
Aku dan Xia tidak bisa membantah semua ini, kami
hanya bisa diam sembari melihat orang yang memperhatikan kami tersenyum manis.
Aku yakin ada seseorang yang berniat jahat dan suka menjahili Xia.
Ibu Oshaberi menatap kami dengan tajam, ia sangat
kesal pada kami berdua.
“Apa yang kalian lakukan seharian? Kalian main-
main ya di Akademi Yexiao? Ini bukan tempat bermain! Tadi kalian kemana?
Jawab!”
Aku dan Xia menundukan kepala ke bawah, Xia pun
memberanikan diri menjawab pertanyaan yang di lontarkan Ibu Oshaberi.
“Maafkan kami, saya dan Aresha baru datang dari
berlatih lalu kami mampir ke market. Kami kehabisan makanan”
Ibu Oshaberi memperhatikan kantong belanjaan kami
yang berisi makanan dan minuman, ia pun menarik napas panjang dan berucap “Ya
saya lihat, tapi tidak bisakah kalian membereskan kamar kalian dulu, sebelum
kalian pergi?!”
“Maafkan kami, Ibu Oshaberi!” ucap Xia mengalah.
Aku pun berucap, “Ibu Oshaberi, saya juga minta
maaf atas kejadian ini. Tetapi bukannya saya bermaksud membela diri. Sebelum
kami pergi, kami sudah membereskan kabar kami ini. Mungkin ada seseorang yang
mengacak- acak kamar kami!”
Penjelasan yang kuberikan itu kuharap dapat di
terima, tetapi Ibu Oshaberi bukanlah pengawas yang menerima alasan itu. Ia
menolak mentah alasan itu.
“Hah, alasan macam apa itu?! Kamar ini hanya kalian
berdua yang punya kuncinya, mana mungkin ada orang lain yang masuk ke kamar
ini!”
“Ibu, apakah ibu lupa dengan sihir? Mana mungkin
seseorang melindungi Akademi Yexiao ini dari manusia biasa? Tetapi kenyataannya
mungkin kan?!” ucapku seperti mengalihkan perhatian, tetapi dengan maksud
tujuan membandingkan kejadian ini dengan sihir pelindung.
Ibu Oshaberi tidak mengerti akan alasan pembelaan
__ADS_1
itu, ia tetap bersikeras pada pendiriannya. Karna diriku yang membela, Ibu
Oshaberi memberikan hukuman pada kami berdua.
“Tidak ada alasan! Kalian berdua berdiri di tengah
asrama sampai menjelang matahari tenggelam!” ucapnya dengan tegas dan suara
keras itu.
Xia tidak terima akan hukuman itu. Ia pun
memprotesnya, “Ibu Osha, kami sungguh telah melakukannya! Kami telah
membereskan kamar kami!”
“Ah, banyak alasan! Mau saya tambah hukumannya?”
Spontan aku berucap, “Aa... tidak! Ini sudah
cukup!”
“Ini sudah sangat berat! Kami akan melakukannya”
“Bagus, bereskan kamar kalian dan berdiri di depan
asrama!”
“Baik, Ibu Oshaberi!” jawab kami serentak.
Ibu Oshaberi pun pergi meninggalkan kami berdua,
memperhatikan kepergiannya sesaat. Seketika Ibu Oshaberi telah tidak terlihat
Sementara Xia meletakan belanjaannya di dekat
kamarnya, aku pun segera meletakan belanjaanku di dekat tempat tidurku. Xia
memasang wajah kesal, ia pun mulai mengoceh sembari membereskan kamar ini.
“Ah, sial! Siapa yang menghancurkan kamar kita?
Memang aku punya salah? Salahku apa? Aku tidak melakukan apapun!” ocehnya
sembari membanting bantal ke tempat tidur.
Aku pun segera membereskan kamarku sendiri,
membereskan tempat tidurku yang berantakan. Aku yakin kejadian ini di lakukan
oleh seseorang dengan sengaja, ya tidak perlu dengan kunci untuk membuka pintu
tetapi pintu dapat di buka dengan bantuan sihir. Itu sangat mudah jika
seseorang yang melakukannya memiliki kemampuan sihir dengan tingkat level yang
lumayan.
Setelah membereskan kamar kami berdua, aku dan Xia
segera menuju halaman asrama. Tetapi sebelum pergi, aku dan Xia memastikan
kamar kami benar- benar telah rapi. Xia mengunci pintu kamarnya, dan ia membawa
__ADS_1
kuncinya. Sebelum pergi, saat Xia lengah kugunakan sihir pelindung untuk kamar
ini agar tidak ada orang yang mengacaukan kamar ini lagi.
Setelah merasa aman, aku dan Xia segera pergi ke
halaman asrama. Ya seperti yang dimana oleh Ibu Oshaberi, kamu melakukan
perintahnya. Ya walau Ibu Oshaberi tidak ada disini, Xia yakin jika wanita
paruh baya itu telah mengawasi dirinya dan diriku.
Berdiri di depan asrama, sementara orang- orang di
asrama ini menertawakan kami bahkan mereka mengatakan hal negatif tentang kami.
Tetapi ucapan buruk itu lebih tertuju pada Xia.
Aku dan Xia hanya bisa diam, melakukan hukuman dari
Ibu Oshaberi. Terik panas matahari tentu telah membuat kami keringatan, dan
kepanasaran. Bahkan kuping kami dibuat lebih panas karna ocehan yang tidak
bermanfaat itu.
Beberapa orang di asrama memperhatikan kami sembari
mengoceh tentang diriku dengan Xia. Mereka membuat kuping kami terasa panas,
lebih panas dari pada sinar matahari.
“Hey lihat! Itu Xia, eh itu bukannya murid baru
kan?”
“Ya benar!”
“Kenapa dia juga ikut berdiri? Ih, dasar Xia! Dia
memang pembawa sial, lihat saja tingkahnya! Dia bahkan membawa murid baru itu
dalam masalah!”
“Ya begitulah, sebaiknya kita juga harus
menjauhinya! Jika tidak, kita akan mengalami nasib yang sama sepertinya!”
“Ya benar, aku tidak ingin berteman dengannya!”
“Ya, dia tidak hanya pembawa sial. Tetapi juga
lemah!”
“Ya, dia memang lebah! Hah, aku tidak ingin satu
kelompok dengannya saat ability magie nanti!”
“Ya aku juga!”
Sementara itu disisi lain, di gedung asrama yang
sama.
__ADS_1