Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 308 Dunia Mimpi Xia Part.2


__ADS_3

Banyak burung- burung terbang ke arah mereka, burung- burung itu ketakutan seperti ada makhluk yang besar telah menyerang di balik hutan tak jauh dari labirin ini.


“Sepertinya ada yang tidak beres disana!”


“Kita pergi kesana sekarang! Ayo kita keluar dari sini!” ucap Zanko.


“Tapi bagaimana kalau itu bahaya?”


“Bagaimana kalau itu Zhe dan Yunan?!”


Perdebatan kecil terjadi antara orang yang menolak untuk pergi ke hutan dengan pergi untuk melihat apa yang telah terjadi disana. Tetapi Zanko penasaran dengan apa yang telah terjadi. Eun pun segera pergi menemaninya begitu juga dengan Xia.


Mereka yang tertinggal di labirin pun tidak mau diam begitu saja, mereka juga ikut pergi menyusul Zanko, Eun dan Xia. Mereka semua pergi dengan kekuatan yang mereka miliki hingga lebih mudah untuk keluar dari labirin ini.


Eun dan Xia tidak bisa terbang tetapi dengan elemen yang mereka miliki tetapi mereka dapat menggunakan air untuk pijakan hingga pergerakan mereka cepat dan tinggi untuk melihat jalan keluar dari labirin.


Zanko yang dapat terbang dengan elemen api sebentar lagi akan segera keluar dari labirin. Ia hanya perlu melewati tiga pembatas labirin lagi. Zanko semakin dekat untuk keluar labirin. Tetapi dirinya mendadak dapat penghalang dari labirin. Satu pembatas pembentuk labirin itu meninggi dan tanaman itu merambat hingga menyerang Zanko. Eun dan Xia serta yang lainnya kaget melihat serangan mendadak ini. Mereka pun berupaya menghindarinya. Tetapi tak pernah mereka sadari, semakin banyak mereka bergerak semakin besar pula gerakan tanaman rambat itu.


Mereka pun terkepung dalam labirin, tanaman rambat itu telah mengepung mereka semua. Beberapa teman mereka telah di lilit oleh tanaman labirin, hingga membuat mereka harus menggunakan kemampuan untuk memotong tanaman rambat yang mengikat tangan dan kaki mereka.


“Hah, mereka semakin banyak saja! Ini gawat, kita harus lari!” teriak salah satu dari mereka.


Tanpa banyak bicara semua orang yang ada di labirin setuju untuk melarikan diri dari labirin. Mereka berlari menuju pintu masuk labirin, tetapi langkah mereka lagi dan lagi dihalangi oleh tanaman rambat. Mereka pun harus memotong tanaman rambat itu hingga dapat keluar dari sana. Mereka saling membantu satu sama lain.


Saat membantu satu sama lain Xia diseret tanaman rambat yang merambat di kakinya.


“Tolong!” teriak Xia sembari berusaha berpegangan pada apapun yang ada disekitarnya agar tidak diseret oleh tanaman rambat.


Eun yang mendengar teriakan Xia secepatnya membantu, tetapi kedatangan Eun terlambat. Eun dihalangi oleh tanaman rambat dan Xia dibawa pergi. Tubuh Xia segera dililit oleh banyak tanaman rambat hingga ia sedikit sulit bernapas. Dedaunan hijau itu menyelimuti dirinya perlahan- lahan.


“Sial! Aku tidak boleh mati disini, aku tidak boleh! Aku harus melakukan sesuatu, tapi bagaimana caranya? Bagaimana?” ucap Xia dalam dirinya sendiri. Xia menggerak- gerakan tubuhnya, tetapi semakin dirinya bergerak semakin kuat pula tanaman rambat menyelimuti dirinya. Xia tidak punya tenaga lagi, akhirnya ia menyerah dan menerima keadaan.


“Hah, Eun! Maafkan aku, aku sungguh minta maaf tak bisa bersamamu sekarang. Tapi aku senang saat kita bersama. Aku masih mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Aku tahu kamu mendekatiku bukan hanya karna perjodohan tetapi juga karena cinta. Aku akan tetap mencintaimu bagaimana pun, meski aku harus berpisah denganmu disini!” ucap Xia dalam hatinya.


Tanaman rambat itu akhirnya membungkus dirinya tanpa menyisakan sedikit pun, ia seperti dalam kepompong yang dibuat oleh laba- laba untuk mengakhiri mangsanya.


Sementara itu teman- teman yang masih bertahan. Ketika hampir mencapai pintu keluar dari labirin ini, seorang perempuan terseret oleh tanaman rambat. Zanko pun secepatnya menolongnya. Tetapi ia juga terseret oleh tanaman rambat. Eun tidak mau kehilangan teman- temannya lagi. Ia sudah sangat sedih telah kehilangan Xia. Ia pun segera membantu Zanko membebaskan diri dan juga membantu perempuan yang tersirat itu.


