
“Xia, aku sungguh minta maaf telah menjadi beban untukmu. Tapi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas semuanya, aku ingin berpamitan denganmu. Aku akan pergi, jadi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas semuanya” ucapku.
Xia yang mendengar ucapan itu terkejut, hingga membuat matanya membulat. Ia seperti tidak percaya Aresha akan pergi, tapi ia telah melihatnya sekarang dan ini bukan mimpi.
“Pergi? Kamu akan pergi?”
“Ya, aku akan pergi. Maaf ya, sudah menjadi beban untukmu!” ucapku tersenyum manis padanya, membuat suasana seolah- olah tidak ada masalah diantara kami berdua.
Tiba- tiba Xia meneteskan air matanya, ia menangis dan matanya pun mulai memerah digenangi oleh air mata yang terus berjatuhan ke pipi. Ia menangis sembari berucap “Apa? Apa ini? Ini semua salahku! Aku tak seharusnya membuatmu jadi seperti ini, ini salahku! Maafkan aku, Aresha?.”
Aku melihatnya menangis, dan dia menyalahkan dirinya sendiri. Tetapi aku tidak akan menyalahkan gadis ini, dia hanya terlalu polos dan terlalu baik untukku, dan persahabatan ini.
__ADS_1
“Xia, ini bukan salahmu. Ini sepenuhnya bukan salahmu kok! Aku sangat senang memiliki teman sepertimu. Aku mengerti posisimu saat ini, jadi tidak perlu menyalahkan diri sendiri!”
Xia kembali terkejut, napasnya dibuat seakan- akan berhenti beberapa detik hingga ia menarik napas panjang dan menghembuskannya.
“Terima kasih, maafkan aku sudah mengakhiri persahabatan ini. Aku tidak bisa..... membantahnya!” ucap Xia sembari menghapus air matanya yang berjatuhan.
“Hah, apa yang kamu katakan? Persahabatan kita akan tetap terjalin meski kamu sudah mengakhirinya. Kamu adalah gadis yang baik, dan aku tahu posisimu sekarang ini. Mungkin kini persahabatan kita berakhir, tapi lain waktu kita pasti bisa menjalin persahabatan dengan baik. Kamu disini saja, aku yang akan pergi. Kamu tak perlu menangisi ku, lagi pula ini bukan salahmu. Aku akan tetap menganggapmu sebagai teman, ya meski kita terpisah.”
“Ya teman!”
Xia tersenyum manis, ia menghapus air mata yang berjatuhan itu lagi dengan kedua tangannya. Ia pun berucap “Apa aku boleh memelukmu? Sebelum kamu pergi!”
__ADS_1
“Ya tentu saja, kita adalah teman. Tapi maafkan aku, aku tidak akan bisa membantumu lagi. Tapi berjuanglah lebih keras untuk dirimu sendiri!”
Spontan Xia memeluk diriku, ia mencoba memenangkan dirinya. Perasaannya kini bercampur sedih, senang dan bahagia. Akhirnya dia mendapatkan seorang teman, dia sangat senang meski harus berpisah. Xia pun melepaskan Aresha dengan air mata yang masih berjatuhan, Xia berusaha untuk tidak menangis di depan Aresha.
“Xia, aku pergi! Jaga dirimu baik- baik, dan teruslah berjuang untuk dirimu sendiri. Suatu saat nanti kita pasti bertemu, mungkin kita akan mengambil jalan berbeda nanti. Tapi kita tetaplah teman” ucapku sembari tersenyum.
“Ya, aku tidak akan menyerang. Aku akan menjadi lebih kuat di saat kita bertemu lagi nanti!”
Aku hanya tersenyum manis untuk perpisahan ini yang kemudian aku segera pergi dari asrama ini. Melangkahkan kaki pergi meninggalkan asrama dengan pikiran yang tenang. Kini aku benar- benar telah menyelesaikan sesuatu yang mungkin kelak juga akan menjadi penghalang besar untukku. Tetapi aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku harus melakukan sesuatu dengan cepat agar gadis itu tidak menjadi penghalang bagiku.
*Sudah direvisi. Terima kasih atas komentarnya dan dukungan yang diberikan.
__ADS_1