Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 54


__ADS_3

Berhenti menangis, dan menjauh dari Roman. Mengambil tas dan mulai berangkat sekolah tanpa peduli lagi dengannya. Sebelum keluar dari rumah, kukenakan syal untuk menutupi luka. Baru saja membuka pintu, aku melihat dua sahabatku datang dengan sepeda mereka.


“Selamat pagi”ucap Gisel,


Tapi aku menghindari mereka, segera mengayuh sepeda tanpa menghiraukan mereka. Mereka nampak tak mengejar.


Begitu Violin jauh, segeralah Gisel dan Hani bergegas mengayuh sepeda menyusul Violin.


Bersepeda dengan santai menuju sekolah, “Lalalala….putri cantik dari reinkarnasi sedang menunggu di taman bunga”ucapku. Mendadak diriku merem sepeda, dua pria telah menghalangi jalanku dengan mobil mereka.


Akira dan Eren berada didepanku sekarang, menghalangi jalanku.


“Apa mau kalian? Bukankah kita tak ada urusan?”ucapku


“Ya kami tahu, tapi kamu punya urusan dengan dua sahabatmu”jawab Akira.


Gisel dan Hani telah tiba di belakangku, mereka segera turun dari sepeda begitu juga denganku.


“Violin, aku….”,


“Bukankah sudah kukatakan aku bukan temanmu”ucapku


“Kumohon dengarkan kami dulu”ucap Hani


“Hah, untuk apa kudengarkan kalian sementara kalian tak pernah mendengarkan ucapanku”,


“Kumohon sekali saja”mohon Gisel


“Apa?”,


“Kami tak jadi vampire, kami manusia. Kita bisa berteman”,


“Karna mereka berdua telah menyegel kekuatan vampire kalian bukan?”


Gisel dan Hani melihat ke arah kedua pacar mereka.


“Ya benar, maafkan kami. Aku tak mau persahabatan kita hancur hanya karena kita berbeda”


“Hani, Gisel. Bukan itu alasan kita berbeda dan aku sebenarnya menerima kalian bagaimana pun keputusan kalian. Tapi ketahuilah kita memang berbeda, dan aku hanya takut akhir cerita kalian sama seperti vampire lainnya”,


“ Apa pun akan kami lakukan demi persahabatan kita kembali”ucap Gisel hampir menangis


“Tidak ada, yang ada hanyalah jangan halangi langkahku. Aku hanya manusia biasa, dan kalian tentu bisa mencari kehidupan lain bersama kekasih kalian. Vampire tidak pernah bisa hidup berdampingan dengan manusia. Vampir adalah moster, dan mereka menyakiti manusia”ucapku segera pergi memutar ke jalan lain menuju sekolah.


***


“Hani, benarkah ia tak marah pada kita?”tanya Gisel


“Aku rasa dia tidak marah, dia benar dan dia hanya takut kehilangan kita. Sebaiknya ke sekolah sekarang”,


“Ayo semuanya!”ajak Gisel.


Mereka semua pun bergegas menuju sekolah. Akira dan Eren hanya mengantar dua pacarnya sampai gerbang sekolah. Setelah itu pergi entah kemana.


***


Siswa siswi HS7 berdatangan ke sekolah. Semua terlihat bahagia, seperti biasa pula Angel membuat kehebohan seisi sekolah. Ia datang bersama Demian dengan mobil mewah.


Diriku baru saja tiba di sekolah melihat Angel dan Demian membuat kehebohan kembali. Tanpa peduli sedikit pun aku bergegas menuju taman sekolah. Ya hanya taman sekolah lah tempatku menghabiskan waktu menunggu atau ruang perpustakaan yang penuh ilmu.


Kedatangan Violin disusul dengan kedatangan Hani dan Gisel.


Angel tidak sengaja melihat Violin bergegas pergi berucap, “Demian, aku rasa mantanmu itu masih cemburu”,

__ADS_1


“Hah, tak mungkin. Ia dekat dengan Roman kecuali ada masalah dengan mereka”jawab Demian.


“Oh begitu, jika itu benar maka ini kesempatan baik untukku”, “Aku akan membuatmu menderita lagi, jadi sebaiknya mulai sekarang jauhi Roman”ucap Angel dalam hati.


Pria yang baru saja dibicarakan telah datang dengan mengendarai mobil, mobil sport mewah yang tak kalah dengan mobil Angel. Setiba di parkir, Roman bergegas mencari Violin. Roman harap Violin baik-baik saja.


***


Taman sekolah,


Duduk di kursi taman sekolah sendirian, memperhatikan bunga-bunga yang sedang bermekaran dan kupu-kupu yang indah nan menawan.


“Hah, ibu kapan akan kembali ya? Aku rindu padanya. Di saat seperti ini, aku teringat pada Hani dan Gisel. Mereka selalu ada di saat seperti ini. Hah, aku aku terlalu berlebihan mengkhawatirkan mereka? Maafkan aku, aku hanya tidak ingin kalian sedih dan menyesal suatu saat nanti”ucapku.


Tiba-tiba dari jauh, Hani berucap sambil berjalan mendekati “Seharusnya kami yang meminta maaf. Kami egois hingga membuatmu terlalu mengkhawatirkan kami. Kami minta maaf, dan kami ingin kamu menjadi sahabat kami”,


“Ya, Violin. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena kita berbeda. Sampai kapan pun dan apapun yang terjadi, kamu tetaplah sahabat kami”sambung Gisel.


Aku berdiri ketika mendengar dan melihat mereka. “Tentu saja kalian masih sahabatku”.


