
“Ya, tentu akan kuingat. Jauhi pengawas dan klan
vampir. Apa ada lagi?”
“Ya, hormati Ibu Oshaberi. Dia guru pengawas di
asrama kita. Dia tegas dan selalu mengawasi tempat kita”
“Ibu Oshaberi ya? Dia yang mengantarku ke asrama
dan ke kelas. Aku sangat berterima kasih padanya, dia yang pertama menyambut ke
datanganku di Akademi Yexiao ini. Soal klan vampir, apakah semuanya dari
keluarga bangsawan?”
“Ya sebagian dari keluarga bangsawan dan ada juga
klan vampir dari orang biasa”
“Tadi kamu katakan aku mirip dengan Violin. Aku
pernah mendengar ucapan seperti itu ketika pertama kali disini. Apakah Violin
yang kamu maksud adalah Violin kekasih Roman?”
“Ya benar, yang kumaksud adalah Violin pacar Roman
dari klan vampir. Jangan tersingung ya, memang wajah kalian mirip!”
“Ya, aku tidak tersingung. Terus apa lagi mengenai
Akademi Yexiao ini?”
“Ya, tadi aku katakan padamu kan soal ujian ability
magie. Seperti yang kamu baca di mading, nah ujian ability magie itu diadakan
di area terbuka. Areanya di lapangan kita ini, tetapi kepala akademi akan
membuat lapangannya dengan sihirnya. Dia memiliki sihir yang menabjubkan”
“Ngomong- ngomong soal kepala akademi, dia dari
klan mana?”
“Dia klan vampir, tetapi dia memiliki sihir.
Akademi Yexiao ini juga punya benda yang harus kita lindungi. Ya pengawas dan
kita semua. Tanpa benda itu dunia ini akan hancur, ya jika jatuh di tangan
orang jahat.”
“Apa itu?”
“Em.... aku tidak bisa memberitahumu. Tapi nanti
kamu akan melihatnya ketika kita mulai tour ke Buniv”
“Oh benda itu ada di Buniv ya?”
Seketika itu Xia meletakan jari telunjuk di
__ADS_1
bibirnya, “Sssstttt.... jangan keras- keras nanti ada orang jahat tahu dan
mencuri benda itu bagaimana?”
“Ya... maaf- maaf!”
Tidak lama kemudian bel berbunyi, kamu pun segera
kembali ke ruang kelas. Aku kembali duduk di kursiku. Lalu Pak Bai masuk
memberikan pelajaran kepada kami. Kami mendengarkannya dengan seksama.
Sementara itu disisi lain,
Seseorang bermata biru telah memperhatikan kelas
elemen air. Ia tersenyum manis. Seorang pria yang ada disampingnya pun berucap
“Apa yang kamu lihat?”
Gadis bermata biru mengembalikan dirinya kembali ke
semula, ya dia menggunakan kemampuannya untuk melihat seseorang dari kejauhan
dengan jelas. Pupil matanya kembali menjadi hitam, lalu ia tersenyum manis dan
menjawab “Aku memperhatikan anak baru itu. Dia mirip denganku. Aku rasa aku
mengenalnya, ah mungkin itu hanya mimpi! Kamu sedang apa disini Roman?”
“Ya tentu saja menunggumu, Violin. Aku tidak mau
pergi tanpamu!”
“Huh, tidak bisakah kamu melepaskanku sehari saja?”
“Tidak bisa!” ucapnya segera memeluk Violin.
menyebalkan!”
“Ya, tetapi aku sangat mencintaimu! Aku tidak akan
pergi tanpamu”
“Ya, terus saja katakan itu! Apa kamu tidak sadar
mereka memperhatikan kita?”
Roman pun segera melepaskan pelukannya, ia segera
melihat di sekitarnya. Ia melihat teman- teman memperhatikan mereka berdua.
Roman pun segera menarik Violin membawanya pergi begitu saja.
Ya pria ini selalu saja begitu, dia lengket seperti
perangko semejak mereka berdua di pertemukan. Berkat Violin yang asli tentunya.
Sementara itu disisi lain,
Seseorang bermata biru telah memperhatikan kelas
elemen air. Ia tersenyum manis. Seorang pria yang ada disampingnya pun berucap
__ADS_1
“Apa yang kamu lihat?”
Gadis bermata biru mengembalikan dirinya kembali ke
semula, ya dia menggunakan kemampuannya untuk melihat seseorang dari kejauhan
dengan jelas. Pupil matanya kembali menjadi hitam, lalu ia tersenyum manis dan
menjawab “Aku memperhatikan anak baru itu. Dia mirip denganku. Aku rasa aku
mengenalnya, ah mungkin itu hanya mimpi! Kamu sedang apa disini Roman?”
“Ya tentu saja menunggumu, Violin. Aku tidak mau
pergi tanpamu!”
“Huh, tidak bisakah kamu melepaskanku sehari saja?”
“Tidak bisa!” ucapnya segera memeluk Violin.
menyebalkan!”
“Ya, tetapi aku sangat mencintaimu! Aku tidak akan
pergi tanpamu”
“Ya, terus saja katakan itu! Apa kamu tidak sadar
mereka memperhatikan kita?”
Roman pun segera melepaskan pelukannya, ia segera
melihat di sekitarnya. Ia melihat teman- teman memperhatikan mereka berdua.
Roman pun segera menarik Violin membawanya pergi begitu saja.
Ya pria ini selalu saja begitu, dia lengket seperti
perangko semejak mereka berdua di pertemukan. Berkat Violin yang asli tentunya.
Bel berbunyi tanda jam pelajaran Akademi Yexiao
berakhir.
Kami pun segera membubarkan diri dan kembali ke
asrama menuju kamar masing- masing. Aku segera berjalan beriringan dengan Xia.
Tetapi entah kenapa aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku dari sini.
Menyebalkan, seperti penguntit saja!.
Asrama Akademi Yexiao, kamar nomor 25.
Aku dan Xia segera masuk. Terlihat di tempat ini
hanya ada satu tempat tidur. Entah dimana tempat tidur untukku. Xia meletakan
tas dan buku di tangannya ke atas meja belajar. Lalu ia mulai menghampiriku.
“Hey Aresha, dimana tempat tidurmu?” tanyanya
padaku.
__ADS_1