku
mengutuk para penyihir yang sudah berkhianat, mereka tak akan memiliki kekuatan
apapun, mereka yang berkhianat dan membantu wolf”. Langit mulai menghitam,
Jangan harap kalian sepas dari kutukan ini, kalian tak akan memiliki apapun
lagi” ucapku.
Seperti badai akan datang yang
mereka lihat di istana. Para penyihir mulai ketakutan namun wolf tidak. Melihat
para penyihir ketakutan dan bersembunyi, Aira bertanya “ Ada apa? Mengapa
kalian takut dengan badai itu?”.
“ Tuan, itu
bukan badai melainkan kutukan untuk kami. Kalian melihatnya adalah badai tapi
kami melihatnya adalah moster besar yang akan menelan kami hidup-hidup”
“ Tenanglah,
pasukanku akan melindungi kalian. Hey, kalian ayo cepat lindungi para penyihir
kita” perintah Aira. Dengan cepat pasukannya melindungi para penyihir dengan
senjata dan keberanian. Ketika badai itu datang dan tepat di atas kepala. Para
penyihir semakin ketakutan, beberapa menit kemudian badai itu pergi dan
menghilang tanpa melukai siapapun.
“ Kalian
semua baik-baik saja?” tanya Aira.
“ Ya baik
tuanku!” jawab para penyihir serentak.
***
Kulihat dari kejauhan badai itu
telah melewati istana tempat wolf dan penyihir penghianat itu berada. “ Kalian
semua akan sangat baik setelah badai itu menghilang dan jadilah santapan para
vampire. Bukankah itu awal yang bagus?” ucapku. Kemudian aku kembali berjalan
__ADS_1
ke istana. Dalam setiap langkahku, pikiranku kembali pada Tagao. “ Uh, kamu
dimana? Apa yang terjadi padamu? Kupikir kamu adalah pria yang buruk tapi
ternyata ada yang lebih buruk lagi sifatnya padaku. Semoga saja kamu kembali
merebut kekuasaanmu ini. Aku tak sanggup jika kekuasaan ini jatuh di tangan Aira,
kasihan rakyat harus mengorbankan ternaknya untuk wolf dan anak mereka untuk
penyihir”.
Setiba di istana aku disambut oleh
suamiku, dia nampak mencemaskan diriku yang pergi tanpa pamit padanya.
“ Kamu pergi
kemana saja, sayang?”
“ Aira,
maafkan aku pergi tanpa pamit denganmu apa lagi aku tak mengajakmu. Aku hanya
ingin jalan sendirian, aku pergi ke sungai”
“ Sayang,
kamu tak boleh pergi sendirian. Apa lagi perginya ke sungai, itu berbahaya.
Bagaimana kalau kamu jatuh dan tenggelam. Aku tak mau kehilangan kamu”
“ Ya baiklah
lain kali aku juga akan mengajak kamu, aku mau bicara sama kamu tapi tidak
ditempat ini”, lalu aku berjalan bersama Aira masuk kekamar. Kututup pintunya
lalu duduk dikasur.
“ Aira,
bisakah kamu berhenti mengorbankan anak kecil untuk persembahan pada penyihir?
Kamu seorang raja, kamu harus membuat rakyat merasa aman, tentram dan sejahtera
bukan sebaliknya”
“ Aku memang
seorang raja, apapun yang aku inginkan akan selalu dituruti oleh mereka”
“ Tapi bukan
raja yang selalu menuruti keinginannya sendiri”
***
Di istana peri, Tagao sedang melihat
jauh wilayahnya kadang juga melihat ke langit. Matahari semakin menenggelamkan
dirinya dan kegelapan datang. “ Aku akan segera datang Aresha, aku akan
membawamu kembali padaku dan menyingkirkan wolf. Ya semua wolf dan penyihir itu
secepatnya” ucap Tagao. Di luar istana para vampire berlarian mencari mangsa
dikegelapan, siap menyerang siapa saja. Tiba-tiba burung hantu menjatuhkan
surat tepat di depan Tagao, lalu terbang jauh. Tagao mengambil surat dan
membacanya. “ Aku tidak mau menyakiti siapapun dan tak mau sampai ada korban
jatuh. Jadi dengan ramah hati aku memberikan kesempatan untukmu, untuk
menyerahkan wilayahmu padaku. Jika tidak, berarti kamu telah memilih perang
denganku. Aku harap kamu segera membalas pesan ini segera, jika lambat jangan
salahkan aku jika aku lebih dulu menyerang. Wolf”.
“ Heh, jangan pikir aku akan
menyerahkan begitu saja. Siapa takut untuk perang denganmu, kamu hanya wolf.
Para budak peri dan vampire” ucap Tagao. Lalu Tagao mendekati seorang laki-laki
dan berucap “ Kumpulkan semua pasukan, bersiap-siaplah untuk perang melawan
wolf. Haus darah kalian akan segera berakhir”. Lalu Tagao pergi untuk berburu.
Seorang laki-laki itu mulai mengumpulkan pasukan dan berucap didepan mereka, “
Dengar semuanya, kita akan berperang! Kita akan melawan wolf dan penyihir, jadi
persiapkan diri kita untuk kemenangan”. Kemudian mereka berteriak
sekeras-kerasnya, lalu membubarkan diri kembali mencari mangsa dan menjaga
__ADS_1
wilayah kekuasaan.