Hani dan Gisel tersenyum manis, dan mereka memeluk erat diriku.


“Jadi kita bersahabat?”,


“Tentu, kita sahabat selamanya”,


Saling tersenyum dan mengikat janji satu sama lain.


“Hem, disini kamu rupanya”ucap Roman yang melihat Violin bersama dua sahabatnya.


Aku yang melihat Roman mendekat mulai bersembunyi di belakang kedua sahabatku.


“Untuk apa kamu kemari? Ah, pergi sana!”usirku


“Apa? Ya ampun sejak kapan kamu jadi fans beratku?”


“Kamu lupa ya, kita sudah janji di taman danau dan kamu tak datang”


Seketika itu wajah dua sahabatku terlihat senang,


“Benarkah itu Roman?”tanya Hani


“Ya tentu saja, aku tidak bohong tanya saja pada Violin”,


“Violin, apa benar kamu janjian sama Roman?”tanya Hani


“Ya, tapi dia bukan fans beratku”


“Hem, kalian mau bicara berdua silahkan. Kami pergi dulu”kata Gisel menarik tangan Hani


“Hey, kalian mau kemana? Jangan tinggalkan aku”kataku segera menyusul tapi tanganku di pegang oleh Roman.


“Jangan khawatir, aku akan menjaganya”ucap Roman


“Ya kami percaya padamu”jawab Hani pergi bersama Gisel.


“Lepaskan tanganku, Roman!”,


“Oh baiklah”jawab Roman melepaskan tanganku.


“Huh, mau apa kesini?”,


“Ini kan juga sekolahku”,

__ADS_1


“Kalau tak ada yang penting aku pergi!”,


“Ya baiklah, aku….”


“Ah sudahlah…”ucapku pergi.


Spontan Roman kembali menarik tanganku, “Apa lagi?”ucapku berpaling melihatnya.


“Aku….”,


“Apa?”


“Aku ingin…..”,


“Apa?”


“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, aku akan pergi berlibur. Maukah kamu ikut denganku? Jarang-jarang loh ada cwok setampan aku mengajak cwek keras kepala sepertimu jalan-jalan!”,


“Apa? Jadi kamu anggap aku keras kepala. Eh dengar ya, pria sepertimu itulah yang tidak aku sukai. Sejak awal kita bertemu, aku sudah membencimu”kataku dengan nada tinggi.


“Membenciku apa suka denganku?”


Aku kaget dan mencoba membantah, “Aku jelas-jelas membencimu, Roman! Apa kurang jelas?”,


Sementara dalam hati berucap, “ Aku menyukaimu tapi bukankah kamu menyukai gadis lain, ah….memang kita ini bukan jodoh”,


“Ya sudah pergi sana, aku tak mau memaksamu juga”ucap Roman sambil memerintahkan lewat tanganya.


Aku pun pergi meninggalkannya, pergi menuju ke ruang kelas.


“Ah, aneh. Gadis itu bilang membenciku tapi hatinya berkata lain. Kalau emang menyukaiku kan tinggal bilang saja”geruntu Roman, “Tapi lumayan juga megang tangannya tadi, tangan yang halus dan lembut, wangi lagi”senyumnya.


***


“Ah, Roman. Dasar pria nyebelin. Emang dia pikir aku keras kepala apa?. Aku cuman khawatir pada sahabatku. Kalau emang dia ngak suka aku, ya sudah pergi aja sendiri liburan. Ngak usah ngajak juga ngak apa-apa. Siapa juga yang mau liburan sama dia. Nyebelin!!”ucapku hingga di dengar oleh Angel.


Violin berlalu dari Angel yang berpura-pura memperhatikan mading.


“Oh jadi ia benar-benar bertengkar dengan Roman. Ini kesempatanku untuk merebut Roman, jadi aku bisa bersamanya liburan romantic. Demian, soal dia gampang. Tinggal bilang putusa, tinggalin dia deh”ucap Angel.


***


Rumah besar bergaya klasik, rumah yang dihuni oleh Ethan.


“Tuan, kami mendengar bahwa ramalannya masih terbuka. Gadis penyihir itu masih hidup. Kami dengar juga percakapan Rasi dan Martha yang telah menjadi manusia biasa. Rasi katakan bahwa gadis penyihir itu hanya pergi, ia masih hidup”,


“Sebaiknya kalian terus mata-matai mereka, jangan sampai kehilangan jejak. Soal gadis itu aku sudah mengetahui siapa yang dapat membawaku menemuinya. Kalian hanya tunggu perintahku untuk membunuh gadis penyihir itu”,


“Baik, Tuan Ethan”


Seorang pria berlari menuju arah Ethan, ia tersumbab ke lantai sebelum tiba dihadapan Ethan.


“Ada apa? Apa yang telah terjadi?”tanya Ethan


“Wolf….Wolf menyerang!” seketika itu juga, pria itu tewas. Tubuhnya telah dipenuhi luka cakaran, serangan dari wolf. Darah membekas di lantai rumah.


“Bereskan dia, minta yang lain mencari tahu apa penyebab wolf menyerang klan kita”,


“Baik, Tuan Ethan”


Kemudian beberapa anak buahnya datang membereskan jasat itu, membersihkan lantai dan melaksanakan perintah Tuan Ethan.


“Wolf, berani-beraninya kamu menyerang klanku tanpa alasan yang kelas. Kami telah berusaha tak menyerang kalian tapi kalian malah menyerang klanku. Aku tak akan membiarkan klan kalian hidup damai sedikit pun”.

__ADS_1


__ADS_2