Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 56


__ADS_3

Cahaya matahari yang indah, sebentar lagi bel berbunyi tanda jam pelajaran hari ini telah selesai.


“Nah, anak-anak sebentar lagi kalian akan menghadapi ulangan. Ibu harap kalian belajar dengan serius di rumah. Ibu tidak bisa membantu kalian mendapatkan nilai tinggi di saat ulangan. Jadi belajar di rumah sebaik mungkin, jika tidak ada pelajaran yang belum paham tanya sama teman. Jangan nanti ketika ulangan kalian melakukan korupsi. Ibu tidak mau itu terjadi, korupsi apa?”,


“Nyontek!”sorak kami semua


Ya menyontek saat ulangan adalah salah satu tindakan korupsi yaitu melakukan kecurangan atau tidak jujur.


“Baiklah, mari berkemas dan selamat sore”


“Sore, Bu guru”jawab kami semua.


Kami memberi hormat, lalu ibu guru keluar. Sambil memasukan buku dan alat tulis ke dalam tas. Hani mengajakku bicara disusul oleh Gisel.


“Belajar bareng yuk?.”ajak Hani sambil berkemas.


“Boleh, tapi aku perlu ke toko buku dulu nih”jawabku


“Mau beli apa? Aku juga, kita barengan aja”ucap Gisel yang telah selesai berkemas dan mendekati kami berdua.


“Banyak, aku mau beli buku notice yang baru”,


“Hem, beli it uterus. Buat apa sih? Kalau ke toko buku pasti beli buku itu”protes Hani


“Buat catatan lah, masa iya dimakan”


“Oke, kapan kita pergi kesana?”


“Besok gimana? Aku belum punya uang”


“Boleh, kita barengan kan?”


“Ya iyalah masa ngak sih”,


Selesai berkemas, kami bergegas keluar. Berjalan bersama menuju parkir. Tapi setiba di area parkir kami tidak mendapati sepeda kami bertiga.


“Ah, dimana sepeda kita? Bukannya disini ya?”ucap Hani


“Kita kan sering parkir disini, siapa coba yang mau usil. Aaaa…gimana pulangnya?”rengek Gisel


“Kita cari aja yuk!”


Akhirnya kami memutuskan mencari sepeda hingga mengelilingi sekolah ini, kami tak kunjung menemukannya juga.


Untungnya kami bertemu dengan satpam penjaga sekolah.


“Pak Sat, lihat sepeda kita bertiga ngak? Sepeda kita ilang nih”kata Gisel


“Hilang, aduh gimana nih saya bisa dimarahi kepala sekolah. Kalian parkir dimana tadi?”


“Di tempat biasa lah, pak!”


“Ikut saya!”


Kami mengikuti pak satpam menuju tempat parkir sepeda kami.


“Kalian yang parkir disini?”


“Iya, siapa lagi kalau bukan kita bertiga”


“Kalian parkir sepeda disini? Seharusnya ada sekarang, tidak ada orang yang keluar dari sekolah ini membawa tiga sepeda loh. Saya akan bantu cari sepeda kalian, kalian tenang aja ya”kata Pak satpam mencoba menenangkan kami bertiga.


“Ya udah deh, kita cari lagi aja”ucap Hani


“Em, kenapa hari ini aku sial banget ya?”ucapku


“Sial kenapa Violin?”


“Ya sial banget, sudahlah…ngak usah di perpanjang. Kita cari sekarang tuh sepeda!”


Kami kembali mencari sepeda, kembali berkeliling sekolah hingga berkali-kali tapi tak kunjung juga menemukan sepeda kami. Kami kelelahan.


“Hah, nampaknya saya kecolongan hari ini. Nanti saya akan lapor ke kepala sekolah. Kalian pulang saja dulu, besok saya usahakan kalian mendapat kabar dimana sepeda kalian”ucap pak satpam


“Ya pak”ucap Gisel


Pak satpam pergi, ia kembali berkeliling sekolah dan mencek CCTV untuk mencari bukti pencurian sepeda.


“Ah, masa iya disekolah elite ada maling”ucapnya.


***


Menarik napas panjang karena lelah, duduk di bangku.


