Bride Of Vampire: The Revenge

Bride Of Vampire: The Revenge
Episode 151


__ADS_3

Aku dan Xia tidak bisa membantah semua ini, kami


hanya bisa diam sembari melihat orang yang memperhatikan kami tersenyum manis.


Aku yakin ada seseorang yang berniat jahat dan suka menjahili Xia.


Ibu Oshaberi menatap kami dengan tajam, ia sangat


kesal pada kami berdua.


“Apa yang kalian lakukan seharian? Kalian main-


main ya di Akademi Yexiao? Ini bukan tempat bermain! Tadi kalian kemana?


Jawab!”


Aku dan Xia menundukan kepala ke bawah, Xia pun


memberanikan diri menjawab pertanyaan yang di lontarkan Ibu Oshaberi.


“Maafkan kami, saya dan Aresha baru datang dari


berlatih lalu kami mampir ke market. Kami kehabisan makanan”


Ibu Oshaberi memperhatikan kantong belanjaan kami


yang berisi makanan dan minuman, ia pun menarik napas panjang dan berucap “Ya


saya lihat, tapi tidak bisakah kalian membereskan kamar kalian dulu, sebelum


kalian pergi?!”


“Maafkan kami, Ibu Oshaberi!” ucap Xia mengalah.


Aku pun berucap, “Ibu Oshaberi, saya juga minta


maaf atas kejadian ini. Tetapi bukannya saya bermaksud membela diri. Sebelum


kami pergi, kami sudah membereskan kabar kami ini. Mungkin ada seseorang yang


mengacak- acak kamar kami!”


Penjelasan yang kuberikan itu kuharap dapat di


terima, tetapi Ibu Oshaberi bukanlah pengawas yang menerima alasan itu. Ia


menolak mentah alasan itu.


“Hah, alasan macam apa itu?! Kamar ini hanya kalian


berdua yang punya kuncinya, mana mungkin ada orang lain yang masuk ke kamar


ini!”


“Ibu, apakah ibu lupa dengan sihir? Mana mungkin


seseorang melindungi Akademi Yexiao ini dari manusia biasa? Tetapi kenyataannya


mungkin kan?!” ucapku seperti mengalihkan perhatian, tetapi dengan maksud


tujuan membandingkan kejadian ini dengan sihir pelindung.


Ibu Oshaberi tidak mengerti akan alasan pembelaan

__ADS_1


itu, ia tetap bersikeras pada pendiriannya. Karna diriku yang membela, Ibu


Oshaberi memberikan hukuman pada kami berdua.


“Tidak ada alasan! Kalian berdua berdiri di tengah


asrama sampai menjelang matahari tenggelam!” ucapnya dengan tegas dan suara


keras itu.


Xia tidak terima akan hukuman itu. Ia pun


memprotesnya, “Ibu Osha, kami sungguh telah melakukannya! Kami telah


membereskan kamar kami!”


“Ah, banyak alasan! Mau saya tambah hukumannya?”


Spontan aku berucap, “Aa... tidak! Ini sudah


cukup!”


“Ini sudah sangat berat! Kami akan melakukannya”


“Bagus, bereskan kamar kalian dan berdiri di depan


asrama!”


“Baik, Ibu Oshaberi!” jawab kami serentak.


Ibu Oshaberi pun pergi meninggalkan kami berdua,


memperhatikan kepergiannya sesaat. Seketika Ibu Oshaberi telah tidak terlihat


Sementara Xia meletakan belanjaannya di dekat


kamarnya, aku pun segera meletakan belanjaanku di dekat tempat tidurku. Xia


memasang wajah kesal, ia pun mulai mengoceh sembari membereskan kamar ini.


“Ah, sial! Siapa yang menghancurkan kamar kita?


Memang aku punya salah? Salahku apa? Aku tidak melakukan apapun!” ocehnya


sembari membanting bantal ke tempat tidur.


Aku pun segera membereskan kamarku sendiri,


membereskan tempat tidurku yang berantakan. Aku yakin kejadian ini di lakukan


oleh seseorang dengan sengaja, ya tidak perlu dengan kunci untuk membuka pintu


tetapi pintu dapat di buka dengan bantuan sihir. Itu sangat mudah jika


seseorang yang melakukannya memiliki kemampuan sihir dengan tingkat level yang


lumayan.


Setelah membereskan kamar kami berdua, aku dan Xia


segera menuju halaman asrama. Tetapi sebelum pergi, aku dan Xia memastikan


kamar kami benar- benar telah rapi. Xia mengunci pintu kamarnya, dan ia membawa

__ADS_1


kuncinya. Sebelum pergi, saat Xia lengah kugunakan sihir pelindung untuk kamar


ini agar tidak ada orang yang mengacaukan kamar ini lagi.


Setelah merasa aman, aku dan Xia segera pergi ke


halaman asrama. Ya seperti yang dimana oleh Ibu Oshaberi, kamu melakukan


perintahnya. Ya walau Ibu Oshaberi tidak ada disini, Xia yakin jika wanita


paruh baya itu telah mengawasi dirinya dan diriku.


Berdiri di depan asrama, sementara orang- orang di


asrama ini menertawakan kami bahkan mereka mengatakan hal negatif tentang kami.


Tetapi ucapan buruk itu lebih tertuju pada Xia.


Aku dan Xia hanya bisa diam, melakukan hukuman dari


Ibu Oshaberi. Terik panas matahari tentu telah membuat kami keringatan, dan


kepanasaran. Bahkan kuping kami dibuat lebih panas karna ocehan yang tidak


bermanfaat itu.


Beberapa orang di asrama memperhatikan kami sembari


mengoceh tentang diriku dengan Xia. Mereka membuat kuping kami terasa panas,


lebih panas dari pada sinar matahari.


“Hey lihat! Itu Xia, eh itu bukannya murid baru


kan?”


“Ya benar!”


“Kenapa dia juga ikut berdiri? Ih, dasar Xia! Dia


memang pembawa sial, lihat saja tingkahnya! Dia bahkan membawa murid baru itu


dalam masalah!”


“Ya begitulah, sebaiknya kita juga harus


menjauhinya! Jika tidak, kita akan mengalami nasib yang sama sepertinya!”


“Ya benar, aku tidak ingin berteman dengannya!”


“Ya, dia tidak hanya pembawa sial. Tetapi juga


lemah!”


“Ya, dia memang lebah! Hah, aku tidak ingin satu


kelompok dengannya saat ability magie nanti!”


“Ya aku juga!”


Sementara itu disisi lain, di gedung asrama yang


sama.

__ADS_1


__ADS_2