Setelah mereka berhasil membebaskan diri. Mereka kembali dihadapkan dengan tanaman rambat yang semakin ganas. Beberapa teman- teman yang ada disini tak sanggup lagi untuk menyerang tanaman rambat yang semakin diserang semakin kuat dan ganas. Hingga akhirnya banyak yang terseret oleh tanaman rambat itu. Tidak ada yang bisa membantu temannya satu sama lain. Mereka semua dibuat seolah- olah telah menyerah.


Kini hanya tertinggal 5 orang saja termasuk Zanko, dan Eun. Mereka pun mengeluarkan semua kemampuan mereka untuk melenyapkan tanaman rambat ini. Zanko membakar tanaman rambat yang menghalangi langkah mereka untuk keluar. Zanko menyadari seharusnya mereka telah sangat dekat dengan jalan masuk ke labirin ini tetapi jalan itu seperti sangat jauh dari mereka. Zanko tidak tahan lagi, ia pun menghancurkan sisi labirin yang ada di dekatnya. Ia telah memperhatikan peta di papan ketikan masuk ke labirin ini.


“Eun! Jangan hancurkan disana, sebaiknya hancurkan disisi ini saja! Aku merasa jalan masuk ke labirin ada yang aneh. Jalan keluar juga telah ditutup. Tidak ada jalan keluar maupun masuk. Hancurkan sisi ini saja!” ucap Zanko sembari menyerang.


“Ya baiklah!” ucap Eun yang kemudian membantu Zanko menghancurkan sisi yang telah dipilih untuk dihancurkan. Sementara 3 orang lainnya melindungi mereka berdua dari serangan tanaman rambat.


Perjuangan keras mereka akhirnya membawa hasil. Mereka berhasil keluar dari labirin. Tetapi di luar labirin ini berubah tidak seperti labirin yang pertama mereka temui. Tempat ini dipenuhi kabut asap yang tebal hingga sulit untuk melihat dengan jarak jauh.


Tiba- tiba secara serentak lima senjata menyerang mereka, senjata itu adalah obat bius yang mengenali ketiga orang lainnya. Kini hanya ada Zanko dan Eun yang tersisa. Kedua pria itu pun bersiaga setelah melihat tiga orang jatuh seketika. Dua obat bius yang menyerang itu meleset, mereka sangat beruntung hari ini.


Perlahan- lahan kabut tebal mulai menghilang yang kemudian memperlihatkan Ibu Oshaberry bersama guru Buniv lainnya. Mereka adalah guru- guru dari kelas malam. Kelima guru itu tampak tersenyum manis. Dua diantara mereka sibuk mengoceh.

__ADS_1


“Ah, ya ampun. Sialan! Mengapa sampai meleset?”


“Ya itu salahmu, aku rasa kamu memang tidak ahli dalam menembak dari jarak dekat!”


“Apa? Apa maksudmu? Tentu saja kau bisa melakukan itu! Ini hanya keberuntunganmu saja”


“Oh benar?”


“Ya!”


Dua guru itu pun saling tatap satu sama lain, lalu Ibu Oshaberry memisahkan mereka berdua. Ibu Oshaberry berjalan diantara dua guru yang sibuk mengoceh satu sama lain. Lalu mereka semua mendekati Eun dan Zanko.


“Ibu Oshaberry, apa yang kamu lakukan disini?”


“Ya tentu saja melakukan tugas saya! Ah ya, bagaimana mengatakannya ya? Begini saja, diam lah disini! Kalian berdua lakukan sesuatu? ( meminta pada guru lainnya)” jawab . Ibu Oshaberry.


Secepatnya dua guru lainnya membuat jatuh pingsan Eun dan Zanko dengan obat bius. Mereka berdua pun segera jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.


“Ah, ya ampun! Ini sungguh merepotkan. Baiklah, bawa mereka semua!” perintah Ibu Oshaberry pada keempat guru lainnya.


“Hah, lalu kamu ngapain? Bantuin dong!”


“Hahaha.... ya iya!” jawab Ibu Oshaberry sembari tertawa kecil.


Kemudian mereka semua membereskan kekacauan yang terjadi di labirin itu. Saat selesai membereskan, mereka menyadari ada satu orang yang belum dibereskan. Ia masih bertahan dan bersembunyi. Mereka menyadarinya tidak mau mengganggu apa yang telah dilakukan oleh orang itu ( peserta ujian ability magie yang selamat yakni Xia). Mereka juga mengembalikan keadaan ke semua seperti tidak ada sesuatu yang terjadi disini. Mereka tidak meninggalkan satu jejak pun.