“Hah, sepeda kita hilang. Ya ampun kok bisa? Sekolah macam apa ini”protesku


“Ya aku juga ngeluh itu, tapi ini aneh banget loh. Tumben-tumbennya sepeda kita bisa hilang”

__ADS_1


“Benar, hah..ini yang membuatku tidak suka. Kalau pergi ke sekolah dengan sepeda, pulang akan jalan kaki”geruntu Gisel


Saat sedang marah dan kesal, Akira dan Roman datang menghampiri.


“Eh, kalian belum pulang? Ada apa?”tanya Roman


Entah siapa yang ditanya Roman, tapi aku diam saja tak menjawab.


“Akira, sepeda kami hilang”rangek Hani


“Ya ampun, aku sedih mendengarnya. Bagaimana kalau kamu pulang bersamaku hari ini”ajaknya


“Boleh, tapi gimana dengan Gisel dan Violin?”


“Hani, aku tidak apa-apa. Kamu duluan saja, aku disini saja”ucapku


“Tapi kan kamu temanku, kita pulangnya barengan aja. Atau kamu pulang bareng Roman?”


“Ah, ia benar. Aku akan pulang bersamanya”jawabnya sambil tersenyum yang sebenarnya menyimpan rasa benci.


“Oke baiklah, sampai jumpa besok”ucap Hani sambil melambaikan tangan lalu menarik tangan Akira.


Mereka pergi, memperhatikan mereka berdua hingga masuk ke mobil dan pergi. Roman masih berdiri, ia memperhatikan Violin lalu duduk di depannya.


“Gisel, kamu sedang apa?”


Pertanyaan Roman membuatku tersadar, dan langsung mengalihkan pandangan pada Gisel. Gisel sedang asik mengetik sebuah pesan di handphonenya.


“Aku mengirim pesan pada Eren, Eren bilang ia akan kesini untuk menjemputku”,


“Oh begitu, aku akan menunggumu dijemput. Tenang saja!”


“Terima kasih, Violin”,


“Ya tidak masalah, kamu temanku jadi aku akan menunggumu hingga Eren datang menjemputmu”,


“Tapi kamu ngak marah kan sama Eren?”


“Tidak kok, aku tidak perlu khawatir pada kamu dan Eren lagi sekarang. Aku rasa aku tidak perlu tertalu khawatir”,


“Kamu sungguh pulang sama Roman?”


“Iya, aku pulang sama dia kok”jawabku tersenyum menyimpan kebencian


“Violin, kamu hari ini cantik banget. Pake syal, kamu ngak sakit kan?”,


“Tuh tanya lagi kenapa aku pake syal, aku cuman merasa hari ini dingin jadi aku pake syal”,


Ia menghentikan motor di depan kami, “Selamat sore semuanya. Gisel, kita pergi yuk!”


“Iya, kamu ganteng banget sih hari ini”puji Gisel yang membuat diriku mual. Gisel menghampiri Eren, Eren memberikan helm.


Gisel mengenakan helm dan berucap, “Violin, aku duluan ya?”


“Oh, iya. Hati-hati dijalan ya?”


“Iya, tenang aja Eren pasti jagain aku kok”senyumnya yang kemudian naik ke motor. Lalu mereka berdua pergi, perlahan-lahan pandanganku tak lagi melihat mereka berdua.


Sekarang yang tertinggal hanya ada aku dan Roman. Melihat Roman yang duduk di depanku.


“Roman, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi kita perlu tempat berdua, hanya kita. Kamu tahu dimana?”


Roman tersenyum, Roman berpikir bahwa Violin telah mengingat dirinya kembali.


“Tentu saja aku tahu, ayo ikut denganku!”


Aku pun mengikuti langkah Roman, masuk ke mobil miliknya. Duduk di bangku depan, dan Roman mulai mengemudikan mobil. Pergi dari sekolah.


“Roman, sebenarnya apa rencana temanmu itu hingga membuat temanku menyukai temanmu itu? Kalian merencanakan sesuatu kan?”,


Sambil mengemudikan mobil Roman berucap “Maksudmu apa?”


“Akira dan Eren, dan kalian orang-orang kaya pasti tidak sembarangan memilih pacar. Dua temanmu itu baru mengenal dua sahabatku dalam beberapa hari. Sebenarnya apa rencana kalian? Aku tidak suka jika temanmu itu mempermainkan dua sahabatku. Apa kamu paham maksudku?”


“Ya aku paham, tapi Akira dan Eren. Mereka berdua benar-benar menyukai dua sahabtmu”,


“Setelah kupikir-pikir tak ada vampire yang menyukai manusia. Vampir dan manusia tidak bisa bersama sampai kapanpun”,


Roman mendadak menghentikan mobilnya, aku pun segera berpegang erat.


“Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin aku mati?”,


“Violin, dua sahabatku benar-benar mencintai dua sahabatmu. Jika kamu tidak percaya, kamu boleh memata-matai mereka”,


“Eh, emang aku kepo banget gituh dengan hubungan dua sahabatku? Aku bukan orang seperti itu. Aku hanya tidak suka jika temanku dihianati nanti. Aku tidak akan merelakan semua itu terjadi”kataku yang kemudian keluar dari mobil Roman.


Aku segera masuk ke rumah, Roman menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah. Ia tidak keluar dari mobil. Memutar mobil dan pergi.

__ADS_1


Sambil mengemudikan mobil, Roman berucap “ Hah, dia memang keras kepala dan tak mudah percaya pada orang lain. Tapi aku akan tetap berusaha untuk membuatmu mengingat diriku lagi, Alika”.


***


Membuka pintu, lalu masuk ke kamar. Meletakan tas di meja belajar, menganti pakaian dan duduk di kursi belajar sambil menyalakan kipas angin.


“Gerah sekali hari ini, ahh…..panas! Lebih panas lagi jika suasan persahabatan yang berubah. Tetap saja mereka bukan lagi yang dulu meski mereka telah menyegel kekuatan vampire. Oh Tuhan, kapan ibu memberi kabar padaku hanya karna ia tinggal bersama ayah baru”gumanku


***


Keberadaan Gisel,


Eren membawa Gisel ke salon mewah, ia meminta pelayan salon untuk mendandani Gisel menajdi gadis cantik. Penampilan baru dengan memancarkan aura kecantikan yang membuat Eren terpikat akan kecantikan Gisel.


Hanya dalam waktu 15 menit, Gisel telah bertemu kembali dengan Eren. Eren pun telah menunggunya dengan sebuah mobil. Menyambut Gisel selayaknya putri raja, lalu membawa Gisel ke sebuah tempat yang telah disiapkan dengan baik.


Kebaradaan Hani,


Akira juga melakukan yang sama seperti yang dilakukan Eren, mengubah penampilan Hani. Hani kini telah menjadi gadis yang sangat cantik seperti putri raja. Tak heran jika Akira benar-benar mencintai Hani dengan tulus. Lalu membawa pergi Hani menuju sebuah tampat yang telah disiapkan.


Sebuah acara besar telah menanti meraka berdua, sebuah acara yang tak pernah diduga dan akan mengubah hidup mereka berdua selamanya.


***


Roman mengemudikan mobil dengan cepat, lalu mendadak berhenti di pinggir jalan. Ia terpikir akan tingkah dua sahabatnya. Pikirannya sedikit kacau sekarang, ia pun menghubungi Netta.


Komunikasi terhubung,


“Netta, dimana Akira dan Eren sekarang?”,


“Oh Roman, mereka sedang sibuk bersama dua gadis mereka. Kami sedang mempersiapkan acara pesta untuk mereka nanti malam”,


“Pesta? Pesta apa?”


“Pesta gadis bunga mawar, kau tahu maksudku. Mereka berdua akan saling mengikat janji, Akira dan Eren tidak mau kehilangan mereka berdua. Jadi mereka mengadakan pesta, seperti itu. Ya seperti yang kamu tahu!”


“Hah, dimana pesta itu akan diadakan?”,


“Di rumah besar Akira, datanglah sebelum matahari tenggelam. Malam ini adalah bulan purnama, acaranya akan dimulai ketika bulan purnama telah datang”,


“Terima kasih Netta, aku akan datang. Tenang saja, aku datang tepat waktu”,


“Baiklah, aku menunggumu. Dah, Roman. Aku harus bersiap-siap”,


“Ya”, komunikasi terputus.


“Ah, gila…benar-benar kelewatan sekarang! Aku harus menghubungi Akira dan Eren”ucap Roman yang kemudian menghubungi dua sahabatnya.


“Tet…tet….tet….”suara telpon yang tak terangkat, “Maaf nomor yang Anda hubungi sedang di luar jangkauan” jawaban operator.


“Sial, mengapa tak bisa dihubungi? Apa Akira dan Eren sudah menduganya, bahwa aku tidak akan membiarkan mereka melakukan tradisi itu? Ya ampun….aku harus kesana sekarang”ucap Roman secepatnya menginjak gas mobil, melaju menuju rumah besar Akira.


