
Tidak lama kemudian mereka semua mulai membubarkan diri. Saat itu lah kesempatan Eun untuk mendekati Xia. Ia tidak mau mengalihkan pandangannya ke wanita lain selain Xia, tetapi Xia malah memperhatikan Zanko yang membuatnya cemburu. Eun menyimpan perasaan cemburunya, ia tidak menampakan perasaan cemburu itu di hadapan Xia.
Zanko mendekati Xia, ia memasang wajah datar tak peduli dengan siapapun seperti biasanya.
Xia, gadis polos itu pun menyapa Zanko dengan ramahnya.
“Zanko!” ucap Xia memanggilnya.
“Ya, ada apa? Hah, ya ampun! Aku benar- benar tidak menduga akan sekelompok dengan orang yang lemah!”
“Apa maksudmu?” jawab Eun sangat dekat dengan Zanko.
“Hei, jauhkan wajahmu dariku! Wajah jelek itu tak harus dekat denganku kan?”
Eun yang mendengar jawaban seperti itu pun mulai kesal, ia malah semakin mendekatkan wajahnya pada Zanko hingga Zanko tidak bisa berbuat apa-apa.
“Ya ampun! Wajahmu mendadak jadi pucat pasi ya? Wajahmu jadi sangat jelek loh!” balas Eun.
Zanko pun segera melangkah mundur, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan sembari berucap “Ya ampun! Kamu benar- benar terlalu dekat. Jaga tingkahmu itu, apa kamu tidak sadar disini banyak orang?!.”
“Oh ya ampun! Memang kenapa? Apa kamu malu? Kita ini kan sudah lama berdua?” ucap Eun memancing emosi Zanko.
__ADS_1
Orang- orang yang mendengar perbincangan itu segera melihat ke arah mereka bertiga. Mereka bertanya- tanya apa maksud perkataan Eun pada Zanko.
“Sialan! Akan kuhajar kamu nanti!”
“Oh begitu kah? Lain kali jagalah ucapanmu itu pada gadis cantik ini!” ucap Eun membela Xia.
“Apa urusanmu?”
“Urusanku? Kita ini satu kelompok, apa aku perlu membuktikan ucapanku tadi?”
Zanko terkejut, ia segera melihat ke arah Xia. Zanko pun menundukkan wajahnya ke bawah, lalu kembali melihat ke arah Eun. Ia tersenyum manis.
“Wah, kamu masih ingat ya? Baiklah tidak masalah, reputasi lebih baik kan Zanko?”
“Ya mau bagaimana lagi!”.
Kemudian mereka bertiga pun pergi bersiap- siap untuk memulai perjalanan mereka mencari dua kristal tanpa petunjuk satu pun. Tetapi semua orang akan pergi menuju tempat dimana banyak orang menjual barang- barang mengenai sihir di kota ini.
Sementara itu keberadaan Alecia di Buniv.
Dirinya telah mengetahui tentang akhir ujian ability magie ini, temannya yang juga salah satu anggota VA harus pergi ikut mencari kristal yang hilang. Alecia tentu merasa senang karna misinya telah selesai.
__ADS_1
Alecia memperhatikan Jimwa dan Martha dari kejauhan dari atas gedung Buniv. Ia melihat dua orang itu membicarakan hal penting hingga terjadi perdebatan kecil disana. Entah apa yang terjadi, tetapi hal seperti itulah yang sangat ia rindukan. Berdebat dengan ayahnya sendiri walau waktu bersama itu, Alecia adalah gadis yang memiliki sifat keras kepala.
“Ya, sepertinya lebih baik sekarang. Aku sangat rindu, tapi apa mungkin apa yang telah aku lakukan kamu maafkan, ayah?” ucap Alecia sembari memperhatikannya.
Tiba- tiba Alecia mendapatkan pesan dari Lady Dandelion.
“Tugasmu sudah selesai, mari kembali. Aku siapkan rumah untukmu. Ada tugas yang lebih baik sekarang. Kamu harus menyelesaikan masalahmu dengan mantan suamimu itu, ya maksudku adalah balas dendam. Persiapkan dirimu untuk rencana berikutnya.”
“Balas dendam? Kenapa? Bukankah kamu bilang hanya ini saja!” balas Alecia pada pesan tersebut.
“Ya, ampun. Ikuti saja yang aku mau, aku hanya tidak ingin kamu menyia- nyiakan rencana yang sudah dibuat ini.”
“Ya baiklah, akan kulakukan!”
“Senangnya kamu katakan begitu, bisakah kamu ke depan? Saya sudah di depan dan telah mengurus surat keluarmu dari Buniv ini”
“Apa? Kamu melakukan itu? Kenapa tidak menunggu saya?”
“Tidak bisa, kita tidak punya banyak waktu!”
Alecia pun mengakhiri pesan itu, ia tidak menjawabnya. Alecia menarik napas panjang dan menghembuskannya lalu melihat jauh tempat ini. Ia berharap akan ada cahaya yang datang menolongnya saat ini. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi, ia takut untuk kembali.
__ADS_1