
“Wanita itu lagi! Hanya karna itu kamu membangunkan ku? Kau tahu pria ini membawaku kemari dan tak membiarkanku keluar sekali pun”
“Aresha, tapi aku sudah janji padamu kan untuk membiarkanmu pergi tapi bersama Eddera”jawab Aksara
Kami berdua menatap Aksara karena dia memanggil nama kami.
“Hah, baiklah jujur saja. Aresha namamu siapa?”
“Aresha”
“Dan namaku Aresha Mora. Jadi perhatikan kami baik-baik dan jangan memanggilku dengan sebutan Aresha. Itu nama panggilan adikku, disini aku dipanggil Amora”
“Aku tak ingat, semasa kecil aku tetap memanggilmu, Aresha”
“Itu karena kamu memang seperti itu. Aresha, apa rencanamu ini diketahui Tagao dan Aira?”
“Tidak kak, hanya kita dan Aksara saja”
“Hah, Eriska di tahan dan Erista menjadi Eriska. Kembar dan menyebalkan”
“Jadi apa rencana kakak?”
“ Aku akan datang ke istana Eriska dan meminta maaf, sementara kamu masuk diam-diam membebaskan Eriska”
“Hah kakak, tak mungkin. Jika kakak mati maka tahta akan dia dapatkan lalu bagaimana denganku?”
“Ya ampun, baiklah kamu yang jadi aku dan aku membebaskan Eriska”
__ADS_1
“Yes!”
“Aku akan ikut membantu kalian!”ucap Aksara
“Setuju!”jawab Aresha lebih dulu sebelum diriku, aku hanya diam saja melihat ekspresi adikku ini. Wanita ini memang menyebalkan dan membuatku terbangun kembali dengan ingatan aneh dan tak seharusnya menjadi milikku itu.
***
Siang hari, aku dan Aresha jalan-jalan. Ya kali ini aku yang mengenakan jubah menutupi kepala dan wajahku. Eddera juga ikut, begitu juga dengan Aksara.
Aksara terlihat sangat senang hari ini dan tak pergi ke istananya. Kami memilih berhenti di air terjun. Udara sejuknya membebaskan kami dari panas matahari.
Aresha bermain air layaknya diriku, kami seperti bertukar posisi saja namun nyatanya tidak. Aku hanya tersenyum memperhatikan tingkah adikku sementara aku duduk di atas batu yang tinggi. Aksara menghampiriku, ia berdiri di dekatku.
“Jadi selama ini kamu punya adik? Aku minta maaf telah menyakiti perasaanmu hingga membuatmu tertidur!”
“Tapi tak mungkin tanpa sebab jika kamu tidur hingga ke masa depan”
“Hem begitulah!”
Entah kenapa pria ini malah memegang tanganku, ia seperti mengalirkan cinta ke dalam hatiku seperti dulu. Tapi aku tahu akan rasa luka itu jika kembali terluka lagi karena dia.
Aresha tersenyum melihat kakaknya telah kembali, tetapi perasaanya mulai tak nyaman berada di tempat ini. Ia merasa seperti ada seseorang mengintai mereka.
Tiba-tiba tanpa di duga Tagao dan Aira datang. Mereka langsung menyerang
Aksara, dan Eddera.
__ADS_1
Aku melihat penyerangan ini menjauh, Eddera dan Aksara melawan. Mereka juga tak mau ada yang terluka apa lagi jika Amora terluka tentu Aksara akan marah besar.
Entah kenapa Aresha mulai menggunakan sihir airnya untuk mencerai berai perkelahian ini. Keduanya mulai terpisah dan tak dapat bergerak karena tanaman rambat melilit kaki mereka.
“Berhenti! Sudah jangan bertengkar lagi. Semua ini hanya salah paham” ucap Aresha
Aku pun segera membuka jubahku yang menutupi kepala, kini kami terlihat kembar yang membingungkan Aira dan Tagao.
“Aku sangat tidak suka ada yang tak sopan di depanku! Jadi berhentilah bertengkar”
“Kakak, kakak lebih tak sopan tak datang ke acara pernikahanku!”ucap Aresha
Aku hanya tersenyum, “ Pernikahan apa? Apa aku telah merestui hubungan kalian berdua?”
“Kakak sendiri tak datang!”
Perkelahian kecil, adu mulut antara aku dan Aresha terjadi yang membuat bingung mereka semua. Akhir pertingkaian kami hanya tersenyum manis, lalu Aresha membebaskan mereka semua. Aira dan Tagao berhenti menyerang.
“Jadi dia kakakmu, Aresha?”
“Ya tentu saja, namanya Aresha Mora. Di panggil Aresha atau Amora”
“Hah, menyebalkan sekali aku dibangunkan. Memang tak ada pekerjaan lain ya yang membuat kalian harus bertengkar disini?”
“Eriska bilang kamu ditahan Aksara, jadi kami datang untuk membebaskanmu”ucap Aira
“Kata bebas itu bukan untukku tetapi untuk Eriska. Sebenarnya Eriska yang bersama kalian adalah Erista. Dia anak dari Emelia, selir ayah. Eriska adalah anak angkat ayah yang mendapatkan tahta jika Amora tewas, lalu diriku. Tapi aku rasa membangunkan kakakku lebih baik agar dia tahu kejadian saat ini sangat penting dibanding tidur!”
__ADS_1