***


Keberadaan Akira,


“Hani, sebentar lagi acaranya dimulai. Aku ingin kejutan ini tak sia-sia begitu saja, jadi maukah kamu menutup matamu dengan kain ini? Eren juga akan melakukan yang sama pada Gisel. Kalian berdua akan bertemu nanti”pinta Akira sambil memperlihatkan kain penutup mata. Kain berwarna merah.


“Akira sayang, tentu saja aku mau. Aku tidak mau kejutan ini akan jadi tak menyenangkan. Tutuplah mataku dengan kain itu”jawab Hani dengan polos.


Akira tersenyum, ia yakin gadis ini tak tahu betul apa rencana besarnya.


Akira mulai menutup mata Hani dengan kain, seraya berucap dalam hati “Hani-ku tersayang, begitu acara ini dimulai. Kamu tak akan bisa berpaling lagi dariku, kamu akan menjadi milikku selamanya.”


***


Rumah Violin, ruang kamar.


Duduk di kursi belajar sambil melihat buku biru dengan kunci bulan sabit.


“Ah, kenapa aku tiba-tiba memikirkan dua sahabatku? Bukannya mereka baik-baik saja ya, mereka kan dijaga oleh kekasih mereka. Ah…aku berlebihan lagi mengkhawatirkan mereka. Baiklah, sebaiknya aku menghubungi mereka”, menghambil handphone dan mulai menghubungi dua sahabatku.


Tetapi telponku tak diangkat, lalu aku mencoba mengirim pesan pada mereka berdua.


“Hani, kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja? Aku mulai khawatir lagi padamu dan Gisel”, pesan terkirim.


“Gisel, kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja? Aku mulai khawatir lagi padamu dan Hani”, pesan terkirim.


Menunggu beberapa saat dan berharap dua sahabatku membalas pesan dariku. Menunggu yang membosankan, dengan rasa khawatir yang berlebihan menunggu 5 menit membuat diriku merasa menunggu 1 tahun. Akhrinya aku pun dengan terpaksa melacak keberadaan handphone mereka dengan sebuah aplikasi yang telah kami pasang bersamaan untuk berjaga-jaga.


Aku menemukan lokasi handphone mereka, lokasi yang jauh dan bisa kutebak mereka sedang tak dirumah saat ini. Lokasi handphone mereka berada di hutan flower, hutan yang terdengar penuh misteri dan kudengar juga ada rumah besar didirikan disana. Rumah mewah, dan aku tak tahu siapa pemiliknya.


Aku masih ingat tentang hutan itu terakhir kali berkunjung, hutan yang merengut kebahagian dariku. Hutan yang membuatku menjerit berteriak, dan aku melihat seorang pria bermantel hitam berdiri dipinggir jalan kecil. Jalan satu-satunya keluar dari hutan itu. Hutan itu penuh misteri, tapi ayahku tak percaya. Ia beranggapan itu hanyalah mitos dan kami berkunjung kesana, dengan akhir cerita tragis. 10 tahun silam.


Aku pun bergegas menyiapkan diri. Membuat buku kunci, handphone dan sintar ke dalam tas. Aku tahu seperti apa hutan itu hingga aku harus membawa sebuah sintar. Aku harus memberanikan diri sekarang, demi bertemu dengan dua sahabatku.


Berlari keluar rumah, secepatnya mencari bus yang akan pergi menuju arah hutan itu. Bgeitu menemukan bus yang tepat, aku segera masuk dan langsung membayar ongkos perjalanan. Rasa khawatirku sekarang tak dapat kukalahkan hanya dengan duduk dikursi. Pikiranku benar-benar kacau, aku takut sesuatu telah terjadi pada mereka.

__ADS_1


“Sahabatku, bertahanlah. Tunggu aku, aku akan datang secepatnya!”gumanku dalam hati.


Bus berjalan, bus melewati setiap halte. Bus ini tak lagi mengambil penumpang, ia melalui setiap halte demi tepat waktu untuk melewati hutan flower. Sopir bus ini seperti paham sekali apa yang ada di hutan flower hingga ia mengejar matahari agar tak tenggelam di saat melewati hutan itu. Sopir bus ingin semua penumpangnya selamat di jalan itu untuk menuju kota lainnya.


__ADS_2