
Pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, berjalan menuju ruang makan dan melihat Roman telah ada disana asik ngobrol bersama mama. Aku mengambil sepotong roti lalu berangkat ke sekolah tanpa pamit.
“ Violin! Sarapan bersama dulu yuk?”,
Namun aku tidak menjawab dan meneruskan langkahku.
“ Tante, aku berangkat ke sekolah dulu. Nanti terlambat, aku akan menyusul Violin”,
“ Ya terima kasih Roman”,
***
Berjalan menuju halte bus, beberapa saat menunggu Roman datang. Kami berdua menunggu bus. Bus datang dan secepatnya naik. Saat itulah aku melihat Demian bersama Angel berduaan. Hatiku sedih sekali tetapi entah mengapa Roman langsung meletekan tangannya di pundakku. Aku menoleh ke arahnya, Roman hanya tersenyum manis. Lalu Roman mempersilahkanku duduk di dekat jendela, sementara dirinya duduk di sampingku. Bus mulai berjalan.
“Demian mantamu ya?’,
Aku hanya menganggukan kepala,
“Oh begitu, jadi apa boleh aku yang mengisi hatimu sekarang?”,
Aku bingung bukan main dan malah membuatku gugup berada disampingnya
“Apa aku boleh mengisi hatimu sekarang?,”tanyanya lagi
Aku hanya tersenyum manis padanya. Tiba-tiba Roman memegang tanganku.
“Aku akan membuatmu bahagia dan melupakan Demian. Aku akan melindungimu, aku janji!”,
Aku hanya tersenyum kecil padanya,
“Kenapa hanya tersenyum? Aku ingin kamu menjadi pacarku, apa aku diterima?”, suara Roman yang begitu keras di dengar oleh Hani dan Gisel yang duduk di belakang. Mereka berdua tersenyum manis, dan segera mengirim pesan lewat ponsel kepadaku.
“Terima!”,
“Cieh punya pacar baru!”
“terima”,
“Aku mau dong jadi pacarnya!”,
“Ganteng!”,
“Beh pacar baru!”
“Traktir makan nih!”,
Aku segera melepaskan tanganku dari tangan Roman, dan melihat ponselku penuh dengan pesan dari kedua sahabatku. Setelah melihat pesan, aku menoleh ke Roman dengan senyuman manis.
“Aku tidak mengerti bagaimana cinta itu, tapi aku akan membuka hatiku untuk pria yang aku rasa pernah ada dihidupku,”senyumku
Roman pun segera memeluk erat diriku, tiba-tiba saat itu juga Hani dan Gisel mempergok diriku dalam pelukan Roman.
“Cie…jadian!”,
“Pacar baru nih!”
Seketika itu juga teman-teman di bus ini tahu bahwa aku pacaran dengan Roman. Seketika itu juga Angel marah dan kesal.
“Hah, seharusnya Roman mengejar aku sekarang bukan malah jadian dengan Violin! Huh rencanaku gagal lagi. Tapi kali ini pokoknya aku harus membuat Violin putus dengan Roman. Harus!,”guman Angel dalam hati. Dirinya pun segera menjauh dari Demian karena rencananya gagal untuk membuat Roman cemburu padanya .
Bus berhenti di halte dan kami segera turun. Tapi Roman malah mengandeng tanganku hingga ke sekolah. Semua anak pun memperhatikan kami. Roman melepaskan tanganku begitu tiba di ruang kelas. Hani dan Gisel pun mendekati.
“Hem, jadi beneran tuh jadian atau sandiwara?”,
“Ngak tau!”,
“Kok gitu sih?”,
Akira masuk ke ruang kelas dan duduk di samping Roman. Mereka berdua juga asik ngobrol, sembari kami memperhatikan dua pria itu dan membicarakannya.
“Jangan bilang cuman buat membalas Angel?”,
“ Aku juga bingung, oya kalian berdua kan suka vampir. Roman berjanji padaku akan menunjukan vampir, kalian akan ikut ngak?”,
“Ikut lah!”,
__ADS_1
“Ikut dong, masa ngak!”,
“Oke, nanti aku chat kalau udah waktunya”,
“Sip!”,
“Oke!”,
Bel berbunyi dan ibu guru masuk ke ruang kelas memberikan pelajaran hari ini.
***
Jam istirahat saat aku berjalan sendirian, tiba-tiba Angel dan dua temannya menarik tanganku. Membawaku ke gudang. Angel mendorong tubuhku hingga jatuh.
“Aku sangat tidak suka ada seseorang yang mencoba merebut Roman dariku. Jadi nikmatilah harimu disini sepanjang waktu”, seketika itu juga Angel dan dua sahabatnya pergi. Mereka mengunci pintu dari luar dan sekarang aku terkurung di gudang ini. Untungnya aku membawa handphoneku. Aku pun segera menghubungi dua sahabatku.
Menunggu beberapa saat untuk terhubung, tetapi operator selalu mengatakan sibuk. Aku pun mulai panic, dan terus berusaha menghubungi dua sahabatku.
***
Kantin sekolah,
Hani dan Gisel bingung karena tak melihat Violin datang. Roman dan Aksara yang duduk di depan mereka berdua pun demikian.