****


Saat pemulihan tempat itu, Xia pun terbebas dari tanaman rambat. Dirinya segera terjatuh ke tanah. Tanaman rambat itu tidak lagi melilit tubuhnya. Perlahan- lahan Xia pun dapat bernapas dengan baik. Dirinya kembali normal dan segera berdiri. Ia melihat tempat yang ada disekitarnya. Semuanya dalam keadaan baik- baik saja.


Xia menahan rasa sakit di tubuhnya. Dirinya tidak mengalami luka apapun kecuali rasa sakit akibat lilitan tanaman menjalar.


“Ah, ya ampun! Apa yang telah terjadi? Hah, aku ingat! Kemana mereka semua? Eun? Zanko!” ucapnya sembari berteriak memanggil dua orang anggota kelompoknya.


“Zanko?”


“Eun?”


“Kalian dimana?” teriak Xia terus berjalan menuju pintu keluar labirin. Ia berharap segera bertemu dengan yang lainnya.


“Zanko?”


“Eun?”


“Kalian dimana?”


“Zanko? Eun?”


Xia terus memanggil Zanko dan Eun. Ia pun bertemu dengan pengunjung labirin lainnya. Ia bertanya pada orang yang dijumpainya.


“Permisi, apa kalian melihat sekelompok anak akademi lewat disini?”

__ADS_1


“Akademi ya? Maaf ya! Sejak tadi kami tidak melihat siapa- siapa, tidak ada anak akademi yang datang kemari loh!”


“Terima kasih banyak kalau begitu, maaf ya mengganggu!”


“Ya!”


Kemudian Xia melanjutkan perjalanannya hingga keluar dari labirin. Lalu ia kembali ke area parkir. Di area parkir ia tidak melihat motor teman- teman, bahkan motor Zanko dan Eun. Xia pun semakin yakin apa yang telah ia alami bukan lah mimpi. Tetapi ini aneh sekali, semuanya seakan- akan tidak ada sesuatu yang telah terjadi. Xia pun duduk di bangku seorang diri. Ia mencoba berpikir jernih, mengingat apa yang telah terjadi untuk mendapatkan petunjuk dimana teman- temannya berada. Tiba- tiba burung merpati pengirim pesan datang menghampirinya. Xia yang melihat kedatangan burung itu secepatnya mengambil pesan di kaki burung merpati. Ia pun mulai membaca pesannya.


“Kastil drakula!” isi pesan yang diterima oleh Xia.


Xia pun bergegas pergi menuju tempat tujuan berikutnya, ia berharap akan bertemu dengan teman- temannya disana.


Xia melihat dirinya sendiri yang pergi ke kastil drakula. Ia menjadi teringat akan keputusasaannya akan kehilangan teman- teman, tetapi menjadi merasa sedikit lega karena teman- teman ternyata baik- baik saja dan kejadian itu hanyalah bagian dari ujian ability magie.


***


 


Tetapi Xia yang dilihatnya sendiri mampu melihat dirinya. Xia melihat Xia, dengan artian Xia yang mengalami ujian berat itu melihat Xia yang sekarang.


“Hai, apa yang kamu lakukan?” tanya Xia.


“Ah, apakah kamu  melihat saya?”


“Ya bodoh, kamu orang lemah!”


“Hei, kenapa kamu mengejek saya? Saya tidak mengejekmu!”


“Ya, kamu memang bodoh dan juga lemah. Putri pengendali air yang bodoh! Seharusnya kamu tidak dilahirkan dimuka bumi ini”


Xia yang sekarang dalam dunia mimpi mengepalkan tangannya, ia kesal dengan ucapan Xia yang dulu.


“Kamu tahu Xia, saya adalah dirimu. Coba tebak sekarang kamu dimana?”


“Itu, saya merasa ini ada di dunia mimpi”


“Benar, itu benar sekali. Kamu tahu apa yang ada di dalam dunia mimpi?”


“Apa?”


“Apapun dalam dunia mimpi itu mungkin terjadi, termasuk kamu mati dalam dunia mimpi sendiri!”


Xia sekarang dibuat terkejut dengan ucapan Xia yang dulu, “Hah, benarkah? Itu tidak mungkin terjadi!”


“Itu mungkin, tidak ada yang tidak mungkin di dunia mimpi ini!”


“Lalu apa yang harus kulakukan agar aku tidak mati di dunia mimpiku sendiri?”


“Kamu harus lari!”


“Lari? Dari apa?”

__ADS_1


“Kenyataan yang telah terjadi, di dunia ini semuanya akan terulang. Kamu akan menjadi incaran berikutnya!” senyum sinis Xia yang dulu.


__ADS_2