“Dimana Violin?”,
“Ngak tau, duh…kok tumben dia ngak ke kantin ya? Apa dia lagi marah?”,
“Mana mungkin, kita kan ngak ada masalah sama kita”,
“Apa dia sedang…aku coba menghubungi dia dulu ya!”, begitu melihat handphone. Hani telah mendapatkan pesan dari Violin yang membuatnya terkejut, “Gisel, lihat handphonemu!”,
Gisel pun melihat handphone yang juga mendapatkan pesan yang sama. Mereka berdua pun bergegas pergi ke gudang yang diiringi Roman dan Akira dari belakang.
***
Beberapa saat kemudian, aku mendengar seseorang datang dari luar.
Aku berteriak, “ Hani, Gisel. Itukah kalian?”,
“Ya ini aku Hani, kamu baik-baik saja kan di dalam?”,
Di luar, Hani dan Gisel
“Hah, gimana caranya membuka pintu!”
Gisel berteriak, “ Apa kamu dikunci dari luar Violin?”,
Dari dalam, “ Ya!”,
Di luar,
“Roman, Akira dobrak pintunya!”,
“Ya lakukan saja, aku semakin takut. Jangan sampai dugaanku benar!”,
“Ya, kasihan dia”,
Hani berteriak, “ Violin mundur, Roman akan menobrak pintunya!”,
Dari dalam, “ Ya lakukan saja!”,
Roman mulai menobrak pintunya. Ruangan gelap pun menjadi terang. Tetapi mereka telah mendapati Violin ketakutan. Hani dan Gisel pun mengandeng sahabatnya keluar dari gudang. Berjalan menuju kursi dan mendudukan Violin. Hani dan Gisel melihat sahabatnya yang hampir menangis.
“Akira, tolong carikan minuman untuk Violin ya?,”pinta Hani Sementara Gisel memberikan tisu pada Violin.
*Violin
Aku segera menghapus air mataku, aku sangat ketakutan. Dalam kegelapan itu mengerikan sekali, dan memang aku memegang handphone tetapi tetap saja semua itu membuatku takut.
Roman menatap Violin sejenak lalu berlutut didepan Violin sambil melihat wajah Violin yang ketakutan bercampur sedih.
“Maaf, maafkan aku tak bisa melindungimu! Aku sungguh minta maaf”,
Aku melihat Roman yang berada di depanku, “ Tidak, ini bukan salahmu!”,
“Tapi aku sudah berjanji akan melindungimu kan?”,
“Ya benar!”,
__ADS_1
“Apa kamu memaafkanku?”,
“Ya!”,
Akira datang dan memberikan minuman pada Hani, lalu Hani membuka minuman dan memberikannya padaku. Meminum air mineral membuatku kembali tenang.
“Terima kasih!”,
“Sama-sama, kamu sudah merasa baikan?”,
“Ya lumayan”,
“Kenapa kamu bisa terkunci disana? Kamu tak mencoba menyakiti dirimu sendiri kan?”,
“Tidak!”,
“Apa ini perbuatan Angel lagi?,”duga Gisel
Aku hanya diam saja tak menjawab pertanyaan. Gisel pun mengerti maksud Violin.
“Jadi benar ya? Anak itu ngak habis-habisnya menjahili kamu. Dia ngak diberi pelajaran!”,
“Jangan Gisel, aku yakin Angel cuman emosi saat ini”,
“Kenapa kamu belain Angel?”,
Aku hanya diam saja
“Aku ngak peduli kalau dikeluarkan dari sekolah ini, emang dia pemilik sekolah ini?”,
Gisel yang marah akhirnya memutuskan diam saja, Gisel mencoba menenangkan dirinya saat ini. Kemudian kami semua masuk ke ruang kelas.
***
Bel berbunyi menandakan pelajaran hari ini telah selesai, kami pun bergegas pulang ke rumah. Tetapi saat keluar kelas bersamaan, aku telah tunggu oleh Demian. Entah kenapa dia menungguku.
“Violin, aku minta maaf telah menyakiti perasaanmu. Maafkan aku?”,
“ Ya aku telah memaafkanmu!”,
“Jadi apa kamu menerimaku kembali jadi pacarmu?”,
“Maaf, aku rasa aku tidak bisa. Aku telah menutup hatiku dan membuka hatiku untuk orang lain”, aku pun segera pergi meninggalkan dirinya.
***
Seperti biasa menunggu jemputan tapi kali ini Roman juga ikut.
“Menunggu Briand?”,
“Ya memang kenapa?”,
“Marah?”,
“Enggak kok, kenapa tanya?”,
“Ya sebab aku juga menunggunya”,
“Hah, kenapa kamu juga memintanya untuk menjebut?”,
“Ya kupikir pulang bersamamu menarik jadi aku juga….”, belum selesai bicara dirinya sudah ditinggal Violin. Roman pun segera menyusul langkah Violin yang meninggalkan sekolah. Jalan kaki adalah jawaban terbaik dari pada menunggu Briand. Berjalan beriringan bersama Violin membuat Roman bingung bagaimana caranya membuat hati wanita yang ada disampingnya ini bahagia.
“Violin, kamu punya tempat yang istimewa?”,
“Tidak, aku lebih suka mengurung diri dikamar”,
“Ikut denganku ya? Aku akan menunjukan sesuatu”,
“Sebuah tempat istimewa?”,
“Ya”
“Baiklah aku ikut!”,
Aku dan Roman pun pergi. Ia membawaku ke taman danau. Tepat dibawah pohon rindang kami duduk bersama. Tak jauh dari sini ada danau yang luas. Tempat inilah semua cerita terungkap, dan sebuah ingatan lama kembali.
__ADS_1